.catatan mimpi.

chaos, order, mimpi, dan impian

#5.9. Satu Jenak

Seorang Lelaki terhenyak
detak waktu Sang Tuan Besar
ini kali berikannya satu jenak

Begini sabdanya:
“Engkau idamkan kemerdekaan
ini kusematkan satu jenak
Ingat! Cukup satu jenak!”
Maka pelanlah langkah-langkah Lelaki
beringsut-ingsut lalu berhenti

satu, dua, tiga…. seperduapuluh jenak

“Apa yang terjadi?” bisiknya
Seketika celiklah dia punya sanubari
bahwa nyeri sebelah kakinya
bahwa debu dan sarang laba di kepalanya
bahwa lumpur di wajahnya
bahwa batu di jantungnya
bahwa… bahwa…

satu, dua, tiga…. sepersepuluh jenak

Belati itu ia tikam di dadanya
menghambur keluar daripadanya
pasir yang tak terbendung limpahnya
sejumlah jatuh di atas kaki
sejumlah naik tertiup angin
selayaknya hal yang sia-sia

satu, dua, tiga…. seperlima jenak

“Mengapa? Mengapa?” bisiknya
Ia gali dadanya dalam-dalam
ia temukan batu jantungnya dan genggam erat
tak lagi hangat, tak lagi bertalu
tak lagi padanya berisyarat

Satu waktu dahulu membawanya berlari
Satu waktu kini menjadi beban tersembunyi
“Mengapa? Mengapa?”

satu, dua, tiga…. satu jenak

Dentang lonceng membawa
sabda Sang Tuan Besar berkata:
“Engkau idamkan kemerdekaan
Namun ketahuilah!
Merdeka adalah teka-teki
yang belum kau tuntaskan!”

***
(Bandung, 26 Mei 2013)

#5.8. Love Is War

I will fight to follow
I will fight for love
To throw my life forever
into the triumph of the son

Let Your love be my companion
in the war against my pride
Long to break all vain obsession
’till You’re all that I desire

-Joel Houston

#5.7. Buah Pikir Malam Ini

Kamis, 7 Februari 2013
Bandung. 22:53.

Seorang gadis muda memetik gitarnya. Dentingan-dentingan merdu mengalir di udara. Mata gadis itu bulat, sebentar-sebentar melirik ke jemarinya yang bermain dawai, sebentar-sebentar melayangkan pandang kepada para hadirin di kegelapan. Cahaya lampu sorot memantul di kedua bola matanya. Mata itu memancarkan sejenis kepolosan yang indah.

Di pelataran, ia duduk sendiri di atas kursi putar berkaki satu. Di belakangnya terhampar menggantung selembar kain merah yang berhiaskan ornamen-ornamen etnik, tampak digurat halus, dengan penuh perhatian, oleh tangan seorang seniman yang hati-hati dan berdedikasi.

Gadis itu mulai bernyanyi. Suaranya seperti awan dan kabut. Kadang menebal, kadang menipis. Saya pejamkan mata lalu saya rasakan teduh. Gadis penyanyi itu tak lain cantik. Senyumannya merekah menyegarkan benak. Di pulau dewata ketika itu ia bernyanyi, dan saya yakin, saat sang gadis bernyanyi dewa-dewi pun menyendengkan telinganya, berhenti barang beberapa menit, melupakan derita anak-anak manusia di pundaknya.

Belakangan saya mendapat sedikit gambaran mengenai latar belakang keluarganya. Ayahnya seorang Amerika, memperistri seorang perempuan Filipina, lalu entah telah berapa lama menetap di Bali, Indonesia.

Yang menarik dan cukup membuat saya memikirkan hal-hal adalah bahwa ayahnya bekerja untuk semacam komite perlindungan hutan Indonesia. Seorang Amerika beristri Filipina namun bekerja di Indonesia melindungi hutan demi masa depan lestari seluruh manusia. Tak dibatasi oleh sekat-sekat kenegaraan, inikah yang dinamakan menjadi manusia global?

Nasionalisme yang sering diagung-agungkan, yang diam-diam juga saya rawat di dalam diri ini, sepintas menjadi terasa kerdil.

Memang pada akhirnya setelah kesetaraan dalam segala aspek tercapai, ketika semua manusia memiliki kesempatan dan kemampuan hidup mandiri serta kematangan dalam jiwanya, saya kira, menjadi manusia global adalah tahapan paripurna dalam peradaban. Tak ada batasan kulit, tak ada batasan bahasa, tak ada batasan sosial, tak ada batasan negara. Seluruh manusia saling topang-menopang demi Bumi dan manusia yang lestari. Maka, ketika itu semua tercipta, saat itulah dimana surga telah kembali ke Bumi.

Tapi, setiap orang yang memiliki mata untuk melihat dan telinga untuk mendengar tentu sepakat bahwa peradaban paripurna itu masih amat jauh di ujung cakrawala sana. Selama keserakahan masih berkuasa, kenyamanan egoistik menjadi Tuan, dan uang sebagai Tuhan, selama itu pula benteng-benteng masih perlu didirikan.

Nasionalisme adalah salah satu bangunan benteng pelindung. Merupakan sebentuk persaudaraan sejarah atas tanah dan penghuninya. Satu-satunya panggilan keberpihakan yang suaranya cukup lantang bagi yang mau mendengarkan. Dengan adanya rasa ini, juga hadirnya sekelompok orang yang punya keberpihakan terhadap Bumi dimana ia lahir dan hidup, niscaya keserakahan dan egoisme yang hendak menjarah dunia dapat sedikit dibendung.

Dan malam ini, dalam iringan nyanyian sang gadis bergitar, saya tiba pada suatu kesimpulan: karena nasionalisme pada zaman sekarang mestinya bukan dimaknai sebagai bentuk chauvinisme kebangsaan belaka, tapi merupakan daya lawan terhadap nafsu serakah sepihak dan apatisme.

#5.6. Sekilas Catatan Banjir Jakarta 2013

Banjir besar melanda Jakarta sejak 15 Januari 2013. Namun, berbeda dengan banjir-banjir besar sebelumnya yang terjadi di Jakarta, kehadiran dan kepedulian pemimpin lebih terasa kali ini. Gubernur dan wakilnya, Joko Widodo dan Basuki C. Purnama, sungguh-sungguh bekerja keras. Saya mengamati mereka lewat media cetak dan dibuat kagum oleh pengabdian mereka.

Saya teringat pada pertengahan bulan November lalu sempat membaca berita di surat kabar tentang adanya 1800 unit dari 2000 unit hunian di rusun Marunda yang kosong tak berpenghuni. Kekosongan ini menyebabkan kondisi rusun Marunda menjadi tidak terawat dan terbengkalai. Ini cukup mengherankan mengingat banyak, banyak sekali, warga Jakarta yang masih hidup tidak layak di daerah bantaran sungai, rel kereta api, dan kolong jembatan.

Kemudian, setelah banjir besar terjadi, tersiar kabar yang sangat menarik. Wakil Gubernur DKI Jakarta, Ahok, mendatangi warga pengungsi di daerah Penjaringan yang bermukim di sekitar Waduk Pluit. Beliau mengajak warga pengungsi untuk beramai-ramai pindah ke rusun Marunda.

”Bapak Ibu tak boleh tinggal di Waduk Pluit karena itu berbahaya dan mengganggu fungsinya sebagai penampung air. Mari ikut lihat rusun. Jika tak mau silakan, tetapi tak ada uang untuk perbaiki rumah,” begitu ujarnya.

Beliau telah menginstruksikan perbaikan pada tiap unit hunian rusun, melengkapinya dengan fasilitas, dan bersedia membantu proses perpindahan. Tentunya timbul keragu-raguan, bukankah dengan merelokasi penduduk ke tempat yang berjarak 20 kilometer dari hunian awalnya berarti akan menimbulkan masalah pergerakan? Bukankah dengan begitu jarak antara hunian dan tempat bekerja akan menjadi semakin panjang? ‘Kan ini berlawanan dengan ide kota berkelanjutan, yang justru harusnya memperpendek jarak tempuh dari tempat berhuni ke tempat bekerja, hingga sependek-pendeknya demi efektivitas? Tapi jika dilihat dari sudut lain, tak dapat dipungkiri bahwa pasangan pemimpin ini amat jeli memanfaatkan momentum, sehingga permasalahan A ditambah permasalahan B justru menghasilkan sebuah solusi!

Di hari yang lain, saya membaca tulisan Ir. Dr. Bianpoen—seorang dosen senior Desain & Teknik Perencanaan—perihal rusun dan masyarakat yang ditulis pada tahun 2002. Dalam tulisan tersebut Dr. Bianpoen mempermasalahkan apa dan untuk siapakah keberadaan rusun sesungguhnya. Menurut pendapat beliau, hidup di rusun memerlukan suatu disiplin tersendiri. Masalahnya, disiplin tersebut belum terbentuk pada golongan masyarakat strata bawah. Pertimbangan-pertimbangan ekonomis menyebabkan golongan tersebut tidak betah bermukim di rusun.

Berdasarkan survei yang telah dilakukan, sebagian besar rusun untuk orang miskin justru dihuni oleh orang-orang tidak miskin karena mereka dengan sukarela menjual hak huni yang mereka miliki. Lebih lanjut lagi, beliau berpendapat memindahkan masyarakat miskin ke rusun bukan solusi yang tepat dan tak akan menyelesaikan masalah kemiskinan kota. Untuk menuju kesana syarat-syarat harus dipenuhi terlebih dahulu. Syarat-syarat tersebut adalah perbaikan kondisi sosial-ekonomi dan disiplin dalam bermukim. Hal ini dapat dicapai melalui program-program pengembangan masyarakat yang dilakukan di lokasi-lokasi mereka bermukim saat ini. Setelah syarat-syarat tersebut tecapai barulah mereka siap dipindahkan ke rusun.

Kembali saya melihat adanya pertentangan antara konsep-konsep ideal dengan tindakan yang ditempuh oleh pasangan pemimpin Jakarta pada situasi kali ini. Saya, sebagai orang muda yang masih perlu banyak belajar, melihat terobosan yang diperbuat Jokowi-Ahok ini sebagai semacam eksperimen sosial. Persoalan ini mau tak mau menimbulkan rasa penasaran. Apakah teori-teori ideal para akademisi akan terbukti? Ataukah kesungguhan para pemimpin dapat membuktikan yang sebaliknya? Saya kira eksperimen ini patut diamati dan dipelajari bagaimana hasil akhirnya.

Tapi terlepas dari tepat-tidaknya keputusan yang diambil, satu hal yang saya yakini, saat ini Jokowi dan Ahok sedang membuka mata banyak generasi muda lainnya tentang bagaimana makna mengabdi dengan sesungguh-sungguhnya. Pemimpin-pemimpin bagi masa depan sedang dibuka matanya.

Masih ada harapan, Indonesia akan menjadi besar.

#5.5. Di Hadapan Kala

Di hadapan kala
menanti
keberanian

Dimana adanya
pelita?

letupan mercon
di kejauhan?
pohon-pohon
pinus berbaris
diam?
derik jangkerik
berisyarat?
bersasmita?
nyamuk-nyamuk
‘ku tak hirau

Limpahan asa
terbendung
merindu
pembebasan diri

Menanti
‘kan tiba waktu
dan masa

Akankah
‘ku menemu
bahagia?

Pada akhirnya
segala
tak terlalu
berarti

.
.
.
.
kecuali Aku
ingin berarti

Quote

“Adil menurut alkitab adalah mengangkat orang-orang yang tertindas, yang menderita, yang miskin; tapi juga menurunkan mereka yang menindas. Merubah sistem-sistem yang merusak damai sejahtera bagi seluruh umat manusia.”

-Pdt. Em. Budiono Adi Wibowo

***

Perintah di atas sangat, sangat, berat. Tapi setidak-tidaknya yang dapat dilakukan adalah dengan tidak tumbuh menjadi penindas-penindas, yaitu dengan tetap memegang nilai-nilai yang benar–sesepele apapun itu nampaknya.

Bertanya Tidak Membuatmu Mati, Hanya Terlihat Sedikit Bodoh #5

Kehidupan memang sejatinya penuh ketimpangan. Beberapa malam yang lalu saya mendengar cerita dari seorang kawan tentang teman yang bekerja di perusahaan T. Selama sekitar sebulan belakangan, teman yang bekerja di perusahaan T ini datang ke kantor tanpa perlu mengerjakan apa-apa karena sedang menunggu keputusan mutasi dari para petinggi perusahaan. Namun, lucunya, teman saya ini tetap mendapatkan bayaran penuh walaupun tidak melakukan pekerjaan yang signifikan. Bahkan ia bisa memakai waktunya untuk pelesiran ke luar negeri.

Sementara di lain sisi, tempo hari di sebuah tayangan televisi, saya menyaksikan seorang kepala sekolah di daerah pinggiran kota mesti bekerja sambilan sebagai pemulung untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Sungguh ketimpangan yang amat mencolok.

Mengetahui hal ini, sebuah pertanyaan yang terpendam di benak pun kembali muncul ke permukaan. Mungkinkah–seperti halnya perbedaan tekanan udara yang membuat angin bertiup–ketimpangan dalam kehidupanlah yang sesungguhnya membuat peradaban bergerak dan dunia berputar?

s e l a

Satu dan Segalanya

Demi menemu diri dalam tiada berhingga,
Setiap pribadi  pasti rela sirna,
Di sanalah segala jenuh bakal musnah;
Bukan pada bebas syahwat panas hasrat
Bukan pada padat aturan tuntutan ketat,
Pada penyerahan diri itulah nikmat berkah

Datang dan rasuki jiwa kita, o jiwa jagat!
Dan dengan ruh jagat kita bergulat nekat,
Itulah maha tugas daya-daya kita
Ruh-ruh budiman yang menuntun,
Para aulia yang membimbing santun,
Kan antar kita pada Dia yang abadi mencipta

Dan untuk jadikan ciptaan baru selalu,
Agar tak berkeras diri menjadi beku,
Haruslah bertindak tak sudah-sudah
Maka yang semula tiada, kini sedia menjelma
Dunia aneka warna, mentari-mentari bercahaya
Ia mutlak tak berhak istirah

Ia mesti berkarya, mesti menggubah,
Membentuk diri, lalu berubah;
Meski seolah sejenak terdiam
Sang Abadi berkarya di tiap insan
Karena segala harus runtuh sirna,
Jika hendak bertahan dalam Ada

-Johann Wolfgang von Goethe


(Diterjemahkan dari karya asli Goethe ”Eins und Alles” oleh Agus R. Sarjono & Berthold Damshäuser.)

Quote

“Perpaduan antara pemimpin yang visioner dan mobilisasi massa yang didukung oleh kelas menengah tangguh, menghasilkan produktivitas dahsyat. Di sini terbukti, kekuatan dan keberpihakan kelas menengah pada negerinya adalah nyawa suatu bangsa. Dengan keunggulan otaknya, golongan kelas menengah akan menjadi ujung tombak perubahan bangsanya.”

-dr. Ario Djatmiko

Fiksi Fragmen #5

Senja di Jakarta baru saja merayap pulang. Kerlap-kerlip lampu menghantarkan kepergiannya sekaligus menjadi penanda dimulainya geliat malam di kota ini. Di sana dan sini nampak wajah-wajah lelah yang tersembunyi di balik helm-helm plastik dan kaca film gelap. Wajah-wajah yang mengabdikan dirinya untuk mengejar bayang-bayang kebahagiaan. Di antara puluhan ratus wajah yang turun di jalan malam ini, di situ terselip kami. Aku dan Sesha.

Sesha duduk di bangku penumpang di sebelahku, memandangi kelebatan pemandangan jalan di luar, larut dalam pikiran-pikirannya sendiri. Tidak ada kata-kata yang terucap, kecuali racauan gembira penyiar di radio. Namun begitu, tidak sedikitpun aku merasakan kecanggungan. Diam yang ada di antara aku dan Sesha terasa begitu wajar.

Duduk bersebelahan dengannya di mobil ini mengingatkanku pada masa-masa ketika kami sering duduk bersebelahan di tangga darurat sambil bicara mengenai berbagai macam hal. Aku melirik wajahnya, tidak banyak yang berubah, hanya jejak riasan gelap di kelopak matanya. Sementara itu, racauan penyiar di radio kini terhenti, digantikan oleh nyanyian dari era ’90-an–Katon Bagaskara, kurasa. Musik yang indah serta liriknya yang polos dan puitis terdengar merdu di telingaku. Kadang aku bertanya-tanya kemana perginya para penyair di jaman sekarang? Apakah mereka semua sudah punah? Dibunuh oleh Herodes yang takut takhtanya terancam?

“Tau, nggak?” tiba-tiba Sesha bicara, “Mendengar lagu dari tahun ’90-an begini, sambil lihat pemandangan jalan di luar, tanpa suara, diredam kaca kedap suara mobil ini, rasanya….”

“Hmm?”

“Rasanya,” kata-katanya menggantung sebentar di udara, “Gue seperti bisa mengingat hal-hal yang nggak pernah gue alami.”

“Maksudnya?”

“Maksud gue, rasanya gue hampir bisa mengingat kejadian-kejadian dari kehidupan gue sebelum kehidupan yang ini.”

Aku menatap Sesha. Sesha menatapku. Matanya terbuka lebar. Dahiku berkerut. Kami berdua pun tertawa berbarengan.

“Dasar ngaco! Apa-apaan coba?”

“Eh, tapi beneran! Coba lihat deh ruko-ruko di sana itu, entah kenapa gue merasakan suatu hubungan khusus. Samar-samar di bayangan gue, gue melihat diri gue yang lagi berlari naik-turun tangga di dalam ruko itu!”

“Paling juga cuma potongan-potongan imajinasi lu. Atau mungkin di kehidupan sebelumnya lu emang encik-encik ruko.”

“Ishh, rese!” Sesha meninju lenganku, “Tapi kan menurut Jung yang namanya memori universal itu benar-benar ada!”

“Hah? Memori universal apa?”

“Iya, memori universal yang tetap bertahan hidup walaupun fisik lo udah nggak ada. Memori yang jadi sumber dari mimpi dan inspirasi yang memungkinkan lo untuk mengalami hal-hal yang belum pernah lo lihat di kehidupan saat ini.”

“Ehm… oke,” dia mulai bicara tentang hal-hal aneh. Dari dulu Sesha ini memang agak sinting.

“Coba, lo pasti pernah punya pengalaman kayak gitu juga deh! Misalnya nih ya, pernah nggak lo mendapat ide yang menurut lo brilian dan otentik banget, eh, tapi rupanya di lain kesempatan–waktu lo lagi baca buku atau nonton film atau apapun–lo menemukan bahwa ide itu udah pernah dicetuskan oleh orang lain, bahkan jauh sebelum lo ada? Pernah ‘kan? Nah, itu penyebabnya karena ide yang muncul di kepala lo itu berasal dari sumber yang sama–ya, dari memori universal itu!”

“Ooo, begitu?” Sesha mengangguk antusias, “Omong-omong, gua juga pernah dengar sesuatu yang mirip kayak yang lu bilang barusan–tapi nggak begitu mirip juga sih….”

“Oh, ya? Gimana? Gimana?”

“Gua mendengar ini dari salah satu kuliah umum yang gua tonton lewat internet. Tapi udah agak lama juga sih dan gua nggak yakin apa yang gua ingat ini akurat.”

“Coba, coba, apa?”

“Jadi, lu tau kan waktu zaman keemasan Yunani dulu banyak aliran pemikiran yang berkembang di sana? Nah, dari antara sekian banyak aliran pemikiran itu, salah satunya adalah kelompok pemikiran yang fokus pembelajarannya pada pelatihan pikiran agar tidak terpengaruh oleh emosi. Menurut kelompok pemikiran ini, manusia baru akan dapat mencapai kebahagiaan apabila ia mampu mengarahkan pikirannya agar tetap lurus–sehingga hidupnya nggak terombang-ambingkan oleh emosi yang dibentuk oleh faktor-faktor eksternal dari luar dirinya.”

“Terus? Apa hubungannya sama yang gue bahas barusan?”

“Konon kelompok ini punya semacam keyakinan kalau alam semesta yang kita tempati ini terus berkembang, kayak balon yang ditiup terus-menerus, dan suatu saat nanti ketika sudah mencapai ambang batasnya, semesta ini akan meledak. BAM! Semuanya akan lenyap. Tapi, setelah itu semesta akan menyusun ulang kembali dirinya dari titik awal, menjadi persis sama seperti kondisinya sebelum meledak. Nah, menurut kelompok ini, orang-orang yang semasa hidupnya telah berhasil mengendalikan dirinya secara penuh–orang-orang bijak itu–ketika ia mati, pikirannya nggak ikut lenyap, tapi melayang-layang hingga tiba waktunya semesta meledak.”

“Jadi kalau dikaitkan sama apa yang gue bahas barusan, ingatan-ingatan dari kehidupan yang lalu itu sebenarnya adalah ingatan orang-orang bijak yang melayang-layang di ruang hampa?”

“Semacam itu, mungkin.”

Sesha tertawa kecil. Entah apa maksudnya.

Kami sampai di sebuah perempatan. Lampu lalu lintas menyala merah. Aku menghentikan kendaraan. Sebuah Mitsubishi Pajero sudah berhenti lebih dulu di depan kami. Sebentar kemudian sebuah truk pengantar juga berhenti di sampingnya. Lampu lalu lintas menunjukkan angka-angka berwarna merah yang menghitung mundur. Angka-angka itu mengingatkanku pada hitungan mundur bom waktu di film-film aksi Hollywood jaman dulu. Sementara itu motor-motor yang bersikeras untuk maju mulai bermanuver di antara sela-sela mobil yang berbaris.

Begitu semua kendaraan sudah berhenti bergerak, entah darimana muncul orang-orang jalanan yang menyisiri jalan sambil menyodorkan telapak tangannya dari satu mobil ke mobil lain. Meminta-minta kepingan uang receh. Salah satu dari mereka mendatangi truk pengantar barang yang ada di depan kami. Supir truk itu berbadan gempal dan berkulit gelap. Supir itu menyodorkan tangannya dari jendela dan memberikan si pengemis sejumlah uang kecil. Melihat rekannya mendapat uang dari si supir truk, beberapa pengemis lain mulai berlarian ke truk pengantar barang itu sambil menjulurkan telapak tangannya masing-masing. Dari sudut mata aku menangkap Sesha menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Kenapa, Sha?”

“Kalau lo jadi orang yang punya kekuasaan, apa yang pertama-tama bakal lo lakukan?”

“Gua? Enng… apa, ya?” aku belum pernah memikirkannya sama sekali, “Memang kalau lu sendiri apa?”

“Kalau gue jadi orang yang paling berkuasa di negeri ini, yang pertama-tama gue lakukan adalah memberantas keburukan visual!”

Aku diam saja menunggu Sesha melanjutkan kata-katanya.

“Gue rasa akar kebobrokan moral di negeri ini asal mulanya dari keburukan visual yang dibiarkan terekspos dengan vulgar di ruang-ruang publik. Gimana bangsa ini mau jadi bangsa yang beradab kalau keburukan-keburukan visual jadi makanan sehari-hari? Sampah di jalan-jalan, corat-coretan di tembok, sungai yang kotor dan bau, gelandangan-gelandangan. Kita semua begitu terbiasa dangan segala macam keburukan sampai-sampai kita mungkin nggak sadar lagi kalau ada yang nggak beres dengan itu semua.”

“Masuk akal. Terus?”

“Makanya, kalau gue jadi orang yang paling berkuasa gue akan melarang gelandangan-gelandangan terlihat di jalanan-jalanan umum. Gue akan memerintahkan supaya seluruh pengemis dan gelandangan di jalanan ditangkap dan dikumpulkan, begitu juga orang-orang yang mengotori jalan dan fasilitas umum. Dengan begitu keburukan visual di jalanan nggak akan menjadi kebiasaan lagi. Hingga pada saatnya nanti orang-orang akan jadi lebih peka apabila ada keburukan di sekitar mereka.”

“Wow, kedengarannya radikal. Terus gelandangan-gelandangan itu gimana, Sha? Mereka ‘kan manusia juga.”

“Mereka, ya, gue kumpulkan. Gue yakin jumlah gelandangan di negara ini banyak banget, yang artinya mereka itu sumber tenaga kerja yang potensial.”

“Terus?”

“Dengan tenaga kerja sebanyak itu, gue akan menggerakkan mereka untuk membersihkan sungai-sungai yang kotor. Mereka akan gue kasih tanggung jawab untuk merawat sungai dan akan gue sediakan tempat bermukim di sekitar sungai yang menjadi tanggung jawab mereka. Gue akan mendirikan bagi mereka suatu komunitas dan memberi mereka satu tujuan bersama, yaitu: menjaga sungai seperti mereka menjaga keluarga mereka sendiri. Dengan adanya komunitas dan tujuan bersama, mereka akan mempunyai harga diri, dan harga diri akan membuat mereka membenci keburukan visual.”

“Hmm…,” aku bergumam, “Oke, sekarang jadi kedengaran cukup manusiawi.”

“Betul, kan!”

Sesha tersenyum puas. Obrolan tak henti-henti mengalir dari bibirnya, diiringi oleh radio yang memutar single-single populer dari era ’90-an. Entah mengapa malam ini aku merasa begitu ringan. Ada semacam kesejukan yang membungkus diriku. Suatu sensasi yang tidak dapat kuuraikan dengan begitu jelas.

Sesekali lampu-lampu menyorot wajah Sesha. Terang dan gelap, silih berganti.  Jelas dan tersembunyi….

Jelas… dan tersembunyi….

***

“Sudah sampai.”

“Ah, iya,” untuk beberapa saat aku dan Sesha diam saja.

Lampu sign berdetak-detak dengan ritmis. Seperti degup jantung yang teratur.

“Makasih, ya,” ujar Sesha.

Aku tersenyum dan mengangguk kepadanya. Sesha membuka pintu mobil dan melangkah keluar. Ia melambaikan tangan dengan gestur khasnya yang sudah lama tak kulihat. Ia terdiam sejenak di sana.

“….”

“Oke.”

“Oke.”

“….”

“Bye.”

“Bye.”

Sesha berbalik dan melangkah menjauh. Aku menyaksikan sahabat lamaku itu pergi. Selangkah demi selangkah lebih jauh. Entah kemana ia menuju. Entah kemana aku….

Entah kemana aku….

“Sha!”

Sesha menengok padaku. Penerangan jalan yang minim cukup bagiku untuk menangkap raut wajahnya.

Lampu sign terus berdetak.

“Kita….,” aku tergagap, “Sampai ketemu lagi.”

Malam itu, di bawah temaram lampu…. Aku melihat Sesha tersenyum.

(Selesai –mungkin)
Jakarta, 20 Agustus 2012
Andreas Cornelius Marbun