Jurnal Stuttgart

(scroll down for previous entries)

ENTRY #23
Jurnal Italia Bagian 7: Venice Hari Keempat & Florence Hari Pertama

Minggu, 20 September 2015
Venice.

Pukul sepuluh pagi saya meninggalkan penginapan Giramondo B&B. Prosedur check-out sama uniknya dengan prosedur check-in: cukup dengan meninggalkan kunci kamar di meja kabinet dekat pintu keluar. Tanpa bertemu siapa-siapa dan tanpa basa-basi ‘hati-hati di jalan, semoga hari Anda menyenangkan!’ Hanya, dan hanya, sebatas bisnis.

Saya mampir ke bar di seberang jalan dan menukarkan kupon sarapan yang terakhir. Saat itu yang sedang menjaga bar adalah seorang wanita Italia. Walaupun usia wanita itu sudah paruh baya, namun jejak-jejak kecantikan masih melekat di wajahnya.

Sarapan yang disajikan sudah ditentukan. Saya tidak bisa memilih menu apa untuk dimakan. Tapi tidak apa-apa, demikian lebih praktis. Dengan nampannya, si penjaga bar mengantarkan dua piring kecil dengan croissant dan roti gula, secangkir kopi hangat, serta dua buah gelas kaca. Gelas kaca pertama berisi air putih sedangkan gelas kaca kedua berisi orange juice—yang warnanya bukan oranye melainkan merah. Saya menghabiskan sajian tersebut dalam seperempat jam.

“Ciao, hati-hati di jalan! Semoga hari Anda menyenangkan!” seru wanita penjaga bar saat saya beranjak keluar.

IMG_1545

Kota berikutnya yang saya tuju adalah Florence, atau Firenze dalam Bahasa Italia. Kereta yang saya tumpangi akan berangkat pada pukul 11.37. Saya pergi ke stasiun Venice Mestre dengan berjalan kaki, sama seperti ketika saya datang. Perjalanan dari Venice ke Florence memakan waktu sekitar satu setengah jam.

Florence.

Florence, tempat kelahiran si jenius Leonardo da Vinci. Saat merencanakan perjalanan ke Italia, pada awalnya saya tidak mempertimbangkan Florence untuk didatangi. Tapi saya berubah pikiran setelah beberapa teman benar-benar merekomendasikan kota ini.

Di Florence saya menginap di Wow Hostel. Jaraknya hanya lima belas menit perjalanan kaki dari Stasiun Firenze Santa Maria Novella. Skala kota Florence mirip dengan Praha, intim tapi tidak sesak—skala kota yang membuat orang ingin berkeliling dengan berjalan kaki. Saya sampai di Wow Hostel menjelang pukul dua siang. Hostel ini menghuni dua lantai teratas dari sebuah bangunan bertingkat lima. Resepsionis berada di lantai empat. Saya naik dengan menggunakan elevator. Sebuah koridor menghubungkan landasan elevator dengan ruang lounge dimana resepsionis berada.

Nama ‘Wow Hostel’ memang nama yang sesuai dengan penginapan ini. Lounge hostel yang luas berfungsi sekaligus sebagai area penerima tamu. Desain interior ruangan ini diolah dengan baik. Pilihan warna-warna cerah pada dinding, karpet, dan furnitur memberikan kesan segar dan muda. Berjarak dua meter dari meja resepsionis, tersedia tiga buah sofa yang mengelilingi sebuah TV layar datar 40 inch. Di satu sudut terpajang sebuah rak buku kecil, sementara di sudut yang berlawanan sebuah komputer tersedia untuk para tamu. Di sebelah kiri meja resepsionis, dipisahkan oleh pintu ganda dari kaca, terletak ruang makan berkursi warna-warni yang tak kalah luasnya dengan ruangan lounge.

Resepsionis yang sedang berjaga adalah seorang perempuan muda Italia. Rambutnya pirang kecokelatan diikat ke belakang, berpakaian kasual dengan sebuah kacamata berframe hitam menggantung di hidungnya. Setelah memeriksa paspor saya, ia mencetak kertas-kertas bukti transaksi, memberikan penjelasan seputar hostel dan memberikan peta Florence pada saya.

“Kamarnya di ruangan nomor 4 ya,” ujarnya sambil menyerahkan kunci kamar.

Saya memeriksa denah lantai yang tergantung di dinding. Kamar nomor 4 berada di sebelah ruangan laundry, tidak jauh dari lounge. Kali ini saya menginap di kamar tipe dormitory lagi.

Di dalam kamar nomor 4 terdapat sebuah jendela besar, yang memenuhi salah satu sisi ruangan, dan sebuah kamar mandi. Tersedia enam buah kasur tunggal dengan bantal dan lipatan kain sprei yang tertata rapi. Keenam kasur nampak belum disentuh, rupanya saya penghuni pertama di kamar ini. Saya memilih kasur di dekat jendela. Saya duduk di atas kasur dan melayangkan pandangan ke seluruh ruangan.

Beberapa jam sudah lewat dari tengah hari. Walaupun sudah memasuki musim gugur, tidak seperti di Stuttgart, cuaca di Florence masih cerah dan terik. Cahaya matahari melimpah masuk ke dalam ruangan melalui jendela besar. Saya membayangkan esok pagi siapapun nanti yang tidur di kasur dekat jendela mau tidak mau akan terbangun sebelum matahari meninggi.

Kepala saya mulai agak pusing. Meskipun ingin sedikit lebih lama mengistirahatkan kaki tetapi lambung saya tidak bisa berkompromi lagi. Mesti segera cari makan siang. Sebelumnya dalam perjalanan dari stasiun, saya menemukan beberapa restoran Asia. Kali ini saya bulat ingin makan nasi dan es teh.

Saya menyusuri kembali jalan yang tadi saya lalui dari stasiun. Saya memasuki sebuah restoran China. Di dalam restoran, selain saya, hanya ada sekelompok bapak-bapak dan ibu-ibu paruh baya. Mereka bercakap-cakap dalam Bahasa Italia. Walaupun demikian, mereka sepertinya wisatawan juga.

Seorang pelayan wanita yang berkemeja putih dan bercelana bahan hitam mengantarkan saya ke salah satu meja di ujung ruangan. Ia meninggalkan buku menu di atas meja. Gawatnya, menu hanya tertulis dalam Bahasa Italia, dan lebih gawatnya lagi, pelayan restoran hanya bisa berbicara Bahasa Italia dan Mandarin. Dengan bantuan gambar saya memesan nasi putih dengan daging dan es teh manis. Si pelayan nampaknya paham dan ia pun meneruskan pesanan saya ke koki di dapur.

Tak lama, pesanan saya datang. Tapi bukannya nasi putih dan daging, yang disajikan di depan saya malahan nasi goreng. Dan alih-alih es teh, yang datang malah teh panas dalam teko. Saya tercengang. Mana ada orang yang minum teh panas pada cuaca terik begini. Saya diam tidak menyentuh sajian di depan saya. Tapi karena karena pegawai restoran tidak bisa berbahasa Inggris, percuma juga mengeluh. Untungnya, setelah saya cicipi, nasi gorengnya sangat lezat.

IMG_1734

Setelah itu saya berkeliling kota tanpa tujuan khusus, sekedar untuk mendapat gambaran umum kota macam apakah Florence ini. Sekitar pukul enam sore, matahari masih tinggi. Saya mengunjungi Piazza Duomo, dimana Kathedral Duomo terletak. Nama yang sama dipakai juga oleh Kathedral di Milan, tapi saya tidak yakin bagaimana keduanya berhubungan. Kathedral Duomo di Florence dirancang oleh Brunelleschi pada abad ke-13. Saya ingat bangunan ini sempat dibahas sewaktu saya masih berkuliah di Bandung pada kelas Sejarah Arsitektur Modern sebagai bangunan pertama dengan konstruksi atap kubah raksasa.

Terlihat barisan antrian panjang di sisi Utara dan Selatan Kathedral. Antrian pertama untuk naik ke atas kubah sedangkan antrian kedua untuk naik ke atas menara Kathedral. Saya masuk ke dalam antrian di depan menara. Di dalam, saya bertanya kepada petugas mengenai tiket masuk. Dia menginformasikan kepada saya bahwa dengan menggunakan tiket menara saya juga dapat mengakses kubah Kathedral. Namun, karena sudah sore dan mendekati waktu tutup, saya putuskan untuk kembali esok hari.

Saya mengelilingi Kathedral satu kali putaran sebelum beranjak ke tempat lain. Tiba-tiba dari tengah keramaian seseorang memanggil nama saya.

“Andreas!” saya terkejut. Dari semua negara dan tempat wisata yang ada di Eropa, tanpa disengaja saya bertemu dengan Cacil di Florence. Cacil adalah teman seangkatan saya di Arsitektur ITB. Nama aslinya Nissa tapi karena badannya kecil, dia dipanggil Cacil—Nissa kecil. Dia dan saya juga berada di batch beasiswa LPDP yang sama.

Seperti Bayu, Cacil juga mengambil program pasca-sarjana di United Kingdom dan sedang berkeliling Eropa sebelum kembali ke Indonesia. Dia bepergian bersama rekannya yang rupanya adalah senior saya di SMA. Kami mengobrol-ngobrol sebentar dan mengambil foto bersama. Benar-benar kebetulan yang tidak disangka-sangka.

Sesudah kami berpisah, saya kembali berkeliling kota tanpa tujuan spesifik. Saat malam sudah mulai turun, saya sedang berada di Piazza Santa Maria Novella—ruang terbuka publik yang terbentang di depan sebuah Basilica. Di piazza ini tersedia deretan balok-balok beton yang digunakan sebagai tempat duduk.

Ada empat-lima orang anak-anak muda asal China yang mengokupasi salah satu balok. Mereka bermain kartu sambil tertawa-tawa, sementara turis-turis lain duduk menghadap ke Basilica menyaksikan pertunjukan seorang musisi jalanan. Saya pribadi merasa bermain kartu di tempat umum seperti itu bukan tindakan yang pantas. Anak-anak muda itu lupa kalau sebagai tamu di negara asing mereka membawa nama baik negaranya.

Saya mengambil tempat duduk yang kosong di barisan depan yang agak jauh dari anak-anak muda itu. Pemusik jalanan yang sedang tampil adalah seorang pria paruh baya. Ia menyanyikan lagu-lagu berbahasa Inggris dengan diiringi gitar akustiknya. Pria itu menyanyikan beberapa lagu hingga sampai pukul setengah delapan malam. Lagu terakhir yang ia nyanyikan adalah ‘I Wish You Were Here’ milik Pink Floyd.

d9ac3180-9f38-4246-9afb-76504947f480

Setelah itu saya mampir ke sebuah caffee membeli segelas caramel latte dan duduk di sana sampai waktu tutupnya pada pukul delapan malam. Dalam perjalanan pulang saya mampir ke sebuah toko swalayan untuk membeli tiga butir apel sebagai makan malam.

Setibanya di hostel, saya langsung menuju ke kamar di ruangan nomor 4. Kasur-kasur yang tadi siang masih kosong sekarang ditempati oleh tas dan barang-barang bawaan. Saat saya datang, tamu-tamu lain sedang tidak ada di kamar. Saya duduk di kasur saya dan mengisi baterai kamera. Tak lama kemudian seorang perempuan berambut pirang masuk ke dalam kamar.

“Halo,” sapa saya.

Si pirang entah mengapa nampak ragu-ragu sebelum menjawab salam. Saya mengalihkan perhatian ke backpack saya, mencari charger ponsel.

“Um,” dia berdiri di depan saya, wajahnya terlihat antara bingung dan heran, “saya mau mandi.”

“Eh?” jawab saya tidak paham, “Oh, maksudnya kamu tanya ke saya, apa saya mau pakai kamar mandinya?”

“Bukan,” jawab perempuan itu, “saya yang mau mandi.”

“Um… terus?”

“Um… bukannya ini kamar khusus perempuan?”

“Eh? Bukan, kan?” jawab saya ragu.

“Okay, sebentar… Saya tanya ke resepsionis ya,” perempuan itu pun pergi keluar kamar.

Saya kembali sibuk dengan backpack, mencari charger ponsel, tapi kali ini sambil ikut kebingungan. ‘Kamar perempuan?’ Setelah mencolokkan charger ke steker listrik, saya pergi menyusul si perempuan pirang tadi. Di koridor saya bertemu dengannya.

“Kamu laki-laki atau perempuan?” tanyanya bersungguh-sungguh. Dia tidak bertanya dengan nada ketus atau sinis, tidak juga sedang bercanda. Dia seratus persen serius. Pertanyaan absurd ini membuat saya tertawa.

“Saya laki-laki,” jawab saya.

“Oh,” melihat saya tertawa dia ikut tersenyum, mungkin ia menyadari betapa konyol pertanyaannya, “habisnya tadi resepsionisnya bilang, ‘Apa kamu yakin dia laki-laki? Coba periksa sekali lagi.’”

Kami pergi ke resepsionis bersama, lalu si pirang berkata kepada resepsionis yang sedang bertugas, “Lihat, ini orangnya.”

“Lho? Kamu ngapain di kamar nomor 4? Itu kamar perempuan!” kata si resepsionis. Resepsionis ini laki-laki, bukan resepsionis perempuan yang menerima saya tadi siang.

“Mana saya tahu, tadi resepsionisnya bilang saya di kamar nomor 4.”

“Okay, sekarang sedang banyak tamu yang check-in. Kamu duduk dulu di sana, nanti saya panggil.”

Si perempuan pirang kembali ke kamar nomor 4 sedangkan saya duduk menunggu di sofa. Lima menit kemudian si resepsionis laki-laki memanggil nama saya. Di sebelahnya ada resepsionis perempuan tadi siang. Rupanya mereka menempatkan saya di kamar yang salah. Kamar saya seharusnya berada di ujung koridor—kamar nomor 9.

Setelah menerima kunci kamar yang benar, saya kembali ke kamar nomor 4 untuk mengambil barang-barang. Sebelum masuk ke dalam, saya mengetuk pintu terlebih dulu.

“Iya betul, ternyata saya salah kamar,” kata saya kepada si pirang sambil membereskan bawaan saya, “Kok bisa ya? Memangnya saya kelihatan kayak perempuan?”

“Nggak kok,” jawabnya, “setidaknya saya langsung tahu kamu laki-laki.”

Saya menenteng backpack di satu pundak dan keluar dari kamar itu. Kejadian yang cukup memalukan. Untung saja hanya si pirang satu-satunya penghuni kamar yang sudah pulang.

Saya masuk ke kamar nomor 9. Lain dari kamar 4 dengan kasur-kasur tunggalnya, di kamar ini terdapat tiga buah kasur tingkat. Tersedia sebuah kamar mandi bersama dan sebuah jendela besar pada salah satu dindingnya. Saat saya masuk, ada tiga tamu laki-laki dan seorang tamu perempuan. Saya mengucap salam kepada mereka. Dua laki-laki yang menghuni kasur tingkat di dekat pintu sudah bersiap-siap untuk tidur, sedangkan satu tamu laki-laki yang lain nampak sedang bersiap-siap keluar ingin mencari angin. Satu orang tamu lain belum pulang.

Saya mengambil satu-satunya kasur yang belum ditempati, di atas kasur si tamu perempuan. Sehabis meletakkan backpack dan beberapa barang di locker kamar, saya mengambil apel dan buku Jo Nesbo lalu keluar dari kamar. Saya duduk-duduk di lounge menyantap apel saya sambil membaca buku.

Setelah saya menghabiskan dua butir apel dan hendak kembali ke kamar, si resepsionis laki-laki memanggil saya.

“Andreas! Kemari sebentar.”

“Ya?” saya mendatangi meja resepsionis, “Ada apa?”

“Ini,” si resepsionis perempuan menyerahkan sebuah kertas kecil laminating kepada saya, “besok pagi kamu bisa bawa voucher ini ke ruang makan untuk dapat sarapan gratis.”

“Wah, terima kasih ya,” kedua pegawai hostel memang tidak meminta maaf secara formal lewat kata-kata, tapi voucher sarapan ini cukup menunjukkan itikad baik mereka.

Kembali di kamar, saya mengambil laptop dan naik ke atas kasur. Lampu masih menyala namun tiga tamu yang ada di kamar sudah tertidur. Saya menghubungkan laptop dengan jaringan internet hostel. Awalnya saya berencana untuk mengunjungi museum-museum utama di Florence besok, tapi masalahnya, museum-museum utama tutup pada hari Senin. Oleh sebab itu saya mempertimbangkan alternatif tempat-tempat lain yang bisa saya kunjungi.

Salah satunya adalah Menara Pisa di kota Pisa, yang jaraknya satu jam perjalanan kereta dari Florence. Sejujurnya saya tidak benar-benar tertarik untuk pergi ke sana. Saya mencari informasi mengenai bagaimana cara menuju ke Pisa hanya sebagai rencana cadangan.

Penghuni keenam akhirnya kembali ke kamar. Seorang gadis Asia yang usianya awal duapuluhan. Rambut panjangnya diwarnai hitam kecokelatan dengan poni rata yang jatuh di dahinya. Gadis itu mengenakan jaket jeans yang dikombinasikan dengan celana pendek putih.

“Hai,” sapanya dengan suara yang kecil dan tipis. Saya membalas salamnya. Gadis itu merebahkan dirinya di salah satu kasur bawah dan segera sibuk dengan ponselnya.

Situs internet yang saya kunjungi tidak kunjung terbuka. Saya mencoba mengakses google tetapi koneksi tetap juga lambat. Beberapa menit saya diam saja menunggu ikon lingkaran di tab browser berhenti berputar.

“Internetnya memang lambat ya di sini? Atau cuma saya saja?” tanya saya membuka percakapan.

“Umm… iya memang agak lambat sih,” si gadis Asia mengangkat kepalanya. Dari logat bicaranya terdengar warna British yang agak samar.

“Sudah coba di lounge? Apa di sana lebih cepat?”

“Umm… mungkin lebih cepat.”

“Okay,” saya tidak langsung beranjak melainkan tetap menunggu halaman situs terbuka, “Kamu sudah berapa lama di Florence?”

“Ini malam keduaku… Masih akan menginap di sini dua malam lagi,” jawabnya, “Kalau kamu sampai kapan di Florence?”

“Saya menginap tiga malam di sini,” halaman situs mulai terbuka, “Kamu sudah pernah ke Pisa belum?”

“Belum. Mau pergi ke sana ya?”

“Belum tahu juga sih,” ujar saya, “Besok sebenarnya ingin berkunjung ke museum-museum, tapi mereka tutup, jadi saya sedang cari alternatif lain.”

“Iya, museum-museum di sini tutup setiap hari Senin,” timpalnya, “Sudah ke Kathedral Duomo? Bagus lho.”

“Ah, tadi sore saya kesana tapi sudah hampir tutup.”

“Hari ini aku ke sana. Kamu mesti naik ke atas menaranya, pemandangannya cantik banget dari atas,” jelasnya, “Tapi harus panjat 414 anak tangga, lumayan capek sih.”

“Oh ya? Boleh juga, nanti saya ke sana juga deh.”

Si gadis Asia itu kemudian menawari saya kue kering yang sedang ia makan. Saya berterimakasih dan menolaknya sebab saya tidak suka makan sambil melakukan kegiatan lain selain menonton film. Masih ada beberapa hal yang mau saya tanyakan, tapi saya takut mengganggu tidur penghuni kamar lainnya. Saya pun kembali ke laptop dan ia kembali ke ponselnya.

Koneksi internet di kamar tidak menunjukkan tanda-tanda akan membaik. Pada saat yang hampir berbarengan, si gadis Asia dan saya keluar dari kamar dan pergi ke lounge. Selain kami ada satu orang tamu lain yang juga duduk di sofa sambil berselancar. Televisi 40 inch di depan kami menyala walaupun tidak ada yang menonton, menayangkan videoklip-videoklip yang tenar di era awal 2000.

“Di sini internetnya lebih cepat ya,” ujar saya.

“Iya, lebih cepat daripada di kamar,” jawab tamu sekamar saya itu.

Berselang beberapa menit, saya membuka pembicaraan lagi, “Ngomong-ngomong, ada rencana mengunjungi Pisa nggak?”

“Kayaknya nggak sih.”

“Loh, kenapa?”

“Nggak apa-apa, aku lebih suka di Florence aja. Kota ini cantik soalnya.”

“Ooo, begitu,” saya tidak tahu banyak mengenai Florence. Rencana perjalanan saya ke Italia tidak begitu detail, dan dari keempat kota Italia yang saya kunjungi, Florence adalah yang paling tidak saya rencanakan dengan detail, “Kamu ada rekomendasi nggak tempat-tempat apa yang harus saya kunjungi di sini?”

“Hmm… aku nggak tahu style travellingmu kayak gimana. Tapi buatku, berkeliling ke sudut-sudut kota Florence saja sudah menyenangkan kok. Jalan, duduk-duduk, menikmati suasana kotanya. Semuanya cantik di sini.”

Siapa gadis ini? Dia menjawab dengan bagus. Beberapa teman berkata kepada saya bahwa Menara Pisa sudah sangat dekat dari Florence, karena itu tanggung jika tidak berkunjung ke sana. ‘Datang, ambil foto-foto selfie, terus pulang deh,’ demikian seorang teman berkata. Akhirnya saya jadi sempat bimbang walaupun tidak benar-benar tertarik dengan Menara Pisa. Tetapi, begitu mendengar jawaban si gadis Asia ini, saat itu juga saya langsung bulat mencoret Menara Pisa dari daftar mental saya.

“Kamu sudah mengunjungi berapa negara Eropa?” gadis itu bertanya kepada saya.

“Umm, sebenarnya saya sedang kuliah di Eropa dan sekarang lagi masa liburan semester, jadi saya baru mengunjungi dua negara: Perancis dan Italia,” jawab saya.

“Ooo, kuliahnya di mana?”

“Di Stuttgart, Jerman.”

“Wah, aku juga ada rencana buat ambil pasca-sarjana di Jerman!”

“Oh ya? Mau ambil jurusan apa memangnya?”

“Desain.”

“Sebelumnya juga kuliah desain?”

“Iya, aku kuliah Desain Interior dan Desain Tekstil.”

“Wah, bidang kita dekat ternyata. Saya kuliah sarjana di bidang Arsitektur,” balas saya, “Hm, tapi saya nggak bisa membayangkan bagaimana mengaitkan interior dan tekstil sih.”

Dia tertawa kecil, “Yaa, sebenarnya kuliahku itu kuliah Desain secara umum.”

“Jadi kamu ke Eropa dalam rangka liburan saja?”

“Bukan, aku kursus Bahasa Inggris selama enam bulan di United Kingdom,” jawabnya, pantas saja dari caranya bicara terdengar nuansa British walaupun agak samar, “kursusnya sudah selesai dan sekarang aku keliling-keliling dulu sebelum pulang. Satu teman perempuanku yang ikut kursus tinggal di dekat Florence, jadi kami ketemu dan jalan bareng di sini.”

“Ooo, begitu rupanya. Makanya kamu ada sedikit logat British ya,” ia mengangguk kecil mengkonfirmasi.

“Ngomong-ngomong, asalmu dari mana?” tanyanya pada saya.

“Saya dari Indonesia.”

“Oh, sungguh?”

“Kamu dari mana?”

“Aku dari Korea.”

“Namamu?”

“Aku Yoomi, kalau kamu?”

“Andreas,” jawab saya. Setelah berpikir sebentar saya berkomentar, “Yoomi kedengaran seperti nama Jepang.”

“Iya kaan,” Yoomi seakan sudah memprediksi komentar saya, “Hampir semua orang—bukan hampir—semua orang mengira aku orang Jepang. Karena namaku dan karena penampilanku.”

Dia memang tidak terlihat seperti gadis Korea pada umumnya. Gadis Korea yang saya temui selama perjalanan biasanya berprofil wajah bundar dan memakai lipstick merah menyala. Sementara wajah Yoomi cenderung oval dengan batang hidung lurus dan panjang—profil wajah yang lebih umum dimiliki oleh orang Jepang.

Kami mengobrol-ngobrol lebih lanjut. Yoomi berencana melakukan perjalanan keliling Eropa selama satu bulan sebelum kembali ke negaranya. Sesudah itu ia ingin mencari informasi mengenai perkuliahan di bidang desain di Jerman. Yoomi bilang ia tertarik bersekolah di Jerman setelah mengunjungi Berlin. Kota itu memang sangat hidup dan atraktif, saya baru menyadari betapa membosankannya hidup di Stuttgart setelah melihat Berlin.

Pada pukul dua belas malam lewat beberapa menit, setelah berbincang-bincang selama lima belas-dua puluh menit dengan Yoomi, saya pamit pergi tidur. Badan sudah lelah dan mata berat. Saya tidak kesulitan sama sekali menyeberang ke alam lelap begitu merebahkan diri di kasur.

***

ENTRY #22
Jurnal Italia Bagian 6: Venice Hari Ketiga

Sabtu, 19 September 2015
Venice.

Tidak banyak hal menarik untuk diceritakan pada kunjungan saya pada hari berikutnya ke Venice. Saya datang kembali ke Palazzo Grassi. Kemarin saya sudah membeli tiket water bus terusan untuk dua hari, jadi saya bisa langsung menaiki water bus No.1 ke dermaga San Samuele dimana Palazzo Grassi berada. Di sana sedang diadakan pameran tunggal dari seniman kontemporer Perancis bernama Martial Raysse.

Setelah menghabiskan kurang lebih satu setengah jam di Palazzo Grassi, saya menyeberang ke dermaga Rialto. Sebelum memulai perjalanan ke Italia, saya sempat menghubungi seorang teman yang sedang berkuliah di Milan untuk meminta saran ke mana saya harus pergi. Teman saya ini juga berlatar belakang arsitektur. Ia merekomendasikan, di Venice, agar saya pergi ke Stampalia Pinacoteca yang merupakan sebuah galeri yang dirancang oleh Scarpa. Maka, saya pun berjalan dari dermaga Rialto menyusuri gang-gang kecil rumit yang menuju ke galeri tersebut. Begitu tiba di lokasi, saya sempat kebingungan mencari letak pintu masuknya.

Area penerima tamu pada galeri Stampalia Pinacoteca menjadi satu dengan toko buku dan souvenir. Petugas galeri menginformasikan kepada saya bahwa ada dua jenis tiket masuk yang bisa dibeli: tiket penuh untuk mengakses seluruh koleksi galeri dan tiket untuk akses lantai dasar bagi yang hanya ingin mengeksplorasi innercourt yang didesain oleh Scarpa. Setelah menimbang-nimbang, saya memutuskan untuk tidak masuk ke dalam—lagipula saya bukan pengagum karya Scarpa.

Saya melanjutkan perjalanan kaki ke arah Piazza San Marco. Saya masuk ke dalam Palazzo Ducale, sebuah kompleks museum di sebelah Basilica San Marco, dan membeli tiket. Dulunya, pada abad ke-9, Palazzo Ducale merupakan tempat tinggal resmi penguasa Venice yang sekaligus berfungsi sebagai gedung pemerintahan. Setiap balai pertemuan di dalamnya dihiasi oleh lukisan minyak megah pada langit-langit dan dindingnya. Selain itu, kompleks ini juga tersambung dengan penjara kota. Terdapat juga gudang persenjataan pada salah satu sayap bangunan yang kini dibuka untuk umum.

IMG_1563

Setelah berkeliling di dalam Palazzo Ducale selama beberapa jam, saya pergi ke dermaga San Marco lalu menaiki water bus ke dermaga Arsenale di sisi Timur pulau. Saat ini sedang berlangsung event pameran kesenian Venice Biennale 2015. Galeri negara-negara yang berpatisipasi dalam event ini tersebar di berbagai lokasi di pulau Venice. Kemarin Bayu bilang Indonesia juga merupakan salah satu partisipan dan galerinya terletak di area Arsenale, di dekat loket penjualan tiket.

Saya tiba di sana menjelang pukul enam sore. Harga tiket cukup mahal dan lebih menguntungkan apabila kunjungan dilakukan selama beberapa hari. Karena besok saya sudah akan pergi ke kota berikutnya maka saya urungkan niat untuk melihat-lihat event ini.

Tak jauh dari loket penjualan tiket terdapat galeri Macau. Saya mengintip ke dalam, tidak ada tanda-tanda pemeriksaan tiket. Barangkali aksesnya gratis, pikir saya. Yang ditampilkan di galeri kecil ini adalah karya tunggal dari seniman Macau, Mio Pang Fei. Beliau adalah seniman yang tumbuh pada era Revolusi Kebudayaan di China. Mio Pang Fei mengembangkan sebuah gaya berkesenian yang disebut ‘neo-orientalism’. Selain delapan belas karya lukis dan instalasi, galeri ini juga menayangkan sebuah film dokumenter mengenai sosok Mio Pang Fei. Saya mengambil tempat duduk dan menonton dokumenter tersebut dari awal hingga akhir.

IMG_1593

Sudah hampir senja ketika saya keluar dari galeri Macau. Saya menyusuri ‘waterfront’ yang membentang dari Arsenale hingga ke San Marco. Keramaian manusia nampak tak kunjung surut. Banyak turis duduk-duduk di bangku restoran tepi dermaga, banyak juga yang berfoto-foto dengan latar matahari senja, kios-kios souvenir berjejer tiap beberapa meter, ada rombongan pengantin beserta keluarga dan tamunya, juga tak ketinggalan musisi jalanan yang membuat suasana lebih meriah.

IMG_1586

Sesampainya di San Marco, saya melompat dari satu kios ke kios lainnya, mencari souvenir titipan mama saya. Setelah mendapatkan apa yang saya cari, saya pergi ke Piazza San Marco dan membaur dengan keramaian hingga malam tiba. Demikianlah hari terakhir saya di pulau Venice.

IMG_1608

***

ENTRY #21
Jurnal Italia Bagian 5: Venice Hari Kedua

Jumat, 18 September 2015
Venice.

Hal pertama yang saya lakukan setelah sarapan adalah mencuci pakaian di laundry. Berjarak lima menit perjalanan kaki dari penginapan, terdapat sebuah kios laundry swalayan berisi empat mesin cuci dan empat mesin pengering. Tidak ada petugas yang menunggui kios. Hanya ada lembar-lembar petunjuk pemakaian dalam tiga Bahasa (Italia, Hindi, dan Inggris) yang ditempel di dinding.

Untuk mencuci pakaian, pelanggan mesti memasukkan sejumlah uang—bisa berupa koin maupun kertas—ke dalam mesin di tengah ruangan. Pada mesin tersebut terdapat delapan buah tombol yang disertai alphabet, A-D untuk mesin cuci dan E-H untuk mesin pengering. Pelanggan memilih mesin yang hendak digunakan dengan menekan tombol. Begitu ditekan, tombol tersebut akan menyala merah. Pada mesin pencuci terdapat tombol-tombol lain untuk memilih mode cucian dan temperatur air. Selanjutnya pelanggan hanya tinggal menunggu hingga mesin selesai bekerja. Prosedur penggunaan mesin pengering juga sama dengan mesin cuci.

Selain saya ada seorang ibu-ibu Italia yang sibuk bertelepon dan seorang pemuda Bangladesh. Saya duduk di kursi yang kosong dan menunggu sambil membaca Jo Nesbo. Setelah 45 menit mesin cuci dan 30 menit mesin pengering saya kembali ke penginapan.

Saya berangkat dari penginapan pukul dua belas siang. Hari ini saya akan bertemu dengan Bayu—seorang mahasiswa Indonesia yang baru saja merampungkan studi pasca-sarjananya di Leeds, United Kingdom. Saya dan Bayu adalah teman SMA. Kami pernah berada di kelas yang sama selama setahun. Waktu itu media sosial belum begitu marak digunakan, jadi setelah kami lulus SMA kami kehilangan kontak sama sekali. Lalu, pada tahun 2014 lalu, tanpa diduga-duga kami bertemu kembali saat seleksi wawancara beasiswa LPDP. Kami sama-sama lolos seleksi dan berada pada batch beasiswa yang sama. Program pasca-sarjana yang Bayu ambil hanya sepanjang satu tahun. Sebelum kembali ke Indonesia, ia berkeliling dulu ke beberapa kota di Eropa dan kebetulan waktu kunjungannya di Venice beririsan dengan saya. Bayu dan saya menetapkan untuk bertemu di bawah Menara San Marco pada pukul satu siang.

Dari Venice Mestre saya menaiki Bus 4L ke Venice selama kurang lebih 10 menit. Saya menghampiri sebuah kios majalah dan souvenir di dekat terminal bus Venice untuk membeli peta. Dari tempat saya berada, ada tiga cara untuk mencapai Menara San Marco. Pertama, berjalan kaki; kedua, dengan menggunakan water bus hingga mencapai dermaga San Marco; atau ketiga, kombinasi water bus dan berjalan kaki.

Cara pertama adalah yang paling murah, tetapi ada resiko tersesat di antara gang-gang kecil Venice dan akibatnya terlambat. Cara kedua adalah yang paling mudah, tetapi ada kelokan pada jalur kanal menuju dermaga San Marco yang membuat perjalanan akan lebih panjang sehingga tetap ada resiko terlambat. Akhirnya saya putuskan menggunakan cara ketiga, menaiki water bus dari terminal bus hingga sampai di dermaga Rialto (pemberhentian terakhir sebelum kanal mulai berkelok) dan disambung dengan berjalan kaki hingga ke San Marco.

IMG_1525

Saya  tetap terlambat beberapa menit saat tiba di Piazza San Marco. Banyak turis memadati lapangan luas ini. Yang terpikir pertama kali adalah bagaimana saya menemukan Bayu di tengah keramaian sebanyak ini. Di sebelah kiri saya ada Basilica San Marco, banyak turis mengantri untuk masuk ke dalam. Di sebelah kanan saya, di pinggir-pinggir lapangan terbuka, terdapat beberapa restoran yang kursi-kursi dan meja-mejanya tumpah hingga ke area lapangan. Turis-turis berfoto dengan latar belakang basilica, ada juga yang bermain-main dengan gerombolan merpati. Membaur dengan keramaian turis, pedagang-pedagang yang sebagian besar berdarah Asia Selatan nampak menjajakan dagangannya.

Di hadapan saya menjulang Menara San Marco. Di kaki menara, saya melihat Bayu yang sedang berdiri menikmati gelato. Saya pun pergi menghampirinya. Penginapan Bayu berada di pulau Venice. Dia tiba di pulau ini sejak pagi dan sudah berkeliling lebih dahulu.

Kami langsung pergi mencari makan siang. Selama saya di Italia, saya belum pernah mencoba kuliner khas setempat. Salah satu kekurangan saya saat pergi travelling sendiri adalah cenderung pergi ke tempat makan yang itu-itu saja atau yang familiar. Jadi, walaupun kota yang saya kunjungi berada di negara yang berbeda dengan budaya yang berbeda pula, saya cenderung tetap pergi ke kedai kebab atau ke restoran China untuk makan nasi. Tapi berkat adanya Bayu, setelah lima hari di Italia akhirnya saya pun makan di restoran khas setempat. Setelah berputar-putar, kami masuk ke sebuah restoran spaghetti dan pasta. Bayu memesan spaghetti dengan saus tinta cumi-cumi sedangkan saya memesan spaghetti seafood.

Sambil makan siang kami bertukar kabar. Rencana perjalanan Bayu sangat padat. Dia tiba di Venice pagi ini dan akan berangkat ke tempat lain esok pagi. Terdengar melelahkan. Bayu bercerita, di perbatasan Hungaria sedang ada razia ketat karena adanya masalah pengungsi dari Syria. Akibatnya kereta yang mestinya ia tumpangi untuk menuju ke Venice tidak beroperasi sehingga Bayu mesti mencari rute alternatif agar bisa tetap tiba di Venice pagi tadi. Di restoran tempat kami makan, saya perhatikan beberapa tamu melirik ke meja kami saat kami mengobrol. Sepertinya mereka heran dan penasaran dengan Bahasa eksotik yang kami gunakan.

Sehabis makan kami menjelajah gang-gang Venice. Lalu pada pukul 14.30 kami pergi ke dermaga San Marco. Bayu telah memesan tiket untuk tour ke tiga pulau kecil di Venice: Murano, Burano, dan Torcello. Kami berpisah dan akan bertemu lagi untuk makan malam pada pukul delapan.

Satu tempat yang paling ingin saya kunjungi di Venice adalah Punta della Dogana—sebuah galeri. Galeri seni kontemporer ini dirancang oleh arsitek Jepang kenamaan, Tadao Ando. Ciri khas Tadao Ando adalah penggunaan material yang telanjang, sensitivitasnya atas cahaya dan bayangan, serta kepiawaiannya dalam menempatkan bangunannya secara harmonis dengan lansekap sekitar.

Punta della Dogana berada persis di seberang dermaga San Marco. Saya menyeberang ke sana dengan menumpang water bus. Saya membeli tiket masuk Punta della Dogana sekaligus Palazzo Grassi di loket galeri. Keduanya merupakan galeri seni kontemporer. Tiket berlaku selama tiga hari untuk satu kali akses ke masing-masing galeri.

Saya tidak terkesan dengan karya-karya yang dipamerkan di dalam—malah cenderung jengkel dibuatnya. Berbeda dengan era renaissance di mana para seniman berikhtiar mengejar keterampilan yang adiluhung dan melahirkan karya-karya yang mendokumentasikan pergulatan spiritual dan sosial pada zamannya, karya seni kontemporer yang dipamerkan di galeri ini terlihat seperti (maaf) sampah antisosial yang tidak merefleksikan apa-apa selain, mungkin, kondisi kejiwaan pembuatnya. Namun demikian, saya tetap menikmati kunjungan saya di Punta della Dogana. Tadao Ando dengan apiknya memadukan unsur yang kasar dan yang halus, serta menampilkan beberapa kejutan kecil permainan cahaya dan bayangan.

IMG_1438 copy

IMG_1445

Selepas dari Punta della Dogana, saya menaiki water bus menuju dermaga San Samuele di mana Palazzo Grassi berada. Matahari masih menggantung di langit, saya tidak sadar ketika itu sudah pukul enam sore—yang artinya Palazzo Grassi sudah tutup.

Saya membuka peta untuk memutuskan pergi ke mana. Kemudian saya kembali menumpang water bus, kali ini ke dermaga San Marcuola di daerah Utara pulau. Saya berjalan-jalan tanpa tujuan khusus. Masuk gang, keluar di ruang terbuka, masuk gang lagi, menyeberangi kanal kecil, dan menyaksikan matahari terbenam dari salah satu jembatan. Tak terasa waktu sudah hampir menunjukkan pukul delapan malam. Langit sudah gelap dan lampu-lampu jalan dinyalakan. Saya mampir ke salah satu toko swalayan untuk membeli air mineral besar dan sesisir pisang lalu kembali berjalan kaki ke arah dermaga.

IMG_1527

Pukul delapan lewat lima saya tiba di Piazza San Marco. Bayu sudah ada di kaki Menara San Marco, duduk-duduk menyaksikan penampilan pemusik restoran. Kami berjalan menyusuri gang-gang mencari restoran yang cocok. Di depan pintu sebuah restoran Italia kami membolak-balik buku menu. Si pelayan restoran yang berpenampilan Asia Selatan menghampiri kami.

“Kalian dari mana?” tanyanya pada kami.

“Indonesia.”

“Indonesia? Kami punya banyak seafood di sini!” ujarnya dan mempersilahkan kami masuk, “Come, come.”

Perut kami sudah lapar dan malam sudah larut, kami pun mengikuti si pelayan masuk ke dalam restoran. Dia mengantarkan kami ke sebuah meja berbangku dua tepat di sebelah jendela. Bayu memesan Gnocchi—makanan khas Italia yang terbuat dari tepung—sedangkan saya memesan Salmon.

“Mungkin berikutnya kita ketemu, itu di Jakarta, ya?” pukul setengah sepuluh malam kami selesai makan dan berpisah.

Saya berjalan ke arah dermaga San Marco, menonton penampilan satu lagu dari pemain musik restoran, lalu pulang dengan menaiki water bus malam. Perjalanan dengan water bus sangat perlahan, untungnya tidak seramai siang hari sehingga saya bisa duduk dan melanjutkan membaca Jo Nesbo. Satu jam kemudian saya sampai di Venice Mestre.

***

ENTRY #20
Jurnal Italia Bagian 4: Milan Hari Keempat & Venice Hari Pertama

Kamis, 17 September 2015
Milan.

Kereta saya yang menuju Venice akan berangkat pukul lima sore. Pagi keempat di Milan langit kembali dibungkus oleh awan tebal, namun kali ini tidak ada tanda-tanda hujan akan turun. Pukul sepuluh pagi saya check-out dari hostel. Masih banyak waktu tersisa sebelum jam keberangkatan kereta. Setelah menitipkan backpack di resepsionis hostel saya pergi ke pusat kota.

Dari stasiun Amendola saya menaiki M1 dan turun di stasiun Duomo yang letaknya tepat di bawah Piazza del Duomo. Lapangan di depan kathedral Duomo ramai dipenuhi oleh turis. Banyak orang juga yang mengantri untuk masuk ke kathedral. Saya berkeliling-keliling Galleria Vittoria Emanule II dan sekitarnya. Keindahan atap lengkung shopping arcade ini lebih terpancar berkat pencahayaan alami.

IMG_1382

IMG_1378

Di ujung Utara arcade sedang ada pameran karya Leonardo da Vinci. Yang dipamerkan adalah model-model mekanik yang dibangun berdasarkan sketsa-sketsa peninggalan da Vinci. Tadinya saya hendak melihat pameran ini tapi niat itu saya urungkan karena merasa tidak sebanding dengan harga tiketnya. Di sebelah pintu masuk ke pameran terdapat sebuah toko buku bernama Rizzoli. Saya masuk ke dalam dan mencari seksi buku berbahasa Inggris dan menghabiskan waktu cukup lama di sana.

Setelah itu saya pergi menyusuri jalan Corso Vittoria Emanuele II hingga ke ujungnya di mana terdapat sebuah gereja tua dari bata merah. Saya masuk ke dalam dan duduk di deretan bangku belakang, diam di sana mengamati orang-orang yang berdoa. Sesudah puas duduk dan mendengarkan permainan orgel di dalam gereja, saya berjalan memutar dengan menyusuri Corso Europa hingga kembali ke Piazza del Duomo. Saya memasuki toko buku Rizzoli lagi dan membeli buku Jo Nesbo yang berjudul ‘Coackroach’. Kemudian saya makan siang di sebuah gerai makanan cepat saji lalu kembali ke hostel untuk mengambil backpack.

IMG_1387

Pukul setengah empat saya sudah berada di stasiun Milano Centrale. Saya mencari bangku kosong dan membaca buku yang baru saja saya beli. ‘Coackroach’ bercerita tentang seorang polisi Norwegia yang dikirim ke Bangkok untuk memecahkan kasus pembunuhan Duta Besar Norwegia. Saya suka dengan gaya penulisan Jo Nesbo. Mungkin nanti saya akan coba membaca buku-bukunya yang lain.

Venice Mestre.

Saya tiba di stasiun Venice Mestre pukul setengah delapan malam. Langit telah gelap. Saya sudah mereservasi satu kamar penginapan di Giramondo Bed & Breakfast. Untuk mencapai penginapan saya berjalan kaki selama tiga belas menit. Selama berjalan kaki saya melihat hanya toko-toko milik imigran Asia Selatan yang masih buka.

Penginapan Giramondo B&B berada di lantai empat sebuah gedung apartemen tua. Tidak ada papan penanda sama sekali di pintu masuknya—hanya sebaris kecil tulisan nama penginapan di samping tombol bel yang berderet bersama nama-nama tenant yang tinggal di gedung yang sama. Saya menekan bel, tiga detik kemudian kunci terbuka otomatis. Suasana di foyer gelap dan sepi. Ada satu elevator antik dengan pintu berkenop. Elevator tersebut masih berfungsi tapi saya memutuskan untuk menaiki tangga.

Di lantai empat, di depan pintu penginapan, ada dua orang Italia sedang berbincang mengenai sesuatu. Seorang laki-laki dan seorang perempuan. Yang laki-laki mengenakan jaket kulit dan membawa helm. Yang perempuan berambut ikal pendek, mengenakan kaus dan jins beserta jas semi-formal berwarna gelap. Keduanya masih muda. Menyadari kedatangan saya kedua orang itu berhenti bercakap.

“Hallo, selamat datang,” sapa yang perempuan.

“Hallo, saya mau check-in.”

“Mari,” ia membawa saya ke pintu kedua setelah pintu masuk.

Kali ini saya menyewa kamar pribadi sebab saya tidak menemukan penginapan tipe dormitory saat mencari penginapan. Ruangan yang saya sewa tidak terlalu besar, kurang lebih delapan meter persegi. Selain kasur, terdapat sebuah meja dan kursi kayu. Di dinding tergantung dua buah lukisan kecil dan pada salah satu sudut ruangan ada patung gips mini. Jendela kamar yang terbuka menghantarkan masuk bising orang-orang dari bar di seberang jalan.

Si penerima tamu membereskan urusan administrasi dan memberikan informasi yang saya butuhkan selama menginap.

“Karena Anda menginap di sini selama tiga malam, kami berikan tiga kupon sarapan gratis,” ia menunjuk kepada tiga lembaran kertas laminating kecil yang berada di atas meja kemudian berjalan ke tepian jendela dan menunjuk ke bawah, “kupon ini nanti Anda tukar ke bar di seberang jalan itu.”

“Sarapannya di seberang itu? Bukan di gedung ini?” ujar saya agak terkejut.

“Betul. Kalau malam, di sana memang ramai begitu tapi tenang saja, nanti pagi berubah jadi bar biasa kok,” kemudian ia melanjutkan penjelasannya seakan tahu apa yang hendak saya tanyakan, “Kalau mau ke Venice dari sini mudah, hanya tinggal sekali naik bus dari halte di sebelah sana. Tiket bus bisa dibeli di toko rokok yang ada tulisan ‘Tabak’ di seberang jalan besar, harganya 1.5 euro pulang-pergi. Anda juga bisa membelinya di atas bus tapi harganya akan lebih mahal.”

“Oke, baik,” kata saya, “kalau saya ada perlu apa-apa, resepsionisnya di sebelah mana ya?”

“Kami tidak ada resepsionis,” ia mengambil kertas laminating lain dari atas meja, “kalau ada perlu apa-apa tinggal hubungi nomor ini saja, atau via Whatsapp dan e-mail.”

Tidak pernah terpikir sebelumnya, penginapan tanpa resepsionis dan komunikasi tanpa tatap muka seperti ini. Setelah menyampaikan semua informasi yang diperlukan, si perempuan penerima tamu itu pun pergi. Saya meletakkan barang-barang bawaan, mengeluarkan laptop dari tas dan menghubungkannya dengan jaringan internet. Saya mengirim e-mail lagi kepada bapak dan berselancar sebentar.

Karena saya belum makan malam, saya pergi ke luar. Di seberang jalan utama terdapat sebuah supermarket. Saya pergi ke sana hendak membeli pisang untuk mengisi perut. Tapi begitu menginjakkan kaki ke dalam, kasir supermarket langsung melambai-lambaikan tangannya—tanda mereka sudah tutup. Akhirnya saya menyeberang jalan kembali, menghampiri toko kebab yang masih buka, dan memesan kebab untuk dibungkus. Kembali ke kamar, saya menyantap kebab sambil menonton variety show Korea Selatan.

Keramaian di bar seberang terus berlangsung sampai saya berangkat tidur.

***

ENTRY #19
Jurnal Italia Bagian 3: Milan Hari Ketiga

Rabu, 16 September 2015
Milan.

Pagi ketiga di Milan, dari jendela kamar terlihat langit ditutupi awan tebal. Saya menjengukkan kepala ke luar. Hujan gerimis sedang turun.

“Seperti biasanya, tiap pagi selalu hujan” celetuk si Georgia yang sudah bangun dan berpakaian rapi. Laki-laki Italia yang menempati kasur di atasnya tidak terlihat, barangkali ada di dapur, menggerutu tidak jelas di depan laptopnya seperti kemarin. Si gadis eksentrik masih tidur pulas. Di kasur bawahnya seorang pemuda kaukasoid berperawakan kurus tinggi sedang serius membaca buku—‘Les Miserables’ tertulis di sampulnya.

“Selamat pagi,” sapa gadis Guangzhou yang baru bangun. Dia turun dari ranjangnya, membuka-buka koper lalu pergi mandi. Hanya tersedia dua kamar mandi di hostel ini, satu di samping kamar kami dan satu lagi di sebelah ruangan resepsionis. Saya lebih memilih menunggu si Guangzhou selesai daripada harus turun ke lantai bawah.

Hujan sudah agak reda setelah saya selesai mandi. Di dalam kamar hanya tinggal dua orang, si kaukasoid yang masih tenggelam dalam bacaannya dan si gadis China eksentrik yang masih lelap di kasurnya. Georgia dan barang-barang bawaannya sudah tidak ada. ‘Hallo’ hari ini dan ‘Goodbye’ esoknya, begitulah pertemuan di penginapan seperti ini.

Saya mampir lagi di supermarket sebelum berangkat ke Expo untuk membeli dua sandwich bungkus dan beberapa wafer cokelat. Dari stasiun metro Amendola, saya menaiki metro M1 ke arah Rho Fierra seperti kemarin. Pagi ini antrian di gerbang masuk Fiorenza tidak seramai hari sebelumnya. Saya melewati pos pemeriksaan lalu menaiki jembatan penyeberangan panjang yang mengarah ke area utama Expo. Sesampainya di sana, seseorang menarik lengan baju saya dari belakang.

“Hei,” ternyata teman sekamar di hostel, si gadis Guangzhou.

“Eh, ketemu di sini,” kata saya terkejut, “masuk dari gerbang mana? Gua dari jembatan itu.”

“Gue juga dari jembatan,” jawabnya.

“Hari ini rencana mau mengunjungi paviliun apa?”

“Hmm… sebenarnya gue nggak punya rencana sih. Kalau lo?”

“Kemarin gua mengunjungi paviliun negara-negara Asia,” ujar saya, “dan hari ini rencananya mau ke paviliun negara-negara Eropa.”

Kami berjalan ke arah jalan utama. Saya membuka peta saya dan memberikan sekilas pandang padanya. Teman sekamar saya ini sepertinya datang ke Expo hanya ingin melihat-lihat saja tanpa ada tujuan spesifik. Si gadis Guangzhou akhirnya memutuskan untuk mengikuti saya ke paviliun yang saya kunjungi.

Paviliun pertama yang kami masuki adalah paviliun United Kingdom. Tidak ada antrian panjang di sana. Paviliun United Kingdom seratus persen outdoor. Bangunan utamanya dibentuk oleh frame baja modular. Frame baja tersebut saling tersambung menyerupai sarang lebah. Tapi daripada disebut bangunan, paviliun ini lebih seperti monumen karena ia tidak berfungsi meneduhi pengunjung dari panas maupun hujan.

IMG_1312 copy

Gerimis yang tadi sempat berhenti sekarang mulai turun lagi. Saya membuka payung lipat yang saya bawa.

“Gue nebeng ya,” kata si Guangzhou sambil asyik memotret dengan kameranya. Dia berjalan di depan saya. Dia berhenti, saya ikut berhenti, dia kembali berjalan, saya ikut berjalan. Saya bergumam dalam hati, anak ini tuan puteri kah?

“Ngomong-ngomong, nama lo siapa?” tanya saya.

“Elaine,” jawabnya. Dia memperkenalkan diri dengan nama Baratnya, sedangkan nama Chinanya adalah Yilin. Elaine dan Yilin kedengaran cukup mirip—pintar juga anak ini memilih nama, pikir saya.

Selanjutnya Elaine dan saya mengunjungi paviliun Perancis. Di depan paviliunnya, Perancis membuat kebun sungguhan yang ditumbuhi beragam sayur-mayur. Bangunan utamanya cukup menarik, dibentuk oleh susunan kayu silang-menyilang seperti waffle. Banyak informasi menarik yang Perancis tampilkan dalam ekshibisinya, semuanya seputar inovasi teknologi dalam pembuatan komoditas-komoditas khas Perancis—seperti keju, wine, jamur, dan lain-lain.

IMG_1323

IMG_1326

Pukul dua belas lewat kami beranjak ke paviliun lain. Ketika kami lewat di depan paviliun Switzerland, Elaine berhenti. Semalam ia membaca informasi di internet, katanya jika ingin masuk ke paviliun Switzerland pengunjung tidak bisa langsung masuk begitu saja tetapi harus mengambil tiket terlebih dahulu.

“Pengunjung harus bayar tiket lagi?” saya bertanya pada Elaine tetapi dia juga kurang yakin soal itu. Kami pun memutuskan masuk untuk memastikan. Di dalam area paviliun terdapat sebuah loket. Di depannya berjejer tiga baris antrian.

“Para pengunjung yang terhormat, tiket berikutnya untuk akses masuk sekitar jam lima sore,” seorang petugas paviliun berteriak kepada para pengunjung dari belakang antrian.

“Ah, gue paham,” saya berkata pada Elaine, “Tiket ini nggak perlu bayar. Pengunjung diberi tiket dengan jam masuk tertentu supaya mereka nggak perlu menunggu antrian di paviliun. Pengunjung bisa pergi ke tempat lain dulu sebelum waktu yang ditentukan.”

Kami mendapatkan tiket masuk untuk jam 17.30. Dengan demikian kami punya waktu lima jam sebelum waktu yang ditentukan.

Berikutnya kami masuk ke antrian paviliun Jerman. Kami mengantri selama setidaknya satu jam. Tagline dari paviliun Jerman adalah ‘Fields of Ideas’. Pada pamfletnya Jerman mempresentasikan diri sebagai ‘sebuah lansekap subur penuh ide dan solusi’. Baik desain dan konten paviliun berupaya untuk membangkitkan kesadaran pengunjung bahwa alam adalah sumber paling esensial untuk pemenuhan kebutuhan hidup manusia, oleh karena itu alam mesti dijaga dan dimanfaatkan dengan cerdas demi masa depan. Bagi saya pribadi, konten pameran di paviliun Jerman adalah yang paling interaktif.

IMG_1339

IMG_1352

Lima menit menjelang tiga sore, Elaine dan saya berpisah. Elaine sebelumnya sudah membeli tiket tambahan untuk masuk ke pameran pesawat terbang di paviliun Etihad. Kami berpencar dan akan bertemu lagi di paviliun Switzerland pada pukul 17.30.

Masih tersisa dua setengah jam menjelang paviliun Switzerland. Tidak ada paviliun lain yang benar-benar ingin saya kunjungi jadi saya berkeliling santai saja. Setelah duduk-duduk sebentar sambil menyantap sandwich untuk makan siang, saya pergi ke paviliun Amerika Serikat, Slovenia, dan Israel. Ketiganya tidak terlalu berkesan. Paviliun Israel juga menampilkan pertunjukan video seperti Thailand, tapi kontennya pretensius dan tidak memikat.

Di paviliun Switzerland hanya Elaine dan saya yang berbahasa Inggris. Untungnya tidak banyak penjelasan yang mesti pemandu paviliun berikan. Di paviliun ini ada tiga ruangan setinggi kurang lebih sepuluh meter. Pada keempat sisi dinding di setiap ruangan terdapat tumpukan kotak hingga ke langit-langit. Kotak di ruangan pertama berisi kopi instan sachet, di ruangan kedua berisi irisan apel kering dalam kemasan, dan di ruangan ketiga berisi gelas plastik. Aturan di paviliun ini sederhana, pengunjung dipersilahkan mengambil barang-barang yang ada di dalam kotak sebanyak mungkin. Jika kotak yang paling bawah habis, kotak itu akan disingkirkan sehingga kotak di atasnya turun ke bawah.

“Di hari pertama Expo semua kotak ini bertumpuk sampai ke langit-langit,” si petugas paviliun menjelaskan kepada kami sambil tersenyum, “Anda boleh ambil isinya sebanyak yang Anda mau, tapi kami harap Anda juga memikirkan pengunjung berikutnya sehingga semua yang datang ke tempat ini bisa kebagian sampai pada hari terakhir.”

Selesai dari paviliun Switzerland, saya terpikir untuk mengunjungi paviliun Rusia. Tapi rupanya Elaine sudah pergi kesana lebih dulu. Kami pun berpisah lagi. Di paviliun Rusia, ruang pamer utamanya bertema futuristik. Paviliun Jepang juga mengusung tema futuristik, tapi intepretasi Rusia atas hal yang futuristik agak berbeda—suasana ruang pamernya seperti sesuatu dari film science-fiction.

IMG_1370

Sebuah film Rusia diputar di auditorium. Saya masuk ke dalam walaupun film sudah berjalan setengah jam. Penontonnya tidak sampai sepuluh orang. Beberapa datang dan pergi. Wajar saja, sudah bayar mahal masuk ke Expo siapa yang mau diam di tempat sekian lama? Tapi saya tetap di dalam auditorium menonton film Rusia itu sampai dua jam–toh semua paviliun yang ingin saya lihat sudah dikunjungi semua. Film Rusia itu berpusat pada seorang prajurit wanita Uni Soviet pada masa perang melawan Hitler. Saya rasa tokoh perempuan di film itu adalah tokoh nyata, sebab ia digambarkan berteman dengan Eleanor Roosevelt—first lady Amerika Serikat.

Hari sudah gelap begitu saya keluar dari paviliun Rusia. Sebelum pulang saya pergi ke paviliun Indonesia dulu untuk makan malam. Saya memesan paket nasi goreng asli dari Indonesia dan menyantapnya di meja makan yang disediakan di samping paviliun. Dari dalam paviliun musik dan nyanyian dalam Bahasa daerah mengalun hingga ke luar, yang kemudian dilanjutkan dengan sebuah lagu dangdut. Saya menyantap nasi goreng di depan saya, ada tempe dan ayam goreng juga. Ada semacam rasa nyaman dari hal-hal yang familiar ini.

***

ENTRY #18
Jurnal Italia Bagian 2: Milan Hari Kedua

Selasa, 15 September 2015
Milan.

Sekitar pukul setengah sembilan pagi saya sudah siap untuk berangkat tapi perut saya lapar karena malam sebelumnya tidak makan sebelum pergi tidur. Dua orang tamu lain di kamar yang sama masih tertidur lelap, salah satunya mendengkur dengan teratur. Saya mengenakan sepatu, memasukkan payung dan peta-peta ke dalam tas, dan mengalungkan kamera di leher. Saya turun ke lantai resepsionis, mereka menjual kopi dan roti untuk sarapan. Di ruangan resepsionis si wanita Italia yang menerima saya kemarin masih berjaga. Pakaiannya lusuh dan matanya sembab. Nampaknya dia belum tidur semalaman.

“Hai, selamat pagi.”

“Selamat pagi,” saya membaca daftar makanan dan minuman yang tertulis di papan di depan meja resepsionis, “saya mau pesan sarapan… Um, satu cappuccino dan satu croissant.”

“Okay, tunggu sebentar,” si resepsionis mengambil cangkir dan menyeduh air panas. Di meja resepsionis terdapat setumpuk kartu bisnis Hostel Lumiere. Di kartu tersebut tertulis alamat lengkap beserta peta mini yang menunjukkan lokasi hostel. Di ujung kanan bawah kartu tersebut tertulis sebuah nama dan nomor telepon.

“Nama ini namamu?” tanya saya kepada si wanita resepsionis.

“Bukan, nama saya Manuela,” jawabnya. Pada saat itu seorang gadis Asia berusia awal dua puluhan datang ke ruang resepsionis. Rambutnya lurus hitam dan dibiarkan tergerai. Ia mengenakan kacamata bundar, jaket dan celana jeans. Ia tersenyum, mengangguk pada saya, dan masuk ke ruang gudang resepsionis. Setelah keluar dari sana gadis itu bicara dengan Manuela dalam Bahasa Italia yang sangat fasih. Sepertinya gadis Asia ini bertugas sebagai resepsionis pada shift pagi menggantikan Manuela.

“Asalmu darimana?” tanyanya kepada saya dalam Bahasa Inggris setelah ia duduk di bangku resepsionis.

“Indonesia,” jawab saya.

“Indonesia? Wah, sangat dekat dengan rumah.”

“Oya? Memang darimana?”

“Saya dari Filipina.”

Gadis Filipina bersuara serak itu bernama Joanna. Awalnya saya kira dia lahir di Italia karena Bahasa Italianya—setidaknya bagi telinga awam saya—terdengar semulus Bahasa Italia penutur asli. Manuela meletakkan cangkir cappuccino yang telah siap di atas piring kecil dan memberikannya kepada saya beserta sebuah croissant dalam bungkus plastik. Saya mengucapkan terimakasih dan pergi ke pekarangan belakang hostel di mana terdapat banyak bangku dan meja untuk menyantap sarapan. Selain saya ada satu tamu lain yang duduk di sana, seorang pria Italia berusia tigapuluhan. Rambut ikalnya yang acak-acakan berwarna cokelat, brewok tipis di wajahnya. Dia nampak serius dengan laptopnya sambil menggerutu tidak jelas. Lima belas menit kemudian cappuccino dan croissant selesai saya santap. Saya mencuci cangkir di wastafel dan mengembalikannya ke ruang resepsionis.

“Cangkirnya nggak harus kamu cuci sih sebenarnya,” kata Manuela.

“Nggak apa-apa,” jawab saya, “Oya, ngomong-ngomong di dekat sini ada supermarket?”

“Ada, dekat kok, cuma lima menit dari sini,” sambar Joanna.

Manuela mengantarkan saya ke depan pintu dan menunjukkan arah ke supermarket. Saya mengucapkan terimakasih dan berjalan ke arah yang ditunjuknya. Mungkin hanya perasaan saya saja, tapi sepertinya Manuela jadi lebih ramah karena barusan saya mencuci cangkir.

Di supermarket saya membeli sandwich bungkus untuk makan siang, sebotol air mineral, dan tissue basah. Seharian saya akan berkeliling di Expo Milano, harga makanan dan minuman di sana pasti mahal karena itu lebih hemat membeli dari supermarket.

Untuk mencapai lokasi Expo saya hanya perlu menaiki metro M1 hingga ke stasiun terakhir di Rho Fierra. Expo Milano dibuka dari pukul 10 pagi hingga 11 malam. Saya sampai di kompleks Expo seperempat jam lewat dari pukul 10 tapi antrian pengunjung sudah mengular.

IMG_1212

Expo dapat diakses melalui tiga pintu masuk: Barat, Selatan, dan Timur. Karena saya tiba dengan metro maka saya masuk melalui gerbang Fiorenza di sebelah Barat. Saya membuka peta Expo yang saya bawa. Hari ini saya berencana untuk mengunjungi paviliun negara-negara Asia. Dengan demikian urutan kunjungan saya berdasarkan letak pavilion yang terdekat adalah: Vietnam, Korea Selatan, Nepal, Malaysia, Thailand, China, Jepang, dan Indonesia.

Paviliun Vietnam, dibandingkan dengan paviliun negara-negara lain, tidak begitu besar. Namun demikian, arsitekturnya yang dominan oleh bambu membuatnya cukup menonjol. Paviliun kecil ini dirancang oleh Vo Trong Nghia, seorang arsitek Vietnam yang beberapa tahun terakhir karya-karyanya hangat diperbincangkan. Pada tahun 2012, Vo Trong Nghia diundang ke acara Jakarta Architecture Trienalle untuk mempresentasikan arsitekturnya. Saya ketika itu hadir di sana dan dibuat kagum hingga membuat saya pergi mengunjungi Ho Chi Minh City setahun kemudian untuk menyaksikan langsung buah karya si arsitek Vietnam itu.

Di samping segi arsitektur, paviliun Vietnam di Expo Milano 2015 tidak begitu berkesan. Tema ketahanan pangan yang menjadi benang merah utama Expo ini kurang dieksplorasi oleh Vietnam. Konten pavilun Vietnam lebih banyak diisi oleh stand souvenir dan panggung musik tradisional. Saya mendapat kesan bahwa Vietnam hanya memanfaatkan event ini sebagai ajang mempromosikan pariwisata negaranya.

IMG_1228

Lain halnya dengan Korea Selatan. Bahkan sejak sebelum sampai di pintu masuk paviliun, instalasi yang mereka pasang di luar bangunan sudah menyentil pengunjung untuk berefleksi mengenai gaya hidup dan konsumsi sehari-hari. Di dalam paviliun, Korea Selatan mempromosikan macam dan metode pembuatan kuliner tradisional yang disebut ‘Hansik’. Tidak seperti makanan cepat saji yang marak dikonsumsi masyarakat luas, Hansik merupakan ‘slow food’ yang mana bahan-bahannya mesti melalui proses fermentasi yang panjang. Entah apakah benar-benar serius atau hanya berupaya mempromosikan kuliner Korea dengan mengaitkannya dengan tema expo, Korea Selatan nampak sungguh-sungguh mengajukan teknik fermentasi sebagai solusi untuk menghadapi masalah pangan global.

Pada ruangan sebelum pintu keluar, Korea Selatan memajang foto-foto situasi negaranya dari sejak tahun 1950 hingga tahun 2000-an. Korea Selatan memang negara ajaib. Dari negara miskin dan lapar yang menderita akibat perang saudara pada tahun 1950-an, dalam hanya rentang waktu 65 tahun, berhasil bertransformasi menjadi negara Asia maju. Semangat Saemaul (Saemaul Undong)—konsistensi, kemandirian, dan kolaborasi—membuat mereka sukses keluar dari perangkap kemiskinan. Semester lalu, seorang dosen tamu dari Seoul National University (SNU) sempat memberikan satu sesi kuliah di kelas Regional Planning II. Pada bagian perkenalan beliau berkata, “Korea Selatan itu negara kecil di antara tiga raksasa: Rusia, Jepang, dan China. Tapi kami bangsa yang survived.” Mentalitas seperti ini patut dikagumi.

IMG_1233

IMG_1234

Berikutnya saya masuk ke paviliun Nepal. Tidak banyak yang bisa saya ceritakan tentangnya. Nepal masih berusaha bangkit dari gempa besar yang terjadi beberapa waktu lalu. Sebuah kotak donasi tersedia di dekat pintu masuk, mengundang pengunjung untuk ambil bagian dalam proses restorasi Nepal.

Malaysia membuat replika hutan hujan tropis Borneo di paviliunnya. Mempromosikan nama-nama kayu dan produk-produk alamnya. Arsitekturnya sendiri melambangkan bijih/benih tumbuhan yang tumpuk-menumpuk.

IMG_1253

IMG_1255

Paviliun Thailand menurut saya merupakan paviliun yang paling populer di antara negara-negara ASEAN. Barangkali memang negara Asia Tenggara yang paling familiar dan dicintai masyarakat Barat adalah Thailand. Di dalamnya terdapat tiga ruang pertunjukan audio-visual. Pengunjung dibawa masuk dalam kelompok besar. Setelah pertunjukan di satu ruang selesai diputar, pengunjung digiring ke ruang pertunjukan berikutnya, begitu seterusnya. Tidak ada material lain selain video yang diputar di tiap ruangan. Di paviliun ini, Thailand dengan bangga menonjolkan prestasinya sebagai dapur dunia yang sukses mensuplai produk-produk agrikulturnya ke seluruh dunia.

Sebuah film pendek diputar di auditorium terakhir. Pada film ini figur Raja Bhumibol Adulyadej, yang dijuluki sebagai ‘King of Agriculture’, benar-benar diglorifikasi. Segala prestasi Thailand sebagai dapur dunia adalah berkat campur tangan dan inisiasi Raja Bhumibol. Film pendek tersebut mengkonfirmasi anekdot yang mengatakan bahwa di Thailand ada dua sosok yang tabu untuk dijadikan kelakar: sang Buddha dan Raja.

Setelah dari Thailand saya mengantri untuk memasuki paviliun China—paviliun Asia dengan luas lahan terbesar. Di depan bangunan utama, yang dibentuk oleh struktur baja yang melengkung-lengkup seperti ombak, terdapat plaza dan taman bunga yang luas. China memamerkan beberapa instalasi di dalam paviliun dan relik-relik bersejarah yang bercerita tentang masyarakat agraris tradisional China. Harmoni dengan alam adalah satu prinsip yang dipegang oleh masyarakat agraris tradisional tersebut. Saya merasa ini cukup ironis, mengingat bagaimana pembangunan besar-besaran China yang ambisius beberapa dekade terakhir telah mengakibatkan turunnya kualitas lingkungan hidup di beberapa kota di China.

IMG_1265

IMG_1268

Pada ruangan auditorium, China memutar sebuah animasi yang dibuka oleh video sambutan dari Presiden Xi Jinping. Animasi tersebut menggambarkan bagaimana China sangat menghargai hari-hari besar di mana para anggota keluarga yang tersebar di berbagai tempat bisa berkumpul kembali dan duduk bersama di satu meja untuk menyatap makanan. Sebuah film animasi yang hangat. Setelah itu, pengunjung disuguhkan penampilan dari etnis minoritas Hmong yang mempertunjukkan musik dan tarian tradisional.

Saat berjalan kaki menuju paviliun Jepang yang letaknya cukup jauh, saya juga menemukan beberapa paviliun negara Asia Tenggara lain, di antaranya: Brunei, Laos, Kamboja, dan Myanmar. Paviliun negara-negara ini tidak tertulis di peta sebab hanya berupa ruangan-ruangan kecil pada bangunan yang digunakan bersama dengan negara-negara minor lain. Dari ke sepuluh negara ASEAN, saya tidak menemukan paviliun Singapura dan Filipina.

Menjelang pukul lima sore saya masuk ke dalam antrian paviliun Jepang. Berdasarkan pengamatan saya hari ini, paviliun Jepang adalah paviliun yang paling diminati pengunjung. Saya mengantri selama dua jam untuk memasukinya. Saya merasa agak canggung karena hanya saya satu-satunya pengunjung yang tidak bisa berbahasa Italia. Para petugas pemandu di paviliun Jepang jadi harus memberikan informasi dalam Bahasa Inggris juga hanya kepada saya.

IMG_1293

IMG_1296

Yang menarik dari Jepang adalah bagaimana mereka berupaya mempromosikan kearifan tradisional negaranya sekaligus memanfaatkan keunggulannya dalam bidang teknologi untuk memberikan usulan pemecahan bagi permasalahan pangan. Jepang merumuskan empat permasalahan utama: 1) ledakan penduduk dan krisis pangan, 2) obesitas dan malnutrisi, 3) pemanasan global dan perubahan iklim, 4) ketahanan pangan dalam dunia yang saling terkait. Dan mereka mengusulkan 16 macam solusi, beberapa di antaranya seperti: pemanfaatan kedelai sebagai suplai nutrisi, mengurangi makanan sisa dengan teknologi pembekuan, fotosintesis buatan, urban farming, dan lain sebagainya. Pada auditorium penghujung, Jepang menampilkan ‘Future Restorant’, sebuah pertunjukan musik semi-teaterikal yang dikombinasikan dengan permainan interaktif ala restoran.

Paviliun terakhir yang saya kunjungi adalah paviliun Indonesia. Paviliun ini sempat menimbulkan polemik di media sosial karena dianggap kurang layak merepresentasikan Indonesia. Belakangan diketahui bahwa pemerintah Indonesia kurang ambil bagian dalam keikutsertaan Indonesia pada event Expo Milano 2015. Kalau mau jujur, untuk negara sebesar Indonesia, konten yang ditampilkan memang semestinya bisa lebih luas dan beragam serta dibungkus dalam paviliun yang lebih menarik perhatian. Namun, mengingat keikutsertaan Indonesia ini masih dimungkinkan berkat adanya individu-individu yang mau meluangkan tenaga dan materinya, saya merasa cukup bersyukur.

IMG_1303

IMG_1308

IMG_1311

[[Bagian Extra]]

Sekitar pukul delapan malam saya berjalan kembali ke stasiun Rho Fierra untuk pulang ke hostel. Saya mampir di sebuah supermarket dekat stasiun Amendola membeli roti untuk sarapan besok pagi. Lampu di kamar hostel masih menyala saat saya tiba. Ada dua tamu lain di dalam. Seorang gadis China yang menempati kasur di atas kasur saya dan laki-laki kaukasoid berbadan tambun yang tadi pagi mendengkur teratur. Wajah si laki-laki terlihat agak kebingungan. Beberapa saat kemudian laki-laki Italia yang tadi pagi sibuk dengan laptopnya memasuki kamar dengan tiba-tiba.

“Ini kuncinya,” ujarnya kepada si gendut.

“Wah, ketemu di mana?” jawabnya terkejut.

“Di dapur,” si laki-laki Italia segera pergi setelah memberikan kunci. Wajah si gendut tetap bingung.

“Ada apa?” tanya saya padanya.

“Kunci gue tadi hilang. Si orang barusan bilang kunci ini ketemu di dapur, padahal gue nggak pergi ke dapur sama sekali.”

Si laki-laki Italia tadi juga tamu yang tinggal di kamar ini. Ia menempati kasur di atas kasur si gendut. Saya menduga si Italia membawa kunci si gendut ke dapur, mengira itu kunci miliknya. Setelah menyadari kekeliruannya, ia pun mengembalikan kunci itu dengan santai sembari berlagak tidak ada yang salah. Si gendut memutuskan untuk tidak memikirkan soal itu lebih jauh. Kami lalu mengobrol tentang hal lain.

“Memangnya sedang ada Expo sesuatu ya di sini?” tanya si gendut.

“Iya, gua hari ini pergi ke sana,” jawab saya.

“Lo habis dari Expo?” sambar si gadis China di kasur atas dari balik laptopnya, dia baru tiba di Milan hari ini, “Ramai nggak?”

“Ramai banget, bahkan tadi gua mengantri dua jam di paviliun Jepang,” kata saya, kepada si gendut saya bertanya, “Memangnya lo ke Milan, kalau bukan untuk Expo, untuk keperluan apa? Pekerjaan?”

“Bukan, gue ke Milan buat nonton pertandingan AC Milan. Terus tadi ada yang bilang ke gue kalau sekarang sedang ada event Expo, makanya gue lagi cari informasi di internet,” si gendut melambaikan telepon genggamnya, “Wah, ada film Rusia, makanan Rusia, banyak juga nih Rusia.”

“Lo dari Rusia kah?”

“Bukan, gue dari Georgia,” jawabnya sambil tersenyum, “Negara kecil di antara Rusia dan Turki.”

Kami bertiga mengobrol beberapa lama. Si gadis China berasal dari Guangzhou dan sejak enam bulan terakhir sedang menjalani studi di Paris pada bidang Manajemen, sedangkan si laki-laki Georgia adalah mahasiswa jurusan Hubungan Internasional di Frankfurt.

“Ah, lo sekolah di Frankfurt? Gue juga lagi sekolah di Jerman sekarang, di Stuttgart,” ujar saya, “Di Frankfurt sebentar lagi akan ada festival buku kan ya? Gue kepingin ke sana nanti.”

“Hah? Festival apa?” si Georgia kebingungan.

“Festival buku? Tempat orang jualan buku-buku?”

“Gue nggak tahu,” si Georgia tertawa, “gue tahunya cuma urusan sepak bola dan bir!”

Saya ikut tertawa mendengarnya. Seseorang mengetuk pintu kamar. Manuela si resepsionis masuk bersama seorang perempuan China berkacamata yang mengenakan celana training dan jaket warna pink. Saat membeli roti di supermarket tadi saya bertemu dengan perempuan China itu, tidak menduga ia juga tamu di kamar yang sama. Manuela memberikan penjelasan kepadanya soal fasilitas hostel dan sebagainya lalu kemudian pergi. Si tamu baru menempati kasur terakhir yang belum ditempati. Setelah saling menyapa dengan tamu lainnya ia pergi ke resepsionis dan tidak kembali-kembali.

Sehabis itu si Georgia, si Guangzhou, dan saya sibuk sendiri-sendiri. Saya mengambil headset dan menonton pertunjukan live Efek Rumah Kaca di Youtube. Pukul sepuluh malam si Georgia mematikan lampu kamar dan pergi tidur. Masih ada sedikit cahaya lampu dari koridor yang masuk ke kamar dari celah pintu. Beberapa menit kemudian si gadis Guangzhou yang menempati kasur di atas saya melambai-lambaikan tangannya ke bawah. Saya melepaskan headphone di telinga.

“Ya? Ada apa?”

“Bisa tutup gerbangnya?” kata si gadis Guangzhou.

“Gerbang?”

“Eh… maksud gue pintunya.”

Saya beranjak dari kasur dan menutup pintu, gadis Guangzhou pun pergi tidur juga. Tak lama setelah itu saya menyusul tidur. Tapi pukul setengah dua saya terbangun karena ada orang yang membuka pintu. Gadis China yang baru check-in malam ini kembali ke kamar. Dalam kegelapan saya bisa melihat siluetnya. Dia berjinjit-jinjit memasuki kamar. Gerak-geriknya kikuk seperti tokoh kartun di serial anak-anak. Setiap bergerak satu langkah, ia berhenti beberapa detik untuk memastikan tak ada yang terbangun, begitu terus, lama sekali sampai dia mencapai kopernya. Sehabis mengambil sesuatu dari kopernya, ia berjinjit-jinjit lagi ke luar kamar menuju toilet. Selangkah demi selangkah, lambat-lambat. Dua menit kemudian dia kembali, berjinjit-jinjit lagi ke koper, mengambil sesuatu, lalu berjinjit-jinjit ke toilet lagi. Tiga kali dia bolak-balik ke kamar mandi sambil berjinjit hati-hati begitu sampai akhirnya naik ke atas kasur. Orang ini eksentrik juga, pikir saya dalam hati. Setelah itu saya kembali terlelap. Dengkuran teratur dari si Georgia berkumandang sepanjang malam.

***

ENTRY #17
Jurnal Italia Bagian 1: Milan Hari Pertama

Senin, 14 September 2015
Milan.

Saya menekan bel untuk ketiga kalinya. Pintu kayu besar itu pun akhirnya dibukakan.

“Saya tidak tinggal di depan pintu,” ujar seorang wanita Italia berambut ikal seleher dengan agak sedikit jengkel—saya menaksir usianya akhir 20 tahun-an.

“Oh, maaf, saya kira tidak ada orang di resepsionis,” jawab saya.

“Silakan tunggu di meja resepsionis di bawah,” wanita itu mengisyaratkan saya agar masuk ke dalam, “nanti saya ke sana, sekarang saya ke atas dulu, ada tamu lain yang juga baru check-in.”

Saya tiba di Hostel Lumiere sekitar pukul enam sore. Di hostel ini saya akan menginap selama tiga malam. Untuk mencapai Milan dari Stuttgart, saya menghabiskan tujuh setengah jam di dalam kereta. Semestinya saya hanya perlu melakukan transit dua kali, di Karlsruhe dan kemudian di Bern. Tetapi karena ada perbaikan rel, setelah berangkat dari Karlsruhe saya berganti kereta di Basel untuk menuju Bern dan kemudian berganti kereta lagi hingga sampai di Milan. Setelah tiba di stasiun Milano Centrale saya pergi ke salah satu rumah makan cepat saji untuk mengisi perut, lalu kemudian menaiki kereta bawah tanah (Metro) sampai di stasiun Amendola dan berjalan kaki 7-8 menit ke hostel. Letak Hostel Lumiere tidak terlalu dekat dengan pusat kota tetapi hanya berjarak beberapa stasiun Metro ke lokasi Expo Milano 2015, yang mana merupakan tujuan utama yang hendak saya datangi selama di kota ini.

“Kamu pasti Andreas,” ucap si wanita resepsionis sambil berjalan ke meja kerjanya, ia memberikan senyum seolah hendak membayar keketusannya di depan pintu beberapa menit yang lalu, “tinggal kamu tamu yang belum check-in hari ini.”

Setelah detail-detail administrasi dilengkapi, si wanita resepsionis memberikan penjelasan mengenai fasilitas dan peraturan di hostel. Ia juga memberikan saya peta Milan dan peta Expo Milano. Saya tidak membuat rencana sedetail rencana perjalanan saya ketika ke Paris. Untuk trip Italia dua minggu ke depan ini ada lebih banyak ruang untuk berimprovisasi.

“Omong-omong, untuk masuk ke Expo apa harus beli tiket?” saya bertanya.

“Kamu belum punya? Tiketnya bisa dibeli online atau langsung di pintu masuk Expo,” wanita resepsionis menjelaskan, “tapi antriannya panjang, lho.”

Setelah itu si wanita resepsionis mengantarkan saya ke kamar. Kamar yang saya sewa adalah tipe dormitory dengan enam tempat tidur, artinya saya akan berbagi ruangan dengan lima orang yang tidak saya kenal. Ketika saya masuk ke kamar tersebut, tamu-tamu lain belum kembali. Si wanita resepsionis kembali ke pos-nya sesudah menyerahkan kunci kamar pada saya.

Saya duduk di atas salah satu kasur yang belum ditempati dan menghubungkan telepon genggam saya ke jaringan internet hostel. Sambil beristirahat sejenak saya membalas e-mail dari bapak, mengabari bahwa saya telah tiba di Italia, dan mencari informasi mengenai pembelian tiket Expo Milano. Rupanya ada beberapa macam pilihan tiket Expo yang bisa dibeli. Karena saya akan berada di Milan selama tiga setengah hari maka saya putuskan untuk membeli tiket terusan dua hari. Selain dapat dibeli langsung di lokasi Expo, tiket juga bisa didapatkan di loket resmi (Expo Gate) yang berlokasi di pusat kota. Jika saya membeli tiket malam ini, besok pagi-pagi saya bisa langsung pergi ke Expo—ini akan lebih menghemat waktu. Saya memeriksa jam di telepon genggam, pukul tujuh malam, satu jam sebelum loket tiket Expo tutup. Saya segera bergegas ke stasiun Metro dan menuju pusat kota.

Dari stasiun Amendola saya menaiki Metro M1, melewati empat pemberhentian hingga tiba di stasiun Cairoli dimana Expo Gate berada. Expo Gate, yang terdiri dari dua bangunan putih kembar berbentuk prisma tidur, didirikan di sebuah plaza yang menghadap sebuah benteng tua yang kini berfungsi sebagai museum. Satu bangunan digunakan sebagai loket penjualan tiket dan souvenir sedangkan yang satunya lagi sebagai auditorium. Saya tiba di loket tiket sekitar pukul setengah delapan. Hanya ada dua orang yang mengantri untuk membeli tiket. Tanpa terlalu lama menunggu saya mendapatkan tiket masuk Expo. Harganya cukup mahal tapi toh akhirnya saya beli juga. Memangnya selain mau lihat Expo mau apa di Milan, demikian pikir saya.

IMG_1113 copy

Walaupun sudah menjelang pukul delapan malam, matahari masih tersisa di langit. Saya putuskan untuk berjalan-jalan sebelum kembali ke hostel. Pertama, saya mengunjungi benteng yang berada di depan Expo Gate. Benteng tua yang mayoritas dibentuk oleh bata-bata merah itu, berdasarkan informasi yang tertulis di peta, bernama ‘Castello Sforzesco’. Di sekeliling benteng tersebut terdapat cerukan sedalam tiga meter. Dulu kemungkinan besar cerukan tersebut berfungsi sebagai selokan untuk memperkuat pertahanan benteng, namun kini cerukan tersebut ditumbuhi rerumputan hijau yang cantik.

Saya menyeberangi jembatan yang menghubungkan plaza dengan ruang terbuka luas di tengah benteng dan berjalan lurus hingga ke gerbang di ujung yang lain. Di sana terbentang sebuah taman yang luas. Saat itu sedang ada event yang berlangsung. Terdapat sebuah panggung, layar putih besar dengan deretan bangku di depannya, kios-kios buku dan makanan, serta beberapa instalasi yang difungsikan sebagai tempat duduk-duduk. Suasana diramaikan dengan dentuman musik rekaman dari pengeras suara di atas panggung. ‘Milan Film Festival’, demikian tertulis di poster dan spanduk yang terpampang. Nampaknya acara hari ini telah selesai namun masih ada keramaian yang tersisa.

IMG_1133

IMG_1138

IMG_1140

IMG_1141

IMG_1149

Saya membuka peta Milan yang saya bawa—mumpung sudah di tengah kota sekalian saja berkeliling. Saya putuskan untuk pergi ke Piazza Duomo. Saya duga Piazza Duomo dan sekitarnya adalah daya tarik utama di pusat kota Milan, melihat tidak banyak gambar landmark lain pada peta yang saya pegang. Untuk mencapai Piazza Duomo saya hanya perlu berjalan menyusuri Via Dante yang tersambung dengan Via Orefici.

Ujung menara Kathedral Duomo mulai tampak. Matahari sudah turun begitu saya hampir sampai. Dari kejauhan terdengar seseorang memainkan lagu klasik dengan biola. Semakin saya mendekati Piazza Duomo, suara sayup-sayup itu semakin jelas. Begitu tiba di lapangan luas di depan Kathedral Duomo saya terpesona dengan apa yang saya lihat. Kathedral putih yang berdiri tenang membelakangi langit yang gelap, deretan lampu jalanan berwarna putih kekuningan, keramaian manusia yang terhampar, dan baling-baling berlampu biru yang dilemparkan ke langit oleh para pedagang informal yang jatuh perlahan ditarik gravitasi.

Permainan si musisi jalanan menarik datang lebih banyak penonton. Setelah selesai memainkan lagu klasik yang asing di telinga saya dengan biolanya itu, ia melanjutkan dengan lantunan piawai ‘Con te Partiró’. Alunan biolanya memenuhi plaza, seperti selimut yang tak kasat mata. Saya melayangkan pandangan ke sekeliling saya. Perasaan nostalgis yang entah darimana timbul di benak saya. Perjalanan sendiri lebih sesuai dengan saya karena lebih fleksibel dan lebih efisien. Namun salah satu kekurangan dari gaya perjalanan seperti ini adalah ketika menemukan hal menarik, hanya bisa dikagumi sendiri.

Saya mengelilingi Piazza Duomo satu putaran. Nampak beberapa personil keamanan berjaga-jaga. Apakah pengamanan seperti ini adalah hal biasa di Milan? Tak lama kemudian dari arah Selatan terdengar bising-bising. Musisi jalanan menghentikan pertunjukannya. Segerombolan orang dalam arak-arakan berjalan memasuki Piazza. Mereka mengikuti sebuah mobil box berwarna putih. Beberapa di antara orang-orang itu mengusung spanduk.

Mobil box berhenti pada salah satu sudut Piazza. Saya mendekati kerumunan. Dari belakang box mobil beberapa orang naik, dan dengan mikrofon di tangan, berganti-gantian memberikan pidato dalam Bahasa Italia. Salah satu spanduk berwarna merah bertuliskan ‘Stop War Not People’. Barangkali ini adalah protes publik mengenai krisis pengungsi yang sedang berlangsung belakangan. Inilah keunggulan kota-kota Eropa, mereka dilengkapi dengan ruang-ruang publik yang berfungsi dengan optimal. Ruang-ruang tersebut memungkinkan warganya mengaktualisasikan diri dan menyalurkan aspirasinya.

IMG_1186

IMG_1190

Sesudah tinggal beberapa menit untuk mengamati protes publik tersebut, saya berjalan ke sebelah Utara Piazza, memasuki Galleria Vittorio Emanuele II yang merupakan shopping arcade. Saya ingat Galleria Vittorio Emanuele II sempat dibahas di kelas Arsitektur Kota saat saya masih kuliah di Bandung. Jejeran pertokoan yang dinaungi atap lengkung dari baja dan kaca ini merupakan arsitektur awal dari shopping mall yang kini menjamur di seluruh dunia. Karena hari sudah malam toko-toko di dalamnya sudah tutup dan hanya restoran-restoran yang masih buka. Di hari terakhir di Milan nanti saya harus kembali ke sini untuk melihat suasananya ketika sedang ramai pengunjung.

Saya kembali ke Piazza dan berbelok ke kiri. Di (jalan) Corso Vittorio Emanuele II saya menghampiri sebuah gerobak gelato dan memesan segelas chocolate frappe. Si penjual mengambil dua skop es krim cokelat, memasukkannya ke dalam blender dan mencampurnya dengan susu cair. Setelah pesanan jadi, saya pergi ke tempat duduk di pinggiran jalan untuk minum sambil mengistirahatkan kaki. Baru tiga-empat kali sedotan tiba-tiba seorang laki-laki Afrika menghampiri saya.

“Halo, kawan, apa kabar?” laki-laki Afrika itu menenteng gelang-gelang dari benang di lengan kirinya. Seorang penjual gelang-gelang nampaknya. Ia melemparkan tangan kanannya dengan akrab kepada saya yang dengan spontan saya sambut, “Mau gelang?”

“Oh, tidak, terima kasih,” jawab saya.

“Asalmu dari mana, kawan? China? Jepang?”

“Um, Indonesia.”

“Indonesia?!” laki-laki Afrika itu berseru dengan antusias sambal melemparkan tangannya pada saya lagi dengan akrab, “Kamu Muslim? Hindu? Kristen?”

“Um, Kristen,” saya sedikit terkejut karena orang ini tahu bahwa tidak semua orang Indonesia itu Muslim.

“Aha! Aku dari Senegal!” serunya dengan lebih antusias, “Mari, sini, aku beri kamu gelang.”

“Eh, tidak usah, terima kasih,” tolak saya.

“Tak apa, tak apa, ini gratis,” ia tetap mengikatkan gelangnya di tangan kiri saya, “Kamu bareng keluarga? Pacar?”

“Tidak, sendiri,” ia selesai mengikatkan gelangnya dan berdiri di hadapan saya.

“Ah, solo?” setelah basa-basi si lelaki Afrika itu mengatakan sesuatu yang tidak jelas dengan suara pelan.

“Maaf, apa?”

“Bolehlah kamu bantu kawan Afrikamu ini dengan beberapa Euro,” ujarnya dengan nada bicara yang tidak antusias dan ekspresi yang nampak lesu.

“Ah, buat gelang ini?” tanya saya sambal menunjukkan pergelangan tangan kiri saya.

“Bukan, bukan, itu gratis untukmu. Tapi bolehlah kamu sumbang barang 100 euro buat kawan Afrika.”

“100 euro?? Banyak sekali, saya tidak bisa,” saya merogoh saku belakang dan menemukan uang keping sejumlah 5 euro, “tapi kalau beberapa euro….”

“Ya, 5 euro juga tak apa,” jawabnya.

“Um, saya beri 4 euro saja ya…. Ini.”

“Oke, terimakasih banyak, kawan!” ia melemparkan tangan kanannya lagi dengan antusias kepada saya, “sampai jumpa!”

Setelah laki-laki Afrika itu pergi saya merasa agak dikerjai. Tapi saya pikir tidak apa juga. Jika dilihat dari sisi positifnya, setidaknya 4 euro itu bisa membantu si ‘kawan Afrika’ mendapatkan makan malam. Saya memandang gelang tipis yang terikat di tangan kiri saya. Gelang ini tidak akan saya lepaskan sampai saya pergi dari Milan. Saya pikir gelang tipis warna merah ini bisa jadi penanda yang dapat saya tunjukkan jika ada penjual gelang lain yang mau mencoba trik yang sama kepada saya.

Chocolate frappe yang saya pegang saya habiskan sambil menonton musisi jalanan lain mempertunjukkan kebolehan bermusiknya. Pada pukul setengah sepuluh lewat saya menaiki metro M1 dan kembali ke Hostel Lumiere.

IMG_1200

***

ENTRY #16

Selasa, 18 Agustus 2015
Stuttgart. 23:48.

Dengan berakhirnya ujian Multimodal Transport Planning & Modelling siang tadi, maka berakhirlah semester kedua saya di Universität Stuttgart. Saya rasa performa saya kali ini agak lebih baik daripada semester sebelumnya. Alat perekam suara yang saya beli enam bulan yang lalu terbukti sangat bermanfaat. Berkat alat perekam tersebut saya bisa mengulang kembali kuliah yang diberikan dosen kapan pun saya mau. Mudah-mudahan semua hasil ujian memuaskan.

Pada liburan semester ini saya tidak pulang ke Indonesia. Saya menyusun daftar mental mengenai apa-apa saja yang sebaiknya saya lakukan sebelum memasuki semester baru: membersihkan kamar, menyusun rencana perjalanan, melanjutkan belajar-mandiri bahasa Jepang, mencetak berkas-berkas lapor diri dari website Konsulat Jendral Republik Indonesia dan mengirimkan/mengantarkannya ke Frankfurt, menyusun CV yang sewaktu-waktu bisa dikirimkan jika ada kemungkinan dan kesempatan untuk magang, mencari ide untuk topik thesis, dan membalas kiriman-kiriman kartu pos.

Betul, kartu pos. Beberapa kartu pos yang sudah sampai pada saya sejak semester lalu belum sempat direspon. Saya mengambil tumpukan kartu pos di rak kayu di sebelah kiri meja dan membacanya kembali satu-satu. Satu kartu pos membuat saya tersenyum sendiri—kartu pos yang saya terima dari Xinyu November tahun lalu sehabis ia pulang ke Stuttgart setelah bepergian entah kemana.

“Nih, oleh-oleh,” ujar Xinyu yang duduk di depan saya sambil membalikkan badan. Saat itu beberapa menit sebelum kelas Regional Planning I dimulai.

“Apaan nih? Kartu pos?”

“Iya, buat lo. Gue habis dari kastil Drachenburg, keren deh!”

“Hmm, kalau kartu pos…” saya membolak-balikkan kartu tersebut, “lo harusnya menulis sesuatu dong.”

“Ah! Iya juga, sini-sini balikkin!” Xinyu langsung merebut kartu posnya dari tangan saya, “Gue tulis sesuatu dulu baru nanti gue kasih ke lo. Beres.”

Keesokan paginya saya menemukan kartu pos itu di kotak pos. Saya membayangkan pada malam sebelumnya Xinyu membuka pintu foyer asrama nomor 18C, mencari nama saya pada barisan nama yang tertera di barisan kotak pos, memasukkan kartu ke dalamnya, dan cepat-cepat pergi dari sana seperti maling.

Saya membalikkan kartu pos itu untuk membaca isinya. Di ujung kanan atas, alih-alih perangko malah ada gambar perangko-perangkoan. Pada bagian alamat, huruf 18A dicoret dan diganti menjadi 18C (jangan-jangan tadinya Xinyu salah masuk gedung asrama dan tidak menemukan nama saya di sana?). Sedangkan pada bagian isi hanya ada pesan singkat yang ditulis acak-acakan.

“Schloss Drachenburg. Dragon Castle. yang mana dibangun pada tahun 1880an. Gue suka banget dengan taste si desainernya. Biarpun nggak seterkenal (kastil) Neuschweinstein. really detailed. delicate.”

Delicate. Sepertinya yang menulis kartu pos ini sendiri tidak terlalu delicate, pikir saya sambil ingin tertawa. Xinyu sudah pulang ke Shanghai sejak akhir Februari karena masa pertukaran pelajarnya telah selesai. Terakhir kali saya bertemu dengannya pada suatu siang di Allmandring. Waktu itu Xinyu membawa tiga botol yoguhrt dan ada luka kecil di wajahnya. Itu kenapa, saya bertanya padanya. Jatuh terjengkang waktu main ice skating, jawabnya. Dia menawarkan satu botol yoguhrt yang dibawanya kepada saya. Gue kelebihan beli ini, dia bilang. Tapi yoghurt itu tidak saya terima karena tidak suka yang asam-asam. Kemudian kami pun berpisah biasa saja seperti masih akan bertemu di lain hari.

Xinyu adalah teman perempuan paling unik yang pernah saya kenal sejauh ini. Dia selalu punya opini, suka seenaknya, keras kepala, tapi bisa juga menangis banjir sehabis dimarahi pacarnya lewat telepon. Setelah Xinyu kembali ke Shanghai, kami hanya sesekali bertukar kabar. Barangkali saya ini memang punya bakat untuk kehilangan kontak. Tak peduli seberapa dekatnya saya dengan seorang teman, begitu berpisah jarak dan tercebur ke lingkungan yang baru, tidak banyak yang tetap rutin berkontak.

Sebentar lagi bulan September. Bulan ini, dalam ingatan saya pribadi, identik dengan hujan dan perjalanan. Tahun ini pun saya akan melakukan perjalanan pada bulan September. Saya berencana untuk mengunjungi Paris (yang hanya 3 jam perjalanan dari Stuttgart!) dan beberapa kota di Italia. Mudah-mudahan saya bisa menulis sesuatu selama perjalanan nanti untuk dibagikan di sini.

Ceritanya sampai di sini dulu, sampai lain waktu.

IMG_0591

Kartu Pos dari Dragon Castle

***

ENTRY #15

Rabu, 24 Juni 2015
Stuttgart. 16:43.

Kemarin adalah hari ulangtahun saya yang keduapuluhenam. Pertama kalinya dalam hidup saya berpikir, “Wah, sudah tua ya.” Tanggal 23 Juni 2015 berjalan seperti hari-hari biasanya. Cuaca di pagi hari berawan dan agak mendung, sedangkan sore hari cerah dengan kombinasi tiupan angin dingin.

Di kelas Dr. Schwarz von Raumer kami belajar tentang analisa koridor migrasi kucing liar dari tiga lokasi berbeda di wilayah Baden Württemberg dengan menggunakan GIS. Sekitar pukul satu siang, kelas usai dan saya pun pergi ke Mensa (kafetaria) untuk makan siang. Tiga puluh menit kemudian saya pergi ke ruangan pengelola asrama untuk meminta kantong sampah. Di gedung asrama saya ada sekitar empatpuluh kamar. Di tiap lantainya tersedia satu dapur untuk digunakan oleh sepuluh penghuni di lantai yang sama. Setiap penghuni kebagian giliran untuk membersihkan dapur selama seminggu, dan minggu ini adalah giliran saya.

Setelah itu saya segera bergegas ke stasiun S-Bahn menuju kampus di Stadtmitte. Pukul dua sampai dengan pukul lima ada kelas Project Planning & Financing. Topik minggu ini mengenai Problem Tree & Objective Tree Analysis, LogFrame Matrix, dan analisa investasi proyek. Seusai kelas saya berkeliling sebentar di kota. Tapi kebetulan sedang tidak banyak kejadian menarik. Di kota saya hanya mampir ke toko Asia untuk membeli mie instan dan ke toko kebab membeli Döner Yufka untuk makan malam.

Semester kedua di Universität Stuttgart cukup menarik. Mata kuliah yang ditawarkan menarik minat saya. Namun lebih banyak tugas-tugas dan presentasi yang harus dilakukan dibandingkan semester sebelumnya. Tapi saya pikir itu baik, membuat mahasiswa lebih terlibat dan pada akhirnya lebih paham mengenai apa yang dipelajari. Berikut ini saya bagikan beberapa foto kota Stuttgart di hari saya menjadi dua-enam. Untuk sekarang sekian dulu. Sampai lain waktu!

IMG_0492

Kotak pos di asrama. Foto diambil sebelum berangkat kuliah.

Menu makan siang di Mensa: fillet ikan dan nasi.

Menu makan siang di Mensa: fillet ikan dan nasi.

Suasana di Mensa.

Suasana di Mensa.

Tangga menuju kantor pengelola asrama.

Tangga menuju kantor pengelola asrama.

Suasana di dalam S-Bahn menuju ke Stadtmitte.

Suasana di dalam S-Bahn menuju ke Stadtmitte.

Seorang mahasiswa membawa sepeda ke kampus.

Seorang mahasiswa membawa sepeda ke kampus.

Sehabis kuliah sore, berjalan-jalan di Königstraße.

Sehabis kuliah sore, berjalan-jalan di Königstraße.

Menara jam Balai Kota. Bulan (atau Venus, entahlah) muncul malu-malu.

Buku-buku obralan.

Buku-buku obralan.

Toko Asia. Tempat membeli macam-macam bumbu oriental yang tidak ada di swalayan Jerman. Bagi saya, tempat membeli Indomie.

Toko Asia: tempat membeli macam-macam bumbu oriental yang tidak ada di swalayan Jerman. Bagi saya: tempat membeli Indomie.

Interior toko Asia.

Interior toko Asia.

Memotong jalan ke stasiun S-Bahn lewat stasiun U-Bahn.

Memotong jalan ke stasiun S-Bahn lewat stasiun U-Bahn.

***

ENTRY #14

Kamis, 18 Desember 2014
Stuttgart. 21:45.

Sudah agak lama saya absen menulis jurnal. Tidak ada alasan khusus selain karena manajemen waktu yang kurang baik. Sejak perkuliahan resmi dimulai, cukup banyak yang terjadi. Saya berkenalan dengan berbagai orang baru, teman-teman satu angkatan di program Master of Infrastructure Planning, teman-teman dari Persekutuan Keluarga Kristen Indonesia (PERKI) di Stuttgart, dan kenalan-kenalan di International Baptist Church. Secara garis besar aktivitas saya selama 3 bulan terakhir ini diisi dengan perkuliahan rutin, persiapan-persiapan untuk acara natal PERKI, dan kunjungan ke beberapa christmas market.

Minggu depan kami memasuki masa liburan natal selama dua minggu. Sebelumnya ada dua tugas kuliah yang harus saya rampungkan. Tugas pertama adalah mengumpulkan abstraksi untuk paper mata kuliah “Introduction to Integrated Planning.” Untuk tugas ini ada enam topik yang mahasiswa bisa pilih sebagai bahan paper, antara lain tentang: mobilitas dan transportasi; analisa terhadap slow mode “walking”; manajemen pertumbuhan kota dengan sabuk hijau; analisa hubungan antara air dan kota dalam konteks historis dan masa kini; studi kasus mengenai integrasi manajemen pengairan dan perencanaan kota/lansekap; dan integrasi sistem pengairan kota, infrastruktur hijau dan siklus alami air. Saya memilih topik analisa hubungan air dan kota pada kasus kota Jakarta.

Tugas kedua adalah tugas presentasi di kelas Regional Planning I. Kelas ini dipegang oleh Professor Birkmann—seorang pengajar baru pada mata kuliah Regional Planning yang nampak masih muda. Professor Birkmann pernah bekerja untuk UN-Habitat dan saat ini menempati posisi sebagai kepala Institut für Raumordnung und Entwicklungsplanung (Institut Tata Ruang dan Perencanaan Pembangunan) di University of Stuttgart. Karena beliau begitu fasih berbicara mengenai isu-isu perencanaan kota di Vietnam dan Indonesia, saya menduga Professor Birkmann dulunya bertugas di kantor UN-Habitat cabang Fukuoka yang bertanggung jawab terhadap proyek-proyek di Asia Pasifik.

Dua minggu yang lalu, setelah selesai memberikan materi tentang Dokumen dan Proses Perencanaan Kota serta studi kasus perencanaan internasional di Vietnam, Professor Birkmann bertanya kepada kelas apakah ada yang bersedia untuk mempresentasikan situasi dan sistem perencanaan kota di negaranya masing-masing.  Beberapa mengangkat tangan dan menawarkan diri: Himanshu dari India, Valentine dari Nigeria, Patrick dari Australia, Daniel dari Columbia, dan kalau saya tidak salah ingat Akhter dari Pakistan. Saya menengok ke belakang mencari Novik dan Riza, sesama pelajar dari Indonesia. Saya pikir harus ada perwakilan dari Indonesia yang juga berpresentasi, kalau tidak ada, setelah membahas tentang Vietnam sudah pasti Professor Birkmann sendiri yang akan memberikan presentasi mengenai Indonesia—dan itu, pikir saya, akan terasa janggal. Setelah membuat kontak kilat dengan Novik dan Riza, maka saya pun mengangkat tangan dan turut menawarkan diri untuk memberikan presentasi.

Di akhir jam pelajaran, Professor Birkmann mengumpulkan para mahasiswa yang tadi mengangkat tangan untuk mengatur jadwal presentasi masing-masing. Kepada saya beliau berkata, “Akan baik setelah membahas Vietnam kita membahas Indonesia. Jadi perbedaan antara sistem perencanaan kota di kedua negara—yang dipengaruhi oleh sistem politik yang bertolak belakang—bisa nampak lebih jelas.” Saya meminta waktu dua minggu untuk mempersiapkan presentasi. Maka pada minggu berikutnya kelas diisi sekali lagi oleh presentasi studi kasus Vietnam dari Professor Birkmann dan satu presentasi mahasiswa mengenai India oleh Himanshu.

“Professor Birkmann,” saya mendatangi beliau setelah kelas minggu lalu berakhir, “presentasi saya minggu depan jadi digeser ke hari Selasa atau tetap di hari Rabu?”

“Tetap di hari Rabu, tapi karena saya ada perlu lain di hari Rabu, nanti presentasi kamu akan dimoderatori oleh teman saya,” jawab Professor Birkmann, “Jangan lupa sebelumnya kirimkan slidenya ke saya supaya bisa dikomentari dulu ya.”

“Iya, nanti saya kirimkan ke Anda.”

“Kalau bisa kamu siapkan 35-40 slide, ya.”

“35 sampai 40??” Saya kaget karena saya kira hanya perlu memberikan presentasi singkat.

“Iya, supaya kamu bisa meng-cover setidaknya satu jam.”

“E-eh… Satu jam? Baik, saya usahakan,” saya agak merasa dikerjai.

Seminggu kemudian, sehari sebelum hari presentasi saya menghubungi teman-teman Indonesia satu angkatan; Novik, Riza, dan Meta. Malam itu kami mengadakan latihan presentasi di dapur asrama Meta. Teman-teman memberikan masukan-masukan dan saya pun jadi mengetahui bagian-bagian mana pada presentasi yang belum benar-benar saya pahami. Berkat bantuan mereka saya pun menjadi lebih siap.

Keesokan paginya saya berangkat dari asrama pukul sembilan lewat lima. Sambil berjalan kaki menuju stasiun S-Bahn saya membaca ulang catatan pegangan untuk presentasi nanti. Di stasiun S-Bahn saya bertemu dengan Valentine, mahasiswa Nigeria yang akan memberikan presentasi setelah libur natal dan tahun baru. Beberapa menit kemudian, Xinyu, yang baru pulang dari trip dua minggu entah kemana, juga muncul. Kami bertiga berangkat bersama menuju kelas Regional Planning di kampus Stadtmitte.

“Sudah dengar berita penembakan murid-murid sekolah di Pakistan?” tanya Valentine kepada saya saat kami menaiki tangga gedung kuliah. Peristiwa penembakan yang ia maksud adalah aksi terorisme kelompok Taliban di Peshawar yang memakan korban jiwa sebanyak 141 orang dimana 132 di antaranya adalah anak-anak, “Kalian di Indonesia juga muslim kan? Tapi nggak ada kejadian kayak begitu ya?”

“Nggak ada,” jawab saya, “ada juga sih sekelompok kecil ekstrimis, tapi kebanyakan orang baik. Barangkali masalahnya bukan di agama, tapi di manusia-manusianya.”

Pukul 9.45 kelas dimulai. Professor Fina, pengganti Professor Birkmann, membuka kelas lalu mengizinkan saya untuk memulai presentasi. Saya membagi presentasi saya ke dalam lima bagian, antara lain: profil Indonesia, selayang pandang sejarah tata ruang di Indonesia, tata ruang pasca-1998, sistem pemerintahan lokal dan sistem tata ruang, dan studi kasus Jabodetabek. Pada bagian profil Indonesia saya menjelaskan mengenai luas wilayah, besaran populasi, struktur usia penduduk, produk domestik bruto negara, dan lain sebagainya. Saya menunjukkan bahwa saat ini Indonesia sedang mengalami bonus demografi dimana struktur usia penduduk sedang didominasi oleh penduduk usia produktif—satu hal yang dapat menjadi peluang sekaligus masalah, tergantung dari kualitas manusia yang dihasilkan. Saya juga menyampaikan pada tahun 2013 Indonesia berada di peringkat ke-16 dunia dalam hal besaran PDB, dan diproyeksikan akan berada di posisi 7 pada tahun 2030. Sedikit saya juga singgung mengenai wacana integrasi ekonomi ASEAN, jika berjalan lancar maka pada tahun 2050, Indonesia bersama sembilan negara ASEAN lainnya bisa menjadi kekuatan ekonomi terbesar nomor 4 mengikuti China, AS, dan India. Di samping itu, secara keseluruhan, presentasi saya berusaha menunjukkan keterkaitan sistem demokrasi yang telah berjalan selama 16 tahun di Indonesia dengan sistem tata ruang.

altAvWKldYIY2StgqaqHVU6alUn3r9FOI1P8IHiqc45Yq7F

Mempresentasikan kasus Jabodetabek (foto diambil oleh Akhter)

Seusai kelas dalam perjalanan pulang ke Vaihingen, Xinyu berkata, “Gue pikir ide integrasi itu ide bagus. Apa tadi namanya… Ashian?”

“ASEAN?”

“Iya itu, ada berapa negara anggotanya?”

“Sepuluh. Indonesia, Filipina, Malaysia, Singapura, Vietnam, Thailand, Kamboja, Laos, Brunei, dan Myanmar.”

“Hmm… Entah kenapa gue jadi merasa terancam.”

“Loh, kenapa mesti merasa terancam?” saya tertawa kecil, “sekarang memang trend-nya begitu, multipolar, dominasi nggak cuma dipegang oleh Amerika Serikat. Lebih bagus dong, jadinya kan lebih seimbang.”

Malam harinya Novik mengundang saya dan beberapa teman Indonesia untuk makan malam bersama. Pukul delapan malam kami bertemu di dapur Meta di Straussaecker 98. Novik memasak nasi kuning dan ayam bumbu beserta telor yang sangat enak. Selain kami berempat mahasiswa angkatan baru MIP, ada Harsono, Ivaldi, dan Alis juga. Yael dari Meksiko dan Elton dari Azerbaijan, dua orang teman se-asrama Meta, juga ikut menikmati makan malam bersama kami. Kami berbincang tentang macam-macam hal dan tertawa hingga larut malam.

***

ENTRY #13

Selasa, 7 Oktober 2014
Stuttgart. 20:46.

“Sebenarnya pergi ke sana besok pun masih sempat, kita punya waktu sekitar 2 jam,” saya mengirim pesan kepada Xin Yu, “Tapi artinya malam ini semua PR harus beres, dan besok kita makan siangnya di jalan pulang. Gimana menurut lu?”

“Menurut gue, ayo kita pergi!”

Maka pada pukul 10.30 pagi ini saya bertemu Xin Yu di stasiun S-Bahn Universitaet. Kami hendak mengunjungi Weissenhof Museum & Estate—sebuah kompleks perumahan yang dirancang oleh para maestro arsitektur modernis Eropa, antara lain Le Corbusier, Mies van Der Rohe, Mart Stam, Peter Behrens, Adolf Schneck, dan banyak lainnya. Salah satu rumah di kompleks ini, yang merupakan buah karya Le Corbusier, separuh bagiannya dialihfungsikan sebagai museum dimana latar belakang dan sejarah perkembangan kompleks Weissenhof didokumentasikan.

Weissenhof Museum, pada hari Selasa sampai dengan Jumat, dibuka sejak pukul 11.00 hingga 18.00. Tetapi karena kami harus mengikuti kelas bahasa Jerman pada pukul 13.30 maka paling lambat sudah harus berangkat kembali menuju kampus pada pukul 13.00. Pertama-tama kami menaiki S-Bahn hingga Hauptbahnhof Stuttgart. Dari situ ada dua pilihan mode transportasi yang bisa diambil: dengan U-Bahn U5 atau dengan Bus. Xin Yu lebih memilih dengan Bus karena berhenti di dekat Museum dan hanya perlu sedikit berjalan kaki, sedangkan saya memilih dengan U5 karena walaupun jarak berjalan kakinya sedikit lebih jauh tetapi secara keseluruhan waktu perjalanannya 5 menit lebih singkat. Tetapi akhirnya Xin Yu mengalah setelah melihat jadwal, bus baru akan tiba 10 menit kemudian sedangkan U5 akan segera tiba dalam 3 menit. Kami pun menaiki U5 dan turun di stasiun terakhir di Killesberg.

Sesampainya di pemberhentian terakhir, kami naik ke permukaan dan keluar di sebuah plaza terbuka yang sepi. Killesberg berada di daerah tinggi sehingga kami bisa melihat kota Stuttgart dari atas. Malam sebelumnya saya sempat mempelajari jalan menuju Weissenhof Museum dengan bantuan petunjuk dari website dan googlemaps, sementara Xin Yu seperti biasanya berjalan sambil membuka navigator pada ponselnya.

“Nanti kita ambil jalan yang di sebelah kiri itu,” ujar Xin Yu saat kami sedang menunggu lampu lalu lintas berubah jadi hijau.

“Yakin nih? Tapi lu kan nggak jago soal navigasi,” saya mengingatkannya bagaimana ia membuat kami berputar-putar saat pulang dari Mercedes-Benz Museum tempo hari, “Kayaknya mesti ambil jalan yang di sebelah kanan itu deh.”

“Yakin! Navigator gue menunjukkan ke arah sana kok.”

Lampu lalu lintas berganti hijau dan kami pun menyeberang. Saya mengalah dan mengikuti Xin Yu mengambil jalan sebelah kiri. Namun, tak jauh kemudian ia nampak sedikit kebingungan. Melihatnya ragu-ragu, saya membuka navigasi di ponsel dan memeriksa lokasi kami. Benar saja, ternyata Xin Yu salah mengambil jalan.

“Hei, hei, kita salah jalan. Museumnya ada di Rathenausstrasse, di sebelah sini,” saya menunjukkan letak Rathenausstrasse padanya, “Yuk, balik ke jalan yang tadi.”

“Eh? Di Rathenausstrasse? Yakin lu?”

“Yakin.”

“Ah, tapi lewat sini juga bisa kok… Nih,” ia menyodorkan ponselnya.

“Iya, tapi kan jadinya lebih jauh. Mending kita balik ke jalan yang tadi.”

“Hmm, iya sih.”

Akhirnya kami tiba di depan pintu masuk Weissenhof Museum pada pukul sebelas lewat lima menit. Kami menghampiri meja resepsionis dan membeli tiket seharga 2 Euro, kemudian diberi selembar leaflet berbahasa Inggris yang memuat sekilas informasi mengenai Weissenhof Museum & Estate. Lalu setelah menitipkan tas di lemari loker, kami menaiki tangga menuju zona pameran di lantai atas. Weissenhof Museum ini aslinya merupakan sebuah bangunan hunian tiga lantai yang terdiri dari dua buah unit identik. Arsitektur karya Le Corbusier ini dibangun pada tahun 1927 dan telah beberapa kali berganti penghuni.

IMG_2479

Maket Arsitektur Weissenhof Estate di Ruang Pamer

Sejak tahun 2006 Weissenhof Museum dibuka untuk publik. Dengan demikian masyarakat umum pun dapat mempelajari sekaligus mengalami langsung seperti apakah arsitektur modernis Eropa dari abad ke-20. Satu dari dua unit pada bangunan ini direkonstruksi sedemikian rupa hingga mendekati kondisi awalnya ketika pertama kali dibangun, sedangkan unit lainnya dirombak menjadi area pameran. Kedua unit ini terhubung melalui lantai rooftop.

Le Corbusier menerapkan kelima prinsip dari Manifesto Arsitektur yang ia cetuskan pada tahun 1920an dalam karyanya satu ini, antara lain: penggunaan pilotis di lantai dasar, layout lantai yang fleksibel, fasade yang bebas dari elemen struktur, deretan jendela panjang yang menyerupai pita untuk mengakomodasi pencahayaan dalam ruangan, dan atap beton yang dapat digunakan untuk berkegiatan atau penghijauan.

Di atas atap beton hasil buah pemikiran Le Corbusier itu saya dan Xin Yu dibuat terkesima oleh pemandangan kota Stuttgart.

IMG_2492

Pemandangan ke Arah Stuttgart dari Rooftop Weissenhof Museum

“Lihat! Itu Mercedes-Benz Museum! Dan itu Porsche Arena! Di sebelah sana Volkfest! Semuanya kelihatan dari sini.”

“Dari atas sini kelihatan banget ya kalau Stuttgart itu kota lembah.”

Setelah mengambil beberapa foto dari atas atap, kami masuk ke unit yang dipelihara sesuai kondisi aslinya. Di unit tersebut ada seorang petugas perempuan yang saya taksir berusia 40 tahunan, ia bertugas mengawasi dan memberikan informasi seputar unit ini kepada para pengunjung. Xin Yu terlibat percakapan yang cukup panjang dengan si petugas perempuan, namun kebanyakan bukan mengenai arsitektur melainkan bahasa.

Selepas dari Museum kami mengelilingi kompleks Weissenhof Estate. Selain bangunan karya Le Corbusier yang kami kunjungi, seluruhnya masih diokupasi oleh penghuni masing-masing sehingga pengunjung hanya dapat mengambil gambar dari luar saja.

Kami tidak terlalu lama berkeliling di Estate karena dikejar oleh waktu. Sekitar pukul 12.35 saya dan Xin Yu berjalan kembali ke stasiun U-Bahn Killesberg. Kami menaiki kembali U5 menuju Hauptbahnhof Stuttgart. Satu stasiun sebelumnya U-Bahn berhenti di stasiun Stadtbibliothek—perpustakaan umum Stuttgart yang minggu lalu batal saya kunjungi karena tutup pada hari libur Reunifikasi Jerman.

“Lain waktu kita harus ke Stadtbibliothek juga nih,” ucap Xin Yu.

“Ah, seandainya hari ini nggak ada kelas,” balas saya, “bisa langsung turun sekarang juga.”

“Iya, gue juga berharap begitu.”

Sesampainya di Hauptbahnhof Stuttgart kami membeli sandwich untuk makan siang di sebuah kedai pojokan dan kemudian menaiki S-Bahn menuju kampus Vaihingen. Lima belas menit setelah kami tiba di gedung International Zentrum, kelas bahasa Jerman pun kembali dimulai seperti biasanya.

***

ENTRY #12

Sabtu, 4 Oktober 2014
Stuttgart. 22:54.

Saya banyak bertemu orang baru hari ini. Kemarin saya dihubungi oleh Mas Donny—salah satu pelajar Indonesia yang sudah beberapa tahun tinggal di Stuttgart dan dalam waktu dekat akan merampungkan studi doktoralnya di bidang robotika. Kontak pertama saya dengan Mas Donny berlangsung lewat pesan di media sosial, ketika itu ia menginformasikan kepada saya mengenai kegiatan persekutuan Kristen Indonesia di Stuttgart dan tentang gereja berbahasa Inggris IBC. Lewat pesan kemarin Mas Donny mengajak saya untuk datang ke acara persekutuan bulanan Kristen Indonesia yang diadakan di Oekumenische Zentrum di Kampus Vaihingen. Selain saya, Mas Donny mengajak seorang pendatang baru juga dan mengusulkan agar kami bertemu makan siang bersama sambil mengobrol-ngobrol dahulu sebelum pergi ke acara persekutuan.

Sekitar pukul setengah tiga di stasiun S-Bahn Feuersee, saya bertemu dengan Mas Donny yang datang bersama Kak Melissa dan Monica. Monica ini sesama pendatang baru seperti saya, ia tinggal di Nuertingen, sekitar 30 menit sampai satu jam perjalanan dari Stuttgart. Sebelum kami bertemu di Feuersee, Mas Donny dan Kak Melissa menjemput Monica terlebih dahulu di Hauptbahnhof Stuttgart. Setelah itu kami keluar dari stasiun S-Bahn dan pergi ke apartment tempat Mas Donny dan Kak Melissa tinggal. Kami pergi ke sana agar Monica dapat meletakkan barang bawaannya di kamar Kak Melissa sebab malam ini ia akan menginap di sana. Area apartment Mas Donny dan Kak Melissa berada di lokasi yang disusun oleh blok-blok bangunan tua yang relatif masih terawat. Walaupun berada di tengah kota tetapi suasana lingkungan apartment tersebut tidak berisik dan cukup tenang.

Dari apartment kami kemudian pergi ke sebuah restoran asia di Silberburgstrasse. Selama kami berjalan menuju ke sana terdengar bunyi lonceng gereja yang berdentang panjang dari kejauhan. Kak Melissa bilang, dentang lonceng itu berasal dari Johanneskirche—gereja yang terletak di depan danau buatan yang pernah saya datangi pada hari-hari pertama saya di Stuttgart. Sesampainya di restoran yang dituju, kami memeriksa menu dan memesan lalu kemudian mengobrol-ngobrol. Salah satu topik perbincangan kami adalah mengenai perbedaan gaya hidup di Jerman dan Indonesia. Ada beberapa hal di Indonesia yang terasa lebih praktis yang tidak ditemukan di Jerman, misalnya hal-hal seperti: tidak begitu banyaknya mahasiswa asal Indonesia sehingga kerap merasa terdampar sendirian di tempat antah-berantah, pakaian-pakaian kotor yang harus dibereskan sendiri karena tidak ada orang lain yang mengurusinya, sampai dengan toko-toko yang tutup di hari Minggu dan libur nasional.

“Dua hari ini aku makannya cereal aja,” ujar Monica yang baru seminggu berada di Jerman.

“Padahal kalau di Indonesia gampang ya cari makan, mau kapanpun dan dimanapun.”

Saya pun pada minggu pertama sama sekali tidak bisa membayangkan bagaimana saya akan hidup di Jerman selama dua tahun ke depan. Tapi untungnya, sedikit demi sedikit dapat menyesuaikan diri dan mulai terbiasa.

Selepas makan siang, kami mampir sebentar di Toko Asia di Schwabstrasse. Toko kecil ini menjual beragam makanan, bahan, dan bumbu khas asia—termasuk juga Indomie. Begitu melangkahkan kaki memasuki pintu toko, langsung tercium aroma bumbu-bumbuan di udara.

Sekitar sepuluh menit kemudian kami keluar dari toko asia tersebut dan bergegas pergi ke stasiun S-Bahn. Acara persekutuan dimulai pada pukul setengah lima sore, kami tidak ingin terlambat tiba terlalu lama di sana. Dari Feuersee kami menaiki S-Bahn dan turun di stasiun Universitaet. Pukul lima kurang duapuluh kami berempat sampai di Oekumenische Zentrum. Oekumenische atau Oikumene berasal dari bahasa Yunani yang secara literal berarti “rumah”. Istilah ini cukup sentral dalam komunitas Kristen dan digunakan untuk menggambarkan kondisi di mana orang-orang berhimpun untuk mengangkat pujian syukur kepada Yang Kuasa. Dari namanya orang dapat menerka kalau bangunan ini diperuntukkan untuk kegiatan ibadah. Namun dalam kesehariannya, Oekumenische Zentrum dipakai untuk melangsungkan kegiatan kursus bahasa asing. Sedangkan Cafe yang ada di depannya biasa digunakan oleh para mahasiswa sebagai tempat duduk-duduk santai.

Acara belum dimulai ketika kami memasuki ruangan. Sudah ada beberapa orang yang berkumpul. Di situ hadir juga Kak Lyna, Mas Fendy, Mas Samuel, Mas Arman, dan beberapa orang lainnya yang sempat saya temui di acara perayaan ulangtahun seorang Ibu senior asal Indonesia minggu lalu (sepertinya saya tidak mencatat ini di jurnal). Kami bertukar salam dengan semuanya dan tak lama kemudian acarapun dibuka. Susunan acara dimulai dengan kebaktian dan sharing, makan sore bersama, bincang-bincang bebas, pembahasan singkat tentang kepanitiaan Natal, dan ditutup dengan latihan bernyanyi untuk persiapan acara Indonesischer Kulturabend (Malam Kebudayaan Indonesia) yang akan diadakan pada awal November nanti. Entah bagaimana, dengan sangat informal, saya dan beberapa pendatang baru lainnya jadi turut terlibat di latihan menyanyi itu.

Saya menghabiskan waktu di Oekumenische Zentrum sampai pukul sepuluh malam kurang beberapa menit. Saya berkenalan dengan pendatang baru lain yang masih muda-muda: Bryanth (19), mahasiswa baru yang akan menempuh studi sarjana di bidang Maschinenbau; Ella (18) dan Dwi (18), yang sedang menjalani Studienkoleg dan Sprachkurs; dan Mio (14), adik Dwi, seorang siswa Realschule. Sepanjang malam itu kami berbincang, bernyanyi, dan tertawa lepas.

Saya jadi kembali teringat kata-kata Herr Hartmut ketika beliau mengenang hari-harinya di Indonesia, “Di sana saya bisa tertawa lepas,” demikian ujarnya. Setelah kembali ke kamar saya pun memikirkan ini. Ya, seperti inilah orang Indonesia yang saya sukai. Kami tidak perlu rokok atau alkohol untuk menghangatkan hati, cukup berkumpul di satu tempat dan kami pun bisa tertawa oleh hal-hal kecil.

***

ENTRY #11

Jumat, 3 Oktober 2014
Stuttgart. 20:49.

Di awal Oktober ini ada tiga hari peringatan yang berdekatan. Pada tanggal 1 Oktober masyarakat Tiongkok memperingati berdirinya Republik Rakyat Tiongkok—hari yang menandakan tegaknya komunisme di bumi Tiongkok. Sementara pada tanggal yang sama masyarakat Indonesia memperingati salah satu kenangan buruk dalam perjalanan sejarahnya—hari dimana pemburuan manusia dimulai dan komunisme dikebumikan.

Pada tanggal 1 Oktober 2014 di Hongkong juga berlangsung suatu kejadian penting. Saat ini kita memang belum tahu apakah kejadian tersebut akan berdampak luas atau hanya sekedar percikan kecil, tapi tetap, sebuah kejadian bersejarah. Pada hari Rabu kemarin, di tanggal 1 Oktober itu, warga Hongkong berbondong-bondong melakukan protes, turun ke jalan, mengokupasi Central Hongkong, dan—dengan mengacu secara disiplin pada panduan aksi protes yang telah dibagikan pada seluruh partisipan—melakukan aksi damai untuk menuntut dikembalikannya hak politik yang telah dijanjikan oleh Pemerintah Pusat Tiongkok. Banyak media massa berbahasa Inggris menerbitkan liputan tentang aksi protes ini, membawa mata dunia mengawasi perkembangan situasi di Hongkong. Beberapa media bahkan berspekulasi, merangsang kecemasan pembaca, apakah tragedi Lapangan Tiananmen tahun 1989 akan terulang kembali di Hongkong?

Sudah menjadi rahasia umum bahwa tidak ada media massa yang seratus persen objektif dan bebas dari kepentingan. Disengaja maupun tidak, pasti ada bias tertentu yang dibentuk oleh nilai-nilai yang dipegang para petinggi media atau bahkan hanya sesederhana demi mengakomodasi kepentingan modal. Karena itu di hari Rabu tersebut saya bertanya kepada Xin Yu, seorang warga Tiongkok, tentang pandangannya mengenai isu ini.

“Orang-orang Hongkong itu bodoh!” demikian reaksi pertamanya, yang dengan segera membuktikan tidak ada pihak yang seratus persen objektif dan bebas bias.

Di lain sisi, dari suatu sumber di media online saya sempat menemukan grafik yang menunjukkan bahwa warga Hongkong mempersepsikan diri mereka lebih berpendidikan daripada warga Tiongkok daratan. Ini lucu, tapi saya tak katakan itu pada Xin Yu. Menurut Xin Yu warga Hongkong terlalu menganggap diri mereka tinggi. Padahal ketika terjadi krisis finansial di akhir tahun 90an Hongkong tidak bisa berbuat apa-apa tanpa menerima bantuan dana dari Tiongkok daratan.

Secara khusus saya bertanya padanya, ke arah manakah menurutnya situasi akan berkembang? Apakah mungkin akan terjadi penertiban yang bersifat militeristik? Tentang ini Xin Yu meragukannya. Saat ini Hongkong sedang berada di bawah lampu sorot dunia, oleh karena itu tindakan kekerasan hanya akan membawa kerugian bagi Tiongkok sendiri.

“Gue pikir saat ini Hongkong tidak akan diapa-apakan,” ujar Xin Yu, “tapi satu hal yang pasti, pemerintah Tiongkok nggak akan tinggal diam. Mereka pasti sedang menyiapkan rencana untuk menghukum Hongkong di waktu-waktu yang akan datang.”

Saat ini perkembangan Hongkong memang maju. Tetapi Tiongkok pun sedang membangun kota-kotanya dengan masif. Di masa-masa yang akan datang, Xin Yu sangat yakin, kota-kota Tiongkok lain akan dapat menyusul Hongkong. Dan suatu saat nanti, Hongkong hanya akan menjadi sebuah kota pelabuhan kecil yang perannya tidak begitu signifikan bila dibandingkan dengan kota-kota Tiongkok lainnya.

“Kalau gue mau bunuh orang, nggak mungkin dong gue melakukannya sambil ditonton khalayak ramai? Gue tinggal suruh orang lain gali lubang kubur, dan bayar orang untuk melakukannya.”

“Wah… Ngeri juga lu, ya.”

“Bukaan! Tenaang, gua nggak berniat bunuh siapa-siapa kok, cuma perumpamaan,” jawabnya tertawa, “Ya, tapi begitulah politik itu.”

Dengan demikian setidaknya dapat disimpulkan, situasi di Hongkong sepertinya tidak akan menjurus ke arah yang berbahaya. Mengingat para pendemo melakukan aksi dengan santun dan simpatik, pemerintah Tiongkok pasti akan berpikir beberapa kali untuk mengambil langkah-langkah disipliner keras.

Esoknya, tanggal 2 Oktober adalah hari Batik Nasional Indonesia. Pada bulan Oktober 2009 UNESCO menetapkan batik sebagai mahakarya warisan budaya, dan sejak saat itu setiap tahunnya pada tanggal 2 masyarakat Indonesia memperingatinya sebagai Hari Batik. Pada hari itu saya pun mengenakan batik ke kelas.

“Baju lu bagus juga,” kata Mario kepada saya saat jam istirahat.

“Makasih, ini namanya Batik.”

“Apa? Batik? Mahal nggak?”

“Nggak juga sih, ada yang mahal tapi ada juga yang murah,” saya menjelaskan seadanya, “Sebenarnya hari ini orang Indonesia memperingati Hari Batik, jadi semua orang memakai Batik, makanya gue juga pakai Batik ke kelas.”

“Ooh, begitu? Asik, asik.”

Malam harinya setelah pulang dari kegiatan Bible Reading di kampus, yang baru saya datangi untuk kedua kalinya, saya membuka media sosial dan menemukan teman-teman yang sedang merantau juga memakai batik di negara yang mereka tinggali masing-masing. Saya merasa senang.

IMG_2406

Hari Batik Indonesia 2014

Hari ini, tanggal 3 Oktober, masyarakat Jerman memperingati hari bersatunya kembali Jerman Timur dan Jerman Barat. Seluruh kegiatan diliburkan untuk memperingatinya. Stasiun S-Bahn dan U-Bahn ramai dengan orang-orang. Kebetulan sampai minggu depan juga sedang berlangsung Volkfest di Bad Canstatt—sebuah festival syukur panen tahunan yang kini, setelah mengadaptasi pengaruh-pengaruh lain, juga menjadi festival Bir. Di mana-mana terlihat banyak pemuda-pemudi mengenakan pakaian tradisional menuju ke Volkfest.

Tetapi hari ini saya tidak pergi ke Volkfest. Sekitar pukul satu siang saya, Gium, Marina, dan Mario mengunjungi Porsche Museum. Untuk menuju ke museum tersebut dari kampus kami harus menaiki S-Bahn yang berhenti di Schwabstrasse dan kemudian menyambung dengan S-Bahn yang melewati stasiun Porsche Museum. Letak stasiun Porschee Museum tepat berada di depan museum.

Kami membayar tiket masuk pelajar seharga 4 Euro per orangnya. Sama seperti Mercedes-Benz Museum, sebelum memasuki area pameran kami juga dilengkapi dengan perkakas pemandu audio. Namun bila dibandingkan, skala bangunan dan jumlah koleksi di Porsche Museum jauh lebih kecil daripada Mercedes-Benz Museum. Walaupun demikian, secara pribadi, saya lebih menyukai koleksi di museum ini. Kami hanya menghabiskan waktu sekitar satu-dua jam di Porsche Museum, namun kami merasa senang atas kunjungan ini dan tidak merasa lelah sedikitpun.

IMG_2447

Suasana Porsche Museum

IMG_2436

Suasana Interior Porsche Museum

Setelah mengambil beberapa foto kamipun kembali ke stasiun S-Bahn dan kemudian berpisah di Hauptbahnhof. Marina hendak berkeliling sebentar di Stadtmitte lalu pulang ke rumah, Gium langsung menuju ke Volkfest, Mario pulang ke asramanya untuk meletakkan poster yang ia beli di Porsche Museum lalu akan pergi menyusul Gium ke Volkfest, sedangkan saya hendak pergi mengunjungi Stadtbibliothek—Perpustakaan Kota Stuttgart yang ulasan desainnya sempat masuk ke situs-situs arsitektur. Tapi rupanya kali ini saya belum beruntung, Stadtbibliothek sedang tidak beroperasi karena libur nasional. Mungkin lain waktu saya akan coba datang kembali.

Jadi demikian, untuk catatan jurnal hari ini sekian dulu.

***

ENTRY #10

Selasa, 23 September 2014
Stuttgart. 21:34.

Akhir-akhir ini udara di Stuttgart semakin dingin. Saya akan merangkum sedikit apa-apa saja yang terjadi pada tiga hari terakhir.

Pagi-pagi di hari Minggu saya pergi bergereja di International Baptist Church (IBC) untuk kedua kalinya. Di gereja ini saya dapat mengikuti kebaktian yang dilangsungkan dalam bahasa Inggris. Jemaatnya cukup banyak dan didominasi oleh keluarga dan pasangan muda. Saya agak merasa sedikit canggung saat pertama kali mengikuti ibadah di gereja ini sebab hanya datang sendirian.

Minggu kemarin saya pergi ke IBC dengan menumpangi S-Bahn lalu disambung dengan bus, sedangkan seminggu sebelumnya dengan berjalan kaki dari asrama. Keduanya memakan waktu sekitar setengah jam, hanya saja dengan kendaraan umum saya tidak merasa capek berjalan.

Ketika saya berdiri hendak turun dari bus di halte Buchrain Friedhof, seorang perempuan tua berparas Asia yang membawa payung kuning ikut berdiri dan menuju pintu keluar. Perempuan tua itu tersenyum kepada saya dan berkata dalam bahasa Inggris, “Kamu dari Indonesia ‘kan?”

“Iya,” jawab saya, “Ibu juga?”

“Bukan, saya dari Filipina,” bus melambat dan berhenti, “Saya ingat kamu di kebaktian Minggu lalu. Kamu juga berdiri kan, waktu orang-orang yang pertama kali ikut ibadah di IBC diminta memperkenalkan diri.”

Kami turun dari bus dan berjalan menuju gereja. Di belakang kami tiga orang anak muda—satu orang pria dan dua orang wanita—yang menaiki Bus yang sama juga turun. Rupanya mereka sesama jemaat.

“Kamu mahasiswa? Di mana?”

“Iya, di University of Stuttgart, saya mahasiswa baru.”

“Program apa?”

“Infrastructure Planning.”

“Planning? Ah, dia juga di jurusan Planning lho,” ibu tua berpayung kuning itu menunjuk salah satu anak muda yang berjalan di belakangnya. Saya berkenalan dengan ketiganya sambil berjalan.

“Dulu di sini banyak orang Indonesia tapi sekarang sudah pergi bekerja ke tempat-tempat lain,” lanjut si ibu tua, “Ada satu orang yang namanya Donny tapi sekarang dia sedang sibuk dengan studi doktoralnya.”

“Ah? Donny? Saya tahu, saya sempat dikontak olehnya dan diberi informasi tentang gereja ini.”

Ibu tua itu bernama Emy. Beliau telah menetap di Stuttgart selama kurang lebih 30 tahun. Di dalam ruang kebaktian saya tidak duduk di sebelah Bu Emy tetapi setelah kebaktian usai saya berpapasan dengannya dan bertukar salam selamat hari Minggu. Sebuah gestur kecil yang menyenangkan, minggu ini saya mengenal seseorang dan tidak benar-benar sendirian lagi. Setelah itu saya langsung pergi ke arah halte Bus tapi dari belakang seseorang memanggil nama saya. Saya membalikkan badan dan menemukan Deli—mahasiswa asal Nigeria yang saya kenal dari kegiatan Bible Reading di kampus tempo hari. Kami bertukar salam dan pulang bersama ke asrama Allmandring sambil berbincang-bincang.

“Apa kabar anakmu?” tanya saya, mengingat pada malam setelah Bible Reading, ia nampak mengkhawatirkan anak dan istrinya di Nigeria yang sedang dalam kondisi kurang sehat.

“Anakku? Baik, dia baik,” jawabnya tersenyum.

Deli mengungkapkan rencananya untuk pulang ke Nigeria pada liburan Natal nanti. Awalnya Deli hendak membawa anak-istrinya untuk tinggal di Stuttgart sejak Natal tahun ini, tapi setelah berunding lebih lanjut dengan sang istri rencana ini dibatalkan karena khawatir bayi mereka belum cukup kuat untuk tiba-tiba menghadapi musim dingin.

Beberapa menit sebelum pukul dua belas kami berpisah di kampus, menuju ke asrama masing-masing. Sorenya pukul setengah empat saya telah membuat janji dengan kak Lyna, seorang kerabat jauh semarga, yang mengundang saya untuk mengunjungi rumahnya di Fellbach. Kak Lyna menikah dengan seorang pria Jerman dan telah dikaruniai oleh tiga orang putra. Keluarga mereka sudah tinggal di Fellbach selama sembilan tahun.

Saya mengajak Novik dan Harsono untuk ikut berkunjung ke sana. Kami bertiga berkumpul di stasiun S-Bahn Universitaet pada pukul tiga dan segera menaiki S-Bahn ke arah Fellbach. Perjalanan berlangsung selama kurang lebih tiga puluh menit. Sesampainya di stasiun Fellbach kami dijemput oleh Kak Lyna dengan mobil.

Fellbach adalah sebuah area pinggiran kota yang tenang dan asri. Dari pekarangan belakang rumah Kak Lyna, kami dapat melihat perbukitan luas yang ditumbuhi oleh anggur-angguran. Ladang-ladang anggur ini memasok bahan baku untuk pembuatan wine. Begitu tiba di rumah Kak Lyna kami disuguhi penganan gorengan dan teh hangat. Bersama Kak Lyna dan suami kami juga mendengarkan permainan piano putranya yang nomor dua, bernama Fidi. Walaupun masih berusia belasan tahun, Fidi gemar membuat komposisi piano sendiri. Ketika itu ia memainkan salah satunya.

Kemudian Kak Lyna mengajak kami bertiga untuk berjalan-jalan di ladang anggur, Fidi juga ikut dengan skuternya. Sembari berjalan melewati barisan ladang anggur kami memetik beberapa untuk dicicipi. Kak Lyna bilang ada seratus lebih macam anggur yang berbeda di ladang itu. Dari atas bukit tersebut kami bisa melihat kota Fellbach, jika naik terus lebih tinggi maka kami akan dapat melihat kota Stuttgart.

IMG_2363

Pemandangan dari Pintu Belakang Rumah

IMG_2362

Ladang Anggur Fellbach

Novik, Harsono, dan saya berkunjung di rumah Kak Lyna sampai dengan beberapa menit sebelum pukul sembilan malam. Di sana kami makan malam bersama dan mengobrol panjang lebar dengan Kak Lyna dan suami. Beragam topik pembicaraan terlontar, dari kemungkinan-kemungkinan sumber energi terbarukan, prospek bisnis infrastruktur, birokrasi pemerintah Indonesia yang tidak ideal untuk pembangunan, sistem transportasi masal, sampai kepada kisah-kisah Kak Lyna semasa kuliah dan hal-hal trivial lain seperti bagaimana beberapa orang Indonesia di Stuttgart sudah menjadi “lebih Jerman daripada orang Jerman”—sindiran yang sepertinya akan sering kami bertiga pakai untuk berkelakar. Sebelum kami pulang, Kak Lyna membekali kami dengan ikan, sambal, tempe, teh herbal, apel, dan macam-macam lainnya. Novik berkata, “Kita kayak habis merampok, ya.”

Esok malamnya kami bertiga dan Meta, mahasiswi Indonesia pada program yang sama dengan Novik dan saya, berkumpul untuk makan malam bersama. Di dapur asrama Allmandring 18C kami memasak tempe pemberian Kak Lyna. Kami menyantap lauk yang cukup lengkap hasil ‘rampokan’ kemarin hari: tempe oseng, ikan bakar, dan teriyaki. Itu pertama kalinya saya memakan nasi sebagai makan malam di Stuttgart.

Kemudian besoknya, hari ini, saya bangun pukul setengah delapan. Pertama-tama yang saya lakukan adalah memeriksa e-mail. Di kotak masuk saya menemukan sebuah e-mail balasan dari Herr Hartmut.

Pada satu hari di minggu lalu, Herr Hartmut berkata kepada kelas Weimar bahwa saat ini sangat mudah untuk menemukan bahan bacaan di Internet. Oleh karena itu beliau meminta kami agar membaca sebanyak-banyaknya. Ini merupakan salah satu cara untuk menambah perbendaharaan kata serta melatih kemampuan berbahasa Jerman. Beliau juga berkata jika ada tulisan yang kami anggap menarik, maka akan baik untuk membawanya ke kelas agar dapat dibaca bersama.

Kebetulan saya baru saja membeli kumpulan cerita pendek Haruki Murakami dan sangat menyukai kisah “Wie ich eines schönen Morgens im April das 100%ige Mädchen sah.” Maka malam harinya saya menulis e-mail kepada Herr Hartmut, mengusulkan untuk membaca kisah itu bersama-sama di kelas. Dan pagi tadi beliau memberikan respon positif, beliau sendiri pun gemar membaca karya-karya Murakami. Herr Hartmut meminta saya untuk membawa buku kumpulan cerita pendek tersebut supaya dapat beliau perbanyak dan bagikan di kelas. “Saya rasa kisah ini akan dapat memikat hati kawan-kawan kita,” demikian ujarnya.

Maka, pada sesi terakhir kelas bahasa Jerman hari ini kami membaca kisah “Wie ich eines schönen Morgens im April das 100%ige Mädchen sah” bersama-sama. Murid-murid bergiliran membaca beberapa kalimat. Saat kalimat terakhir selesai dibacakan, kelas bertepuk tangan dengan tersenyum.

Secara keseluruhan, hari ini hari yang baik.

***

ENTRY #9

Selasa, 16 September 2014
Stuttgart. 19:04.

Cuaca hari ini sangat cocok untuk melakukan kegiatan di luar kelas. Matahari bersinar cerah, udara pun tidak dingin menusuk seperti beberapa hari kemarin. Murid-murid kelas Weimar berkumpul di depan gedung International Zentrum. Berbeda dengan di Indonesia, para murid justru menunggu di tempat dimana matahari tidak terhalang. Hanya beberapa menit menunggu, dahi Nico—mahasiswa pirang asal Finlandia—sudah nampak berkeringat, namun walau begitu dia nampak menikmatinya. Satu persatu peserta kelas berdatangan. Payman, yang telah melewati tahun pertamanya pada program M.Sc WASTE, datang dengan rambut baru dan wajah yang sudah bercukur. Pemuda Iran ini baru saja menyelesaikan ujian-ujian tingkat pertama pada program pascasarjananya. Barangkali baru sekarang ia sempat merapikan penampilan. Setelah Herr Hartmut tiba kami berjalan bersama menuju stasiun S-Bahn. Mario dan empat orang murid lainnya berangkat langsung dari Stadtmitte dan akan bergabung di Museum Mercedes Benz yang kami tuju.

Selama berjalan kaki menuju stasiun S-Bahn saya berbincang untuk pertama kalinya dengan Anais. Rupanya di University of Stuttgart ia akan mengambil program Arsitektur. Latar belakang yang sama membuat percakapan pertama kami menjadi mudah. Di kelas Weimar selain Anais ada tiga orang murid lain yang juga mengambil program Arsitektur di University of Stuttgart: Ewelina, Martha, dan Leire.

Kami menaiki S-Bahn S1, tujuan kami adalah stasiun Neckar Park, tujuh perberhentian dari stasiun Universitaet tempat kami berangkat. Dari stasiun Neckar Park kami berjalan kaki sekitar 200-300 meter hingga sampai di Mercedes-Benz Museum. Perjalanan memakan waktu kurang lebih setengah jam. Sebelum memasuki Museum, Herr Hartmut mengajak kami berkumpul dan membagikan selembar kertas isian yang berisi beberapa pertanyaan yang mesti kami isi selama berada di dalam. Memasuki museum, kami mengambil tiket dan menitipkan tas dan barang bawaan di konter penitipan.

IMG_2347

Mercedes-Benz Museum, rancangan UN-Studio

IMG_2336

Suasana salah satu koridor di dalam Museum

Museum Mercedes-Benz sering saya lihat di situs, majalah, dan buku arsitektur. Museum ini didesain oleh sebuah firma arsitektur yang berbasis di Amsterdam, bernama UN-Studio. Sebelum memulai mengelilingi museum para pengunjung diberikan perkakas dengar yang dilengkapi sensor. Dengan alat ini pengunjung dapat mendengarkan informasi mengenai koleksi-koleksi yang dipamerkan dalam museum. Secara arsitektural, saya berpendapat sekuensi ruang di museum ini sangat bagus dan mudah diikuti. Pengunjung memulai tur-nya dengan menaiki sebuah elevator yang mengantar ke lantai paling atas. Dari lantai teratas ini para pengunjung turun mengikuti jalur linear berupa ramp yang menghubungkan ruang-ruang pamer di tiap lantai. Selain dapat memperoleh informasi melalui teks-teks yang menyertai koleksi pameran, para pengunjung juga dapat menonton video dan mendengarkan narasi lewat alat dengar yang diberikan.

Saat pertama-tama memasuki museum, murid-murid kelas masih bergerombol tetapi lama-kelamaan semuanya berpencar, berdua-bertiga maupun sendiri-sendiri. Saya menikmati waktu saya dan berlama-lama di dalam. Selain menampilkan perkembangan Mercedes-Benz dari waktu ke waktu, museum juga menampilkan berbagai peristiwa penting di Eropa dan Amerika yang menjadi konteks yang mempengaruhi perjalanan perusahaan mobil ini. Kira-kira tiga jam kemudian saya mencapai lantai dasar. Saya melihat beberapa murid telah sampai di sana lebih dulu; Xin Yu, Daniel, Guillaume (Gium), Armando, Javier, Fransesco, dan lainnya. Saya mengembalikan alat dengar ke meja petugas dan menghampiri Xin Yu dan Gium yang sedang menyaksikan video. Di depan tempat Xin Yu dan Gium terdapat sebuah void besar yang terbuka sampai ke lantai basement. Dari posisi saya berdiri, dapat terlihat beberapa koleksi mobil yang dipajang di lantai tersebut.

“Mau lihat ke bawah?” saya berkata selewatnya kepada Xin Yu dan pergi menuruni tangga.

Selain saya ada tiga bapak-bapak tua yang juga turun ke lantai basement. Di lantai ini dipajang model-model purwarupa Mercedes-Benz masa depan yang dibuat oleh para mahasiswa. Selain itu terdapat juga beberapa kertas sketsa rancangan mobil dan sebuah mobil Mercedes-Benz yang kepalanya hancur—mobil bekas uji keselamatan, saya kira.

“Tadi pagi waktu lagi nunggu lampu merah di Stadtmitte gue lihat kecelakaan mobil,” ujar Xin Yu yang ikut turun saat melihat mobil bekas uji keselamatan itu.

“Oya? Tepat di depan mata? Ada korban?”

“Nggak ada korban, tapi kaca depan mobilnya pecah kemana-mana.”

Setelah itu kami naik ke lantai atas dan menuju ke konter penitipan barang untuk mengambil tas. Hanya tersisa tas saya dan Xin Yu, tas murid lainnya sudah tidak ada.

“Yang lainnya sudah pergi!”

“Wah, iya,” saya melihat sekeliling, memang tidak terlihat lagi murid-murid lain, “jadinya langsung pulang sendiri-sendiri?”

“Kelihatannya begitu.”

Tadinya saya kira pada akhir kunjungan akan ada semacam review atau sedikit penutupan, tapi rupanya masing-masing bisa langsung pulang sekehendaknya—bahkan Herr Hartmut pun sudah tak nampak. Di luar museum, Xin Yu membuka navigator di ponselnya untuk mencari jalan ke stasiun terdekat.

“Bukannya kita tadi datang dari arah sana, ya?” tanya saya saat Xin Yu mengambil arah yang berlawanan.

“Dari sini juga bisa kok,” jawabnya.

Kami lalu berjalan kaki di sepanjang koridor jalur pedestrian yang luas. Daun-daun kuning yang berguguran menutupi jalanan, berbunyi nyaring saat kaki-kaki kami menginjaknya.

“Semenjak di sini berat badan gue meningkat,” ujar Xin Yu dalam perbincangan mengenai masak-memasak dan belanja, ”sekarang mau diet, atur kalori, makan banyak buah-buahan dan sayur.”

“Masa? Tapi lo nggak kelihatan gendut.”

“Gue akan SEGERA gendut kalau nggak secepatnya mengambil tindakan!”

Tiba-tiba seorang bapak bersama anak dan istrinya, datang dari arah berlawanan, menghampiri kami sambil membawa secarik kertas alamat, “Permisi, saya lagi cari alamat ini, apa kalian tahu ini di mana?”

“Wah, maaf kami nggak tahu,” ujar saya yang memang tidak tahu dan tak mau repot.

“Tapi saya bisa bantu carikan pakai internet,” sambung Xin Yu, kemudian ia mengetik alamat tersebut di ponselnya, “Oh, sudah dekat. Dari sini lurus, terus nanti tinggal belok ke kiri.”

“Oh ya, makasih ya!” jawab Bapak itu dan pergi ke arah yang ditunjukkan.

Kami pun kembali melanjutkan perjalanan kaki. Tak lama kemudian kami sampai pada sebuah pertigaan. Di pertigaan tersebut terdapat gerbang stasiun U-Bahn yang tertutup, tidak ada seorangpun di stasiun itu.

“Kok tutup ya? Kita masuk dari mana?” Xin Yu bertanya-tanya.

“Ini stasiunnya? Tapi ini kan stasiun U-Bahn, bukan S-Bahn,” balas saya, “Lagipula tadi kita nggak datang dari stasiun ini, kan?”

Xin Yu kembali mengecek navigator di ponselnya.

“Kayaknya kita harus kembali ke arah sana deh,” dia cengar-cengir, “salah stasiun.”

Dalam hati saya berkata, “Kan tadi juga gue bilang, harusnya kita ke arah sebaliknya.”

“Yaa, setidaknya kan jadi bisa menikmati cuaca bagus ini, terus lihat-lihat pemandangan yang bagus.”

“Nnng, iya sih,” jawab saya, “sekalian bakar kalori ya?”

“Setidaknya kan gue jadi bisa bantuin bapak tadi cari alamat!”

“Oiya, benar, bagus itu.”

“Setidaknya kan gue ngomong terus biar lo nggak bosen,” Xin Yu cengengesan, “cari-cari alasan banget ya gue.”

Kami pun berbalik arah, menyeberang jalan, dan memotong lewat jalan kecil di samping bangunan milik Porsche. Kemudian kami sampai di jalan yang familiar dan akhirnya tiba di stasiun S-Bahn Neckar Park.

IMG_2351

Pemandangan di stasiun S-Bahn Neckar Park

“Ini pikiran jelek gue saja, tapi gue pikir, orang-orang Jerman bisa berjalan kaki bebas kemana-mana kayak sekarang ini, dengan jumlah mobil yang sedikit di jalanan, karena para produsen mobilnya memindahkan pasarnya ke negara-negara dunia ketiga macam Vietnam dan Indonesia,” ujar saya teringat foto tua yang dipajang di museum Mercedez-Benz yang menampilkan deretan ratusan mobil di jalanan dan tempat parkir, sebuah pemandangan yang mirip dengan Jakarta masa kini, “di Indonesia misalnya, karena besarnya kepentingan bisnis yang terlibat, prioritas pemerintah bukan untuk mengembangkan kota bagi warganya. Mereka membangun jalanan bukan untuk pejalan kaki tapi untuk mobil-mobil.”

“Iya, harusnya pemerintah punya perencanaan yang baik,” timpal Xin Yu.

“Lo pernah ke Vietnam nggak?”

“Belum. Dan lo sendiri?”

“Pernah, sekali. Di sana buanyak banget motor di jalanan.”

Kami menaiki S-Bahn S1 dan menuju kembali ke stasiun Universitaet. Obrolan saya dan Xin Yu menjadi kesana kemari.

“Nanti makan malamnya apa?”

“Roti seperti biasanya.”

“Kasian banget sih,” ucap Xin Yu, “kapan-kapan kalau gue undang makan bareng sama kita-kita mau nggak?”

“Nng, nggak tau deh. Nanti nambah kerjaan dong, memasak buat satu orang lagi.”

“Nggak apa-apa kok.”

“Mungkin kapan-kapan lo bisa ajari gue masak. Tapi susah nggak sih masak masakan China?”

“Nggak kok! Yang agak ribet sih cari bahan-bahannya, tapi kalau sudah ada semua, ya tinggal dimasak! Gekocht haben!”

“Tinggal dimasak, ya? Kok kedengarannya gampang begitu.”

“Iya, memang gampang.”

Pemandangan di luar jendela silih berganti. Terkadang S-Bahn berjalan di atas rel yang diangkat, berada di atas permukaan tanah, dan terkadang ia masuk ke dalam terowongan. Pemandangan pabrik-pabrik berganti oleh pemandangan bukit-bukit hijau yang ditumbuhi pepohonan. Di ujung salah satu terowongan, S-Bahn melaju di atas sebuah jembatan, menyeberangi sungai Neckar yang panjang mengular.

“Apa semua orang di China bicara pakai satu bahasa?”

“Nggak juga, China kan besar, jadi ada perbedaan bahasa di daerah-daerah tertentu,” Xin Yu menjelaskan, “Misalnya di Guangzhou, mereka pakai bahasa dialek Kanton. Itu beda banget sama bahasa Mandarin etnis Han.”

“Kalau Hong Kong dan Taiwan bagaimana?”

“Di Hong Kong pakai dialek Kanton, Taiwan pakai Mandarin. Gue nggak ngerti orang yang ngomong pakai dialek Kanton, benar-benar beda deh, tapi kalau secara tertulis sih masih bisa baca.”

“Oh, begitu.”

“Terus, di China itu ada Negara dalam Negara juga.”

“Hah? Maksudnya?”

“Jadi di China ada negara Korea dan negara Mongol.”

“Loh? Korea kan memang negara sendiri?”

“Iya, tapi maksud gue bukan Korea yang itu. Jadi, di daerah perbatasan antara China dan Korea Utara ada satu daerah yang dihuni oleh orang-orang Korea, tapi daerah ini termasuk bagian dari China. Soal ini sejarahnya panjang, jaman dulu kan perbatasan daerah nggak begitu jelas. Nah, orang-orang Korea di daerah Korea kecil ini bicara pakai bahasa Korea dan bahasa Mandarin. Agak beda sedikit sih Mandarinnya dari Mandarin etnis Han. Begitu juga dengan orang-orang Mongol kecil di China, mereka bisa bahasa Mongol dan bahasa Mandarin.”

“Ooo, begitu,” informasi yang menarik, pikir saya, “Kalau di Indonesia, masyarakat Chinese-Indonesian-nya sangat terintegrasi. Beberapa ada yang bisa bahasa Mandarin, tapi banyak yang nggak bicara Mandarin sama sekali tapi justru bicara bahasa tradisional lokal, kayak bahasa Jawa misalnya.”

“Karena sudah sangat dekat, ya?”

“Di Indonesia kan ada banyak etnis,” lanjut saya, “sekarang ini Chinese-Indonesian dianggap sebagai salah satu dari banyak etnis itu. Tapi kalau di Malaysia….”

“Ya, ya, di Malaysia mereka kurang diterima, makanya kan Singapura memerdekakan diri,” sambung Xin Yu, “dan sekarang mereka kaya raya.”

“Ya, begitu lah, ada semacam politik pemisahan di sana.”

“Baru-baru ini kan kami ada sengketa….”

“Dengan Vietnam?”

“Bukan, dengan Filipina. Jadi ada satu pulau yang China klaim sebagai miliknya, sementara Filipina juga mengklaim pulau itu,” Xin Yu agak memelankan suaranya, “Karena gue orang China, ya, gue mendukung supaya pulau itu jadi milik China. Tapi, kalau gue buka peta, jelas-jelas pulau itu ada di depan pintunya Filipina! Ngapain juga China mengklaim pulau itu? Ya, begitu itulah politik.”

Saya tertawa pelan mendengar ceritanya, “Terus kalau konflik sama Vietnam itu bagaimana? Gue sempat lihat beritanya tapi nggak begitu mengikuti.”

“Gue juga nggak begitu mengikuti sih,” jawabnya, “tapi entah kenapa selalu ada masalah dengan Vietnam, kalau sama Thailand kami sih baik-baik saja.”

“Baru-baru ini gua baca buku tentang sejarah Asia Tenggara, kayaknya China dan Vietnam memang dari dulu sering ribut deh.”

“Iya memang. Yang terakhir itu sekitar tahun 70-an, itu jamannya Kakek atau Ayah gue, jadi sedikit banyak generasi mereka masih punya sentimen-sentimen terhadap Vietnam.”

“Nah, itu dia yang gue nggak ngerti. Padahal kalian kan nggak beda-beda banget. Sepintas kalau didengar, bahasanya saja mirip.”

“Hah? Masa sih? Beda tahu!”

“Iya! Coba bandingkan dengan Thailand atau Malaysia, kalian itu nggak begitu berbeda tapi entah kenapa dari dulu kok sering berkonflik.”

Xin Yu tidak menyangkal atau menyetujui komentar ini. Kami berdua mengangkat bahu dan membiarkan pembicaraan tentang China dan Vietnam berlalu.

“Tapi,” Xin Yu bicara, “gadis-gadis Vietnam katanya cantik-cantik.”

“Iya, cantik-cantik,” jawab saya, sepertinya tanpa sadar saya mengangguk-angguk dan tersenyum.

“Aha, pantesan,” Xin Yu melirik saya dan ikut tersenyum.

***

ENTRY #8

Senin, 15 September 2014
Stuttgart. 20:33.

Langit biru pekat dengan semburat warna jingga, di sana dan di sini, ia disapu oleh awan berwarna merah jambu. Dari balik awan-awan nampak tiga garis panjang jejak awan yang sedang menjejak perlahan. Senja yang amat indah. Di pelataran depan sebuah danau buatan saya menghentikan langkah kaki menyaksikan segalanya. Bebek-bebek yang berenang di danau membuat bebunyian seolah sedang saling bertukar kabar hari ini. Saya berdiri diam di sana, kepala mendongak ke atas mengikuti tiga jejak awan yang sedang bergerak. Saat itu baru saya sadari, pada kepala jejak-jejak awan tersebut tidak nampak pesawat terbang buatan manusia, hanya titik-titik kecil tumpul berwarna putih. Dalam hati saya bertanya pada diri sendiri, apakah saya sedang menyaksikan jejak komet-komet yang tertangkap oleh gravitasi Bumi?

Ketika itu lewat pukul tujuh sore dan saya hendak menuju ke toko swalayan di kampus Vaihingen.

Ini hari pertama kelas bahasa Jerman kami dipindahkan ke kampus Vaihingen. Kelas diadakan di gedung International Zentrum, hanya sekitar lima menit perjalanan kaki dari kamar asrama Allmandring. Kelas kami menempati ruangan bernama “Weimar”. Luas ruangan Weimar hanya setengah dari luas ruangan kelas di kampus Stadtmitte. Di ruangan baru yang kami tempati ini, papan tulis kecil untuk spidol menggantikan papan tulis besar untuk kapur dan susunan bangku berbentuk “U” menggantikan susunan bangku berbaris konvensional pada ruangan sebelumnya. Namun kami masih tetap mendapatkan jendela-jendela besar yang mengundang cahaya luar untuk masuk ke dalam ruangan. Turun satu lantai, ada kafe kecil nyaman yang menjual kopi dan teh—tempat yang menyenangkan untuk menghabiskan waktu istirahat 30 menit.

Kini waktu yang ditempuh untuk perjalanan pulang-pergi menjadi jauh terpangkas. Menjadi lebih praktis dan sederhana. Tetapi rasa-rasanya saya akan agak cukup merindukan momen-momen berjalan kaki dari ruang kelas menuju ke stasiun S-Bahn, menit-menit yang dihabiskan untuk menunggu dan menaiki S-Bahn, hingga akhirnya sampai kembali di asrama. Memang, itu semua hanya semacam sentimentalitas yang tidak perlu, tetapi setidaknya ia dapat memberi warna pada hari-hari yang dilewati. Karena itu saya pikir tak apa mengizinkan diri sendiri untuk menikmati sentimentalitas macam ini dari waktu ke waktu.

Besok kelas kami akan berkunjung ke Museum. Saya kurang tahu persis di mana lokasinya tapi kami akan berangkat bersama-sama dari kampus Vaihingen dengan S-Bahn menuju Stadtmitte. Kursus yang saya ikuti tidak mudah, saya mesti berusaha lebih keras lagi.

Sabtu lalu, di hari dimana hujan turun terus-menerus, saya mendatangi sebuah toko buku di Konigstrasse. Saya teringat tentang bagaimana cara saya mempelajari bahasa Inggris, butuh setidaknya sekitar enam tahun sampai saya cukup mampu menggenggam bahasa tersebut. Sewaktu kecil saya dan adik saya gemar bermain video game bersama. Saya paling senang saat bermain video game bergenre petualangan bersama adik saya. Ketika itu, sembari bermain game kami selalu menyiapkan kamus bahasa Inggris-Indonesia di dekat kami agar kami mendapat bayangan mengenai dialog-dialog dan cerita yang terjadi dalam permainan. Dengan membaca teks dialog permainan dan menerjemahkannya kami menjadi mengenal banyak kata dalam bahasa Inggris. Saya pikir untuk lebih memahami bahasa Jerman saya pun mesti mencoba metode yang sama. Oleh sebab itu, di hari Sabtu yang dingin itu saya berencana untuk membeli satu buku berbahasa Jerman.

IMG_2270

Buchhaus Wittwer, Toko Buku di Konigstrasse

Buku bahasa Jerman pertama yang akan saya beli dengan uang sendiri ini harus menarik dan dapat memotivasi saya untuk membacanya sampai habis, namun tidak boleh terlalu rumit. Setelah cukup lama berkeliling di dalam toko buku dan mempertimbangkan beberapa pilihan, akhirnya saya membeli salah satu kumpulan cerpen Haruki Murakami yang diterjemahkan ke dalam bahasa Jerman. Kisah pertama dalam buku kumpulan ini berjudul “Wie ich eines schönen Morgens im April das 100%ige Mädchen sah”. Cerpen ini hanya lima halaman, karena singkat saya sudah membacanya beberapa kali sampai mengerti isinya. Cerpen ini berkisah tentang “Liebe auf den ersten Blick”—cinta pada pandangan pertama.

Untuk menutup entry jurnal kali ini, saya ingin mencoba menulis terjemahan kasar atas paragraf-paragraf awal cerpen Murakami tersebut. Tentunya karena saya masih pemula dalam hal ini, bagi yang ingin memperoleh terjemahan yang lebih akurat barangkali boleh mencari sendiri versi bahasa Inggrisnya. Baiklah, kalau begitu perkenankan saya:

IMG_2271

Kumpulan Cerpen Haruki Murakami dalam Bahasa Jerman

Kisah Tentang Bagaimana pada Suatu Pagi yang Indah di Bulan April Saya Melihat Gadis yang 100% Sempurna

Pada suatu pagi yang indah di bulan April, di sebuah jalan kecil di Harajuku, saya berpapasan dengan Gadis yang 100% sempurna.

Sejujurnya, gadis itu tidak begitu cantik. Tidak terlalu menarik perhatian, namun ia pandai berpenampilan. Rambutnya sedikit berantakan seperti baru bangun tidur. Ia sudah tidak terlalu muda lagi. Saya duga kurang lebih usianya tigapuluh tahun, tidak benar-benar gadis sih. Namun, walaupun begitu, dari jarak limapuluh meter pun saya sudah tahu: gadis ini Gadis yang 100% sempurna untuk saya. Sorotan matanya membuat dada saya berdebar dan bibir saya kering seperti padang pasir.

Barangkali tiap orang punya tipe perempuan idamannya masing-masing. Misalnya perempuan dengan pergelangan kaki kecil atau mata yang besar, atau barangkali perempuan dengan jemari panjang lentik, atau malah perempuan yang lambat sekali saat makan. Hal-hal semacam ini saya mengerti. Tentunya saya sendiri pun punya kriteria-kriteria sendiri. Kadang, saat sedang makan di restoran, saya suka memperhatikan bentuk hidung perempuan-perempuan di meja sebelah.

Tetapi saya sama sekali tidak bisa mendefinisikan kriteria apa yang saya sukai dari si Gadis 100% sempurna ini. Bagaimana bentuk hidungnya pun saya tak ingat. Saya bahkan tidak tahu dia punya hidung atau tidak. Pokoknya, ia tidak cantik-cantik amat. Entahlah, aneh memang.

“Kemarin saya berpapasan dengan Gadis yang 100% sempurna,” saya bercerita pada seorang kawan.

“Hm,” jawabnya, “cantik, nggak?”

“Nggak.”

“Tapi tipemu?”

“Rasanya bukan juga. Saya nggak bisa ingat. Bagaimana bentuk matanya, apalagi dadanya besar atau kecil, saya nggak ingat.”

“Aneh.”

“Ya, aneh ya.”

“Nah, terus,” ujarnya dengan bosan, “kamu ngapain dengan dia? Ngobrol atau jalan bareng?”

“Nggak. Saya cuma papasan dengan dia.”

Dia berjalan dari Timur ke Barat, saya dari Barat ke Timur. Pada suatu pagi yang indah di bulan April.

***

ENTRY 7

Selasa, 9 September 2014
Stuttgart. 21:09.

Pada jam istirahat kedua tadi hanya ada tiga murid termasuk saya di dalam kelas. Herr Hartmut berada di mejanya sedang membaca-baca materi pelajaran. Dari tempat duduk, saya mengajaknya berbicara.

“Herr Hartmut, wie viele Sprache kennen Sie?” (Pak Hartmut, Bapak bisa berapa bahasa?)

Lalu berceritalah beliau dengan panjang lebar. Ada beberapa bahasa yang pernah beliau pelajari, antara lain seperti bahasa China dan juga bahasa Jepang. Sewaktu muda dulu beliau banyak mengikuti kursus bahasa. Tapi itu sudah lama sekali. Herr Hartmut berkata, mempelajari bahasa asing memerlukan investasi waktu yang besar, sedangkan sekarang beliau tidak memiliki banyak waktu lagi sebagaimana ketika masih muda dulu. Kini beliau lebih banyak disibukkan oleh berbagai kegiatan kampus.

“Tapi dulu saya pernah tinggal di Indonesia satu setengah tahun,” dengan fasih ia berganti menjadi bahasa Indonesia, “di tempat Rendra, di Bengkel Teater Depok.”

Rendra! Saya agak terkejut mendengar nama sastrawan Indonesia itu diucapkan oleh bapak guru di hadapan saya. Rupanya Herr Hartmut berteman baik dengan mendiang Rendra. Dahulu guru bahasa Jerman saya ini pernah aktif di Goethe Institut dan melalui kegiatan-kegiatan budaya yang diselenggarakan oleh lembaga inilah beliau mengenal Rendra. Saat berkunjung ke Jakarta, beliau juga kerap mengunjungi teman Indonesianya yang lain, penyanyi Oppie Andaresta.

Dari cerita Herr Hartmut saya menangkap semacam ikatan khusus antara dirinya dengan Indonesia. Bahkan beliau bersama kawan-kawannya sempat membangun sebuah rumah di Merapi—yang turut tersapu lahar ketika Merapi meletus beberapa tahun silam. Selain itu Herr Hartmut juga senang menonton wayang—saking senangnya, beliau sampai mempelajari bahasa Jawa juga walaupun tidak sampai menguasainya.

“Di Indonesia tidak rumit, di sana saya bisa tertawa lepas.”

Kelas kemudian berlanjut dan selesai menjelang pukul tujuh. Herr Hartmut memberikan beberapa pekerjaan rumah yang akan dibahas esok hari di kelas. Saya pulang ke Vaihingen menaiki S-Bahn dengan Xin Yu. Mulai hari ini Si Jia pindah ke kelas lain. Ia merasa ditempatkan di kelas yang keliru karena tingkat kemampuan bahasa Jermannya baru A1. Oleh karena itu Si Jia bicara pada Herr Hartmut untuk dipindahkan ke kelas yang lebih sesuai.

Sehari sebelumnya, dari tugas wawancara, saya mengetahui bahwa Xin Yu gemar memasak dan malam itu ia dan teman-temannya akan memasak hotpot bersama. Dalam perjalanan ke Vaihingen saya menanyakan padanya bagaimana pesta hotpot kemarin malam. “So fun,” jawabnya. Dan iapun membuka ponselnya dan menunjukkan pada saya foto-foto makanan hasil buah tangannya. Ada berbagai macam set makanan, dari makanan besar sampai dengan makanan kecil. Hotpot, siomay, bakso, kue bulan, cheese cake, dan kue-kue lainnya. Semuanya nampak terlihat bagus dan dibuat dengan terampil.

“I think you should open a restaurant.”

“Yeaah,” Xin Yu sepertinya benar-benar mempertimbangkan usulan itu, “but maybe I’d rather open a cafetaria.”

Lalu saya bercerita pada Xin Yu tentang obrolan dengan Herr Hartmut saat jam istirahat tadi sore. Tentang bagaimana dulu beliau sempat tinggal di Indonesia dan sebagainya.

“…and he makes friend with a famous Indonesia poet, his name was Rendra.”

“What’s his name?”

“Rendra.”

“Same as yours?”

“No, it’s Rendra.”

“Len—dA? And you, anLe—A?” ujarnya kebingungan, “So, it’s the same?”

“No, no, no, no, my name is Andreas and his name is Rendra, it’s a different name.”

“Oh, it’s different? Sorry, I couldn’t tell,” ujarnya minta maaf sambil tertawa. Percakapan yang cukup konyol. Barangkali, adalah sama sulitnya bagi orang China untuk menangkap nama Indonesia seperti orang Indonesia sulit menangkap nama China.

Kami juga mengobrol tentang sastrawan China yang karyanya pernah saya baca. Xin Yu juga mengenal sastrawan tersebut dan mengatakan bahwa, dalam karya-karyanya, sang sastrawan memang sangat piawai memotret kepribadian manusia—satu hal yang sangat saya setujui. Lalu saya juga menyinggung tentang Mo Yan, sastrawan China yang memperoleh Nobel Sastra pada tahun 2012 silam. Saya mengutarakan rasa penasaran saya atas karya-karya sastrawan pemenang Nobel ini, tapi selalu menjadi ragu untuk membeli ketika melihat sampul bukunya di toko buku. Xin Yu sendiri mengernyitkan wajah saat saya menyebut nama Mo Yan. Ia tidak menyukai karya-karya Mo Yan. Secara garis besar, yang saya tangkap dari kesan Xin Yu, karya-karya Mo Yan terlalu tidak nyata serta kerap menampilkan deskripsi yang mengganggu dan menjijikkan. Kurang lebih begitu jugalah impresi yang saya dapatkan saat melihat sampul buku Mo Yan di toko-toko buku.

Setahun lalu saya berkenalan dengan seorang Vietnam di media sosial, yang darinya saya bisa bertanya-tanya tentang sejarah Vietnam. Sekarang di Jerman saya mendapat kenalan dari China, yang membaca karya-karya sastra China dalam bahasa aslinya serta bisa diajak berbincang-bincang. Daripada Eropa sebenarnya saya memiliki ketertarikan yang jauh lebih besar terhadap Asia—Vietnam, China, Jepang, Filipina, Kamboja, Thailand, Bhutan, Nepal, dan lainnya. Mudah-mudahan, dari waktu ke waktu, saya akan lebih banyak mengenal secara personal orang-orang Asia lainnya.

***

ENTRY 6

Senin, 8 September 2014
Stuttgart. 19:49.

Terhitung hari ini kursus intensif bahasa Jerman saya dimulai. Kelas akan berlangsung sampai dengan tanggal 10 Oktober 2014. Minggu lalu pada kelas sambutan, para mahasiswa diwanti-wanti agar datang tepat waktu. Oleh sebab itu sehari sebelumnya saya menyempatkan diri untuk turun ke Stadtmitte untuk mengunjungi kampus University of Stuttgart yang berada di tengah kota, tempat dimana kursus akan diadakan selama lima hari ke depan.

Kursus dimulai dari pukul setengah dua siang hingga menjelang pukul tujuh malam. Karena sudah memeriksa lokasi sebelumnya saya dapat tiba di tempat beberapa menit sebelum pukul satu. Di sana saya berkenalan dengan beberapa mahasiswa lain, ada mahasiswa sarjana, mahasiswa exchange, dan mahasiswa program M.Sc International. Beberapa mahasiswa yang berkenalan dengan saya dan bisa saya ingat namanya antara lain: Bakyar dan Murrad dari Turki, Mario dari Italia, Si Jia (Jenny) dan Xin Yu (Isabel) dari China, Marina dari Ukraina, Armando dari Meksiko, dan Nora dari Arab Saudi. Memasuki kelas saya merasa agak khawatir karena walaupun hasil tes online kemarin berada pada tingkat A2 tetapi penempatan formal menetapkan saya masuk ke dalam kelas B1+. Namun, setelah berbincang dengan murid-murid lainnya, beberapa di antaranya pun mengalami situasi yang sama.

Jam sudah menunjukkan lima menit sebelum kelas dimulai tetapi pengajar belum juga tiba. Kemudian koordinator kursus bahasa datang dan memberitahukan kepada kelas bahwa bapak pengajar masih sedang dalam perjalanan dari tempatnya di Tuebingen, sekitar 30 kilometer dari Stuttgart. Ia meminta para murid untuk menunggu—yang mana menjadi lucu karena pada kelas sambutan beberapa hari yang lalu ia mewanti-wanti agar seluruh peserta kelas datang tidak terlambat—dan berkata akan kembali lagi ke kelas apabila sampai pukul dua bapak pengajar belum juga tiba.

Untungnya kami tidak perlu menunggu sampai pukul dua. Tak lama kemudian seorang pria tua kurus bertubuh tinggi memasuki kelas. Seluruh rambut, kumis, dan janggutnya sudah memutih. Ia berambut panjang dengan gaya bob dan di hidungnya tergantung kacamata berframe tipis. Pria tua ini datang dengan mengenakan kemeja lengan panjang digulung dan celana bahan berwarna hitam. Penampilannya menarik minat, mengingatkan saya pada karakter penyihir tua dari novel Inggris terkenal. Hanya setelah sesi pertama berakhir ia menuliskan namanya di papan tulis. Herr Hartmut.

Kelas bahasa terbagi menjadi tiga sesi yang dipotong dua kali istirahat berdurasi 30 dan 15 menit. Selama kelas berlangsung Herr Hartmut hanya berbicara dalam bahasa Jerman. Sejauh ini di kelas saya hanya dapat menangkap sekitar 40 persen dari apa yang diucapkannya. Situasi demikian memang disengaja. Para murid dibombardir dengan percakapan bahasa Jerman setiap hari agar hingga pada satu titik menjadi terbiasa.

Pada sesi pertama para murid dibuat berpasang-pasangan dua atau tiga orang. Kami diminta untuk melakukan wawancara kecil dengan rekan kami. Pertama kami diminta melakukannya masing-masing, lalu kemudian diminta maju untuk melakukan wawancara di depan kelas. Saat murid-murid melakukannya di depan kelas Herr Hartmut memberikan koreksi di sana-sini.

Di sebelah saya duduk Xin Yu, saya melakukan wawancara timbal balik dengannya. Xin Yu adalah mahasiswa exchange yang akan menjalani studi di University of Stuttgart selama 6 bulan. Setelah program exchangenya berakhir ia akan kembali ke Shanghai untuk menuntaskan kuliah pascasarjananya di bidang Teknik Sipil. Sebelumnya ia juga pernah mengikuti program pertukaran pelajar di Berlin selama setahun karena itu pengetahuan bahasa Jerman Xin Yu lebih baik daripada saya. Untungnya wawancara kecil seperti ini sudah pernah saya lakukan ketika belajar di Goethe Institut Bandung sehingga saya masih dapat mengikuti.

Pada akhir sesi kedua Herr Hartmut membagikan selembar kertas fotokopi yang berisi soal-soal latihan. Soal-soal tersebut dibahas bersama-sama dalam kelas dengan cara setiap murid secara bergiliran menjawab satu soal. Saya empat kali mendapatkan giliran menjawab. Pada giliran pertama dan kedua saya menjawab dengan benar, namun pada giliran ketiga saya memberikan jawaban yang salah. Lalu tiba-tiba Herr Hartmut melihat mata saya, mengangkat telunjuk kanannya, dan berkata, “Ini (soal) harus dipikirkan lagi,” dalam bahasa Indonesia! Saya melongo dan tersenyum kaget. Saya yakin telinga saya tidak salah mendengar. Setelah kelas berakhir saya pun mendatangi Herr Hartmut.

“Herr Hartmut, sprechen Sie auch Indonesien?” (Pak Hartmut, Bapak bisa bahasa Indonesia juga?)

“Sedikit,” jawabnya sambil membuat gestur dengan jari telunjuk dan jempolnya, saya hanya melongo dan tersenyum kaget lagi, “kamu asal dari mana?”

“Jakarta.”

“Ohh, Jakarta? Nanti besok kita ngobrol-ngobrol lagi.”

“Oke, auf wiedersehen!”

“Guten Abend!”

Saya dan murid-murid lainnya keluar dari kelas dan menaiki elevator bersama. Mario dan kawan-kawan hendak pergi ke toko buku di Konigstrasse untuk membeli buku teks yang akan dipakai selama kursus. Karena saya tidak membawa uang yang cukup saya putuskan untuk membelinya besok pagi. Saya, Xin Yu, dan Si Jia langsung pulang ke Vaihingen dengan menaiki S-Bahn. Xin Yu dan Si Jia juga tinggal di asrama Allmandring.

***

ENTRY #5

Jumat, 5 September 2014
Stuttgart. 18:09.

Hari Senin yang lalu, saat saya sedang berjalan kaki di kampus menuju asrama sambil membawa tangkai sapu yang baru saya beli di Stadtmitte, saya berpapasan dengan seorang mahasiswi China. Pada jarak tiga meter pandangan saya dan dia bertemu. Normalnya jika terjadi kontak mata secara tidak sengaja antara dua orang yang tidak saling mengenal, salah satu atau keduanya akan langsung mengalihkan pandangannya. Tapi tidak dengan mahasiswi ini, dia justru datang ke arah saya. Saya mengira ia ingin menanyakan sesuatu.

“Hallo, are you Chinese?”

“Hallo. No, I’m not.”

“No? Ah, that’s alright.”

Lalu dengan bahasa Inggris yang terbata-bata gadis itu berbicara lebih lanjut. Ia menyodorkan secarik kertas kepada saya. Di kertas itu tertulis dua tulisan besar “Gottesdienst” dan “Bibelkreis” dan tulisan-tulisan yang lebih kecil yang nampak seperti jadwal kegiatan. Mahasiswi ini, yang saya duga usianya 21 atau 22 tahun, menginformasikan kepada saya bahwa setiap hari Minggu di kampus ada kebaktian Kristen dan ia mengundang saya untuk datang di ibadah minggu ini. Ia juga menginformasikan selain ibadah di hari Minggu, setiap hari kamis pukul tujuh sore mereka juga mengadakan pembacaan alkitab bersama di Pfaffenwaldring 7—gedung tempat saya akan berkuliah.

“There, we will be singing, read Bible, and also eat dinner together,” demikian ujarnya.

Kalau dipikir, padahal baru saja kemarin dan kemarin lusanya saya berkeliling Stadtmitte, bahkan hingga pergi ke Vaihingen di tengah hujan yang tak kunjung reda, untuk mencari tempat ibadah yang bisa saya datangi. Lalu, tiba-tiba saja di hari Senin itu saya berpapasan tidak sengaja dengan orang yang malah menunjukkan bahwa apa yang saya cari ada di tempat terdekat.

Jika ada beberapa hal yang saya percayai dalam hidup, salah satunya adalah saya percaya tidak ada kebetulan. Bahkan, bagaimana jalannya sehingga saya bisa berada di Jerman sekarang ini pun terjadi oleh rangkaian kejadian yang seolah-olah seperti kebetulan. Barangkali bukan hanya saya yang pernah mengalami hal semacam ini. Beberapa orang mungkin menafsirkannya sebagai tanda-tanda dari Tuhan, beberapa orang mungkin menafsirkannya sebagai keselarasan diri dengan semesta, tapi menyebutnya sebagai sekedar “kebetulan” menurut saya sama saja dengan menutup mata.

Kemudian tibalah hari Kamis. Kegiatan yang pertama saya lakukan pada hari itu adalah bertemu dengan Felix dan Elvira pada pukul setengah satu siang. Beberapa hari sebelumnya kami sudah sepakat untuk pergi ke kantor imigrasi pada hari ini. Setelah bertemu kami bertiga turun ke jalur bawah tanah dan menaiki S-Bahn menuju Stadtmitte.

Ini kali pertama Felix mengantarkan mahasiswa asing mengurus perpanjangan visa di kantor imigrasi. Dalam hal ini ia masih belajar dan agak meraba-raba. Setelah sedikit kesimpang-siuran akhirnya kami memahami urutan-urutan yang mesti dilakukan. Pertama, registrasi kedatangan untuk pencatatan bahwa ada orang asing yang memasuki Stuttgart; kedua, membuat tanggal perjanjian untuk perpanjangan visa; dan ketiga, datang kembali di hari perjanjian untuk mengurus perpanjangan visa dan ijin tinggal—dalam kasus warga negara Indonesia, tanggal perjanjian biasanya beberapa hari sebelum habisnya masa berlaku visa kunjungan 90 hari.

Yang menarik bagi saya saat mengurus perpanjangan visa ini adalah ketika menjalani tahap pertama, registrasi kedatangan. Saya mendapatkan nomor antrian 62. Begitu giliran saya tiba, lampu informasi menunjukkan bahwa saya harus menuju ke konter 8. Kemudian saya membuka pintu dan memasuki ruangan. Konter-konter berderet dalam satu barisan dengan konter 1 sebagai konter yang paling dekat dengan pintu. Saya sempat kebingungan karena tidak melihat papan penanda yang bertuliskan angka 8, sampai ada suara yang memanggil. Ternyata konter 8 berada di paling ujung.

Di balik konter tersebut ada seorang wanita kecil berjilbab. Wanita ini tidak seperti wanita pada umumnya. Ia duduk di atas semacam kursi hidrolik khusus yang bisa digerakkan secara mekanis. Kursi ini membantu dirinya mengatasi keterbatasan tubuhnya—lengan, torso, dan kakinya yang pendek—sehingga ia dapat lancar melakukan segala pekerjaannya.

Inilah hal yang paling saya kagumi dari kota Stuttgart. Saat berjalan-jalan mengelilingi Stadtmitte ataupun kampus tak jarang saya menemukan orang-orang dengan keterbatasan fisik. Orang-orang yang berkursi roda, pincang, dan buta. Tetapi mereka yang berkebutuhan khusus ini dapat dengan mandiri berpergian, beraktivitas, serta melakukan pekerjaan kantoran dengan aman dan manusiawi. Sebuah kondisi yang amat berbeda dengan kota-kota di Indonesia. Saya sama sekali tidak bisa membayangkan orang-orang dengan keterbatasan fisik seperti mereka dapat memiliki kebebasan yang sama jika tinggal di Indonesia.

Sepanjang siang itu benak saya diusik dengan satu pertanyaan, sebenarnya, apa sebabnya kita orang Indonesia—yang konon arif dan ramah ini—tidak bisa membuat kota yang juga ramah dan manusiawi?

Pada pukul lima sore saya sudah berada kembali di area asrama. Setengah jam kemudian saya mengantri di depan kantor penyedia layanan internet di basement asrama 8A. Kamar asrama saya belum terhubung dengan jaringan internet, oleh sebab itu empat hari sejak masuk ke asrama akses jaringan internet saya agak terbatas. Puluhan mahasiswa lain juga turut mengantri. Urusan di kantor layanan internet baru selesai pukul tujuh kurang duabelas malam.

Saya kemudian teringat pada undangan yang diberikan oleh mahasiswi China pada hari Senin yang lalu. Karena tidak ada yang harus dikerjakan dan matahari yang masih menyala di langit, saya putuskan untuk pergi ke Pfaffenwaldring 7 dimana pertemuan berlangsung. Mendekati Pfaffenwaldring 7, saya melihat seorang mahasiswi Jerman sedang bermain bola dengan dua orang bocah. Saat melewati mereka si mahasiswi Jerman berambut pirang pendek itu melihat saya. Dia meninggalkan kedua bocah bermain sendiri dan menuju ke arah saya kemudian dia berbicara dengan bahasa Jerman.

“Sorry, I can’t speak German yet,” kata saya kepadanya.

“Oh, English?” jawab mahasiswi itu, “Are you here for the Bible reading?”

“Ya, it’s in Pfaffenwaldring 7, right?”

“Ya, it’s here. You just go to that door, and then turn right, and right again,” ujarnya dengan ramah.

“It’s not started yet?”

“Not yet, we’re still waiting for one person. He’s on his way from Allmandring.”

“Oh, okay then, thank you. What’s your name?”

“Maria. And you?”

“Andreas.”

“Andreas. Okay, see you later,” ia melambaikan tangan dan kembali bermain bola dengan bocah-bocah. Sepertinya Maria berada di luar untuk mengarahkan orang-orang yang datang dan mau ikut di kegiatan malam ini.

Di dalam saya disambut dengan hangat. Mahasiswi China yang mengundang saya tempo hari juga hadir di situ, nama Eropanya Nabine—saat berkenalan ia memperkenalkan diri dengan nama Chinanya tetapi saya kurang menangkap. Satu persatu orang pun berdatangan. Saat kegiatan dimulai ada duabelas orang di ruangan kecil itu: lima orang Jerman, tiga orang China, satu orang Korea, satu orang Rumania, satu orang Nigeria, dan satu orang Indonesia. Kami duduk mengelilingi sebuah meja panjang persegi di ruangan yang mirip seperti pantry. Dari pengelihatan sekilas empat orang di antaranya berusia 30-50, sedangkan yang lain masih berusia 20-an.

Acara dibuka dengan makan malam bersama. Hidangannya sangat Jerman; sosis besar, roti, dan kacang-kacangan yang ditumpahi mayonaise. Saya dan mahasiswa dari Nigeria, bernama Deli yang juga baru pertama kali datang di kegiatan ini, tidak ikut makan. Setengah karena belum merasa lapar dan setengah karena masih agak sungkan. Sambil makan malam kami mengobrol-ngobrol untuk mengakrabkan diri.

“You are from Indonesia? Is “Andreas” your European name or your name from birth?”

“It’s my name from birth. My mom named me after a random soccer player she saw on TV.”

“Isn’t Indonesian people are Moslem?”

“Yes, but 12 percent of the population are non-Moslem.”

“Are you prosecuted in Indonesia?”

“Prosecuted? No, there are a few cases, but the majority are very tolerant.”

Setelah makan malam selesai, Maria mengambil gitar dan membuka buku nyanyian. Ia memetik gitarnya dan bernyanyi bersama dengan yang lainnya. Ada nuansa folk pada warna suara Maria. Setelah empat-lima lagu, pembacaan Alkitab kemudian dimulai. Setiap orang yang ada di ruangan bergantian membacakan satu ayat. Ada tiga jenis Alkitab yang digunakan: Alkitab berbahasa Jerman, Inggris, dan China. Jadi walaupun bab yang dibaca sama tetapi orang-orang membaca sesuai dengan bahasa Alkitab yang dipegangnya masing-masing.

Kemudian setelah seluruh ayat selesai dibaca, David—pria berusia 40-an yang menjadi pemimpin pembacaan kitab—memulai sermonnya. David berbicara dalam bahasa Jerman. Sebelumnya David telah menyuruh Mateo, seorang mahasiswa Jerman tingkat sarjana yang mahir berbahasa Inggris, untuk duduk di dekat saya dan Deli agar bisa menerjemahkan sermon.

Dari isi sermon David saya menangkap tentang kondisi keagamaan di Jerman akhir-akhir ini. Di Jerman semakin jarang orang yang pergi ke Gereja, dan sebagian besar terlalu bangga pada dirinya untuk mengaku beriman. David juga menghubungkan kondisi ini dengan menurunnya keinginan masyarakat muda Jerman untuk membina keluarga. Individualitas yang makin mengeras membuat orang cenderung takut untuk mengorbankan sebagian kenyamanannya.

Dengan membina keluarga seseorang harus rela meninggalkan cara hidupnya yang lama serta berkompromi dengan pasangannya, dan tentunya tantangan yang dihadapi akan semakin berat bilamana telah dikaruniai keturunan. Ketakutan-ketakutan dan egoisme ini membuat orang-orang muda lebih memilih untuk larut dalam kesenangan-kesenangan yang sementara, seperti pesta-pesta dan minum-minum. Padahal apabila mereka menyerahkan kekhawatirannya dan beriman kepada kuasa Tuhan, serta percaya akan dimampukan dalam membina keluarga dan menghadapi tantangan-tantangan yang mengikutinya, niscaya mereka akan dapat menemukan sukacita yang lebih besar daripada yang mereka peroleh dari kesenangan-kesenangan sementara.

Kegiatan pembacaan Alkitab malam itu berakhir sekitar pukul setengah sepuluh malam. Saya pulang berjalan kaki menuju asrama Allmandring bersama Deli yang tinggal di bangunan nomor 22. Sembari berjalan kami bercerita-cerita. Deli lebih banyak bercerita tentang istri dan anaknya yang baru lahir, yang ia tinggalkan di Nigeria, serta harapan-harapan agar istri dan anaknya bisa segera menyusulnya ke Stuttgart.

Saya tidak menyesali keputusan untuk menghadiri pembacaan Alkitab malam itu. Disana saya mendapatkan kenalan-kenalan baru, dan suasananya pun cukup hangat dan menyenangkan. Hari Minggu besok saya pikir saya akan mencoba mengikuti kebaktian Minggu yang mereka selenggarakan. Lalu barangkali, setelah itu saya akan dapat memutuskan apakah komunitas ini adalah tempat singgah yang baik bagi saya untuk bertumbuh.

***

ENTRY #4

Rabu, 3 September 2014
Stuttgart. 19:42.

“Belum pernah ke Rathaus naik Bus kan?” tanya Novik dengan antusias.

Novik adalah rekan seangkatan saya di Master’s Program Infrastructure Planning (MIP). Sebelum bercerita tentang kunjungan singkat kami ke Rathaus (Balai Kota) Vaihingen hari ini, saya mesti kembali dulu ke satu hari sebelumnya. Terhitung sejak kedatangan saya di Stuttgart pada tanggal 29 Agustus, saya sama sekali tidak pernah bertemu dengan satu orang Indonesiapun.

Kemudian sampailah di hari Selasa tanggal 2 September. Pada hari itu dijadwalkan sebuah kelas sambutan Kursus Intensif Bahasa Jerman yang mesti dihadiri oleh seluruh mahasiswa internasional. Kelas dimulai pukul dua siang dan diselenggarakan di ruang auditorium Pfaffenwaldring 57. Saat saya memasuki kelas, sebagian bangku telah terisi oleh para mahasiswa. Saya menuju ke sayap tengah kelas, melihat kanan-kiri, lalu duduk di sebelah seorang mahasiswa berkacamata berkulit sawo matang. Kami saling menyapa dan berkenalan.

“Halo. Andreas.”

“Harsono.”

“Indonesia?”

“Iya.”

Setelah lima hari berada di negara orang, bicara dengan bahasa orang, dan berkeliling-keliling kota sendirian, sedikit banyak saya merasa senang bertemu dengan rekan sebangsa. Rasanya seperti ada keran yang terbuka. Akhirnya saya bisa kembali berkomunikasi bebas dengan menggunakan bahasa yang paling saya kuasai, bahasa yang telah saya akrabi sejak saya dilahirkan, bahasa Indonesia. Saya makin menyadari bahwa berbahasa tidak bisa semata-mata dipandang sebagai sarana untuk menyalurkan kata-kata belaka, melainkan semacam keterampilan yang—sama seperti keterampilan-keterampilan lainnya macam memasak, menggambar, bermusik, atau bermain pedang—dapat dikuasai dan diasah hingga mencapai keadiluhungannya. Seseorang yang ahli dalam keterampilan tertentu dapat mengutilisasi kemampuannya dengan penuh kepercayaan diri, nampak melakukannya dengan mudah, namun pada saat yang sama mampu menggugah orang lain.

“Ini pertama kalinya gua ketemu orang Indonesia di sini,” ujar saya.

“Ada kok yang lain juga,” kata Harsono, “kemarin gue berangkat dari Frankfurt bareng orang Indonesia juga. Anak MIP juga, kerja di PU, namanya Novik.”

Dari Harsono yang meneruskan informasi dari Novik saya mengetahui setidaknya ada empat orang mahasiswa MIP asal Indonesia di angkatan ini. Beberapa kali setelah kelas sambutan dimulai saya menyapu pandangan ke bangku-bangku belakang yang letaknya lebih tinggi, walau begitu tidak saya temukan wajah-wajah Indonesia lainnya. Barangkali karena terlalu banyaknya wajah yang beranekaragam di ruangan itu.

Kelas sambutan membahas tentang hal-hal yang berkaitan tentang kursus intensif yang akan berjalan selama satu bulan ke depan, antara lain mengenai jadwal, lokasi-lokasi, peraturan, dan tanggal penting. Setelah pemaparan dari pusat bahasa selesai, presentasi dilanjutkan oleh pihak International Zentrum. Pertama-tama pihak International Zentrum mengabsen persebaran mahasiswa internasional yang ada di ruangan berdasarkan benua asal. Afrika, Asia, Amerika, Australia, dan Eropa, seluruhnya ada di ruangan tersebut. Mahasiswa internasional yang hadir terbagi dalam tiga program yang berbeda: program pertukaran pelajar, program Erasmus Mundus, dan program M.Sc International. Pada kursus bahasa yang akan berlangsung nanti mahasiswa-mahasiswa dari ketiga program ini akan dibagi-bagi berdasarkan tingkat kemampuan bahasa Jerman yang telah dimiliki oleh tiap individu.

Selepas kelas sambutan saya keluar bersama Harsono. Hujan turun ketika itu lalu kami berteduh di bawah kanopi International Zentrum sambil mengobrol-ngobrol. Setelah hujan mereda kami kembali ke asrama masing-masing. Hari itu tak banyak kegiatan lain yang saya lakukan.

Keesokan harinya, hari ini, pada pukul satu siang saya dijadwalkan untuk mengikuti tes penempatan untuk kursus intensif bahasa Jerman. Saya keluar dari kamar pada pukul sebelas dan menuju ke tempat tes di Pfaffenwaldring 57. Di sana saya bertemu kembali dengan Rakha dan Alejandro yang nampak makin akrab. Mereka baru saja menuntaskan tesnya dan hendak pergi ke kantor asuransi. Karena sudah menemukan lokasi tes, saya putuskan untuk berkeliling-keliling kampus sedikit. Satu jam sebelum tes dimulai saya mampir ke kafetaria dan membeli makan siang—roti lapis yang berisi fillet ayam goreng dingin dan segelas kopi susu. Lalu tigapuluh menit kemudian saya kembali ke Pfaffenwaldring 57.

Di sana saya bertemu dengan Novik untuk pertama kalinya. Sepengelihatan saya hanya ada empat orang Asia (di luar Timur Tengah dan India) yang mengikuti tes penempatan pada kloter ini: saya dan Novik, seorang mahasiswa Mongolia, dan seorang mahasiswa yang saya duga dari Korea. Saat mengantri verifikasi paspor, seorang mahasiswi mendatangi Novik. Ia juga adalah mahasiswi MIP, yang berasal dari Lebanon, bernama Katherine. Proses verifikasi, ditambah waktu menunggu, berlangsung selama 45 menit. Pada pukul satu kurang seperempat kami dipersilakan untuk memasuki ruangan komputer. Tes penempatan dilakukan dengan sistem online. Sistem ini memungkinkan peserta untuk langsung mengetahui hasil tes begitu tes berakhir. Hasil tes saya menunjukkan saya berada pada tingkat A2. Walaupun kelas terakhir yang saya ambil di Goethe Institut Bandung adalah B1, tetapi saya bersyukur jatuh di kelas A2 karena sewaktu di Bandung kurang intens mempelajari bahasa Jerman.

Setelah tes usai saya dan Novik mendatangi konter DB-Bahn, semacam perusahaan transportasi publik Jerman, untuk membeli tiket transportasi bulanan. Tiket ini dapat dibeli seharga 56,2 Euro dengan menunjukkan kartu identitas mahasiswa. Dengan tiket ini kami tidak perlu lagi membayar ongkos transportasi dalam kota. Selama sebulan pemegang tiket dibebaskan untuk menaiki mode transportasi umum apapun—baik itu Bus, S-Bahn, atau U-Bahn—di dalam kota, tentu saja tidak termasuk taksi.

Dari konter DB-Bahn kami mampir di asrama saya di Allmandring. Saya menunjukkan kepada Novik kamar saya dan dapur asrama. Dari obrolan dengan Novik saya baru teringat kalau saya belum bertanya kepada sesama penghuni asrama apakah air keran yang ada di asrama dapat diminum. Tepat ketika kami ingin keluar dari dapur, seorang penghuni berjalan lewat. Seorang mahasiswa berkacamata dengan perawakan tinggi besar, berambut dan brewok tipis hitam. Saya menegurnya untuk menanyakan soal air keran. Respon yang saya dapatkan dari mahasiswa ini sangat simpatik, dengan ramah ia juga menunjukkan kepada saya perkakas-perkakas yang dapat digunakan di dapur dan ruang-ruang mana yang bisa digunakan untuk menyimpan bahan-bahan makanan. Namanya Sam, mahasiswa program M.Sc WASTE. Karena badannya yang tinggi besar awalnya saya kira ia adalah mahasiswa Jerman, tapi ternyata Sam berasal dari Syria. Perihal air keran Sam pun kurang yakin dengan itu. Saya menyimpulkan untuk lebih baik minum dari air botolan yang bisa dibeli dari toko swalayan kampus.

Keluar dari Allmandring, saya dan Novik berjalan ke arah Pfaffenwaldring 7, ke gedung kuliah kami di MIP, yang berada satu gedung dengan jurusan Teknik Bangunan. Kami masuk ke lantai dasar dan melihat-lihat tugas mahasiswa yang dipampang di lobby. Gedung Pfaffewaldring 7 sendiri hampir seluruhnya dibentuk oleh beton ekspos, memberi ekspresi dingin dan kokoh.

Kami tak lama berada di MIP. Kemudian kami pergi ke Straussaecker di mana asrama Novik dan kedua mahasiswa Indonesia MIP lainnya berada. Kompleks asrama Straussaecker tersusun oleh beberapa unit bangunan berwarna merah jambu muda bergaya semi-mediterania. Unit-unit bangunan menghadap ke sebuah ruang terbuka bersama yang ada di tengah-tengah. Novik berkata banyak mahasiswa asal India yang tinggal di asramanya.

Begitu kami memasuki asrama, langsung tercium harum aroma masakan. Saya tidak yakin, tapi sepertinya seseorang sedang memasak kari. Setelah dari asrama ini kami berencana untuk pergi ke Rathaus Vaihingen dengan Bus. Novik bilang setiap pagi di alun-alun Rathaus banyak warga yang berjualan sayur-mayur dan buah-buahan. Di situ pembeli bisa menawar harga-harga barang, persis seperti pasar tradisional di Indonesia.

“Kalau mau belanja di sana aja. Bisa masak-masak kita, nanti kita berempat udah kayak keluarga di sini, habis sama siapa lagi?” begitu celetuk Novik.

Setelah Novik menunaikan sholatnya di asrama, kami menuju ke halte bus di dekat situ. Kami menunggu Bus nomor 82 yang langsung berhenti di depan Rathaus Vaihingen. Suasana daerah Vaihingen sangat khas area pinggiran kota. Banyak rumah-rumah penduduk dengan atap miring yang tinggi. Kebanyakan hanya diselesaikan dengan acian kamprot yang dicat, tapi menjadi sangat cantik dengan kombinasi tanaman rambat, pepohonan, dan bunga-bunga.

IMG_2214

Suasana alun-alun Rathaus Vaihingen

IMG_2217

Suasana alun-alun Rathaus Vaihingen, view dari arah Halte Bus

Di alun-alun tidak banyak orang yang terlihat. Suasana lingkungan sepi dan tenang, mengingatkan saya pada suasana kompleks Bukit Dago di Bandung. Kami lalu masuk ke semacam pusat perbelanjaan yang ada di alun-alun. Di situ Novik membeli beberapa barang. Saya sendiri membutuhkan tempat sampah untuk di kamar, tapi tidak menemukannya di sana.

Saat kami sedang berputar-putar di swalayan, dua orang mahasiswa India menyapa. Kami berkenalan, ternyata mereka juga sesama mahasiswa baru MIP di semester ini. Indonesia, Lebanon, India, dan Iran (seorang mahasiswa MIP asal Iran tinggal satu asrama dengan Novik); nampaknya program Infrastructure Planning menarik minat mahasiswa-mahasiswa dari negara-negara yang sedang berkembang. Ada sedikit keinginan saya untuk berada satu kelas dengan mahasiswa-mahasiswa Jerman agar dapat melatih kemampuan berbahasa, tapi saya senang dengan komposisi mahasiswa yang berasal dari negara-negara berkembang ini. Dengan mereka saya merasa akan lebih mudah mencapai kesepahaman karena latar belakang kami yang serupa.

Dalam benak saya bertanya, apakah ini juga yang dirasakan oleh “Sang Insinyur” dahulu ketika menggagas gerakan Negara Dunia Ketiga?

***

ENTRY #3

Selasa, 2 September 2014
Stuttgart. 16:52.

Hari Senin kemarin saya pindah ke asrama. Tidak banyak yang terjadi pada hari itu selain mengurus kepindahan dan lain-lain. Saya berangkat dari hostel ke University of Stuttgart bersama Felix pada sekitar pukul sembilan pagi. Cuaca cerah, berbeda dari hari sebelumnya. Kami naik S-Bahn dari stasiun Stuttgart-Stadtmitte. Begitu tiba di stasiun Universitaet kami menuju ke sebuah halte bus. Di sana telah menunggu seorang mahasiswi internasional yang juga dibantu oleh Felix. Namanya Elvira dari Russia. Dia akan melanjutkan studinya di University of Stuttgart pada bidang Computational Mechanics. Elvira sudah masuk ke asrama sejak Jumat lalu. Ia terlihat hanya membawa tas jinjing kecil bersamanya.

Felix memberitahu kami tentang agenda hari itu, antara lain: menyelesaikan administrasi kepindahan ke asrama, melaporkan kedatangan ke International Zentrum sekaligus mengambil Welcoming Package, membuka rekening bank, mendaftar asuransi mahasiswa, dan jika sempat, pergi ke kantor imigrasi untuk mengurus perpanjangan visa.

Pertama-tama kami bertiga pergi ke kantor pengurus asrama nomor 3, asrama tempat Elvira dan seorang mahasiswa lain asal Pakistan—yang dibantu oleh Felix juga—tinggal. Namun, ketika sampai di sana kantor pengurus asrama 3 masih tutup. Oleh karena itu, untuk mempersingkat waktu, Felix mengantarkan saya mengurus kepindahan sementara Elvira tetap menunggu di asrama 3.

Asrama saya terletak di bangunan nomor 18C sedangkan kantor pengurus asrama 18C terletak di bangunan nomor 8E. Kami menuju kesana terlebih dahulu. Petugas yang menangani saya bertubuh tinggi besar dan tidak mahir berbahasa Inggris, dia menjelaskan segala macam tata aturan asrama kepada Felix dalam bahasa Jerman lalu kemudian Felix menjelaskannya kepada saya dalam bahasa Inggris. Setelah menerima kunci dan surat-surat terkait kontrak asrama, saya dan Felix pergi ke asrama 18C.

IMG_2220

Asrama Allmandring 18C

IMG_2199

Kamar di mana saya akan tinggal selama 24 bulan ke depan

Asrama 18C, bila dibandingkan dengan asrama-asrama lainnya, termasuk bangunan tua. Tapi bagi saya asrama ini cukup baik. Di kamar ada sebuah jendela yang memungkinkan masuknya udara dan pencahayaan alami. Tapi sialnya gedung ini tidak dilengkapi dengan elevator, karena itu saya mesti naik anak tangga sebanyak tiga setengah lantai untuk mencapai kamar. Entah kenapa belakangan ini saya akrab dengan tangga.

Setelah membantu saya mengangkut dan memasukkan barang ke kamar, Felix kembali ke kantor pengurus asrama 3 dimana Elvira menunggu. Sementara itu saya pergi ke toko swalayan kampus membeli air minum dulu, kemudian saya menyusul mereka ke kantor pengurus asrama 3. Sesampainya di sana hanya ada Elvira menunggu di luar. Felix sedang berada di dalam kantor membantu mahasiswa lainnya.

Saya dan Elvira mengobrol sedikit. Dari obrolan itu saya mengetahui bidang studi yang akan dia pelajari. Selain bahasa Inggris, Elvira pun mahir berbahasa Perancis. Tetapi ia tidak tertarik melanjutkan studinya di Perancis karena menurutnya bidang studi yang ditawarkan di sana terlalu terspesialisasi, ditambah prospek kerja yang lebih luas di Jerman.

Tak lama kemudian Felix keluar bersama dua mahasiswa lainnya. Kami kemudian saling berkenalan. Yang satu adalah mahasiswa Pakistan yang sempat disinggung oleh Felix saat menjemput saya pertama kali, namanya Allah Rakha. Wajahnya ramah dengan kumis-brewok tebal berwana hitam. Ia berusia 29 tahun dan terdaftar dalam program Erasmus Mundus. Rakha terlihat simpatik begitu saya menyebut Indonesia sebagai negara asal saya. Seorang lagi bernama Alejandro dari Meksiko. Ia tinggal satu flat dengan Rakha di asrama 3E. Selanjutnya Alejandro turut ikut dalam rombongan kami mengurus segala keperluan.

Dari asrama 3 kami menuju International Zentrum. Kami menyebrangi dua buah jembatan dari struktur baja. Di foyer International Zentrum telah nampak antrian mahasiswa asing. Antrian terbagi sesuai dengan program yang diikuti oleh mahasiswa. Kami pun masuk ke jalur antrian masing-masing. International Zentrum memberikan Welcoming Package yang berisi bermacam informasi yang akan berguna membantu mahasiswa asing untuk beradaptasi di minggu-minggu pertamanya. Selain itu International Zentrum juga menerbitkan kartu identitas mahasiswa sementara yang bisa diambil besok hari. Kartu ini akan dibutuhkan untuk membeli tiket transportasi bulanan di kantor Verkehrs-und Tarifverbund Stuttgart (VVS).

IMG_2206

Jembatan pertama, di sisi kanan foto terlihat bangunan singgah untuk staff pengajar

IMG_2207

Jembatan kedua, menuju International Zentrum (IZ)

Selanjutnya kami mendatangi kantor cabang BW Bank yang ada di kampus. Di sana Elvira, Rakha, dan Alejandro mengisi beberapa formulir dan membuka rekening Bank. Saya tidak ikut membuka rekening di BW Bank karena sebelum berangkat telah membuka rekening di Deutsche Bank sebagai prasyarat pengurusan Visa.

Kami menghabiskan waktu cukup lama di Bank, kira-kira hingga sampai pukul setengah satu. Di agenda hari ini seharusnya kami memperpanjang visa di kantor imigrasi di Stadtmitte, namun kantor imigrasi hanya beroperasi hingga pukul satu siang di hari Senin. Oleh sebab itu kami sepakat untuk mengundurnya menjadi hari Kamis.

Setelah urusan dari Bank selesai, Rakha dan Alejandro berpisah dari rombongan. Rakha tidak perlu mengurus asuransi karena sudah diurus oleh program Erasmus Mundus yang diikutinya. Felix, Elvira, dan saya lalu menuju ke kantor asuransi Techniker Krankenkasse yang ada di dekat BW Bank. Petugas asuransi nampak heran ketika tidak menemukan nama keluarga tertulis di paspor saya.

“Ada masalah?” tanya Felix, membaca keheranan di wajah petugas.

“Nama keluarganya yang mana?”

“Di akte kelahirannya nama keluarga memang tidak tertulis,” Felix sudah tahu tentang ini karena saat membantu saya membeli nomor ponsel petugas registrasi pun menanyakan hal yang sama.

“Biasanya saya menuliskannya sebagai ‘Andreas, Andreas’,” sambung saya.

Masih nampak sedikit keheranan, petugas asuransi membuat salinan paspor dan kembali mengisi formulir-formulir. Ia menyerahkan beberapa lembar salinan dokumen kepada saya yang akan dibutuhkan saat registrasi kampus dan perpanjangan visa.

Malamnya saya tidur tanpa alas kasur dan bantal. Alas kasur, selimut, dan bantal dapat dibeli di kantor pengurus asrama seharga 45 Euro. Tetapi berhubung rekening bank saya saat ini masih terblokir dan belum sempat saya buka, saya pikir akan lebih baik jika saya agak berjaga-jaga soal pengeluaran sebab uang tunai yang saya pegang terbatas. Proses pembukaan blokir rekening pun akan membutuhkan waktu setidaknya kurang lebih satu minggu dari hari pengajuan. Untuk mengakalinya, saya menggunakan jaket-jaket yang dilipat sebagai pengganti bantal. Untungnya saat di Jakarta Ibu saya bersikeras agar saya membawa selimut yang sudah dibelikannya. Pada akhirnya saya justru cukup tertolong berkat adanya selimut itu.

***

ENTRY #2

Minggu, 31 Agustus 2014
Stuttgart. 17:16.

Dari pagi hingga sore hujan turun di Stuttgart. Hari ini hari Minggu, di hari Minggu biasanya saya pergi ke gereja. Satu hari sebelumnya, saat saya sedang menghabiskan waktu di kamar hostel, seorang kawan mengingatkan saya untuk mencari gereja yang bisa saya datangi untuk beribadah di hari Minggu. Saat itu waktu menunjukkan jelang pukul empat sore dan langit di luar masih nampak cerah. Saya pikir, daripada hanya berdiam diri seharian di kamar, berjalan-jalan keluar mencari gereja itu ide yang bagus.

Saya membuka aplikasi googlemaps di laptop dan mengetik kata kunci “protestant church in Stuttgart”, lalu muncullah beberapa titik penanda di googlemaps. Rupanya ada beberapa yang letaknya seperjalanan kaki dari hostel. Saya mengambil peta yang saya dapat dari resepsionis lalu menandai titik-titik gereja tersebut, saya ambil tas sandang dan memasukkan botol minum, kamera, alat tulis, serta buku catatan, dan kemudian turun ke jalan.

Gereja yang pertama saya datangi adalah Johanneskirche di Gutenbergstrasse. Gereja ini menghadap ke sebuah danau kecil buatan di sisi Tenggaranya, sedangkan arsitektur gerejanya sendiri berlanggam gothic. Dilihat dari kejauhan saja gereja ini sudah membuat orang terkagum. Beberapa warga nampak duduk-duduk, baik sendirian maupun bergerombol, di kursi-kursi yang menghadap ke danau. Ada yang berfoto, mengobrol, membaca buku, dan tidur santai. Suasana lingkungan terasa sangat tenang dan teduh. Namun, pintu-pintu gereja sendiri tidak ada yang terbuka, nampaknya tidak ada kegiatan yang sedang berlangsung. Saya menghampiri papan kegiatan gereja dan meneliti jadwal yang ditulis dalam bahasa Jerman. Sama sekali tidak ada indikasi adanya kebaktian berbahasa Inggris di situ. Setelah memutari gereja sekali dan duduk beristirahat sejenak di kursi danau, saya lalu berjalan menuju gereja lainnya.

IMG_2145

Johanneskirche di Gutenbergstrasse

IMG_2152

Danau buatan di sisi Tenggara Johanneskirsche

Selanjutnya di Silberburgstrasse terdapat Evangelisch-Metodischtische Kirche. Berbeda dengan Johanneskirche, gereja ini menempel dengan deretan bangunan di sebelahnya dan tidak mencolok. Saya membaca jadwal kegiatan mingguan di situ dan juga tidak menemukan pelayanan dalam bahasa Inggris. Kemudian saya menuju ke Hospitalstrasse karena ada ikon salib tertera di peta yang saya pegang. Namun, biarpun arsitekturnya masih dipertahankan sebagai warisan budaya, rupanya gereja di Hospitalstrasse itu kini sudah beralihfungsi sebagai lembaga pendidikan.

Dari Hospitalstrasse saya menyeberang jalan ke Schulstrasse, terus ke Marktplatz yang sempat saya kunjungi kemarin hari, lewat di depan Balai Kota lalu menyeberang jalan lagi hingga sampai ke sebuah gereja besar di pinggir jalan raya, Leonhardskirche, yang ternyata adalah gereja Katholik. Pada peta yang saya pegang ada gereja lain yang berada di dekat Leonhardskirche. Saya berjalan menuju ke sana, tapi rupanya salah berbelok dan malah melewati semacam daerah “hiburan dewasa.” Awalnya saya tidak sadar. Setelah melewati beberapa bar yang menampilkan poster-poster perempuan yang berpose erotis di kacanya baru saya merasa ada yang tak biasa. Saat itu masih sore, waktu saya melewati jalan tersebut, karena itu kebanyakan bar dan klab malam masih belum beroperasi.

IMG_2175

Jalan kecil dari Marktplatz menuju ke arah Leonhardskirsche

Di ujung jalan saya baru sadar kalau saya salah berbelok, saya pun berputar ke arah gereja yang terletak di pangkal Katharinenstrasse. Gereja kecil di Katharinenplatz itu rupa-rupanya juga merupakan gereja Katholik. Saat saya sedang mengamati jadwal kegiatan mingguan di situ, tiba-tiba terdengar suara lonceng bergema kencang lama sekali. Saya cukup yakin bunyinya bukan berasal dari gereja kecil ini karena terdengarnya jauh. Saya pergi ke arah sumber datangnya suara. Ternyata berasal dari Leonhardskirsche, gereja Katholik besar di pinggir jalan tadi. Gema lonceng terdengar nyaring dan riuh. Saya senang mendengarkannya. Saya pergi mengelilingi gereja mencari bangku kosong di pelataran kemudian duduk dan mendengarkan lonceng bergema sampai selesai. Kaki saya letih berkeliling mencari gereja tetapi tidak saya temukan gereja yang sesuai dengan harapan. Saya pun membuka ponsel dan mencari informasi di google dengan kata kunci yang berbeda: “protestant church in Stuttgart with English service.”

Di bangku di samping saya di pelataran Leonhardskirche itu ada seorang laki-laki dan seorang perempuan paruh baya. Mereka bercakap-cakap dengan keras dalam bahasa Jerman, kadang-kadang berbisik, kadang-kadang dengan nada yang tinggi. Selang beberapa menit kemudian, yang perempuan beranjak pergi sedangkan yang laki-laki tetap duduk di kursinya. Sekian lama berlalu sampai akhirnya si laki-laki pun beranjak pergi juga. Hanya Tuhan dan orang Jerman yang tahu apakah mereka sedang bertengkar.

Dari internet saya menemukan sebuah gereja internasional yang menyelenggarakan ibadah dalam bahasa Inggris. Letaknya di Vaihingen, daerah pinggiran kota dekat dengan University of Stuttgart dan bakal asrama tempat saya tinggal. Di websitenya gereja tersebut juga memberikan informasi tentang bagaimana cara menuju ke sana dengan menggunakan kendaraan umum. Mereka menyelenggarakan dua kali ibadah umum, pada pukul 09:30 dan 11:30. Saya putuskan pagi-pagi hari Minggu akan pergi kesana sembari melihat-lihat daerah Vaihingen.

Pukul tujuh, yang masih terang-benderang, saya angkat kaki dari Leonhardskirche menuju Marktstrasse. Di sana saya masuk ke sebuah restoran China dan memesan nasi goreng telur dan sayuran, dengan es teh. Yang menarik dan cukup lucu, waktu saya meminum es teh yang disajikan, saya mencium sedikit aroma alkohol darinya. Sungguh, amat, Jerman sekali.

Keesokannya, hari ini, saya terbangun pagi-pagi pukul enam. Hujan turun tipis-tipis. Sampai pukul delapan tidak ada tanda-tanda akan reda. Pukul setengah sembilan saya urungkan niat mengikuti ibadah jam pertama dan pergi keluar menembus hujan tipis mencari sarapan. Pukul sebelas kurang, hujan masih turun, berhenti-berhenti sejenak dalam interval tertentu. Saya mengambil tas, memasukkan alkitab, peta, kamera, dan botol minum, mengenakan jaket dan bergegas berangkat.

Di luar hujan tipis masih mengguyur. Saya menyusuri Tubingerstrasse, belok kiri di Eberhardstrasse, belok kanan ke Konigstrasse, belok kiri ke Langestrasse, menyeberang jalan, lalu turun ke stasiun S-Bahn. Saya membeli tiket menuju ke Vaihingen seharga 2.7 Euro, kelewatan kereta pertama karena tidak tahu ada beberapa kereta yang pintunya dibuka secara manual dengan menarik kenop, menunggu dan menaiki kereta selanjutnya, lalu berkendara hingga sampai di Vaihingen.

Di terminal Vaihingen saya harus naik Bus nomor 84 ke arah Buchrain Friedhof. Saya bertanya kepada seorang warga dimana mengambil Bus nomor 84, lalu saya menunggu di bawah halte, sementara itu hujan turun kembali disertai angin yang dingin. Bus nomor 82 sudah beberapa kali berangkat, Bus nomor 85 sudah pergi, tapi Bus nomor 84 tidak datang-datang juga. Saya sempat ragu, jangan-jangan trayek tersebut sedang libur hari ini? Lalu, kira-kira setengah jam kemudian Bus 84 akhirnya muncul juga.

Saya menaiki Bus dan berkomunikasi dengan bapak supir. Saya pikir, karena ini sudah daerah pinggiran kota, barangkali akan lebih sopan jika saya berbicara dengannya dalam bahasa Jerman. Lalu saya mencoba dengan bekal bahasa Jerman saya yang seadanya.

“Guten Tag. Ich mochte zum Buchrain Friedhof fahren. Wie kostet?” (Selamat siang. Saya mau pergi ke Buchrain Friedhof. Berapa tarif?)

“Buchrain Friedhof, Ja. Diaufbc ucosi djafh abfmcsf hmlfcm lvfsfsu fsfsafh sfhaifno?”

“….,” saya bingung. Pak supir menangkap kebingungan saya dan mengulang pertanyaannya.

“Fasfun aifhuh csvbgin ERSTE fasifu hnaoge wgpfpk egpwafiasfg?” (Fasfun aifhuh csvbgin PERTAMA KALI fasifu hnaoge wgpfpk egpwafiasfg?)

“Ja, erste!”

Kemudian pak supir menekan tombol-tombol, “Buchrain Friedhof, 2.20 Euro.”

“2.20 Euro,” saya menyerahkan keping 2.5 Euro kemudian pak supir memberikan kembalian, saya ambil dan segera masuk ke dalam, “Vielen Dank.”

“Momen! Die Karte.” (Tunggu! Ini karcisnya.)

“Ah, ja!”

IMG_2188

Hujan terus turun di Vaihingen

IMG_2190

International Baptist Church Stuttgart

Dari halte Buchrain Friedhof saya berjalan turun kira-kira 150 meter. Pukul setengah satu saya sampai di gereja yang saya tuju, International Baptist Church. Hujan makin deras dan saya sudah sangat terlambat. Akhirnya saya hanya berkeliling dan mengambil foto kemudian berteduh di halte Bus, menunggu Bus untuk kembali ke stasiun Vaihingen.

Sama seperti sebelumnya, saya menunggu lama. Sementara itu hujan turun makin deras dan angin bertiup makin dingin, tidak ada satu orang pun yang berlalu-lalang. Sedikit banyak saya jadi seperti merasa terdampar. Setengah jam kemudian akhirnya Bus 84 datang. Pintu bus terbuka, saya menaikinya. Supir bus mengangguk-angguk pada saya dengan senyum yang sangat-sangat tipis, rupa-rupanya si bapak supir yang tadi.

Hari Minggu ini saya tidak beribadah di gereja. Pada perjalanan pulang saya menghubungi kawan yang mengingatkan saya untuk mencari gereja tadi. Saya bertanya padanya apa bahan bacaan untuk Minggu ini di gerejanya. Dan ia pun membalas sekaligus memberi ringkasan khotbah dari pak Pendeta.

Catatan jurnal kali ini saya akhiri di sini dulu, sementara ini saya hendak membaca bahan bacaan Minggu ini. Tchuss!

***

ENTRY #1

Sabtu, 30 Agustus 2014
Stuttgart. 06:05.

Saya berangkat menuju Stuttgart pada tanggal 28 Agustus 2014 menggunakan jasa penerbangan Qatar Airways. Pertama, dari Soekarno-Hatta International Airport pesawat terbang menuju Hamad International Airport di Doha, transit selama 5 jam lalu kemudian disambung dengan penerbangan menuju Munich International Airport. Dari Munich saya menaiki jasa penerbangan regional Lufthansa menuju Stuttgart. Total waktu yang saya habiskan dalam perjalanan adalah 21 jam. Ini perjalanan paling panjang yang pernah saya alami sampai saat ini.

Selama penerbangan menuju Stuttgart, saya bertemu dengan beberapa orang. Saya akan mencatatnya sedikit. Pada penerbangan pertama, saya duduk di kursi bernomor 17J di sebelah lorong. Beberapa saat berselang, datanglah penumpang laki-laki yang duduk pada kursi di sebelah saya di samping jendela. Setelah memasukkan tasnya ke kompartemen, laki-laki muda itu duduk dan membuka ponsel lalu menelepon seseorang. “Halo, ini sudah di pesawat ya,” terdengar sedikit logat Jawa, “anak-anak sudah dimandiin?” Setelah laki-laki itu selesai menelepon kami tidak bertegur sapa. Tak lama kemudian pesawat lepas landas. Saya memakai headset dan mendengarkan musik, sedangkan laki-laki di sebelah saya menonton film. Beberapa jam kemudian petugas kabin mulai membagi-bagikan makan malam.

“Di Doha kerja, Mas?” sambil mengecek makanan saya bertanya kepadanya.

“Oh, nggak Mas, saya mau ke Amerika kerja di kapal,” laki-laki di sebelah saya menjawab, sepertinya sedikit terkejut, “Saya kira tadi bukan orang Indonesia. Kalau Mas mau kemana?”

“Saya mau ke Stuttgart, sekolah.”

“Wah, enak, enak. Kalau di Eropa kita orang Indonesia masih dianggap, kalau di Amerika, bukannya nggak dianggap ya, tapi susah Mas. Tadinya saya pengennya kerja di Jerman juga, dulu sempat belajar bahasa Jerman di Yogya tapi nggak masuk-masuk ke kepala,” katanya dengan riang.

Kami pun berkenalan dan berbincang-bincang sambil menyantap makanan kami. Namanya Doddy, berusia 33 tahun, memiliki seorang istri dan dua orang anak yang masih kecil yang tinggal di Yogyakarta. Kisah hidupnya yang ia ceritakan pada saya cukup menarik.

“Saya kerja di kapal pesiar, di bagian house keeping, yang masak-masak di dapur. Sudah kerja di situ sejak tahun 2007, berarti sudah 7 tahun. Pertama kali saya kerja ke luar negeri di usia 24 tahun, ikut rombongan Deplu ke Afghanistan. Dulu saya nggak kebayang sama sekali bisa begini, Mas. Saya lulusan D3 Teknik Boga dari Yogyakarta. Setelah lulus saya sempat bekerja di sebuah restoran di Yogya selama setahun. Gaji saya waktu itu hanya 500 ribu per bulan.

Selama saya sekolah banyak omongan-omongan nggak enak saya terima. Dikatai jadi banci lah, dipandang sebelah mata lah. Saat sudah kerja pun, Ibu saya merasa malu ketika ditanya kerabat mengenai pekerjaan saya, beliau memilih bilang kalau saya bekerja sebagai kuli. Tapi saya berprinsip, saya melakukan pekerjaan yang halal, itu saja. Sampai suatu hari ada seseorang mendatangi saya di restoran dan menawarkan pekerjaan baru kepada saya. Orang itu dari Departemen Luar Negeri. Dari situ saya mendapat kesempatan pertama bekerja di luar negeri, di Afghanistan itu.

Kalau dipikir-pikir kok bisa sih tiba-tiba ada orang dari Deplu datang dan beri saya tawaran kerja seperti itu, apa cuma kebetulan? Karena penasaran, lama setelah itu saya coba tanyakan kepada bapak yang merekrut saya, bapak waktu itu memang cuma kebetulan mampir di restoran atau sudah tahu nama saya? Rupa-rupanya, nama saya direkomendasikan oleh seorang dosen di kampus dulu. Kemudian saya datangi ibu dosen itu dan bertanya, kenapa ibu merekomendasikan saya? Padahal ada teman-teman lain yang IPKnya lebih tinggi daripada saya yang hanya 3,1. Lalu ibu dosen itu menjawab, ‘Yang lain-lain itu bagus hanya di teori. Kalau kamu, biarpun teorinya nggak sebagus mereka, bisa memakai prinsip-prinsip di teori itu untuk membuat makanan yang berbeda. Makanya saya merekomendasikan kamu.’ Jadi begitu ternyata, Mas.

Waktu kerja di Afghanistan saya tinggal di kompleks Kedutaan Besar Indonesia. Sebuah ruangan serbaguna menjadi kamar saya selama di sana. Ruangannya luas padahal hanya saya yang menghuninya. Pernah satu kali ada roket menghancurkan bangunan di sebelah Kedubes Indonesia. Saat itu situasi panik, tapi saya berada di kamar sedang tidur pulas karena saking capek bekerja. Kata kawan saya, waktu itu dia menggedor-gedor kamar saya berkali-kali supaya saya mengevakuasi diri. Tapi saya tidak mendengar apa-apa. Mungkin karena sangat lelap tidurnya atau barangkali juga karena ukuran ruangannya yang luas. Tapi untungnya, pada akhirnya, kantor Kedubes Indonesia aman dan tidak terkena serangan.

Di Amerika saya juga pernah mengalami kecelakaan lalu lintas. Waktu itu saya menaiki bus bersama rekan-rekan pekerja kapal lainnya. Di sebelah kanan saya orang Filipina dan di sebelah kiri saya orang Italia. Lalu entah darimana saya mendengar seseorang berbisik pada saya dengan bahasa Jawa, suara itu menyuruh saya berdoa. Saya ikuti suara itu. Benar saja, saat sedang melaju ban bus pecah dan menyebabkan bus terguling! Tapi anehnya, di bus yang terbalik itu saya bisa berdiri, orang-orang lain di bawah saya jadi pijakan kaki. Banyak yang luka-luka tapi saya sedikit pun tidak cedera! Bagi saya kalau memang sudah waktunya ajal tiba kita tidak akan bisa menghindar, tetapi kalau belum, ya belum. Makanya saya tidak pernah merasa takut.”

Begitu sampai di Doha International Airport, pukul sembilan malam waktu setempat, saya dan Mas Doddy lalu berpisah. Ia akan melanjutkan perjalanan hingga ke Philadelphia, satu hari perjalanan lagi.

IMG_2118

Hamad International Airport, Doha

Saya pergi ke arah gerbang keberangkatan menuju Munich. Selama 5 jam transit tidak banyak yang bisa saya lakukan. Satu jam sebelum boarding, gerbang dibuka dan saya masuk ke dalam antrian. Di antara wajah-wajah kaukasian yang sedang mengantri saya melihat seorang pemuda berwajah malayan. Dari paspor di tangannya saya mengetahui ia adalah orang Indonesia. Saat berpapasan di antrian saya menganggukkan kepala padanya dan dia pun membalas anggukan saya, “Indonesia juga?”

Di dalam ruang tunggu kami mengobrol. Namanya Bagus, menuju Munich untuk transit sebelum ke Coppenhagen, Denmark. Yang menarik, rupanya Bagus adalah seorang koki di kapal pesiar juga! Dari obrolan dengannya saya mengetahui ada 7 orang koki asal Indonesia yang diberangkatkan ke Coppenhagen, tetapi oleh agen penerbangan ketujuh pekerja kapal ini diberangkatkan pada jam yang berbeda-beda pada hari yang sama. Bagus baru dua kali ditugaskan ke luar negeri. Satu kali masa dinas bisa berbeda-beda jangka waktunya. Kali ini ia berangkat bekerja di atas kapal selama 9 bulan penuh.

Setelah melalui penerbangan selama 6 jam akhirnya pesawat mendarat di Munich International Airport pada pukul 7 pagi. Arsitektur bandara Munich hampir seluruhnya dibentuk oleh kombinasi rangka-rangka baja berwarna putih dan kaca. Sederhana dan efisien, tetapi juga cantik. Selepas keluar dari pesawat, para penumpang lain menuju ke gerbang keluar. Hanya saya dan Bagus yang menuju arah berlawanan. Untuk melanjutkan ke penerbangan selanjutnya kami harus pergi ke gerbang G melewati sebuah koridor panjang yang sangat sepi. Beberapa meter di belakang kami ada seorang lain, laki-laki muda, yang berjalan ke arah yang sama. Kami dan orang itu melewati pemeriksaan barang, lalu petugas bandara menginformasikan gerbang G berada di Terminal 2 dan untuk menuju kesana kami harus turun dua lantai dan menunggu bus bandara yang menuju kesana. Saya dan Bagus sampai lebih dulu di ruang tunggu bus. Saat sedang berbincang-bincang laki-laki muda yang di belakang kami tadi memasuki ruang tunggu. Menurut papan informasi bus akan tiba 10 menit kemudian. Hanya kami bertiga penumpang yang menunggu di sana. Lalu si orang ketiga itu membuka pembicaraan dengan bahasa Inggris, ”Kalian berdua orang Indonesia, ya?”

“Iya, betul, Anda juga?”

“Bukan, saya dari Filipina tapi saya sebelumnya bekerja di Indonesia beberapa tahun. Di Indonesia dari kota apa?”

“Saya dari Jakarta. Kalau Mas ini…”

“Dari Jakarta juga,” sambung Bagus dengan logat Jawanya. Saya pikir ia menyebut Jakarta karena lebih praktis.

“Ooo, dulu saya sempat bekerja di Medan dan di Solo dua tahun.”

“Sekarang Mas menuju kemana?” tanya saya kepada pemuda Filipina itu (percakapan tetap dalam Bahasa Inggris).

“Saya ke Hannover, kalau Mas-Mas sekalian?”

“Saya ke Stuttgart, mau sekolah,” jawab saya.

“Saya ke Coppenhagen, kerja juga,” jawab Bagus.

“Di Hannover kerja apa, Mas?”

“Saya di sana mengajar.”

“Mengajar di Universitas?”

“Bukan, di sekolah dasar mengajar Matematika.”

“Ooo, berarti Mas-nya bisa bahasa Jerman dong?”

“Nggak bisa Mas, saya mengajar di Singapore-Beijing Academy, sebuah lembaga pendidikan internasional. Siswanya anak-anak indochina jadi saya mengajar mereka dengan Bahasa Inggris.”

Bus bandara tiba lalu kami bertiga menaikinya. Bus besar itu hanya ditumpangi oleh kami dan langsung menuju ke terminal 2. Kebetulan kami bertiga menuju ke gerbang G. Bagus di gerbang G13, saya di gerbang G33, dan Morte—laki-laki Filipina itu—di gerbang G44. Tidak terlalu terlihat dari penampilannya, tetapi Morte telah berusia 32 tahun namun masih lajang sehingga memiliki kebebasan untuk berkarir jauh dari negara asalnya.

IMG_2121

Dari Bus Munich International Airport, menuju ke Terminal 2

Satu setengah jam kemudian saya telah mengudara lagi menuju Stuttgart. Saya tiba di bandara Stuttgart. University of Stuttgart menyediakan Welcoming Service bagi mahasiswa asing tanpa dipungut biaya. Beberapa bulan sebelum keberangkatan saya telah mendaftarkan diri untuk menerima layanan ini. Sesampainya di Stuttgart saya dijemput oleh Felix, seorang volunteer Welcoming Service yang juga adalah mahasiswa University of Stuttgart pada program studi Environmental Engineering. Ini pertama kalinya Felix menjadi volunteer Welcoming Service, dan ia langsung ditugaskan untuk membantu 4 mahasiswa asing yang baru tiba di Jerman.

Dengan dibantu Felix, saya pergi ke pusat kota dengan transportasi umum menuju hostel tempat saya akan menginap selama tiga hari. Saya mesti menginap di hostel dulu karena baru akan bisa pindah ke asrama kampus pada tanggal 1 September. Saya dan Felix sampai di hostel terlalu cepat. Waktu itu kami tiba di sana sekitar pukul sepuluh sedangkan check-in baru dimungkinkan pada pukul dua siang. Untungnya, barang bawaan saya seberat 30 Kg bisa dititipkan dulu di sana.

Kemudian saya meminta tolong Felix agar dibantu untuk mencari nomor telepon lokal. Kami lalu berjalan kaki menuju Konigstrasse, sebuah jalan lapang dengan deretan pertokoan di kanan-kirinya. Memilih provider telepon, dengan segala macam syarat dan ketentuannya bukanlah perkara yang mudah, apalagi dalam kondisi yang lelah karena perjalanan panjang. Saya sangat tertolong karena dibantu oleh Felix dalam hal ini. Sekitar pukul duabelas, setelah selesai membeli nomor ponsel, saya dan Felix berpisah. Pada pukul dua Felix harus menjemput seorang mahasiswa asing lain asal Pakistan di stasiun kereta.

Saya menghabiskan waktu dengan berjalan-jalan di Konigstrasse dan sekitarnya. Saya menonton beberapa pemusik jalanan yang mengadakan pertunjukan, dan ada juga orang yang memamerkan kemampuannya melukis pemandangan-pemandangan celestial dengan menggunakan cat semprot. Dari Konigstrasse saya berjalan terus hingga sampai di Marienstrasse, lalu saya berhenti sejenak untuk minum di kedai McDonalds yang ada di situ. Kemudian dari situ memutar ke arah Marktplatz di depan balai kota. Di ruang terbuka Marktplatz berdiri banyak tenda dan kedai yang menjual makanan dan minuman. Suasananya terasa sangat hidup dan menarik.

Pukul dua saya berjalan kaki kembali ke hostel. Dari lantai dasar menaiki tangga dan masuk ke ruangan resepsionis. Setelah menyelesaikan administrasi nona resepsionis menyerahkan kepada saya slip pembayaran beserta kunci kamar. Pada slip pembayaran tertulis kamar nomor 504. Saya bertanya ke nona resepsionis dalam bahasa Inggris.

“Mbak… ini kamar 504… lantai…?

“Lima,” ucap nona resepsionis sambil tersenyam-senyum.

Saya langsung berkeringat dingin membayangkan 30 kilogram barang bawaan yang saya bawa.

“Nngg, ada elevator?”

“Nggak ada. Mas-nya olahraga,” jawab nona resepsionis sambil menekuk kedua lengannya ke atas.

Akhirnya saya naik ke lantai lima membawa tas jinjing berisi laptop dan dokumen-dokumen yang tidak ikut saya titipkan. Lalu turun kembali ke lantai satu, meminjam kunci ruangan penitipan ke resepsionis, mengambil pakaian secukupnya untuk tiga hari dari koper, lalu naik lagi ke lantai lima. Sesampainya di kamar saya menyusun pakaian-pakaian di lemari dan baru sadar kalau saya lupa mengambil celana ganti.

Walau begitu ada juga sisi baiknya, dari kamar ini saya bisa melihat jelas gereja Kathedral serta pelataran di depannya yang berada di seberang jalan. Setelah itu saya duduk di meja, membuka laptop, dan menghubungi orang-orang di Indonesia. Setelah bertelepon dengan keluarga di rumah, saya merebahkan diri di kasur. Waktu di Indonesia lebih cepat 5 jam daripada di Jerman. Dengan kata lain, pada hari perjalanan saya dari Jakarta ke Stuttgart ini, saya mendapatkan tambahan 5 jam dalam sehari. Saya berusaha untuk tetap terjaga agar tubuh bisa segera beradaptasi dengan waktu Jerman. Tapi karena perjalanan yang melelahkan, saya akhirnya tertidur juga pada pukul enam sore. Hari yang panjang, saya berharap bisa segera beradaptasi dengan baik di kota Stuttgart ini.

IMG_2124

Kamar Hostel di lantai 5 dengan pemandangan ke arah Gereja Kathedral di Tubingerstrasse