.catatan mimpi.

chaos, order, mimpi, dan impian

Kategori: Quotes

#6.2. Red Beard

otoyochobo

“Berapa usiamu?”

Siang itu, di antara kain-kain jemuran yang menggantung, bocah pencuri yang ditolongnya tempo hari mendatangi Otoyo.

“Tujuh tahun. Namaku Chobo.”

“Chobo, kamu punya keluarga?”

“Aku punya seorang bapak dan seorang ibu, dua abang juga.”

“Apa mereka tahu kalau kamu mencuri?”

“Mereka pura-pura tidak tahu.”

“Jahatnya mereka.”

“Jangan bilang begitu. Habis mau bagaimana lagi,” dengan polosnya Chobo berkata, “Bapak dan ibu sangat miskin sampai-sampai mereka jadi bodoh… dan abang-abang, mereka cuma anak-anak.”

“Tapi mereka lebih tua darimu ‘kan?”

“Sembilan dan sepuluh tahun, dan sangat kelaparan dan selalu menghisap jempolnya.”

Chobo berjalan beberapa langkah, meraih batang penyangga jemuran kemudian menerawang ke langit.

“Seandainya aku jadi kuda.”

“Kuda? Kenapa begitu?”

“Kuda ‘kan makan rumput. Kami punya banyak rumput.”

***

Ini adalah salah satu adegan yang paling berkesan bagi saya dalam film “Red Beard” (1965) karya Akira Kurosawa. Lucu sekaligus miris.
http://en.wikipedia.org/wiki/Red_Beard

Quote

“Adil menurut alkitab adalah mengangkat orang-orang yang tertindas, yang menderita, yang miskin; tapi juga menurunkan mereka yang menindas. Merubah sistem-sistem yang merusak damai sejahtera bagi seluruh umat manusia.”

-Pdt. Em. Budiono Adi Wibowo

***

Perintah di atas sangat, sangat, berat. Tapi setidak-tidaknya yang dapat dilakukan adalah dengan tidak tumbuh menjadi penindas-penindas, yaitu dengan tetap memegang nilai-nilai yang benar–sesepele apapun itu nampaknya.

Satu dan Segalanya

Demi menemu diri dalam tiada berhingga,
Setiap pribadi  pasti rela sirna,
Di sanalah segala jenuh bakal musnah;
Bukan pada bebas syahwat panas hasrat
Bukan pada padat aturan tuntutan ketat,
Pada penyerahan diri itulah nikmat berkah

Datang dan rasuki jiwa kita, o jiwa jagat!
Dan dengan ruh jagat kita bergulat nekat,
Itulah maha tugas daya-daya kita
Ruh-ruh budiman yang menuntun,
Para aulia yang membimbing santun,
Kan antar kita pada Dia yang abadi mencipta

Dan untuk jadikan ciptaan baru selalu,
Agar tak berkeras diri menjadi beku,
Haruslah bertindak tak sudah-sudah
Maka yang semula tiada, kini sedia menjelma
Dunia aneka warna, mentari-mentari bercahaya
Ia mutlak tak berhak istirah

Ia mesti berkarya, mesti menggubah,
Membentuk diri, lalu berubah;
Meski seolah sejenak terdiam
Sang Abadi berkarya di tiap insan
Karena segala harus runtuh sirna,
Jika hendak bertahan dalam Ada

-Johann Wolfgang von Goethe


(Diterjemahkan dari karya asli Goethe ”Eins und Alles” oleh Agus R. Sarjono & Berthold Damshäuser.)

Quote

“Perpaduan antara pemimpin yang visioner dan mobilisasi massa yang didukung oleh kelas menengah tangguh, menghasilkan produktivitas dahsyat. Di sini terbukti, kekuatan dan keberpihakan kelas menengah pada negerinya adalah nyawa suatu bangsa. Dengan keunggulan otaknya, golongan kelas menengah akan menjadi ujung tombak perubahan bangsanya.”

-dr. Ario Djatmiko

Quote

“Seperti pohon, makin tumbuh tinggi, makin luas sudut pandangnya terhadap dunia sekitar.”

-Yu Sing, saat bicara tentang rumahnya.

Realita Fragmen #2

“…But when are you going to say ‘I love you’ to your son?” Bongsun bertanya kepada salah satu kakek dan nenek pemilik rumah di desa itu.

“We never say anything like that to him,” jawab nenek.

“Not even once?”

“People from back in the day doesn’t know what love is,” kakek menimpali, “so they don’t know what the phrase ‘I love you’ is.”

“So how do you express your love?”

“If you don’t say it, doesn’t it feel empty?”

“We just laugh and smile as we live our lives,” ujar kakek itu sambil tetap tersenyum.

Quote

“Terang yang sesungguhnya, yang menerangi setiap orang, sedang datang ke dalam dunia.”

-Rasul Yohanes

#4.9. Apa Yang Berharga

“Kalian cantik sekali, tetapi kalian hampa. Tak ada orang yang bersedia mati untuk kalian. Tentu saja, orang yang sekadar lewat akan mengira mawarku sama persis seperti kalian. Tetapi mawarku, walaupun cuma setangkai, jauh lebih berarti daripada kalian semua, karena dialah yang kusirami. Karena dialah yang kututup dengan kubah kaca. Karena dialah yang kulindungi dengan tabir. Karena dialah yang ulat-ulatnya kubunuh (kecuali dua atau tiga yang kami biarkan hidup agar menjadi kupu-kupu). Karena dialah yang kudengarkan, waktu dia mengeluh, atau menyombongkan diri, atau ketika dia cuma membisu. Karena dia mawarku.”

Little Prince, karangan Antoine de Saint-Exupéry

#4.6. Amir Hamzah

Hancur badanku, lahir badanku, dari gelombang dua berimbang, akulah buih dicampakkan tepuk, akulah titik rampatan mega, suara sunyi di rimba raya – Akulah gema tiada berupa.

Quote

“Indah itu berangkat dari kebenaran. Apa adanya itu adalah kecantikan yang paling hakiki.”

-Basauli Umar Lubis, di kuliah Pengantar Studio