.catatan mimpi.

chaos, order, mimpi, dan impian

Kategori: Prosa

#6.5. Belantara

Di bawah naungan gemintang
dan cemas satu masa
tunas bertumbuh, derap berlalu
Segala yang melintas, namun tak menyintas
kerap hilang di belantara

Pun dalam rengkuhan
tanya akan arti
bergumul lekat mencari abadi
terhilang dalam, ke rahim misteri
kadang arah,
tenggelam di belantara

Maka ketika gemintang mulai bersaksi
Maka sesekali, dengarkanlah kesenyapan,
ungkapkanlah kebisuan,
Maka sesekali… nikmatilah lara
Karena ketika itu
‘ku dapat lihat wajahmu
terbias cahaya
pada tujuh warna pelangi

(Bandung, 6 Desember 2013)

Iklan

#6.4. Orang Ribut

Orang ribut rebut harta
Orang ribut sikut agama
Orang ribut karena fitna
Orang ribut selamatkan muka

Orang ribut tolak gusur
Orang ribut tolak usul
Orang ribut di usang mimbar
Orang ribut di lampu merah

Orang ribut demi takhta
Orang ribut minta sorot
Orang ribut lagak berida
Orang ribut bersengkarut

Orang ribut, orang ribut
Angin ribut… tumpas yang fana

Surivor in Tacloban walks among the debris after Typhoon Haiyan

(Sumber foto: http://www.theguardian.com/world/2013/nov/11/typhoon-haiyan-city-tacloban1?CMP=twt_gu)

#5.9. Satu Jenak

Seorang Lelaki terhenyak
detak waktu Sang Tuan Besar
ini kali berikannya satu jenak

Begini sabdanya:
“Engkau idamkan kemerdekaan
ini kusematkan satu jenak
Ingat! Cukup satu jenak!”
Maka pelanlah langkah-langkah Lelaki
beringsut-ingsut lalu berhenti

satu, dua, tiga…. seperduapuluh jenak

“Apa yang terjadi?” bisiknya
Seketika celiklah dia punya sanubari
bahwa nyeri sebelah kakinya
bahwa debu dan sarang laba di kepalanya
bahwa lumpur di wajahnya
bahwa batu di jantungnya
bahwa… bahwa…

satu, dua, tiga…. sepersepuluh jenak

Belati itu ia tikam di dadanya
menghambur keluar daripadanya
pasir yang tak terbendung limpahnya
sejumlah jatuh di atas kaki
sejumlah naik tertiup angin
selayaknya hal yang sia-sia

satu, dua, tiga…. seperlima jenak

“Mengapa? Mengapa?” bisiknya
Ia gali dadanya dalam-dalam
ia temukan batu jantungnya dan genggam erat
tak lagi hangat, tak lagi bertalu
tak lagi padanya berisyarat

Satu waktu dahulu membawanya berlari
Satu waktu kini menjadi beban tersembunyi
“Mengapa? Mengapa?”

satu, dua, tiga…. satu jenak

Dentang lonceng membawa
sabda Sang Tuan Besar berkata:
“Engkau idamkan kemerdekaan
Namun ketahuilah!
Merdeka adalah teka-teki
yang belum kau tuntaskan!”

***
(Bandung, 26 Mei 2013)

#5.5. Di Hadapan Kala

Di hadapan kala
menanti
keberanian

Dimana adanya
pelita?

letupan mercon
di kejauhan?
pohon-pohon
pinus berbaris
diam?
derik jangkerik
berisyarat?
bersasmita?
nyamuk-nyamuk
‘ku tak hirau

Limpahan asa
terbendung
merindu
pembebasan diri

Menanti
‘kan tiba waktu
dan masa

Akankah
‘ku menemu
bahagia?

Pada akhirnya
segala
tak terlalu
berarti

.
.
.
.
kecuali Aku
ingin berarti

Satu dan Segalanya

Demi menemu diri dalam tiada berhingga,
Setiap pribadi  pasti rela sirna,
Di sanalah segala jenuh bakal musnah;
Bukan pada bebas syahwat panas hasrat
Bukan pada padat aturan tuntutan ketat,
Pada penyerahan diri itulah nikmat berkah

Datang dan rasuki jiwa kita, o jiwa jagat!
Dan dengan ruh jagat kita bergulat nekat,
Itulah maha tugas daya-daya kita
Ruh-ruh budiman yang menuntun,
Para aulia yang membimbing santun,
Kan antar kita pada Dia yang abadi mencipta

Dan untuk jadikan ciptaan baru selalu,
Agar tak berkeras diri menjadi beku,
Haruslah bertindak tak sudah-sudah
Maka yang semula tiada, kini sedia menjelma
Dunia aneka warna, mentari-mentari bercahaya
Ia mutlak tak berhak istirah

Ia mesti berkarya, mesti menggubah,
Membentuk diri, lalu berubah;
Meski seolah sejenak terdiam
Sang Abadi berkarya di tiap insan
Karena segala harus runtuh sirna,
Jika hendak bertahan dalam Ada

-Johann Wolfgang von Goethe


(Diterjemahkan dari karya asli Goethe ”Eins und Alles” oleh Agus R. Sarjono & Berthold Damshäuser.)

Fiksi Fragmen #5

Senja di Jakarta baru saja merayap pulang. Kerlap-kerlip lampu menghantarkan kepergiannya sekaligus menjadi penanda dimulainya geliat malam di kota ini. Di sana dan sini nampak wajah-wajah lelah yang tersembunyi di balik helm-helm plastik dan kaca film gelap. Wajah-wajah yang mengabdikan dirinya untuk mengejar bayang-bayang kebahagiaan. Di antara puluhan ratus wajah yang turun di jalan malam ini, di situ terselip kami. Aku dan Sesha.

Sesha duduk di bangku penumpang di sebelahku, memandangi kelebatan pemandangan jalan di luar, larut dalam pikiran-pikirannya sendiri. Tidak ada kata-kata yang terucap, kecuali racauan gembira penyiar di radio. Namun begitu, tidak sedikitpun aku merasakan kecanggungan. Diam yang ada di antara aku dan Sesha terasa begitu wajar.

Duduk bersebelahan dengannya di mobil ini mengingatkanku pada masa-masa ketika kami sering duduk bersebelahan di tangga darurat sambil bicara mengenai berbagai macam hal. Aku melirik wajahnya, tidak banyak yang berubah, hanya jejak riasan gelap di kelopak matanya. Sementara itu, racauan penyiar di radio kini terhenti, digantikan oleh nyanyian dari era ’90-an–Katon Bagaskara, kurasa. Musik yang indah serta liriknya yang polos dan puitis terdengar merdu di telingaku. Kadang aku bertanya-tanya kemana perginya para penyair di jaman sekarang? Apakah mereka semua sudah punah? Dibunuh oleh Herodes yang takut takhtanya terancam?

“Tau, nggak?” tiba-tiba Sesha bicara, “Mendengar lagu dari tahun ’90-an begini, sambil lihat pemandangan jalan di luar, tanpa suara, diredam kaca kedap suara mobil ini, rasanya….”

“Hmm?”

“Rasanya,” kata-katanya menggantung sebentar di udara, “Gue seperti bisa mengingat hal-hal yang nggak pernah gue alami.”

“Maksudnya?”

“Maksud gue, rasanya gue hampir bisa mengingat kejadian-kejadian dari kehidupan gue sebelum kehidupan yang ini.”

Aku menatap Sesha. Sesha menatapku. Matanya terbuka lebar. Dahiku berkerut. Kami berdua pun tertawa berbarengan.

“Dasar ngaco! Apa-apaan coba?”

“Eh, tapi beneran! Coba lihat deh ruko-ruko di sana itu, entah kenapa gue merasakan suatu hubungan khusus. Samar-samar di bayangan gue, gue melihat diri gue yang lagi berlari naik-turun tangga di dalam ruko itu!”

“Paling juga cuma potongan-potongan imajinasi lu. Atau mungkin di kehidupan sebelumnya lu emang encik-encik ruko.”

“Ishh, rese!” Sesha meninju lenganku, “Tapi kan menurut Jung yang namanya memori universal itu benar-benar ada!”

“Hah? Memori universal apa?”

“Iya, memori universal yang tetap bertahan hidup walaupun fisik lo udah nggak ada. Memori yang jadi sumber dari mimpi dan inspirasi yang memungkinkan lo untuk mengalami hal-hal yang belum pernah lo lihat di kehidupan saat ini.”

“Ehm… oke,” dia mulai bicara tentang hal-hal aneh. Dari dulu Sesha ini memang agak sinting.

“Coba, lo pasti pernah punya pengalaman kayak gitu juga deh! Misalnya nih ya, pernah nggak lo mendapat ide yang menurut lo brilian dan otentik banget, eh, tapi rupanya di lain kesempatan–waktu lo lagi baca buku atau nonton film atau apapun–lo menemukan bahwa ide itu udah pernah dicetuskan oleh orang lain, bahkan jauh sebelum lo ada? Pernah ‘kan? Nah, itu penyebabnya karena ide yang muncul di kepala lo itu berasal dari sumber yang sama–ya, dari memori universal itu!”

“Ooo, begitu?” Sesha mengangguk antusias, “Omong-omong, gua juga pernah dengar sesuatu yang mirip kayak yang lu bilang barusan–tapi nggak begitu mirip juga sih….”

“Oh, ya? Gimana? Gimana?”

“Gua mendengar ini dari salah satu kuliah umum yang gua tonton lewat internet. Tapi udah agak lama juga sih dan gua nggak yakin apa yang gua ingat ini akurat.”

“Coba, coba, apa?”

“Jadi, lu tau kan waktu zaman keemasan Yunani dulu banyak aliran pemikiran yang berkembang di sana? Nah, dari antara sekian banyak aliran pemikiran itu, salah satunya adalah kelompok pemikiran yang fokus pembelajarannya pada pelatihan pikiran agar tidak terpengaruh oleh emosi. Menurut kelompok pemikiran ini, manusia baru akan dapat mencapai kebahagiaan apabila ia mampu mengarahkan pikirannya agar tetap lurus–sehingga hidupnya nggak terombang-ambingkan oleh emosi yang dibentuk oleh faktor-faktor eksternal dari luar dirinya.”

“Terus? Apa hubungannya sama yang gue bahas barusan?”

“Konon kelompok ini punya semacam keyakinan kalau alam semesta yang kita tempati ini terus berkembang, kayak balon yang ditiup terus-menerus, dan suatu saat nanti ketika sudah mencapai ambang batasnya, semesta ini akan meledak. BAM! Semuanya akan lenyap. Tapi, setelah itu semesta akan menyusun ulang kembali dirinya dari titik awal, menjadi persis sama seperti kondisinya sebelum meledak. Nah, menurut kelompok ini, orang-orang yang semasa hidupnya telah berhasil mengendalikan dirinya secara penuh–orang-orang bijak itu–ketika ia mati, pikirannya nggak ikut lenyap, tapi melayang-layang hingga tiba waktunya semesta meledak.”

“Jadi kalau dikaitkan sama apa yang gue bahas barusan, ingatan-ingatan dari kehidupan yang lalu itu sebenarnya adalah ingatan orang-orang bijak yang melayang-layang di ruang hampa?”

“Semacam itu, mungkin.”

Sesha tertawa kecil. Entah apa maksudnya.

Kami sampai di sebuah perempatan. Lampu lalu lintas menyala merah. Aku menghentikan kendaraan. Sebuah Mitsubishi Pajero sudah berhenti lebih dulu di depan kami. Sebentar kemudian sebuah truk pengantar juga berhenti di sampingnya. Lampu lalu lintas menunjukkan angka-angka berwarna merah yang menghitung mundur. Angka-angka itu mengingatkanku pada hitungan mundur bom waktu di film-film aksi Hollywood jaman dulu. Sementara itu motor-motor yang bersikeras untuk maju mulai bermanuver di antara sela-sela mobil yang berbaris.

Begitu semua kendaraan sudah berhenti bergerak, entah darimana muncul orang-orang jalanan yang menyisiri jalan sambil menyodorkan telapak tangannya dari satu mobil ke mobil lain. Meminta-minta kepingan uang receh. Salah satu dari mereka mendatangi truk pengantar barang yang ada di depan kami. Supir truk itu berbadan gempal dan berkulit gelap. Supir itu menyodorkan tangannya dari jendela dan memberikan si pengemis sejumlah uang kecil. Melihat rekannya mendapat uang dari si supir truk, beberapa pengemis lain mulai berlarian ke truk pengantar barang itu sambil menjulurkan telapak tangannya masing-masing. Dari sudut mata aku menangkap Sesha menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Kenapa, Sha?”

“Kalau lo jadi orang yang punya kekuasaan, apa yang pertama-tama bakal lo lakukan?”

“Gua? Enng… apa, ya?” aku belum pernah memikirkannya sama sekali, “Memang kalau lu sendiri apa?”

“Kalau gue jadi orang yang paling berkuasa di negeri ini, yang pertama-tama gue lakukan adalah memberantas keburukan visual!”

Aku diam saja menunggu Sesha melanjutkan kata-katanya.

“Gue rasa akar kebobrokan moral di negeri ini asal mulanya dari keburukan visual yang dibiarkan terekspos dengan vulgar di ruang-ruang publik. Gimana bangsa ini mau jadi bangsa yang beradab kalau keburukan-keburukan visual jadi makanan sehari-hari? Sampah di jalan-jalan, corat-coretan di tembok, sungai yang kotor dan bau, gelandangan-gelandangan. Kita semua begitu terbiasa dangan segala macam keburukan sampai-sampai kita mungkin nggak sadar lagi kalau ada yang nggak beres dengan itu semua.”

“Masuk akal. Terus?”

“Makanya, kalau gue jadi orang yang paling berkuasa gue akan melarang gelandangan-gelandangan terlihat di jalanan-jalanan umum. Gue akan memerintahkan supaya seluruh pengemis dan gelandangan di jalanan ditangkap dan dikumpulkan, begitu juga orang-orang yang mengotori jalan dan fasilitas umum. Dengan begitu keburukan visual di jalanan nggak akan menjadi kebiasaan lagi. Hingga pada saatnya nanti orang-orang akan jadi lebih peka apabila ada keburukan di sekitar mereka.”

“Wow, kedengarannya radikal. Terus gelandangan-gelandangan itu gimana, Sha? Mereka ‘kan manusia juga.”

“Mereka, ya, gue kumpulkan. Gue yakin jumlah gelandangan di negara ini banyak banget, yang artinya mereka itu sumber tenaga kerja yang potensial.”

“Terus?”

“Dengan tenaga kerja sebanyak itu, gue akan menggerakkan mereka untuk membersihkan sungai-sungai yang kotor. Mereka akan gue kasih tanggung jawab untuk merawat sungai dan akan gue sediakan tempat bermukim di sekitar sungai yang menjadi tanggung jawab mereka. Gue akan mendirikan bagi mereka suatu komunitas dan memberi mereka satu tujuan bersama, yaitu: menjaga sungai seperti mereka menjaga keluarga mereka sendiri. Dengan adanya komunitas dan tujuan bersama, mereka akan mempunyai harga diri, dan harga diri akan membuat mereka membenci keburukan visual.”

“Hmm…,” aku bergumam, “Oke, sekarang jadi kedengaran cukup manusiawi.”

“Betul, kan!”

Sesha tersenyum puas. Obrolan tak henti-henti mengalir dari bibirnya, diiringi oleh radio yang memutar single-single populer dari era ’90-an. Entah mengapa malam ini aku merasa begitu ringan. Ada semacam kesejukan yang membungkus diriku. Suatu sensasi yang tidak dapat kuuraikan dengan begitu jelas.

Sesekali lampu-lampu menyorot wajah Sesha. Terang dan gelap, silih berganti.  Jelas dan tersembunyi….

Jelas… dan tersembunyi….

***

“Sudah sampai.”

“Ah, iya,” untuk beberapa saat aku dan Sesha diam saja.

Lampu sign berdetak-detak dengan ritmis. Seperti degup jantung yang teratur.

“Makasih, ya,” ujar Sesha.

Aku tersenyum dan mengangguk kepadanya. Sesha membuka pintu mobil dan melangkah keluar. Ia melambaikan tangan dengan gestur khasnya yang sudah lama tak kulihat. Ia terdiam sejenak di sana.

“….”

“Oke.”

“Oke.”

“….”

“Bye.”

“Bye.”

Sesha berbalik dan melangkah menjauh. Aku menyaksikan sahabat lamaku itu pergi. Selangkah demi selangkah lebih jauh. Entah kemana ia menuju. Entah kemana aku….

Entah kemana aku….

“Sha!”

Sesha menengok padaku. Penerangan jalan yang minim cukup bagiku untuk menangkap raut wajahnya.

Lampu sign terus berdetak.

“Kita….,” aku tergagap, “Sampai ketemu lagi.”

Malam itu, di bawah temaram lampu…. Aku melihat Sesha tersenyum.

(Selesai –mungkin)
Jakarta, 20 Agustus 2012
Andreas Cornelius Marbun

Kosong Ep.8

OBSESI AWAN

“Merasuk di dalam diri, dan mengalir di dalam nadi.


Kemanapun aku pergi, berjalan maupun berlari, awan itu mengikutiku. Aku kenal betul dengannya. Sepintas awan itu terlihat sama seperti gumpalan awan biasa, menyaru dengan yang lainnya. Tapi nyatanya tidak, sama sekali tidak. Pada awalnya aku pun terkecoh, tidak menyadari sedikitpun, hingga pada hari ketika aku pergi menyepi ke atas genteng rumah tetangga.

Di sana aku merebahkan tubuhku menghadap hamparan langit yang luar biasa luas. Pada saat-saat seperti itu kadang bulu kudukku merinding. Hamparan langit di hadapanku begitu luas, seakan tidak ada ujungnya. Tidak ada akhirnya. Membayangkannya saja membuat otakku mau meletus. Menurutku, sesuatu yang tidak ada akhirnya adalah hal kedua yang paling mengerikan di dunia.

Lalu apa hal pertama yang paling mengerikan di dunia? Aku juga belum tahu, tapi firasatku mengatakan masih ada yang lebih mengerikan daripada itu. Maka posisi pertama aku simpan dulu, sekedar berjaga-jaga.

Waktu di atas genteng itu aku jadi merasa agak pusing. Seperti gejala vertigo. Rasa-rasanya aku bisa jatuh ke langit kapanpun. Seketika kemudian aku merasakan ada hembusan angin dari sebelah kiri. Lalu, tepat saat aku merasa gravitasi mulai kehilangan pegangannya, aku melihat sekumpulan awan datang berbondong-bondong—kumpulan awan biasa yang umum kau temui di kota-kota metropolitan mana pun. Tapi, dari antara gerombolan awan homogen itu, ada satu awan menarik perhatianku.

Kalau kau bertanya kepadaku apa yang menonjol dari awan itu, sampai kapan pun aku tidak bisa memberimu jawaban yang pasti. Tapi ada sebuah kesan khusus yang kutangkap waktu melihatnya berlalu. Wajahnya—ya, wajahnya, asal kau tahu, setiap awan punya wajah yang berbeda-beda, bukan seperti wajah manusia yang punya hidung dan sebagainya sih, tapi kalau kau memperhatikan dengan sedikit lebih seksama pasti kau mengerti maksudku—terlihat nelangsa.

Baru kali itu aku melihat wajah awan yang begitu nelangsa. Dan itu membuatku sungguh heran sampai-sampai otakku tidak jadi meletus dan vertigoku lenyap. Aku memperhatikan awan itu lekat-lekat, tidak berkedip sepersekian detik pun. Namun sepertinya itu membuat awan jadi menyadari kehadiranku.

Pandangan kami bertemu dan ada sekilas momen canggung.

Sejak kejadian di atas genteng rumah tetangga itu, aku dan awan seringkali bertemu. Aku sekolah, bertemu. Aku ke perpustakaan, bertemu. Aku ke taman, bertemu. Aku makan di emperan jalan, bertemu. Kemana-mana pun, bertemu.

Awalnya aku mengira hanya kebetulan semata. Namun lama-kelamaan aku yakin positif bahwa awan itu mengikutiku. Buatku sih tidak masalah. Aku malah cukup senang karena jadi memiliki teman kemana-mana. Tapi belakangan aku jadi penasaran juga. Apa yang membuat awan itu mengikutiku terus? Apa alasannya?

Pernah beberapa kali aku menanyakannya langsung kepada awan itu. Tapi jawabannya nihil. Aku menyimpulkan beberapa kemungkinan mengapa awan itu tidak menjawab: satu, awan itu tidak mengerti Bahasa Indonesia; dua, awan itu menyimpan rahasia; tiga, awan itu tidak bisa mendengarku karena jarak yang jauh; dan empat, awan itu tidak bisa bicara.

Tapi ini tidak membuatku putus harapan. Kalau awan itu tidak mau bicara, biar aku cari sendiri jawabnya! Aku mencari buku-buku tentang awan. Dari perpustakaan ke perpustakaan aku mencari segala macam buku yang bercerita tentang awan. Buku ilmiah, buku fiksi, buku anak, buku ensiklopedia, buku cerita rakyat. Semua-semuanya aku baca. Dalam waktu singkat aku terdaftar sebagai anggota berbagai perpustakaan yang tersebar di seluruh pelosok kota.

Kapanpun dan dimanapun, saat ada waktu, aku membaca. Di sekolah, membaca. Di perpustakaan, membaca. Di taman, membaca. Di emperan jalan, membaca. Di mana-manapun, membaca.

Tapi itu juga sia-sia. Tidak ada satu jawaban pun kutemukan.

Jawaban justru muncul dari hal yang tidak kuduga-duga. Saat itu aku sedang berjalan-jalan di pusat kota. Siang itu ramai sekali. Di pinggir jalan banyak orang berjualan, pasar tumpah. Kebanyakan menjual barang-barang bekas dan rongsokan, tapi sedikit ke depan banyak pelukis jalanan yang memajang karyanya. Aku berjalan-jalan santai tak tentu tujuan. Lama-kelamaan terik matahari membuatku lelah.

Di ujung jalan, di bawah pohon trembesi, aku melihat ada tukang pangkas rambut yang sedang lowong. Selintas itu juga terbit gagasan untuk memangkas rambut sembari berteduh dari terik matahari. Aku lalu menghampiri bapak pemangkas rambut itu. Sedikit melirik, kulihat awan masih membuntutiku.

Aku duduk di kursi busa yang sudah kempes dan bocel-bocel. Bapak tukang pangkas berbasa-basi ala kadarnya sambil mengumbar senyum, ia menghamparkan kain kusam berwarna biru  di depan dadaku. Lalu kemudian ia menghadapkan cermin ke arah wajahku. Dan disitu lah saatnya.

Bayangan di cermin menatapku lekat-lekat dan ada sekilas momen canggung.

Saat itu juga aku mendapat jawabnya….

(Bersambung –mungkin)
Bandung, 14 Juni 2012
Andreas Cornelius Marbun

#5.3. Malaikat

Semalam aku memimpikan malaikat lagi
Sayap-sayap menghadang bibirnya
Dari tatapnya, berteka-teki
Dari geraknya, halus tak terbaca
dan cermin-cermin patah di lantai
Apakah jantungmu masih merasa?
Api hendak padam, berbias caya pelangi
kemudian seseorang pergi bersabda
Malaikat, malaikat, mengapa engkau berdiam diri?

Aku… gamang bertanya-tanya

#5.1. Sajak

Sudah pukul setengah dua lewat, sudah seharusnya saya tidur tapi tidak bisa. Selama berbaring, berbagai macam pikiran berseliweran dengan acak di kepala saya. Tentang ini dan tentang itu, tentang orang ini dan orang itu, dan lalu, dan lalu, dan lalu.

Kadang-kadang ketika sedang gusar atau tidak ada kerjaan, saya menulis sajak. Hasilnya bukan sesuatu yang luar biasa, cenderung rata-rata saja malah, tapi bagi saya sajak-sajak tersebut tetap ampuh untuk menyalurkan kegelisahan yang ada di benak saya.

Namun begitu, dari beberapa sajak yang pernah saya tulis hanya dua buah sajak yang dapat saya ingat di luar kepala–salah satunya adalah “Ode Untuk Bumi” yang pernah saya terbitkan disini. Sebabnya mungkin karena pada kedua sajak tersebut saya menambahkan melodi sehingga memori saya dapat dengan mudah mengingat kata per kata yang tertulis.

Ketika sedang berbaring tadi, saat pikiran acak berseliweran, sajak yang saya tulis semasa SMA ini–sajak selain “Ode Untuk Bumi” yang juga saya berikan melodi–jadi teringat begitu saja. Kalau dilihat sekarang, saya rasa sajak tersebut kini menjadi semacam potret kenang-kenangan dari masa lalu yang menangkap kelam jiwa saya.

Semenjak saya tidak bisa tidur dan sajak itu terlintas di kepala saya, saya pikir boleh juga saya tuliskan kembali dia disini.

Jadi ini dia, “Katasthrope.”

***

Tubuh tanpa roh...
melangkah dalam heningnya keramaian
Hadirnya sang putih di ambang belalak mata
Katasthrope yang tersenyum
Mencabut nafas, tercekat!
Melesak ke dalam kepala, meledak!
Menusuk jantung, mencabik!
Jatuh terhempas!
ke tanah berdebu
Seakan telah lama berlalu,
kembalikan sadar
ke dalam kelabu
tik... tok...
tik... tok...
tik... tok...
tik... tok...
suara...
detakan...
menggema...
melagu...

terhenti.

#5.0. Yang Digariskan

Bangkitlah, Anakku
Bukalah matamu
Kuberikan kepadamu
Hati yang lembut,
Pikiran yang bebas,
Jiwa yang haus,
juga paras yang elok

Segala yang kau butuhkan
Aku sertakan
Segala jalan yang kau lalui
Aku sertai

Aku, sang Maha, sendiri
yang akan mengajarimu
Kematian akan menggusarkanmu
Jiwa gundahmu akan membawamu berkelana
Tapi tidak sekali-kali akan ku biarkan
Maut mendekatimu

Namun, dengar, Anakku
Musuhmu, musuh yang kau hadapi sendiri
Cobaanmu, cobaan yang kau tempuh sendiri
Peperanganmu, peperangan yang kau menangkan sendiri

Lalu kau akan bertanya
dan mencari makna bahagia
Mencari dan terus mencari
akan kau lakukan
Tapi seperti Musa
yang memandang Tanah Perjanjian
dari atas Gunung Nebo
Seperti itulah engkau

Anakku, Anakku,
berdirilah tegak
dan lihatlah