.catatan mimpi.

chaos, order, mimpi, dan impian

Kategori: Mimpi dan Impian

#4.8. Dreamer

Now,the sound of the
Sunday morning coffee
spilling softly, softly

The early calling voice says
The sky is cloudy, cloudy

Barely inside a dream
Close the eyes 
and wait a little for the wind

Dreamer, dreamer
please get going quitely
You can see the sea
Passing the city to the hills 

Dreamer, dreamer
Always gathered memories
Sparking sparkling

The Sunday morning sunlight 
shining through at the distance
swaying, swaying

I thought I just heard 
the early calling
you love me, you love me

Upside down inside my chest
After counting memories,
there still remain

Dreamer, dreamer
Please get going quitely
The passing days will fade into memories

Dreamer, dreamer
Always gathered light
Sparking sparkling

(Spangle Call Lilli Line – Dreamer)

***

Bandung, 29 Oktober 2011, sebagian dari Arsitektur ITB 2007 telah menyelesaikan masa perkuliahannya. Saya percaya orang-orang ini adalah orang-orang yang memiliki kemampuan dan bisa pergi kemana pun mereka mau.

Sampai jumpa di hari-hari depan.

Iklan

Realita Fragmen

What is your life dream?” juru kamera menyorot seorang ibu yang memangku bayi kecilnya di sebuah terminal bus.

Mendengar pertanyaan itu, si ibu hanya tersenyum. Empat hari menjelang Tahun Baru Cina, terminal bus Shanghai menjadi sangat padat dan sibuk. Para perantau yang setahun penuh bekerja keras di Shanghai berbondong-bondong pulang ke kampung halaman masing-masing.

We are poor so we don’t have much hope,” ujar ibu itu sambil tetap tersenyum, “My husband didn’t go to school. Even how hard we try, we can never fulfill our dreams.

Our baby is our hope.

Kamera ganti menyorot si ayah yang berdiri karena tidak kebagian tempat duduk, “I hope she will contribute to the society.

If only I could provide her with education,” si ayah memandang bayinya, suaranya sedikit bergetar, “I want her to go to university, and get a job.

Ceracau #3

Optimistik. Rasanya seperti menemukan belahan jiwa yang selama ini dicari-cari. Arsitek itu memang harusnya punya gaya, bukan cuma manggut-manggut mau klien. Biar juga jadinya kontroversial, terserah, yang penting punya gaya. Elegan apa eksentrik, terserah, pokoknya punya pendirian dan terlihat memilikinya. Riset dan studi, saya mau belajar pola pikir beliau (mereka). Enam bulan katanya, moga-moga saya tahan dan benaran cocok. Ah, apalah, kirim lamaran saja belum, apalagi diterima? Terlalu jauh mengkhayal. Tapi kan suka-suka, lagi semangat-semangatnya. Kenapa semangat benar? Ya, itu tadi, karena rasanya menemukan belahan jiwa yang selama ini dicari-cari, menemukan tempat yang rasa-rasanya sesuai dengan preferensi diri. Optimistik! Tapi bisa saja cuma gara-gara habis minum kopi terus mabuk kafein berdebar-debar, deg-deg-deg-deg begitu (tertawa). Besok saya kesana. Dunia maya dan ke-instan-annya memberi kemudahan, tapi cara-cara lama yang merepotkan menunjukkan kesungguhan dan ketetapan hati. Tuhan tahu siapa yang sungguh-sungguh. Semoga saya.

#9. Tentang Mimpi dan Catatan Mimpi

Wah, kapan ya saya terakhir menulis mimpi saya disini? Tahu-tahu tempat ini sudah membentuk dirinya sendiri menjadi agak sedikit berbeda dari konsep awalnya. Akhir-akhir ini saya jarang bermimpi. Kalau pun bermimpi, saya tidak sempat mencatatnya atau bahkan tidak bisa mengingatnya. Jadi saya rasa sekarang disini saya mau menulis mimpi yang sudah agak lama saja.

Mimpi ini diambil dari buku jurnal hitam Andreas C. Marbun dengan penyesuaian seperlunya:

—————————————————————————————————————————–

Minggu, 16 Mei 2010
Bandung

 

Kemarin malam saya bermimpi. Saya berada di pulau Bali. Bukan Bali yang itu, yang penuh dengan turis dari mancanegara, tapi Bali yang lain. Bali yang lebih magis.

Saya melihat sebuah pegunungan di kejauhan. Gunung itu sangat tinggi hingga awan menutupinya. Di salah satu puncaknya, gunung itu membentuk profil wajah seorang lelaki yang memakai topi ksatria dalam cerita pewayangan. Saya rasa itu profil wajah dewa Wisnu.

Saat itu saya sedang berada dalam antrian di depan sebuah gedung. Antrian entah apa. Lalu saya melihat ke atas, menengadah melihat tampak gedung itu. Kemudian saya menyadari bayangan pada gedung itu bergerak cepat sekali. Seorang ibu yang berbaris di depan saya berkata kepada anaknya sambil menunjuk horizon, “Lihat, mataharinya sedang terbenam.

Benar saja, saya melihat matahari di langit Barat bergerak dengan kecepatan yang tidak biasa. Turun, seakan ingin cepat-cepat tenggelam dalam lautan. Matahari hilang, tapi masih tersisa cahaya. Cahaya yang agak redup, mungkin cahaya bulan.

***

Saya juga bertemu orang ini di mimpi. Kulitnya putih, tinggi, berambut ikal hitam panjang, wajahnya sedikit tirus, dan matanya kecil seperti orang Jepang. Dia mengenakan jas hitam panjang yang tidak dikancing, di dalamnya kemeja putih, bercelana bahan, dan bersepatu pantofel.

Awalnya dia terlihat seperti orang biasa. Tapi ternyata dia bisa membelah setengah batok kepalanya. Batok kepala yang terbelah itu juga memiliki wajah.

Setelah saya pikir-pikir lagi, penampakannya yang seperti itu harusnya terlihat menyeramkan (ditambah giginya yang tajam-tajam), tapi saya yang di mimpi tidak merasa takut.

Di mimpi itu, saya sedang melakukan suatu hal yang harus saya lakukan. Begitu lelaki yang terlihat seperti orang Jepang itu muncul dan menunjukkan batok kepalanya yang terbelah, saya sedang bersiap-siap menghadapi sesuatu.

Tapi tiba-tiba saya dibangunkan oleh Christin–adik perempuan saya. Dan pada akhirnya saya tidak dapat mengingat dengan jelas apa yang sedang saya lakukan di mimpi itu.

—————————————————————————————————————————–

#2.7. Retrospect

Dua hari menjelang pasar seni. Ternyata sudah empat tahun berlalu sejak masa-masa saya gemar mencorat-coret wajah dan gestur di buku sketsa. Empat tahun sejak saya mendengar kata pasar seni untuk pertama kalinya dan langsung bercita-cita untuk menjadi bagian di dalamnya suatu saat nanti.

Tapi ternyata, perjalanan ini membawa saya melewati persimpangan-persimpangan tidak dikenal dan membenturkan saya kepada gesekan-gesekan yang tidak terpahami. Hingga pada akhirnya saya berada disini, berdiri di tempat yang sama sekali tidak pernah saya imajinasikan sebelumnya.

Cita-cita saya empat tahun yang lalu itu kini sudah menguap entah kemana. Rasanya seperti mimpi samar-samar dari dunia yang jauh.

Wangi rumput terinjak yang bercampur dengan serpihan bilah-bilah bambu di lapangan besar yang saya lewati tadi membuat saya menyadari satu hal. Perjalanan ini adalah serentetan perubahan yang tidak akan pernah bisa kita mengerti dan sadari, kecuali kita mengambil waktu sejenak dari segala hiruk pikuk di sekitar kita untuk menengok ke belakang.

Dan karenanya saya bersyukur.

10 10 10

Hari Minggu ini akan menjadi sebuah peringatan, juga perayaan, bagi mimpi-mimpi yang tercecer dan jiwa-jiwa yang berevolusi.

Radio Is Not Enough

Project [Radio Is Not Enough] masih terus berjalan.

Karya terbaru saya bercerita tentang Bumi. Sedikit gambaran tentang lagu baru ini, suasananya mirip dengan lagu-lagu dari album [–] ditambah dengan nuansa tribal. Karena itu untuk pemanasan silakan dengarkan kembali lagu-lagu dari album pertama Radio Is Not Enough.

😀

#1.6. Radio Is Not Enough 11/11

Hari ini 11 November.

11/11

 

Ini tanggal yang penting buat saya. Bukan, bukan karena fenomena 11:11 yang sedang ramai dialami hampir seluruh penduduk dunia belakangan ini. Tanggal ini penting sebab, 11 November, satu tahun lalu, saya memulai tahap jelajah diri ke ranah yang baru, area buta yang belum saya kenal sama sekali, yaitu musik dan bebunyian.

Pada 11 November 2008, Project Radio Is Not Enough dimulai.

 

Project Radio Is Not Enough menjadi media baru saya untuk mengaktualisasikan diri. Sebuah catatan emosi, dan mungkin bahkan pemikiran, yang mengendap di dalam kepala saya secara tidak sadar. Radio Is Not Enough telah resmi menjadi perekam perkembangan emosi bawah sadar saya selama 325 hari ke belakang.

Jika saya tengok kembali langkah-langkah saya, ternyata banyak hal yang telah terjadi sejauh ini.

Pengakuan, penolakan, pencapaian, perspektif baru, pengalaman, kekecewaan, sakit hati, insight, musik-musik baru, teman-teman baru, kesombongan, kebodohan, keruntuhan, juga kebangkitan.

Musik adalah cerminan sekaligus pembentuk kepribadian. You are what you listen. Apa yang kita pilih untuk dengarkan merepresentasikan “wujud” diri kita yang sebenarnya, juga sekaligus membentuk respon dan pandangan diri terhadap dunia. Ini saya sadari ketika mendengarkan karya-karya saya, tidak ada yang lebih baik menceritakan seperti apa diri saya selain karya-karya saya.

 

Satu tahun, ratusan proses bolak-balik, dan delapan karya. Dan inilah mereka, buah-buah emosi terpendam yang sempat saya petik, dimulai dari yang paling awal:

1. Radio Is Not Enough [1:51]

Saat-saat pertama saya berkenalan dengan media baru ini. Di dalamnya terekam chaos dan ketidakteraturan singkat.

2. Catatan Mimpi [2:48]

Saya memulainya dengan mencari bebunyian yang menarik perhatian saya, kemudian memberikan pola-pola dan mengkomposisikannya sedemikian rupa. Ketika itu saya cukup sering mengalami mimpi-mimpi absurd (yang menarik), mungkin ingatan samar-samar tentang mimpi-mimpi itu yang menjadi dasar terbentuknya “Catatan Mimpi”. (Referensi yang didengar saat itu: Tinkerwish oleh Santamonica.)

3. A Poetic Solitary [2:25]

Kesendirian. Tapi bukan kesendirian yang menyedihkan, bukan kesendirian yang melemahkan. Kesendirian disini adalah kesendirian yang perlu dinikmati, karena saat itulah muncul kesempatan yang sangat sering kita lewatkan, yaitu berdialog dengan diri sendiri.

4. Off We Go To Nightmareland [6:07]

Penjelajahan saya ke dunia mimpi buruk dan sudut-sudut ketakutan. Bisikan-bisikan, teriakan-terikan, suara-suara menggigil, statik radio, dan tekanan dari entah apa. Salah satu favorit saya, tapi juga yang paling memusingkan saat pembuatannya (sampai pengen muntah <—ini literal, lho).

5. Hujan, Mimpi, dan Ruang Angkasa [3:18]

Saya ingin kekacauan! Sesuatu yang kasar. Dengan rumusan [gebrak-break down-naik-cooling down], tingkat kekasaran moderat, dan beat cukup cepat, terciptalah “Hujan, Mimpi, dan Ruang Angkasa”.

6. A Talk With A Girl From Another Time [3:43]

Dalam pembuatan lagu-lagu sebelumnya, saya membuat pattern-pattern yang kemudian dikomposisikan, tapi di lagu ini saya mencoba cara yang berbeda. Yaitu dengan merekamnya langsung. Lagu ini 100% dibuat hanya dengan menekan-nekan keyboard komputer.

7. Why Did You Come To My Dream Last Night? [4:05]

Benang merah paruh pertama Radio Is Not Enough adalah mimpi. Dan karya ini adalah penutup dari paruh pertama itu. Terus-menerus bicara tentang mimpi tentu akan membosankan, bukan? (Referensi yang didengar saat itu: kelompok-kelompok musik postrock/soundscape seperti Sigur Ros, Olafur Arnalds dan L’Alphalpha, dan mungkin Efek Rumah Kaca juga).

8. On The Edge Of Thursday [3:05]

Lagi-lagi saya ingin kekacauan! Dan terjadilah chaos yang terkendali disini. Saya memadukan dua metode yang ada di FL dalam pembuatan lagu ini, pattern dan recording. Hal yang menjadi ide dari “On The Edge Of Thursday” adalah kekalutan yang sering terjadi saat pengumpulan tugas studio perancangan tiap hari Kamis. (Referensi yang didengar saat itu: kelompok-kelompok musik shoegaze seperti Asobi Seksu dan Paraparanoid, dan juga Mew).

 

Sejauh ini Radio Is Not Enough sudah cukup berhasil menjalankan fungsinya sebagai media jelajah diri. Sekarang, untuk tahun kedua, muncul pertanyaan, apakah menjadikan Radio Is Not Enough sebagai media ekspresi pribadi saja sudah cukup?

Seharusnya tidak.

Radio Is Not Enough seharusnya tidak berhenti dan stagnan di titik ini. Radio Is Not Enough harus berubah dan berevolusi ke tahap selanjutnya. Sejauh apa perubahan yang harus terjadi? Saya tidak tau, saat ini tidak ada yang bisa menjawab.

Tapi yang jelas, perubahan itu pasti.

Sekecil apapun itu.

 RINE

Rabu, 11 November 2009 Andreas Cornelius Marbun

http://www.myspace.com/radioisnotenough

 

[–] Radio is not Enough. Free Download

Radio is not Enough FREE DOWNLOAD!


Album ini terdiri dari lima buah track elektronik-eksperimental. Bercerita tentang perjalanan seorang penyair dalam pencariannya mencari seorang gadis yang muncul terus-menerus dalam mimpinya. Silakan didownload. Selamat menikmati, dan semoga suka 🙂

Link untuk download: http://www.4shared.com/file/124959991/4e07b65f/radio_is_not_enough_-_–_EP.html

Myspace URL: http://www.myspace.com/radioisnotenough

#3. Audible

Salah satu mimpi saya, mungkin dalam hal ini lebih tepat dibilang impian, adalah bisa bermain dengan suara-suara lewat komputer. Dan mulai saat ini saya mau lebih masuk ke dalam mimpi saya yang satu itu. Bukan karena ingin jadi penata lagu, atau jadi pemain musik, atau apapun. Saat ini saya hanya ingin menyalurkan sesuatu yang ada di dalam kepala saya, yang berusaha mendesak keluar. Melesak mencari kepuasan diri. Untuk itu saya butuh media, saya mencari media. Dan jalan menuju media baru, auditori, sekarang sedang mampir di depan saya.

 

Seumpama kereta api yang sampai di stasiun tempat saya menunggu. Pintu kereta api tidak akan terus terbuka. Suatu saat kereta itu akan berjalan, pergi meninggalkan saya di belakangnya. Untuk itu tidak ada waktu untuk ragu, tidak ada waktu untuk takut. Stasiun yang nyaman ini pun suatu saat akan menjadi membosankan. Saya harus melompat! Sebelum pintu kereta api tertutup.

 

Pergi. Pergi menuju media baru.

 

Saya sedang mulai mempelajari salah satu software penata bebunyian. Hari ini harusnya saya mengerjakan tugas kuliah Rancangan Visual. Tapi, berkutat di depan komputer lah yang saya lakukan sepanjang hari. Dua alunan sepanjang satu dan dua telah keluar dari kepala saya. Belum sempurna, memang. Itu yang disebut awal.

 

Saat ini saya masih berada di ruang jeda mimpi-sadar. Semoga mimpi ini bisa segera bertransformasi menjadi sadar.

 

Dan nyata.

 

 

 

(Bandung, 10 November 2008. Dini hari)

 

 

 

 

UPDATE

 

Silakan kunjungi http://www.myspace.com/radioisnotenough kalau ada waktu senggang, hehe.

#1. Cesarina

The rain is gonna fall on…

The rain is gonna fall on us…

The rain is gonna fall on…

The rain is gonna fall on us…

Into the fine hall,

desperately trying to run

On my second thought,

Cesarina

Inhalling your hair scent

And it almost the time it comes…

The rain is gonna fall on…

The rain is gonna fall on us…

The rain is gonna fall on…

The rain is gonna fall on us…

The rain is gonna fall on…

The rain is gonna fall on us…

The rain is gonna fall on…

The rain is gonna fall on…

Us… Us… Us…

The overwhelming scent reach me,

Oh… Ohh…

And I just couldn’t resist to…

Kill… Kill… Kill… Kill… Kill… Kill…

Hari itu hujan turun rintik-rintik. Udara dingin datang menyeruak bersama hujan. Membawa suasana ringan yang nyaman ke dalam studio gambar. Nyaman, juga mengantukkan. Saya mengambil jaket yang saya gantungkan disebelah saya. Jaket berwarna hijau, yang saya tidak tau pasti hijau apa namanya, hijau gelap yang kebiru-biruan, hadiah ulang tahun dari dia. Saya mengenakan jaket itu untuk melapisi badan saya yang kurus. Bahannya cukup efektif untuk melawan udara dingin yang tiba-tiba datang ini, hangat, yah, walaupun ukurannya sedikit kebesaran sih.

Saya sedang mengerjakan tugas desain di studio gambar lantai 4 gedung arsitektur. Memeras otak dan wawasan untuk menemukan beberapa alternatif sketsa desain yang akan diajukan saat asistensi dengan dosen pembimbing saya, yang suka datang seenaknya saat saya sedang serius-seriusnya bekerja dan justru tidak kelihatan ujung kacamatanya sama sekali saat dibutuhkan sarannya. Sudah tiga setengah jam saya duduk di depan meja gambar, namun sedari pagi sampai saat ini belum ada satu pun ide saya yang menarik. Semuanya monoton, biasa, dan membosankan. Kadang saya jadi ragu, apa saya benar-benar punya bakat mendesain itu di darah saya?

“I-ini t’rlalu berlebihan,” kata dosen berkacamata itu kali waktu, barangkali getaran-getaran elektrik di otaknya bergerak begitu cepatnya sehingga lidahnya sulit menangkap kata-kata yang dirangkai di dalamnya, membuat gaya bicaranya kadang-kadang sedikit tergagap seperti itu, ”Kalau hujan d-dari sebelah sini, ini bagaimana?”

Saya hanya mengangguk dan menerima desain saya dikritik, atau dibantai? Padahal sudah seharian saya membuat desain itu dalam bentuk maket.

“Kalau mau kreatif nanti, sekarang yang penting benar dulu. Ta-tapi kamu nggak terlalu parah, ma-masih ada yang lebih berlebihan daripada kamu,” ujarnya seraya berjalan pergi, ”K-kamu boleh terus berusaha, tapi ingat waktunya sempit”.

Saya melengos waktu itu. Saya tidak berusaha untuk kreatif, dan jelas-jelas desain tadi bukanlah sebuah desain yang kreatif. Saya hanya tidak ingin membuat desain yang membosankan. Tapi itu pun masih ada yang lebih daripada saya. Simple dan kreatif bukan, tapi eksploratif juga tidak terlalu. Mengecewakan bukan?

Hujan yang rintik-rintik tiba-tiba menderas. Angin dari luar bertiup kencang melalui jendela besar yang letaknya tiga meter di samping kiri saya. Kebetulan tidak ada yang duduk di samping saya untuk mengurangi laju angin yang menghampiri saya itu. Tapi saya menikmatinya, tiupan angin yang dingin itu. Mereka masuk dengan senang ke dalam studio, menghembus-hembus dan berputar di dalamnya, mengajak kertas-kertas di atas meja menari. Beberapa teman berteriak-teriak saat kertas-kertasnya berterbangan. Tapi angin-angin malah makin keasyikan bersenang-senang. Saya tersenyum sendiri.

Saya bangun dari tempat duduk saya. Kombinasi angin dingin dan kondisi lack of idea ini membuat mata saya berat. Saya menguap lebar sambil melenturkan badan yang kaku karena berjam-jam duduk mencorat-coret kertas dalam posisi yang sama.

Ahh, rasanya saya butuh kopi.

Saya mengambil payung biru saya dari tas dan berjalan keluar dari studio menuju lift. Tapi karena dalam rangka penghematan energi, hanya satu dari dua lift yang difungsikan, yang kelihatannya bakal membuat saya menunggu cukup lama. Jadi saya memutuskan untuk turun lewat tangga, lagipula lebih banyak pemandangan yang bisa dilihat kalau turun lewat tangga. Air hujan yang jatuh ke atap sirap mencipta irama yang menyenangkan, yang tak lama kemudian, seolah ada dirigen yang memberi aba-aba descresendo, hujan pun mereda sedikit demi sedikit menjadi rintik-rintik lagi. Menjadi irama yang lebih santai. Saya sampai di lantai satu. Biasanya untuk ke kantin Bang Ed saya bisa langsung memotong dari galeri arsitektur, jadi saya tidak perlu memutar dari luar gedung, tapi hari ini sedang ada pameran di situ sehingga jalur ke kantin Bang Ed ditutup. Di luar dinginnya angin lebih menusuk. Saya menaikkan ritsleting jaket sampai dada. Saya buka payung saya dan berjalan menyusuri sisi gedung arsitektur, lewat di depan gedung seni rupa.

Saya selalu suka mencuri-curi pandang ketika lewat di depan gedung seni rupa. Ada sesuatu yang menarik di situ, entah hasil karya-karya anak seni rupa yang suka digeletakkan begitu saja di lorong-lorongnya, entah lapangan merah di tengahnya yang beberapa kali saya lihat digunakan untuk panggung, atau hanya sekedar mahasiswa-mahasiswanya dengan dandanannya yang kadang bikin geleng-geleng kepala sampai tersenyum. Namun, yang saya lihat kali ini disitu, adalah dia. Dia yang memberikan saya jaket ini. Dia yang bernama Cesarina. Saya berhenti sejenak. Saya melihat rambut lurusnya yang hitam legam tergerai sampai punggung, menutupi jaket hitam yang dia pakai dengan rok bermotif batik. Di depannya ada seseorang, laki-laki, mungkin seniornya di seni rupa. Sementara itu di tangannya ada semacam kostum. Kelihatannya Cesarina sedang membicarakan masalah kostum untuk acara wisuda bulan depan. Beberapa lama saya berdiri disana hanya untuk mengapresiasi gestur tubuh Cesarina dari belakang, gerakan-gerakan kecil yang anggun, pikir saya. Tetesan dari payung mengenai wajah saya, memecah lamunan saya. Lalu saya berjalan lagi ke kantin Bang Ed, kemudian membeli kopi kaleng yang berwarna biru. Disana sebentar, minum kopi sambil melihat kertas-kertas yang ditempel di pintu kantin. Ada satu poster festival musik, satu poster bertuliskan “Dijual meja gambar Mutoh”, dan beberapa poster kehilangan barang.

Setelah itu saya keluar, melewati gedung seni rupa lagi. Mencuri pandang lagi. Dan saya terkejut dengan apa yang saya lihat. Di tengah-tengah lapangan merah, di depan barisan batu pahatan yang tigaperempat bagian atasnya dipahat hingga runcing, berdiri Cesarina. Sendiri, di tengah hujan. Saya langsung berlari masuk ke gedung seni rupa, menghampiri dia yang ada di tengah lapangan merah.

“Cesarina!” panggil saya, ”Kamu ngapain disini hujan-hujanan begini?”

Saya payungi dia. Saya tatap dia, yang hanya diam memaku matanya ke barisan batu-batu runcing di depannya.

“Hei, Cesarina?”

“Bagaimana menurut kamu,” dia bicara, tanpa mengalihkan pandangannya, ”batu-batu pahatan ini?”

“Ehh?”

“Bagaimana ya rasanya waktu mereka… dipukul-pukul, dihancurkan, dan diretakkan… hingga menjadi seperti ini?”

Saya diam, tidak tahu mau merespon bagaimana.

“Manusia memang suka seenaknya,” dia melanjutkan, ”seandainya batu-batu ini bisa bicara dan berontak, apa mereka mau diperlakukan seperti ini?”

“Emm…,” saya mencoba menjawab, ”tapi coba kamu lihat, dengan dipahat seperti ini, batu-batu ini bukan hanya jadi batu biasa yang teronggok begitu saja di pinggir jalan, kan? Lihat bentuknya sekarang, justru dengan pahatan-pahatan yang berkesan kasar dan berujung runcing begini, jadi ada sebuah nilai estetis yang membuatnya jadi lebih indah….”

“Dan mematikan,” tiba-tiba dia memotong, memandang saya dan menancapkan tatapannya di mata saya, ”Siapapun yang terjatuh ke atasnya akan tertusuk… dan mati.”

Saya terdiam. Beberapa detik wajahnya menghadap saya. Kemudian dia menunduk, menatap ujung sepatunya.

“Seperti halnya hidup kita.”

“….”

Kami berdiri diam berdua disana. Otak saya seperti terhambat. Lidah saya seolah beku oleh udara yang terasa jadi semakin dingin. Tidak ada kata-kata yang bisa memecah batu yang sekarang ada ditengah-tengah saya dan dia. Cuma air hujan yang tetap bernyanyi di sekeliling keheningan ini. Hidup mempertemukan kami berdua, memahatnya sedemikian rupa, hanya untuk menyadarkan kami bahwa kami tidak akan bisa bersama. Detik demi detik, semuanya makin terasa dingin. Bukan karena angin yang berlari-lari, tapi karena hidup sedang memahat kami saat ini juga. Hujan… telah turun diantara kami.

“Kak,” dia memegang tangan saya, ”ikut saya.”

Dia menarik tangan saya. Saya menjatuhkan payung biru yang dari tadi memayungi kami, meninggalkannya di depan batu-batu pahatan yang cuma bisa diam.

Cesarina membawa saya menaiki tangga gedung seni rupa. Satu kali, dua kali, tiga kali. Melewati lorong sepi yang dipadati kanvas-kanvas besar berserakan yang berlukiskan potret-potret wajah. Wajah-wajah mati yang menatap kosong kepada kami yang melewatinya. Lorong demi lorong. Hingga akhirnya kami sampai di depan sebuah pintu kayu yang kelihatan cukup tua. Cesarina meraih gagangnya, memutarnya. Kami masuk ke sebuah ruang kecil dengan lampu-lampu kuning temaram. Banyak dus bertumpuk-tumpuk tidak teratur. Wangi cat minyak melayang-layang tipis di udara. Beberapa kanvas tergeletak di lantai dan beberapa patung tanah liat menempel di dinding, empat-lima buah boneka kayu menggantung di langit-langit, bergoyang-goyang seakan gusar karena kedatangan kami. Saya terkesima dengan ruangan temaram ini.

Lalu tiba-tiba Cesarina memeluk saya dari belakang. Gerakannya yang tiba-tiba mendorong saya hingga terpepet ke dinding.

“Kakak,” saya membalikan badan, balik merangkulnya dan mengusap-usap kepalanya yang sedikit basah, “ada yang mau saya tunjukkan.”

“Apa itu?”

Dia mengendurkan pelukannya dan merogoh kantongnya. Lalu dia mengeluarkan sebuah peniti. Sebuah peniti kecil dengan bercak kuning di jarumnya.

“Cesarina, ini….”

“Kakak tau kan peniti ini?” dia merangkul saya erat, ”Peniti ini… banyak yang sudah saya lalui dengan peniti ini. Peniti ini adalah emosi saya. Kesedihan saya… kemurungan saya… kebahagiaan saya…. Dia selalu ada di situ bersama saya saat saya melalui segala macam emosi itu.

“Peniti ini yang menjadi pintu saya untuk membebaskan saya dari segala macam emosi yang memenuhi saya, yang membebaskan saya ketika saya ingin pecah saat tubuh ini tidak sanggup lagi memendam semua perasaan dan emosi itu.”

Tidak mungkin saya melupakan peniti itu. Peniti itu, bagi saya justru merupakan pintu menuju kenangan-kenangan buruk yang saya lalui bersama Cesarina. Tidak, tidak mungkin. Saya kira Cesarina sudah membuang peniti itu jauh-jauh.

“Tapi, Cesa….”

“Ssshh…,” Cesarina menahan saya bicara, ”Peniti ini… juga sudah saya anggap bagian dari diri saya. Peniti ini adalah saya… dan saya adalah peniti ini…”

Saya mulai merasa ada yang tidak beres. Ada sesuatu dengan Cesarina, ini tidak seperti Cesarina yang biasanya. Namun, dia mempererat pelukannya. Saya bisa merasakan hangat tubuhnya yang basah kuyup. Saya juga bisa mencium wangi lembut rambutnya dengan jelas. Membuat saya menjadi terbius dan hanya bisa mendengarnya berkata-kata.

“Sekarang,” dia melepas pelukannya lalu membuka ujung peniti itu, membiarkan jarumnya bebas, ”saya ingin… Kakak menjadi bagian dari diri saya juga.”

“Kakak lihat bercak kuning di ujung jarum peniti ini?” Cesarina melanjutkan, “pertama-tama, kakak sentuh bercak kuning itu….”

Saya tidak mengerti, saya tidak mengerti apa yang sedang terjadi. Tapi yang saya tahu ada sesuatu yang membuat Cesarina terlihat begitu sedih dan tertekan. Saya tidak tahu apa itu. Tapi jika dengan menyentuh bercak kuning itu dapat mengangkat sedikit beban yang memenuhi dirinya, saya akan melakukannya. Lalu saya menyentuh bercak kuning itu….

………………..

…………….

…………

……..

…..

Tidak terjadi apa-apa.

“Lalu setelah itu apa, Cesarina?”

“Setelah itu…,” Cesarina membenamkan wajahnya di dada saya.

“Setelah itu…,” ujarnya lirih. Dia mulai terisak. Menangis.

“Cesarina?” saya langsung merangkul dia, membelai-belai kepalanya, “Setelah itu apa, Cesarina? Ada apa?”

Tiba-tiba dari pintu terdengar suara ketukan.

Tok Tok Tok Tok Tok

Namun Cesarina tetap berdiri diam dengan tubuhnya yang gemetar karena tangis.

“Setelah itu…,” katanya lagi, dengan suara yang parau.

Tok Tok Tok Tok Tok

“Setelah itu……..,” suara pintu terus diketuk.

“Ayo kita mati sama-sama.”

……………………

……………………

……………………

Entah bagaimana. Tiba-tiba muncul sensasi hangat dari perut saya yang disertai dengan rasa nyeri yang pedih. Sensasi hangat itu pelan-pelan merayap menjalari seluruh tubuh saya. Melumpuhkan. Kemudian, tubuh saya seolah dijalari listrik yang memancar-mancar.

Suara ketukan pintu perlahan-lahan memudar….

Menjauh…. jauh……… jauhh………….

Suara isakan tangis Cesarina membanjiri kepala saya…..

Lambat laun….. Terdengar……

Seperti nyanyian hujan…….. Hujan yang jatuh ke bumi………

Lalu…….. Makin deras…………

Dan wangi lembut rambutnya…..

Menemani saya……

Pergi………………….

Jauh……………………

…………………………..

…………………………….

………………………….

……………………….

…………………….

Menghilang.

Jiwa ini tak ingin melihat dirimu menangis

Jiwa ini tak ingin melihat dirimu meratap

Tapi diriku…

tak bisa mendekat

Temani sepimu…

selamanya

Hanya menanti…

Dirimu…

tuk satu dalam abadi

Syu syu syu syu du du du du du du du du du

Syu syu syu syu du du du du du du du du du

Hanya menanti…

Dirimu…

tuk satu…

Hanya menanti…

Dirimu…

tuk satu…

dalam keabadian.

(Jakarta, 4 Oktober 2008. 22.13)