.catatan mimpi.

chaos, order, mimpi, dan impian

Kategori: Chaos

#6.5. Belantara

Di bawah naungan gemintang
dan cemas satu masa
tunas bertumbuh, derap berlalu
Segala yang melintas, namun tak menyintas
kerap hilang di belantara

Pun dalam rengkuhan
tanya akan arti
bergumul lekat mencari abadi
terhilang dalam, ke rahim misteri
kadang arah,
tenggelam di belantara

Maka ketika gemintang mulai bersaksi
Maka sesekali, dengarkanlah kesenyapan,
ungkapkanlah kebisuan,
Maka sesekali… nikmatilah lara
Karena ketika itu
‘ku dapat lihat wajahmu
terbias cahaya
pada tujuh warna pelangi

(Bandung, 6 Desember 2013)

Iklan

#6.4. Orang Ribut

Orang ribut rebut harta
Orang ribut sikut agama
Orang ribut karena fitna
Orang ribut selamatkan muka

Orang ribut tolak gusur
Orang ribut tolak usul
Orang ribut di usang mimbar
Orang ribut di lampu merah

Orang ribut demi takhta
Orang ribut minta sorot
Orang ribut lagak berida
Orang ribut bersengkarut

Orang ribut, orang ribut
Angin ribut… tumpas yang fana

Surivor in Tacloban walks among the debris after Typhoon Haiyan

(Sumber foto: http://www.theguardian.com/world/2013/nov/11/typhoon-haiyan-city-tacloban1?CMP=twt_gu)

#5.9. Satu Jenak

Seorang Lelaki terhenyak
detak waktu Sang Tuan Besar
ini kali berikannya satu jenak

Begini sabdanya:
“Engkau idamkan kemerdekaan
ini kusematkan satu jenak
Ingat! Cukup satu jenak!”
Maka pelanlah langkah-langkah Lelaki
beringsut-ingsut lalu berhenti

satu, dua, tiga…. seperduapuluh jenak

“Apa yang terjadi?” bisiknya
Seketika celiklah dia punya sanubari
bahwa nyeri sebelah kakinya
bahwa debu dan sarang laba di kepalanya
bahwa lumpur di wajahnya
bahwa batu di jantungnya
bahwa… bahwa…

satu, dua, tiga…. sepersepuluh jenak

Belati itu ia tikam di dadanya
menghambur keluar daripadanya
pasir yang tak terbendung limpahnya
sejumlah jatuh di atas kaki
sejumlah naik tertiup angin
selayaknya hal yang sia-sia

satu, dua, tiga…. seperlima jenak

“Mengapa? Mengapa?” bisiknya
Ia gali dadanya dalam-dalam
ia temukan batu jantungnya dan genggam erat
tak lagi hangat, tak lagi bertalu
tak lagi padanya berisyarat

Satu waktu dahulu membawanya berlari
Satu waktu kini menjadi beban tersembunyi
“Mengapa? Mengapa?”

satu, dua, tiga…. satu jenak

Dentang lonceng membawa
sabda Sang Tuan Besar berkata:
“Engkau idamkan kemerdekaan
Namun ketahuilah!
Merdeka adalah teka-teki
yang belum kau tuntaskan!”

***
(Bandung, 26 Mei 2013)

Bertanya Tidak Membuatmu Mati, Hanya Terlihat Sedikit Bodoh #5

Kehidupan memang sejatinya penuh ketimpangan. Beberapa malam yang lalu saya mendengar cerita dari seorang kawan tentang teman yang bekerja di perusahaan T. Selama sekitar sebulan belakangan, teman yang bekerja di perusahaan T ini datang ke kantor tanpa perlu mengerjakan apa-apa karena sedang menunggu keputusan mutasi dari para petinggi perusahaan. Namun, lucunya, teman saya ini tetap mendapatkan bayaran penuh walaupun tidak melakukan pekerjaan yang signifikan. Bahkan ia bisa memakai waktunya untuk pelesiran ke luar negeri.

Sementara di lain sisi, tempo hari di sebuah tayangan televisi, saya menyaksikan seorang kepala sekolah di daerah pinggiran kota mesti bekerja sambilan sebagai pemulung untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Sungguh ketimpangan yang amat mencolok.

Mengetahui hal ini, sebuah pertanyaan yang terpendam di benak pun kembali muncul ke permukaan. Mungkinkah–seperti halnya perbedaan tekanan udara yang membuat angin bertiup–ketimpangan dalam kehidupanlah yang sesungguhnya membuat peradaban bergerak dan dunia berputar?

s e l a

#5.3. Malaikat

Semalam aku memimpikan malaikat lagi
Sayap-sayap menghadang bibirnya
Dari tatapnya, berteka-teki
Dari geraknya, halus tak terbaca
dan cermin-cermin patah di lantai
Apakah jantungmu masih merasa?
Api hendak padam, berbias caya pelangi
kemudian seseorang pergi bersabda
Malaikat, malaikat, mengapa engkau berdiam diri?

Aku… gamang bertanya-tanya

#5.1. Sajak

Sudah pukul setengah dua lewat, sudah seharusnya saya tidur tapi tidak bisa. Selama berbaring, berbagai macam pikiran berseliweran dengan acak di kepala saya. Tentang ini dan tentang itu, tentang orang ini dan orang itu, dan lalu, dan lalu, dan lalu.

Kadang-kadang ketika sedang gusar atau tidak ada kerjaan, saya menulis sajak. Hasilnya bukan sesuatu yang luar biasa, cenderung rata-rata saja malah, tapi bagi saya sajak-sajak tersebut tetap ampuh untuk menyalurkan kegelisahan yang ada di benak saya.

Namun begitu, dari beberapa sajak yang pernah saya tulis hanya dua buah sajak yang dapat saya ingat di luar kepala–salah satunya adalah “Ode Untuk Bumi” yang pernah saya terbitkan disini. Sebabnya mungkin karena pada kedua sajak tersebut saya menambahkan melodi sehingga memori saya dapat dengan mudah mengingat kata per kata yang tertulis.

Ketika sedang berbaring tadi, saat pikiran acak berseliweran, sajak yang saya tulis semasa SMA ini–sajak selain “Ode Untuk Bumi” yang juga saya berikan melodi–jadi teringat begitu saja. Kalau dilihat sekarang, saya rasa sajak tersebut kini menjadi semacam potret kenang-kenangan dari masa lalu yang menangkap kelam jiwa saya.

Semenjak saya tidak bisa tidur dan sajak itu terlintas di kepala saya, saya pikir boleh juga saya tuliskan kembali dia disini.

Jadi ini dia, “Katasthrope.”

***

Tubuh tanpa roh...
melangkah dalam heningnya keramaian
Hadirnya sang putih di ambang belalak mata
Katasthrope yang tersenyum
Mencabut nafas, tercekat!
Melesak ke dalam kepala, meledak!
Menusuk jantung, mencabik!
Jatuh terhempas!
ke tanah berdebu
Seakan telah lama berlalu,
kembalikan sadar
ke dalam kelabu
tik... tok...
tik... tok...
tik... tok...
tik... tok...
suara...
detakan...
menggema...
melagu...

terhenti.

#5.0. Yang Digariskan

Bangkitlah, Anakku
Bukalah matamu
Kuberikan kepadamu
Hati yang lembut,
Pikiran yang bebas,
Jiwa yang haus,
juga paras yang elok

Segala yang kau butuhkan
Aku sertakan
Segala jalan yang kau lalui
Aku sertai

Aku, sang Maha, sendiri
yang akan mengajarimu
Kematian akan menggusarkanmu
Jiwa gundahmu akan membawamu berkelana
Tapi tidak sekali-kali akan ku biarkan
Maut mendekatimu

Namun, dengar, Anakku
Musuhmu, musuh yang kau hadapi sendiri
Cobaanmu, cobaan yang kau tempuh sendiri
Peperanganmu, peperangan yang kau menangkan sendiri

Lalu kau akan bertanya
dan mencari makna bahagia
Mencari dan terus mencari
akan kau lakukan
Tapi seperti Musa
yang memandang Tanah Perjanjian
dari atas Gunung Nebo
Seperti itulah engkau

Anakku, Anakku,
berdirilah tegak
dan lihatlah

#4.0. Benteng

“Dia MATI!
Dendam terbalaskan!
Keadilan sudah ditegakkan!
Kita menang!”

Ribuan orang turun ke jalan
Berpesta dan merayakan
Senyum merekah meruah
Sorak-sorai penuh kemenangan

“Kita MENANG!”

Mereka menang,
Mereka pikir

Tapi sebenarnya tidak
Sama sekali tidak
Mereka kalah

Oleh kebencian

***

Osama bin Laden dikabarkan tewas tertembak. Peluru menembus mata kirinya. Saya dapat dengan mudah membayangkannya, hanya dalam sekedipan mata sejarah pribadi Osama bin Laden terhenti. Tidak ada masa lalu, masa kini, dan masa depan yang tersisa untuknya. Satu eksistensi dihapus dari muka bumi. Tidak-Ada-Lagi.

Siapapun subjeknya, berapa pun jumlahnya, kematian manusia itu tragedi. Semua manusia yang punya akal dan punya nyawa harusnya tau itu. Tapi yang terjadi malah: ribuan orang merayakan lenyapnya eksistensi sebuah nyawa. Absurd.

Baik, dia memang bertanggungjawab atas lenyapnya eksistensi manusia-manusia lain. Lantas? Apakah itu menjadi alasan yang pantas untuk berbahagia di atas kematian? Satu-satunya yang dipuaskan disini adalah rasa dendam.

Oh, manusia-manusia modern,
kemana perginya nalar dan rasa kemanusiaan?

#3.7. The Things That Keep You Lie Awake

Oranges,
sweet and sour,
and some fine books,
some strange music,
images of, and the way she talks,
and the lingering feeling,
and the uncertainty of
the days ahead,

in the stillness
of the night.

Bertanya Tidak Membuatmu Mati, Hanya Terlihat Sedikit Bodoh #4

Tanpa penderitaan dan penindasan, akan adakah orang-orang yang berdiri dan mencari kebenaran? Akan adakah orang-orang yang tercerahkan? Penderitaan dan penindasan lah yang melahirkan orang-orang ini, orang-orang yang mendahului zamannya untuk membawa perubahan.

Namun, sungguh adakah perubahan yang terjadi? Tidak peduli seberapa kerasnya pergolakan orang-orang yang membawa perubahan, penderitaan dan penindasan masih tetap ada, dari dahulu hingga saat ini. Orang-orang miskin, peperangan, penyelewengan, semua itu masih tetap ada dari awal peradaban hingga detik ini.

“Tak satupun ‘revolusi’ yang masuk ke jantung sumber kesengsaraan masyarakat yang sesungguhnya.”

Lalu sebenarnya untuk apakah segala pergulatan ini?

Kenapa sejarah penindasan terus berulang?

Kenapa orang-orang yang menderita tidak ada habisnya?

Bisakah satu orang mengakhiri penderitaan seluruh dunia?

Apakah memang jalan menuju pembebasan adalah perjalanan pribadi yang masing-masing lalui sendiri?

Apa sebenarnya jantung sumber kesengsaraan masyarakat yang sesungguhnya?

s e l a