#6. 8. Buah Pikir Malam Ini No.4

Dirgahayu RI ke 70. Untuk memperingati hari kemerdekaan, saya mau membagikan catatan pendek yang saya tulis dua tahun lalu sehabis membaca sebuah buku, catatan ini ditambahi sedikit opini tentang harapan untuk Indonesia. Sekali lagi, selamat 17 Agustus!

***

Bandung. 21:12.

Dalam bukunya yang berjudul “The Clash of Civilizations,” Samuel Huntington menjabarkan bahwa pasca runtuhnya komunisme Soviet dan berakhirnya perang dingin, bangsa-bangsa dunia akan kembali kepada nilai-nilai dan peradaban lokal sebagai bentuk pendefinisian identitas. Menurut Huntington, fenomena ini berpotensi besar akan menyebabkan benturan peradaban.

Ada tiga peradaban besar yang ia soroti, antara lain: peradaban Barat, peradaban Sinic (China), dan peradaban Islam. Sejalan dengan modernisasi global, pelan-pelan hegemoni peradaban Barat akan menyurut dan dominasinya akan diimbangi oleh peradaban-peradaban lain.

Salah satu konsep menarik yang Huntington cetuskan adalah konsep “Core State.” Core state adalah negara yang berperan sebagai acuan bagi negara-negara lain yang berada dalam satu kelompok peradaban dengannya. Contohnya: Amerika Serikat di Amerika Utara dan Jerman-Perancis di Eropa merupakan core state bagi peradaban Barat, dan Republik Rakyat China merupakan core state bagi negara-negara dalam kelompok peradaban Sinic (seperti Singapura dan Taiwan). Keberadaan core state sangatlah penting karena pengaruhnya diharapkan dapat memoderatori kepentingan negara-negara yang berada dalam kelompok peradabannya.

Huntington menyoroti bahwa, dalam kasus Islam, walaupun jumlah populasinya semakin meningkat namun sejauh ini belum muncul negara yang mampu menjadi core state. Absennya core state menyebabkan konflik internal dalam kelompok peradaban Islam sulit diselesaikan. Dari waktu ke waktu ada enam negara yang memiliki potensi untuk menjadi core state bagi peradaban Islam; Mesir, Arab Saudi, Iran, Turki, Pakistan, dan Indonesia. Namun, dari keenam negara tersebut tidak ada yang benar-benar tepat.

Suatu negara dianggap sesuai untuk menjadi core state apabila ia memiliki jumlah populasi yang besar, perekonomian yang kuat, serta kemampuan militer. Mesir dan Pakistan tidak memiliki kekuatan ekonomi yang stabil, Arab Saudi tidak memenuhi prasyarat jumlah populasi (di samping kebergantungannya pada dunia Barat atas alasan keamanan), Turki memiliki sumberdaya dan kekuatan ekonomi namun secara sadar tidak memprioritaskan identitas keislaman, Iran adalah kandidat yang paling sesuai tetapi aliran Syiah yang dianutnya menyebabkannya sulit mengambil peranan sebagai core state, sedangkan Indonesia—walaupun negara dengan penduduk Muslim terbanyak di dunia dan relatif stabil—berada jauh dari pusat Islam dan dibangun di atas pengaruh peradaban lain (Hindu, Sinic, Kristen, dan peradaban lokal).

Membaca pemaparan Huntington membuat saya berpikir, peran macam apa yang bisa diambil Indonesia dalam percaturan dunia? Indonesia terbentuk oleh lapisan-lapisan peradaban yang berbeda yang membuatnya unik. Dari tiga peradaban besar yang telah disebut—Barat, Sinic, dan Islam—Indonesia tak dapat dikategorikan ke dalam ketiganya karena justru dibentuk oleh ketiganya. Oleh karena itu, di tengah-tengah benturan peradaban yang mungkin akan terjadi, dapatkah Indonesia berperan sebagai jembatan? Dapatkah Indonesia melebarkan pengaruhnya di Asia Tenggara, sehingga memperkukuh posisi strategisnya dan lalu mengambil peranan sebagai moderator yang memastikan perdamaian dunia—seperti cita-cita yang termaktub di pembukaan Undang-Undang Dasar?

Presiden Soekarno dahulu punya keinginan agar Indonesia menjadi pemain aktif di kancah internasional. Namun situasi ketika itu, umur bangsa yang terlalu muda, perekonomian yang karut-marut, situasi politik tidak stabil, dan alasan-alasan lain menyebabkan cita-cita tersebut tidak bisa tercapai.

Kini, 70 tahun kemudian, Indonesia sudah tumbuh besar dengan kelas menengah terdidik serta situasi politik dan perekonomian yang stabil. Namun demikian, masih banyak individu Indonesia yang seringkali masih takut-takut menghadapi dunia luar, penuh kecurigaan pada yang asing, dan tidak percaya diri bisa bersaing dan berdiri sejajar dengan bangsa lain (barangkali masih dihantui paranoia kolonialisme?).

Tidak ada hegemoni yang akan bertahan selama-lamanya, dan saat ini kita hidup pada era transisi penting. Yaitu beralihnya hegemoni Barat ke hegemoni yang bersifat multipolar. Seringkali orang Indonesia sendiri masih tidak menyadari bahwa bangsanya punya peluang yang besar. Padahal di waktu-waktu seperti inilah orang Indonesia justru harus mengangkat kepalanya dan berhenti bersikap inferior. Karena kita mesti sadar, ini adalah jaman yang tepat untuk orang-orang Indonesia keluar dari persemediannya di ujung dunia.

Iklan