#6.3. Membaca Untuk Membangun

IMG_0723-2

 

Sewaktu masih SMA saya punya satu kebiasaan. Saya bukanlah tipe anak laki-laki aktif yang senang menghabiskan waktu istirahatnya dengan bermain sepak bola atau bola basket atau aktivitas fisik semacamnya. Saya tidak menyukai hal-hal semacam itu karena tidak melihat poin tambah yang membuatnya menarik. Yang saya lihat dari hal-hal semacam itu hanyalah pertempuran ego yang ingin membuktikan dirinya lebih hebat daripada orang lain lewat kemenangan dan kekalahan. Maka dari itu, untuk mengisi waktu istirahat lima belas menit yang ada, saya melakukan hal lain—yang belakangan menjadi kebiasaan hingga lulus sekolah: saya pergi ke perpustakaan, membaca.

Ketika itu perkembangan dunia tulis-menulis Indonesia belum sepesat sekarang. Penulis-penulis muda Indonesia belum mendominasi toko-toko buku. Lini teenlit yang saat ini begitu menjamur pun masih seumur jagung. Karenanya—bisa ditebak—kebanyakan buku yang ditemukan di perpustakaan sekolah adalah buku-buku lama terbitan tahun ‘50 hingga ‘90an. Saya ingat ada salah satu buku yang sampulnya bergambarkan Presiden Soeharto, judulnya “Surat Untuk Pak Harto” (atau semacamnya), padahal ketika itu pemerintahan Indonesia sedang dipegang oleh Ibu Megawati. Ya, isi perpustakaan itu seperti tidak tersentuh zaman. Antik. Berada di dalamnya dan membaca buku-bukunya seperti sedang mengalami pergeseran waktu.

Selain majalah-majalah yang ada di perpustakaan; saya juga membaca bundel “Mahabarata” karya R. A. Kosasih dan novel-novel karya penulis seperti: N. H. Dini, Putu Wijaya, dan Mochtar Lubis.

Bicara tentang Mochtar Lubis, dari semua buku yang saya baca di perpustakaan sekolah, yang paling berkesan adalah karya-karya beliau. Ada daya pikat yang kuat dalam tulisan-tulisannya. Membaca karya-karya beliau seperti sedang melihat album foto yang memotret Indonesia pada tahun ‘50an. Begitu jelas, begitu menarik. Saya merasa seperti seorang cucu yang sedang duduk mendengarkan kakeknya bercerita tentang masa mudanya yang penuh dengan perjuangan. “Harimau! Harimau!”, “Bromocorah”, “Jalan Tak Ada Ujung”, “Maut dan Cinta”, dan “Senja di Jakarta”. Buku-buku inilah yang mungkin pertama kali menanamkan rasa nasionalisme di diri saya, bukan upacara bendera yang dilakukan rutin tiap minggu yang ujung-ujungnya cuma menjadi ritual tanpa makna.

Setiap hari saya berkunjung ke perpustakaan untuk melahap buku-buku tersebut (kebetulan kelas saya terletak di lantai yang sama dengan perpustakaan). Saya selalu menyusuri rak-rak tinggi dan duduk pada tempat yang sama di sudut yang tersembunyi dari pandangan orang lain. Mencicil paragraf demi paragraf selama lima belas menit tiap harinya. Mungkin bagi beberapa orang kenangan semacam ini sangat tidak signifikan dan membosankan, tapi bagi saya kenangan ini adalah salah satu kenangan paling penting selama masa SMA. Bahkan seringkali saya merindukan kesempatan-kesempatan seperti itu lagi. Duduk di lantai perpustakaan yang dingin, bersender di belakang rak besar yang menghalangi terik matahari, dan membaca di antara suara bising murid lain yang menjadi suara latar.

Kebiasaan membaca rutin saya otomatis terputus begitu saya lulus dari sekolah menengah atas. Pada tahun-tahun pertama perkuliahan, saya sempat berpikiran untuk terus memelihara kebiasaan itu dengan berusaha mengunjungi perpustakaan pusat di kampus sesering mungkin. Namun, karena letaknya yang jauh dari gedung Arsitektur tempat saya belajar dan tugas-tugas yang menuntut untuk diselesaikan, perlahan-lahan niat itu pun mulai terlupa.

Gedung tempat saya belajar bukannya tidak memiliki perpustakaan. Perpustakaan di gedung saya sangat bagus walaupun jauh lebih kecil bila dibandingkan dengan perpustakaan di sekolah saya dulu. Penataan buku di perpustakaan jurusan sangat teratur dan petugas perpustakaannya pun bisa diandalkan. Namun, buku-buku yang ada semata-mata untuk menunjang proses perancangan arsitektur. Tidak ada satu pun novel atau karya-karya sastra.

Kadang, ketika liburan semester tiba, kerap timbul keinginan untuk berkunjung kembali ke SMA hanya demi membaca “Senja di Jakarta.” Tapi karena satu dan lain hal, kesempatan itu selalu saja terlewat. Dan begitulah bagaimana saya sempat lupa bagaimana rasanya kesenangan membaca buku secara rutin.

Sejak awal tahun 2010, saya mulai membiasakan diri lagi untuk membaca buku. Saya mulai mengurangi pengeluaran pada keperluan-keperluan yang kurang terlalu penting. Saya mengurangi pembelian CD dan berhenti membeli komik dan majalah, serta menunda sarapan hingga mendekati jam makan siang. Lalu uang yang tersisih akan saya gunakan untuk membeli buku (yang saat itu kebanyakan masih sebatas karya-karya fiksi).

Pada pertengahan tahun 2010, saya telah selesai membaca sebelas buku, sedang membaca dua buku (secara bersamaan), dan menyiapkan dua buku lain dalam antrian. Total limabelas buku sejak bulan Januari, waktu itu jumlah buku paling banyak yang pernah saya baca dalam rentang waktu lima bulan.

Pada tahun 2011 saya membaca 33 buku. Lima belas novel, lima kumpulan cerita pendek, dan tiga belas buku non-fiksi. Tidak semua buku tersebut selesai saya baca. Dari 33 buku yang tercatat, tujuh di antaranya belum, tidak, atau hampir selesai dibaca.

Buku bacaan favorit saya pada tahun 2011 adalah buku kumpulan cerita Kazuo Ishiguro yang berjudul Nocturnes: Five Stories of Music and Nightfall. Buku ini ringan, tapi juga mengandung makna-makna yang subtil. Gaya penulisannya santai dengan ritme yang teratur dan gemulai. Nuansa yang saya rasakan ketika membaca buku ini mirip seperti ketika menjadi satu-satunya orang yang terjaga di dini hari.

Sampai saat ini saya terus berusaha memelihara kebiasaan membaca serta membuat daftar buku-buku yang saya baca (walaupun akhir-akhir ini saya mulai abai membuat daftar karena seringkali membaca buku secara serabutan).

Pada awalnya saya membaca buku hanya demi memperoleh kepuasan estetika semata. Saya menggemari buku-buku yang mengandung kisah, plot, gaya bahasa, kepenulisan, serta imajinasi yang apik. Buku menjadi sayap yang membawa pikiran saya melayang, melepaskan diri sejenak dari keseharian manusia biasa yang hambar.

Waktu itu saya meyakini ada dua macam orientasi hidup manusia dalam caranya untuk menemukan kebahagiaan. Yang pertama, orang-orang yang berorientasi ke luar. Kebahagiaan mereka adalah ketika apa yang mereka perbuat dapat menolong orang lain. Kebanggaan mereka seperti kebanggaan seorang guru terhadap muridnya yang berhasil. Mereka bangga ketika perbuatan mereka dapat membuat orang lain menjadi besar dan kuat.

Sementara yang satu lagi adalah orang-orang yang berorientasi ke dalam. Orang macam ini menganggap dirinya adalah sebuah pulau, sebuah pulau untuk dieksplorasi, untuk dijelajahi hingga sela-selanya yang paling tersembunyi. Orang-orang ini mengembangkan diri mereka sendiri. Kebahagiaan mereka seperti kebahagiaan seorang penjelajah yang berlayar ke benua antah berantah dan menemukan harta karun. Mereka bangga ketika berhasil melampaui batas-batas dalam dirinya.

Bagi saya ketika itu, orang-orang yang bergulat di bidang estetika, termasuk para penulis kisah-kisah, adalah orang-orang yang berada pada kelompok kedua. Saya pun cenderung lebih suka mengidentifikasikan diri ke dalam kelompok ini, yang berpusat pada diri sendiri demi menemukan potensi diri yang sempurna. Namun, setelah memperluas bacaan dan perenungan lebih lanjut, saya menyadari ada kekeliruan besar atas pemahaman saya mengenai orientasi hidup dan kebahagiaan ini.

Salah satu buku penting yang membukakan mata saya atas kekeliruan tersebut adalah Musashi karya Eiji Yoshikawa. Di buku ini Eiji Yoshikawa menggambarkan perkembangan pribadi seorang Miyamoto Musashi dari seorang pemuda beringas yang diliputi kebodohan, menjadi sadar akan kekurangan dirinya, yang lalu berkelana demi mengasah diri dan mengejar kesempurnaan diri, hingga akhirnya menemukan hakikat sejati seorang manusia.

Motivasi pengelanaan Musashi, bila dikaitkan dengan dua macam orientasi hidup yang saya singgung di atas, jatuh pada kelompok yang kedua. Pada masa mudanya ia menyadari kebodohannya dan akhirnya memutuskan untuk berkelana mengelilingi negeri untuk mengasah keterampilannya. Ia bertekad untuk menjadi ahli pedang terbaik di Jepang karena ia percaya dengan cara itu ia akan memperoleh kemuliaan dan kebahagiaan batin. Pandangannya mulai berubah ketika ia bertemu dengan seorang anak laki-laki sebatang kara. Ayah anak ini baru saja meninggal dunia, Musashi membantunya menguburkan jenazah sang ayah, dan menghabiskan malam di gubuk reyot tempat tinggal si anak. Merasa iba, keesokan harinya Musashi berseru kepada si anak laki-laki, “Kalau mau hidup, bertanilah!” Musashi menyingsingkan bajunya dan mulai mengolah tanah di sekitar gubuk. Selama bekerja penduduk sekitar mengolok-oloknya, sia-sia saja mengolah tanah itu, kata mereka. Keesokan harinya, benar saja, tanah yang telah diusahakan Musashi rusak disapu hujan badai. Musashi tidak menyerah, berbulan-bulan ia mengerjakan tanah dan berpikir, tak menghiraukan olok-olok serta keraguan penduduk desa sekitar.

Sejak saat itu ia mulai memperluas sudut pandangnya. Ia melihat kondisi hidup para penduduk sekitar yang miskin, ia melihat potensi tanah yang dipijaknya, ia memikirkan rintangan-rintangan yang menghalanginya, ia mencari penyebab-penyebab kesulitan yang dihadapinya, dan ia memikirkan bagaimana langkah pemecahan masalah yang tepat. Musashi mulai menyadari kesempurnaan diri yang selama ini ia kejar adalah sia-sia belaka apabila keberadaannya tidak bisa menjadi pemecah bagi permasalahan di sekitarnya. Ia melihat jaring-jaring yang menghubungkan setiap orang dan mempelajari bagaimana itu menimbulkan kemalangan. Kemudian singkat cerita, Musashi berhasil menggerakkan para penduduk desa dan meyakinkan mereka bahwa nasib dapat diubah. Lewat pengamatannya terhadap lingkungan, ia pun memobilisasi para penduduk untuk membuat sistem irigasi yang sesuai. Air yang tadinya menjadi musuh, kini menjadi kawan yang membuat tanah menjadi subur dan menghasilkan.

Kisah yang saya baca itu tersimpan dalam kepala saya, saya renungkan sambil menjalankan hari-hari. Hingga suatu saat saya sampai pada kesimpulan bahwa pandangan saya terhadap kebahagiaan dan cara mencapainya ternyata tidak tepat. Orang yang memilih jalan pencarian ke dalam, dan hanya semata-mata untuk, diri sendiri tidak akan pernah mencapai kepenuhan. Ia akan terus-menerus lapar, tak akan pernah terpuaskan, dan akan selalu merasa ada yang hilang. Makna yang ia cari tidak akan sepenuhnya ia genggam, dan kebahagiaan yang ia pegang semu semata. Ini yang kerap terjadi pada peradaban modern kontemporer kita. Kebanyakan orang dibuat percaya bahwa kebahagiaan dapat ditemukan melalui pemuasan keinginan dan aspirasi pribadi. Kita dibuat menghabiskan hari-hari kita mengejar bayangan sendiri. Kita berlelah-lelah menyempurnakan kondisi pribadi, dibuat terus dan terus menggali ke dalam diri,  yang tanpa disadari malah menyebabkan makin membesarnya rongga yang menganga di dalam. Kenyataannya, ini justru berlawanan dengan hakikat manusia yang sesungguhnya.

Melalui Musashi saya belajar, memiliki—setidaknya—satu orang untuk diperjuangkan, untuk dikasihi, yang kepadanya hidup dicurahkan sepenuhnya, itulah kebahagiaan. Pemahaman ini menjadi pemantik yang menyadarkan saya, “Kalau mau bahagia, belajarlah!”

Demi dapat memperjuangkan–setidaknya–satu orang, pertama-tama saya harus memperlengkapi dan meningkatkan kapasitas diri terlebih dahulu. Sejak saat itu saya pun memperluas persentuhan saya kepada buku dengan mulai membaca karya-karya non-fiksi di luar sastra. Saya membaca kumpulan esai dan pemikiran Goenawan Mohamad, Mohamad Sobary, Bre Redana, Dr. Ir. Bianpoen, Tjuk Kuswartojo, Marco Kusumawijaya dan dr. Ario Djatmiko; “Panggilan Keberpihakan” Kemal Aziz Stamboel; “Pemikiran Karl Marx” Franz Magnis-Suseno; “Negara Paripurna” Yudi Latif; “Merebut Ruang Kota” Purnawan Basundoro; “The Origins of Political Order” Francis Fukuyama; “The Republic” dan “Symposium” Plato; dan, yang saat ini masih sedang saya baca, “The Future” Al Gore.

Membaca karya-karya non-fiksi merupakan pengalaman yang menarik. Tak jarang saya kesulitan memahami apa yang saya baca, tapi saya memaksakan diri untuk terus membaca karena saya meyakini apa yang saya baca—walaupun sulit dicerna dan dimengerti—diam-diam tersimpan di belakang kepala, yang sewaktu-waktu setelah mengalami pengendapan dapat dipanggil kembali secara spontan saat kita berkomunikasi.

Secara garis besar, demikianlah secuplik pengalaman membaca saya. Secara pribadi saya memandang kegiatan membaca sebagai salah satu cara terbaik untuk membangun diri—di dalamnya membangun pengetahuan, membangun sikap, dan juga membangun pendirian. Dan dari semua itu, saya ingin percaya, akumulasi segala wawasan dan kebijaksanaan yang dapat ditemukan dalam buku-buku yang kita baca, pada waktunya nanti dapat digunakan sebaik-baiknya untuk membangun sekitar.

 

(Tulisan ini dibuat untuk merespon pembahasan kumpulan tulisan sejumlah tokoh dalam “Bukuku, Kakiku” pada minggu sebelumnya di Lentera Pranahara)