#6.0. Refleksi “Jagal”

by catatanmimpisaya

Jagal

Selama berpuluh-puluh tahun masyarakat Indonesia telah dibuat berjarak dari sejarah. Faktualitas sejarah dibuat bias dan kabur. Walaupun kini telah banyak beredar berbagai macam literatur yang mencoba melengkapi pemahaman atas gejolak yang terjadi pada tahun 1965/1966 namun bukan tak mungkin jika masih ada sejumlah besar masyarakat yang awam mengenai peristiwa tersebut.

Sepotong fragmen sejarah penting bagi bangsa Indonesia kini berusaha digali dan dipaparkan dengan gamblang ke hadapan publik melalui film “Jagal”. Lewat rekaman film ini kita diajak berkenalan dekat dengan sosok-sosok yang hadir dan mengambil peranan dalam peristiwa pembantaian 1965/1966. Film “Jagal” berupaya menghapus layar kelabu yang selama ini dianggap tabu dengan menghadapkan langsung secuplik wajah sang sejarah itu sendiri.

Anwar Congo dan Adi Zulkadry, dua orang yang disorot untuk mewakili para penjagal. Kedua orang ini merupakan representasi pemuda kala itu yang turut terjebak dalam pusaran gejolak Perang Dingin. Melalui beberapa segmen dalam film ini kita dapat menangkap sesuatu yang menarik, bahwa para penjagal tersebut melakukan pembantaian bukan untuk membela suatu ide. Perbuatan orang-orang ini tidak dilandaskan oleh suatu gagasan yang mereka bela dan pegang teguh, tetapi oleh satu alasan yang jauh lebih mendasar. Keterangan yang diutarakan oleh Anwar Congo ketika ia bercerita pada malam hari di depan bioskop tempatnya dulu pernah bekerja menunjukkan terang-terangan kepada kita alasan tersebut: bila komunis melarang pemutaran film-film Amerika, akibatnya bioskop akan menjadi sepi pengunjung, lalu darimana nanti kami mencari makan? Digerakkan oleh alasan semacam itu ditambah justifikasi serta pembenaran-pembenaran yang dicekoki oleh pemerintah, membuat para pemuda ini menjadi percaya bahwa kekejian yang mereka perbuat adalah demi kebajikan yang lebih utama. Ketika kegelisahan-kegelisahan massa tersebut dikelola dan dimanipulasi demi kepentingan sekelompok kecil orang yang punya kuasa, maka bencana kemanusiaan pun tak terhindarkan.

Pada beberapa adegan lain kita dapat menyimak, rupanya peristiwa yang terjadi hampir 50 tahun yang lalu itu meninggalkan bekas yang cukup dalam bagi para penjagal. Walaupun di paruh awal film mereka menunjukkan kejumawaan dan kebanggaan atas apa yang telah mereka perbuat, paruh akhir menunjukkan seberapa terganggunya kehidupan batin mereka. Anwar Congo sering dihantui oleh mimpi buruk, kesehatan fisiknya terganggu, serta akhirnya dirundung rasa bersalah yang selama ini terpendam. Begitu juga dengan Adi Zulkadry, di tengah-tengah keluarganya yang sedang berjalan-jalan di pusat perbelanjaan kota sambil menikmati kenyamanan hidup, tergambar di raut wajahnya suatu kehampaan sekalipun bibirnya berujar bahwa ia tidak menyesali perbuatannya.

Film “Jagal” diputar di Galeri Labtek IX-B ITB pada tanggal 10 Juni 2013. Dalam sesi diskusi ringan yang dibuka setelah pemutaran film, seluruh hadirin mencapai pemahaman bahwa para penjagal yang turut ambil bagian dalam tragedi pada tahun 1965/1966 ini sesungguhnya bukanlah para pemenang. Sekalipun mereka hidup dalam delusi yang menempatkan mereka sebagai pahlawan, sesungguhnya orang-orang ini juga berdiri pada barisan yang kalah bersama seluruh korban yang mati di tangan mereka. Oleh karena itu, pelanggaran kemanusiaan serupa, di masa kini dan di masa yang akan datang, tidak dapat dibenarkan dan dibiarkan terjadi lagi atas alasan apapun.

Iklan