#5.9. Satu Jenak

Seorang Lelaki terhenyak
detak waktu Sang Tuan Besar
ini kali berikannya satu jenak

Begini sabdanya:
“Engkau idamkan kemerdekaan
ini kusematkan satu jenak
Ingat! Cukup satu jenak!”
Maka pelanlah langkah-langkah Lelaki
beringsut-ingsut lalu berhenti

satu, dua, tiga…. seperduapuluh jenak

“Apa yang terjadi?” bisiknya
Seketika celiklah dia punya sanubari
bahwa nyeri sebelah kakinya
bahwa debu dan sarang laba di kepalanya
bahwa lumpur di wajahnya
bahwa batu di jantungnya
bahwa… bahwa…

satu, dua, tiga…. sepersepuluh jenak

Belati itu ia tikam di dadanya
menghambur keluar daripadanya
pasir yang tak terbendung limpahnya
sejumlah jatuh di atas kaki
sejumlah naik tertiup angin
selayaknya hal yang sia-sia

satu, dua, tiga…. seperlima jenak

“Mengapa? Mengapa?” bisiknya
Ia gali dadanya dalam-dalam
ia temukan batu jantungnya dan genggam erat
tak lagi hangat, tak lagi bertalu
tak lagi padanya berisyarat

Satu waktu dahulu membawanya berlari
Satu waktu kini menjadi beban tersembunyi
“Mengapa? Mengapa?”

satu, dua, tiga…. satu jenak

Dentang lonceng membawa
sabda Sang Tuan Besar berkata:
“Engkau idamkan kemerdekaan
Namun ketahuilah!
Merdeka adalah teka-teki
yang belum kau tuntaskan!”

***
(Bandung, 26 Mei 2013)