#5.7. Buah Pikir Malam Ini

Kamis, 7 Februari 2013
Bandung. 22:53.

Seorang gadis muda memetik gitarnya. Dentingan-dentingan merdu mengalir di udara. Mata gadis itu bulat, sebentar-sebentar melirik ke jemarinya yang bermain dawai, sebentar-sebentar melayangkan pandang kepada para hadirin di kegelapan. Cahaya lampu sorot memantul di kedua bola matanya. Mata itu memancarkan sejenis kepolosan yang indah.

Di pelataran, ia duduk sendiri di atas kursi putar berkaki satu. Di belakangnya terhampar menggantung selembar kain merah yang berhiaskan ornamen-ornamen etnik, tampak digurat halus, dengan penuh perhatian, oleh tangan seorang seniman yang hati-hati dan berdedikasi.

Gadis itu mulai bernyanyi. Suaranya seperti awan dan kabut. Kadang menebal, kadang menipis. Saya pejamkan mata lalu saya rasakan teduh. Gadis penyanyi itu tak lain cantik. Senyumannya merekah menyegarkan benak. Di pulau dewata ketika itu ia bernyanyi, dan saya yakin, saat sang gadis bernyanyi dewa-dewi pun menyendengkan telinganya, berhenti barang beberapa menit, melupakan derita anak-anak manusia di pundaknya.

Belakangan saya mendapat sedikit gambaran mengenai latar belakang keluarganya. Ayahnya seorang Amerika, memperistri seorang perempuan Filipina, lalu entah telah berapa lama menetap di Bali, Indonesia.

Yang menarik dan cukup membuat saya memikirkan hal-hal adalah bahwa ayahnya bekerja untuk semacam komite perlindungan hutan Indonesia. Seorang Amerika beristri Filipina namun bekerja di Indonesia melindungi hutan demi masa depan lestari seluruh manusia. Tak dibatasi oleh sekat-sekat kenegaraan, inikah yang dinamakan menjadi manusia global?

Nasionalisme yang sering diagung-agungkan, yang diam-diam juga saya rawat di dalam diri ini, sepintas menjadi terasa kerdil.

Memang pada akhirnya setelah kesetaraan dalam segala aspek tercapai, ketika semua manusia memiliki kesempatan dan kemampuan hidup mandiri serta kematangan dalam jiwanya, saya kira, menjadi manusia global adalah tahapan paripurna dalam peradaban. Tak ada batasan kulit, tak ada batasan bahasa, tak ada batasan sosial, tak ada batasan negara. Seluruh manusia saling topang-menopang demi Bumi dan manusia yang lestari. Maka, ketika itu semua tercipta, saat itulah dimana surga telah kembali ke Bumi.

Tapi, setiap orang yang memiliki mata untuk melihat dan telinga untuk mendengar tentu sepakat bahwa peradaban paripurna itu masih amat jauh di ujung cakrawala sana. Selama keserakahan masih berkuasa, kenyamanan egoistik menjadi Tuan, dan uang sebagai Tuhan, selama itu pula benteng-benteng masih perlu didirikan.

Nasionalisme adalah salah satu bangunan benteng pelindung. Merupakan sebentuk persaudaraan sejarah atas tanah dan penghuninya. Satu-satunya panggilan keberpihakan yang suaranya cukup lantang bagi yang mau mendengarkan. Dengan adanya rasa ini, juga hadirnya sekelompok orang yang punya keberpihakan terhadap Bumi dimana ia lahir dan hidup, niscaya keserakahan dan egoisme yang hendak menjarah dunia dapat sedikit dibendung.

Dan malam ini, dalam iringan nyanyian sang gadis bergitar, saya tiba pada suatu kesimpulan: karena nasionalisme pada zaman sekarang mestinya bukan dimaknai sebagai bentuk chauvinisme kebangsaan belaka, tapi merupakan daya lawan terhadap nafsu serakah sepihak dan apatisme.