.catatan mimpi.

chaos, order, mimpi, dan impian

Month: Januari, 2013

#5.6. Sekilas Catatan Banjir Jakarta 2013

Banjir besar melanda Jakarta sejak 15 Januari 2013. Namun, berbeda dengan banjir-banjir besar sebelumnya yang terjadi di Jakarta, kehadiran dan kepedulian pemimpin lebih terasa kali ini. Gubernur dan wakilnya, Joko Widodo dan Basuki C. Purnama, sungguh-sungguh bekerja keras. Saya mengamati mereka lewat media cetak dan dibuat kagum oleh pengabdian mereka.

Saya teringat pada pertengahan bulan November lalu sempat membaca berita di surat kabar tentang adanya 1800 unit dari 2000 unit hunian di rusun Marunda yang kosong tak berpenghuni. Kekosongan ini menyebabkan kondisi rusun Marunda menjadi tidak terawat dan terbengkalai. Ini cukup mengherankan mengingat banyak, banyak sekali, warga Jakarta yang masih hidup tidak layak di daerah bantaran sungai, rel kereta api, dan kolong jembatan.

Kemudian, setelah banjir besar terjadi, tersiar kabar yang sangat menarik. Wakil Gubernur DKI Jakarta, Ahok, mendatangi warga pengungsi di daerah Penjaringan yang bermukim di sekitar Waduk Pluit. Beliau mengajak warga pengungsi untuk beramai-ramai pindah ke rusun Marunda.

”Bapak Ibu tak boleh tinggal di Waduk Pluit karena itu berbahaya dan mengganggu fungsinya sebagai penampung air. Mari ikut lihat rusun. Jika tak mau silakan, tetapi tak ada uang untuk perbaiki rumah,” begitu ujarnya.

Beliau telah menginstruksikan perbaikan pada tiap unit hunian rusun, melengkapinya dengan fasilitas, dan bersedia membantu proses perpindahan. Tentunya timbul keragu-raguan, bukankah dengan merelokasi penduduk ke tempat yang berjarak 20 kilometer dari hunian awalnya berarti akan menimbulkan masalah pergerakan? Bukankah dengan begitu jarak antara hunian dan tempat bekerja akan menjadi semakin panjang? ‘Kan ini berlawanan dengan ide kota berkelanjutan, yang justru harusnya memperpendek jarak tempuh dari tempat berhuni ke tempat bekerja, hingga sependek-pendeknya demi efektivitas? Tapi jika dilihat dari sudut lain, tak dapat dipungkiri bahwa pasangan pemimpin ini amat jeli memanfaatkan momentum, sehingga permasalahan A ditambah permasalahan B justru menghasilkan sebuah solusi!

Di hari yang lain, saya membaca tulisan Ir. Dr. Bianpoen—seorang dosen senior Desain & Teknik Perencanaan—perihal rusun dan masyarakat yang ditulis pada tahun 2002. Dalam tulisan tersebut Dr. Bianpoen mempermasalahkan apa dan untuk siapakah keberadaan rusun sesungguhnya. Menurut pendapat beliau, hidup di rusun memerlukan suatu disiplin tersendiri. Masalahnya, disiplin tersebut belum terbentuk pada golongan masyarakat strata bawah. Pertimbangan-pertimbangan ekonomis menyebabkan golongan tersebut tidak betah bermukim di rusun.

Berdasarkan survei yang telah dilakukan, sebagian besar rusun untuk orang miskin justru dihuni oleh orang-orang tidak miskin karena mereka dengan sukarela menjual hak huni yang mereka miliki. Lebih lanjut lagi, beliau berpendapat memindahkan masyarakat miskin ke rusun bukan solusi yang tepat dan tak akan menyelesaikan masalah kemiskinan kota. Untuk menuju kesana syarat-syarat harus dipenuhi terlebih dahulu. Syarat-syarat tersebut adalah perbaikan kondisi sosial-ekonomi dan disiplin dalam bermukim. Hal ini dapat dicapai melalui program-program pengembangan masyarakat yang dilakukan di lokasi-lokasi mereka bermukim saat ini. Setelah syarat-syarat tersebut tecapai barulah mereka siap dipindahkan ke rusun.

Kembali saya melihat adanya pertentangan antara konsep-konsep ideal dengan tindakan yang ditempuh oleh pasangan pemimpin Jakarta pada situasi kali ini. Saya, sebagai orang muda yang masih perlu banyak belajar, melihat terobosan yang diperbuat Jokowi-Ahok ini sebagai semacam eksperimen sosial. Persoalan ini mau tak mau menimbulkan rasa penasaran. Apakah teori-teori ideal para akademisi akan terbukti? Ataukah kesungguhan para pemimpin dapat membuktikan yang sebaliknya? Saya kira eksperimen ini patut diamati dan dipelajari bagaimana hasil akhirnya.

Tapi terlepas dari tepat-tidaknya keputusan yang diambil, satu hal yang saya yakini, saat ini Jokowi dan Ahok sedang membuka mata banyak generasi muda lainnya tentang bagaimana makna mengabdi dengan sesungguh-sungguhnya. Pemimpin-pemimpin bagi masa depan sedang dibuka matanya.

Masih ada harapan, Indonesia akan menjadi besar.

#5.5. Di Hadapan Kala

Di hadapan kala
menanti
keberanian

Dimana adanya
pelita?

letupan mercon
di kejauhan?
pohon-pohon
pinus berbaris
diam?
derik jangkerik
berisyarat?
bersasmita?
nyamuk-nyamuk
‘ku tak hirau

Limpahan asa
terbendung
merindu
pembebasan diri

Menanti
‘kan tiba waktu
dan masa

Akankah
‘ku menemu
bahagia?

Pada akhirnya
segala
tak terlalu
berarti

.
.
.
.
kecuali Aku
ingin berarti