Fiksi Fragmen #5

Senja di Jakarta baru saja merayap pulang. Kerlap-kerlip lampu menghantarkan kepergiannya sekaligus menjadi penanda dimulainya geliat malam di kota ini. Di sana dan sini nampak wajah-wajah lelah yang tersembunyi di balik helm-helm plastik dan kaca film gelap. Wajah-wajah yang mengabdikan dirinya untuk mengejar bayang-bayang kebahagiaan. Di antara puluhan ratus wajah yang turun di jalan malam ini, di situ terselip kami. Aku dan Sesha.

Sesha duduk di bangku penumpang di sebelahku, memandangi kelebatan pemandangan jalan di luar, larut dalam pikiran-pikirannya sendiri. Tidak ada kata-kata yang terucap, kecuali racauan gembira penyiar di radio. Namun begitu, tidak sedikitpun aku merasakan kecanggungan. Diam yang ada di antara aku dan Sesha terasa begitu wajar.

Duduk bersebelahan dengannya di mobil ini mengingatkanku pada masa-masa ketika kami sering duduk bersebelahan di tangga darurat sambil bicara mengenai berbagai macam hal. Aku melirik wajahnya, tidak banyak yang berubah, hanya jejak riasan gelap di kelopak matanya. Sementara itu, racauan penyiar di radio kini terhenti, digantikan oleh nyanyian dari era ’90-an–Katon Bagaskara, kurasa. Musik yang indah serta liriknya yang polos dan puitis terdengar merdu di telingaku. Kadang aku bertanya-tanya kemana perginya para penyair di jaman sekarang? Apakah mereka semua sudah punah? Dibunuh oleh Herodes yang takut takhtanya terancam?

“Tau, nggak?” tiba-tiba Sesha bicara, “Mendengar lagu dari tahun ’90-an begini, sambil lihat pemandangan jalan di luar, tanpa suara, diredam kaca kedap suara mobil ini, rasanya….”

“Hmm?”

“Rasanya,” kata-katanya menggantung sebentar di udara, “Gue seperti bisa mengingat hal-hal yang nggak pernah gue alami.”

“Maksudnya?”

“Maksud gue, rasanya gue hampir bisa mengingat kejadian-kejadian dari kehidupan gue sebelum kehidupan yang ini.”

Aku menatap Sesha. Sesha menatapku. Matanya terbuka lebar. Dahiku berkerut. Kami berdua pun tertawa berbarengan.

“Dasar ngaco! Apa-apaan coba?”

“Eh, tapi beneran! Coba lihat deh ruko-ruko di sana itu, entah kenapa gue merasakan suatu hubungan khusus. Samar-samar di bayangan gue, gue melihat diri gue yang lagi berlari naik-turun tangga di dalam ruko itu!”

“Paling juga cuma potongan-potongan imajinasi lu. Atau mungkin di kehidupan sebelumnya lu emang encik-encik ruko.”

“Ishh, rese!” Sesha meninju lenganku, “Tapi kan menurut Jung yang namanya memori universal itu benar-benar ada!”

“Hah? Memori universal apa?”

“Iya, memori universal yang tetap bertahan hidup walaupun fisik lo udah nggak ada. Memori yang jadi sumber dari mimpi dan inspirasi yang memungkinkan lo untuk mengalami hal-hal yang belum pernah lo lihat di kehidupan saat ini.”

“Ehm… oke,” dia mulai bicara tentang hal-hal aneh. Dari dulu Sesha ini memang agak sinting.

“Coba, lo pasti pernah punya pengalaman kayak gitu juga deh! Misalnya nih ya, pernah nggak lo mendapat ide yang menurut lo brilian dan otentik banget, eh, tapi rupanya di lain kesempatan–waktu lo lagi baca buku atau nonton film atau apapun–lo menemukan bahwa ide itu udah pernah dicetuskan oleh orang lain, bahkan jauh sebelum lo ada? Pernah ‘kan? Nah, itu penyebabnya karena ide yang muncul di kepala lo itu berasal dari sumber yang sama–ya, dari memori universal itu!”

“Ooo, begitu?” Sesha mengangguk antusias, “Omong-omong, gua juga pernah dengar sesuatu yang mirip kayak yang lu bilang barusan–tapi nggak begitu mirip juga sih….”

“Oh, ya? Gimana? Gimana?”

“Gua mendengar ini dari salah satu kuliah umum yang gua tonton lewat internet. Tapi udah agak lama juga sih dan gua nggak yakin apa yang gua ingat ini akurat.”

“Coba, coba, apa?”

“Jadi, lu tau kan waktu zaman keemasan Yunani dulu banyak aliran pemikiran yang berkembang di sana? Nah, dari antara sekian banyak aliran pemikiran itu, salah satunya adalah kelompok pemikiran yang fokus pembelajarannya pada pelatihan pikiran agar tidak terpengaruh oleh emosi. Menurut kelompok pemikiran ini, manusia baru akan dapat mencapai kebahagiaan apabila ia mampu mengarahkan pikirannya agar tetap lurus–sehingga hidupnya nggak terombang-ambingkan oleh emosi yang dibentuk oleh faktor-faktor eksternal dari luar dirinya.”

“Terus? Apa hubungannya sama yang gue bahas barusan?”

“Konon kelompok ini punya semacam keyakinan kalau alam semesta yang kita tempati ini terus berkembang, kayak balon yang ditiup terus-menerus, dan suatu saat nanti ketika sudah mencapai ambang batasnya, semesta ini akan meledak. BAM! Semuanya akan lenyap. Tapi, setelah itu semesta akan menyusun ulang kembali dirinya dari titik awal, menjadi persis sama seperti kondisinya sebelum meledak. Nah, menurut kelompok ini, orang-orang yang semasa hidupnya telah berhasil mengendalikan dirinya secara penuh–orang-orang bijak itu–ketika ia mati, pikirannya nggak ikut lenyap, tapi melayang-layang hingga tiba waktunya semesta meledak.”

“Jadi kalau dikaitkan sama apa yang gue bahas barusan, ingatan-ingatan dari kehidupan yang lalu itu sebenarnya adalah ingatan orang-orang bijak yang melayang-layang di ruang hampa?”

“Semacam itu, mungkin.”

Sesha tertawa kecil. Entah apa maksudnya.

Kami sampai di sebuah perempatan. Lampu lalu lintas menyala merah. Aku menghentikan kendaraan. Sebuah Mitsubishi Pajero sudah berhenti lebih dulu di depan kami. Sebentar kemudian sebuah truk pengantar juga berhenti di sampingnya. Lampu lalu lintas menunjukkan angka-angka berwarna merah yang menghitung mundur. Angka-angka itu mengingatkanku pada hitungan mundur bom waktu di film-film aksi Hollywood jaman dulu. Sementara itu motor-motor yang bersikeras untuk maju mulai bermanuver di antara sela-sela mobil yang berbaris.

Begitu semua kendaraan sudah berhenti bergerak, entah darimana muncul orang-orang jalanan yang menyisiri jalan sambil menyodorkan telapak tangannya dari satu mobil ke mobil lain. Meminta-minta kepingan uang receh. Salah satu dari mereka mendatangi truk pengantar barang yang ada di depan kami. Supir truk itu berbadan gempal dan berkulit gelap. Supir itu menyodorkan tangannya dari jendela dan memberikan si pengemis sejumlah uang kecil. Melihat rekannya mendapat uang dari si supir truk, beberapa pengemis lain mulai berlarian ke truk pengantar barang itu sambil menjulurkan telapak tangannya masing-masing. Dari sudut mata aku menangkap Sesha menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Kenapa, Sha?”

“Kalau lo jadi orang yang punya kekuasaan, apa yang pertama-tama bakal lo lakukan?”

“Gua? Enng… apa, ya?” aku belum pernah memikirkannya sama sekali, “Memang kalau lu sendiri apa?”

“Kalau gue jadi orang yang paling berkuasa di negeri ini, yang pertama-tama gue lakukan adalah memberantas keburukan visual!”

Aku diam saja menunggu Sesha melanjutkan kata-katanya.

“Gue rasa akar kebobrokan moral di negeri ini asal mulanya dari keburukan visual yang dibiarkan terekspos dengan vulgar di ruang-ruang publik. Gimana bangsa ini mau jadi bangsa yang beradab kalau keburukan-keburukan visual jadi makanan sehari-hari? Sampah di jalan-jalan, corat-coretan di tembok, sungai yang kotor dan bau, gelandangan-gelandangan. Kita semua begitu terbiasa dangan segala macam keburukan sampai-sampai kita mungkin nggak sadar lagi kalau ada yang nggak beres dengan itu semua.”

“Masuk akal. Terus?”

“Makanya, kalau gue jadi orang yang paling berkuasa gue akan melarang gelandangan-gelandangan terlihat di jalanan-jalanan umum. Gue akan memerintahkan supaya seluruh pengemis dan gelandangan di jalanan ditangkap dan dikumpulkan, begitu juga orang-orang yang mengotori jalan dan fasilitas umum. Dengan begitu keburukan visual di jalanan nggak akan menjadi kebiasaan lagi. Hingga pada saatnya nanti orang-orang akan jadi lebih peka apabila ada keburukan di sekitar mereka.”

“Wow, kedengarannya radikal. Terus gelandangan-gelandangan itu gimana, Sha? Mereka ‘kan manusia juga.”

“Mereka, ya, gue kumpulkan. Gue yakin jumlah gelandangan di negara ini banyak banget, yang artinya mereka itu sumber tenaga kerja yang potensial.”

“Terus?”

“Dengan tenaga kerja sebanyak itu, gue akan menggerakkan mereka untuk membersihkan sungai-sungai yang kotor. Mereka akan gue kasih tanggung jawab untuk merawat sungai dan akan gue sediakan tempat bermukim di sekitar sungai yang menjadi tanggung jawab mereka. Gue akan mendirikan bagi mereka suatu komunitas dan memberi mereka satu tujuan bersama, yaitu: menjaga sungai seperti mereka menjaga keluarga mereka sendiri. Dengan adanya komunitas dan tujuan bersama, mereka akan mempunyai harga diri, dan harga diri akan membuat mereka membenci keburukan visual.”

“Hmm…,” aku bergumam, “Oke, sekarang jadi kedengaran cukup manusiawi.”

“Betul, kan!”

Sesha tersenyum puas. Obrolan tak henti-henti mengalir dari bibirnya, diiringi oleh radio yang memutar single-single populer dari era ’90-an. Entah mengapa malam ini aku merasa begitu ringan. Ada semacam kesejukan yang membungkus diriku. Suatu sensasi yang tidak dapat kuuraikan dengan begitu jelas.

Sesekali lampu-lampu menyorot wajah Sesha. Terang dan gelap, silih berganti.  Jelas dan tersembunyi….

Jelas… dan tersembunyi….

***

“Sudah sampai.”

“Ah, iya,” untuk beberapa saat aku dan Sesha diam saja.

Lampu sign berdetak-detak dengan ritmis. Seperti degup jantung yang teratur.

“Makasih, ya,” ujar Sesha.

Aku tersenyum dan mengangguk kepadanya. Sesha membuka pintu mobil dan melangkah keluar. Ia melambaikan tangan dengan gestur khasnya yang sudah lama tak kulihat. Ia terdiam sejenak di sana.

“….”

“Oke.”

“Oke.”

“….”

“Bye.”

“Bye.”

Sesha berbalik dan melangkah menjauh. Aku menyaksikan sahabat lamaku itu pergi. Selangkah demi selangkah lebih jauh. Entah kemana ia menuju. Entah kemana aku….

Entah kemana aku….

“Sha!”

Sesha menengok padaku. Penerangan jalan yang minim cukup bagiku untuk menangkap raut wajahnya.

Lampu sign terus berdetak.

“Kita….,” aku tergagap, “Sampai ketemu lagi.”

Malam itu, di bawah temaram lampu…. Aku melihat Sesha tersenyum.

(Selesai –mungkin)
Jakarta, 20 Agustus 2012
Andreas Cornelius Marbun

Iklan