Kosong Ep.8

OBSESI AWAN

“Merasuk di dalam diri, dan mengalir di dalam nadi.


Kemanapun aku pergi, berjalan maupun berlari, awan itu mengikutiku. Aku kenal betul dengannya. Sepintas awan itu terlihat sama seperti gumpalan awan biasa, menyaru dengan yang lainnya. Tapi nyatanya tidak, sama sekali tidak. Pada awalnya aku pun terkecoh, tidak menyadari sedikitpun, hingga pada hari ketika aku pergi menyepi ke atas genteng rumah tetangga.

Di sana aku merebahkan tubuhku menghadap hamparan langit yang luar biasa luas. Pada saat-saat seperti itu kadang bulu kudukku merinding. Hamparan langit di hadapanku begitu luas, seakan tidak ada ujungnya. Tidak ada akhirnya. Membayangkannya saja membuat otakku mau meletus. Menurutku, sesuatu yang tidak ada akhirnya adalah hal kedua yang paling mengerikan di dunia.

Lalu apa hal pertama yang paling mengerikan di dunia? Aku juga belum tahu, tapi firasatku mengatakan masih ada yang lebih mengerikan daripada itu. Maka posisi pertama aku simpan dulu, sekedar berjaga-jaga.

Waktu di atas genteng itu aku jadi merasa agak pusing. Seperti gejala vertigo. Rasa-rasanya aku bisa jatuh ke langit kapanpun. Seketika kemudian aku merasakan ada hembusan angin dari sebelah kiri. Lalu, tepat saat aku merasa gravitasi mulai kehilangan pegangannya, aku melihat sekumpulan awan datang berbondong-bondong—kumpulan awan biasa yang umum kau temui di kota-kota metropolitan mana pun. Tapi, dari antara gerombolan awan homogen itu, ada satu awan menarik perhatianku.

Kalau kau bertanya kepadaku apa yang menonjol dari awan itu, sampai kapan pun aku tidak bisa memberimu jawaban yang pasti. Tapi ada sebuah kesan khusus yang kutangkap waktu melihatnya berlalu. Wajahnya—ya, wajahnya, asal kau tahu, setiap awan punya wajah yang berbeda-beda, bukan seperti wajah manusia yang punya hidung dan sebagainya sih, tapi kalau kau memperhatikan dengan sedikit lebih seksama pasti kau mengerti maksudku—terlihat nelangsa.

Baru kali itu aku melihat wajah awan yang begitu nelangsa. Dan itu membuatku sungguh heran sampai-sampai otakku tidak jadi meletus dan vertigoku lenyap. Aku memperhatikan awan itu lekat-lekat, tidak berkedip sepersekian detik pun. Namun sepertinya itu membuat awan jadi menyadari kehadiranku.

Pandangan kami bertemu dan ada sekilas momen canggung.

Sejak kejadian di atas genteng rumah tetangga itu, aku dan awan seringkali bertemu. Aku sekolah, bertemu. Aku ke perpustakaan, bertemu. Aku ke taman, bertemu. Aku makan di emperan jalan, bertemu. Kemana-mana pun, bertemu.

Awalnya aku mengira hanya kebetulan semata. Namun lama-kelamaan aku yakin positif bahwa awan itu mengikutiku. Buatku sih tidak masalah. Aku malah cukup senang karena jadi memiliki teman kemana-mana. Tapi belakangan aku jadi penasaran juga. Apa yang membuat awan itu mengikutiku terus? Apa alasannya?

Pernah beberapa kali aku menanyakannya langsung kepada awan itu. Tapi jawabannya nihil. Aku menyimpulkan beberapa kemungkinan mengapa awan itu tidak menjawab: satu, awan itu tidak mengerti Bahasa Indonesia; dua, awan itu menyimpan rahasia; tiga, awan itu tidak bisa mendengarku karena jarak yang jauh; dan empat, awan itu tidak bisa bicara.

Tapi ini tidak membuatku putus harapan. Kalau awan itu tidak mau bicara, biar aku cari sendiri jawabnya! Aku mencari buku-buku tentang awan. Dari perpustakaan ke perpustakaan aku mencari segala macam buku yang bercerita tentang awan. Buku ilmiah, buku fiksi, buku anak, buku ensiklopedia, buku cerita rakyat. Semua-semuanya aku baca. Dalam waktu singkat aku terdaftar sebagai anggota berbagai perpustakaan yang tersebar di seluruh pelosok kota.

Kapanpun dan dimanapun, saat ada waktu, aku membaca. Di sekolah, membaca. Di perpustakaan, membaca. Di taman, membaca. Di emperan jalan, membaca. Di mana-manapun, membaca.

Tapi itu juga sia-sia. Tidak ada satu jawaban pun kutemukan.

Jawaban justru muncul dari hal yang tidak kuduga-duga. Saat itu aku sedang berjalan-jalan di pusat kota. Siang itu ramai sekali. Di pinggir jalan banyak orang berjualan, pasar tumpah. Kebanyakan menjual barang-barang bekas dan rongsokan, tapi sedikit ke depan banyak pelukis jalanan yang memajang karyanya. Aku berjalan-jalan santai tak tentu tujuan. Lama-kelamaan terik matahari membuatku lelah.

Di ujung jalan, di bawah pohon trembesi, aku melihat ada tukang pangkas rambut yang sedang lowong. Selintas itu juga terbit gagasan untuk memangkas rambut sembari berteduh dari terik matahari. Aku lalu menghampiri bapak pemangkas rambut itu. Sedikit melirik, kulihat awan masih membuntutiku.

Aku duduk di kursi busa yang sudah kempes dan bocel-bocel. Bapak tukang pangkas berbasa-basi ala kadarnya sambil mengumbar senyum, ia menghamparkan kain kusam berwarna biru  di depan dadaku. Lalu kemudian ia menghadapkan cermin ke arah wajahku. Dan disitu lah saatnya.

Bayangan di cermin menatapku lekat-lekat dan ada sekilas momen canggung.

Saat itu juga aku mendapat jawabnya….

(Bersambung –mungkin)
Bandung, 14 Juni 2012
Andreas Cornelius Marbun

Iklan