.catatan mimpi.

chaos, order, mimpi, dan impian

Month: Desember, 2011

#5.2. Aksi Bakar Diri dan Keteraturan yang Diidam-idamkan

Beberapa hari yang lalu, kalau tidak salah tanggal 10, ramai diberitakan di media massa bahwa Sondang Hutagalung akhirnya meninggal dunia. Sondang Hutagalung adalah mahasiswa Fakultas Hukum di Universitas Bung Karno–seangkatan dengan saya–dan penggiat Hammurabi yang melakukan aksi bakar diri di depan Istana Merdeka. Perbuatannya memicu beragam reaksi dari banyak orang. Terkejut, heran, marah. Sebagian besar kalangan bertanya-tanya apa motifnya melakukan aksi tersebut, para ahli terheran-heran karena tindakan semacam itu tidak memiliki akar sosial dalam sejarah perjuangan di Indonesia, dan banyak kalangan mengolok-olok tindakannya sebagai aksi sok pahlawan yang mengikut-ikut peristiwa yang terjadi di Tunisia.

Saya sendiri tidak bisa memahami alam pikiran Sondang Hutagalung. Logika berpikir macam apa yang ada di kepalanya? Apakah ia berharap aksi nekatnya akan memicu terjadinya revolusi yang menggulingkan pemerintahan, seperti di negara-negara Arab? Jika memang itu yang ia harapkan, sehingga akhirnya memilih membakar diri sebagai cara berjuangnya, maka menurut saya kematiannya adalah sia-sia.

Pergolakan dan chaos tidak pernah menjadi solusi yang tepat dalam perjuangan melawan korupsi di Indonesia. Pergolakan hanya akan menciptakan kekacauan yang membuat bangsa rentan terhadap pihak-pihak asing yang menyusup dengan membawa kepentingannya masing-masing.

Sejak masa Orde Lama hingga era Reformasi, revolusi/pergolakan terbukti tidak mampu menciptakan rezim yang bersih. Yang terjadi hanyalah perpindahan kekuasaan dari sekelompok korup yang satu ke sekelompok korup yang lain. Revolusi semacam itu “tidak benar-benar menyentuh akar kesengsaraan masyarakat yang sesungguhnya.” Dalam hal ini saya pikir Sondang Hutagalung luput pemikirannya.

Tindakan bakar diri adalah tindakan putus asa, sebuah tindakan untuk mencapai hasil instan, jalan pintas melalui kekacauan. Mengharapkan terciptanya order melalui chaos. Tapi, menurut saya pribadi, tidak ada jalan pintas untuk menuju keteraturan. Lebih jauh lagi, tidak ada jalan pintas menuju apapun.

Revolusi yang perlu bangsa ini tempuh untuk mencapai perbaikan bukanlah revolusi fisik, melainkan revolusi mental. Pada salah satu kelas Etika Profesi yang saya hadiri tahun lalu, Pak Nawir Pedju–seorang praktisi senior–mengutarakan tiga kunci utama untuk mencapai perbaikan bangsa, yang disebut lebih dahulu mesti dipenuhi terlebih dahulu, antara lain: pertama, penegakan hukum; kedua, pendidikan yang berkualitas; dan ketiga, ekonomi.

Dari ketiga kunci tersebut penegakan hukum adalah yang terutama. Saya teringat dengan obrolan ringan antar kawan yang terjadi di studio minggu lalu. Kedua kawan ini adalah penduduk Jakarta, dan seperti yang diketahui belakangan, pemprov DKI Jakarta sedang gencar melakukan pendataan ulang penduduk lewat sistem e-KTP. Penduduk Jakarta dihimbau untuk mengurus e-KTP di kelurahan setempat pada tanggal-tanggal yang telah ditetapkan. Kebijakan ini dicetuskan karena banyaknya warga komuter yang memiliki kependudukan ganda. Kedua kawan ini mengeluhkan keengganannya untuk menjalani prosedur yang telah ditetapkan. Malahan salah satu kawan ini dengan setengah bercanda mengatakan, “mereka yang butuh, kok, kenapa harus gue yang repot pulang-pergi?”

Ini adalah salah satu contoh kecil dari mentalitas warga negara yang perlu direvolusi. Alih-alih mengejar perbaikan bangsa melalui jalan kekacauan dan tindakan onar, saya lebih memilih jalan keteraturan untuk mencapai keteraturan. Penegakan hukum harus dimulai dari hal-hal kecil. Setiap warga negara harus memiliki kesadaran untuk menaati hukum dan peraturan dari yang sekecil-kecilnya dan bersama-sama menciptakan suasana yang kondusif untuk mendukung kemajuan.

Seperti apa yang ditulis pada sebuah artikel yang pernah saya baca di koran KOMPAS ini: “Orang-orang yang ingin mengatur negara pertama-tama harus mengatur keluarga mereka. Dan, barangsiapa ingin mengatur keluarga pertama-tama harus menjaga kehidupan pribadi mereka. Kemudian, mereka yang ingin menjaga kehidupan pribadi tersebut pertama-tama harus menjadikan hati mereka bersih. Adapun mereka yang menghendaki hati mereka bersih pertama-tama harus menjadikan niat mereka ikhlas. Mereka yang ingin hidup ikhlas pertama-tama harus menambah pengetahuan. Merawat kehidupan pribadi dianggap sebagai landasan penting sebab, menurut filsafat Konfusian, tak pernah tumbuh cabang pohon yang teratur jika akarnya saja sudah mulai kacau.” *)

Mengenai aksi yang dilakukan Sondang Hutagalung dan sekelompok mahasiswa yang berunjuk rasa di depan ITB beberapa hari lalu, sudah jelas saya bersisian. Saya pikir, usaha yang paling efektif yang dapat generasi muda lakukan adalah belajar dan bekerja sebaik-baiknya agar dapat mengubah keadaan dengan tangan sendiri.

Sebab bukankah orang mati tidak bisa melakukan apa-apa sedangkan orang hidup punya kesempatan untuk melakukan sesuatu?

***

*) Artikel berjudul “Kemanusiaan yang Sia-Sia” oleh Mohamad Sobary, KOMPAS 14 Mei 2011

Iklan

Quote

“Terang yang sesungguhnya, yang menerangi setiap orang, sedang datang ke dalam dunia.”

-Rasul Yohanes

#5.1. Sajak

Sudah pukul setengah dua lewat, sudah seharusnya saya tidur tapi tidak bisa. Selama berbaring, berbagai macam pikiran berseliweran dengan acak di kepala saya. Tentang ini dan tentang itu, tentang orang ini dan orang itu, dan lalu, dan lalu, dan lalu.

Kadang-kadang ketika sedang gusar atau tidak ada kerjaan, saya menulis sajak. Hasilnya bukan sesuatu yang luar biasa, cenderung rata-rata saja malah, tapi bagi saya sajak-sajak tersebut tetap ampuh untuk menyalurkan kegelisahan yang ada di benak saya.

Namun begitu, dari beberapa sajak yang pernah saya tulis hanya dua buah sajak yang dapat saya ingat di luar kepala–salah satunya adalah “Ode Untuk Bumi” yang pernah saya terbitkan disini. Sebabnya mungkin karena pada kedua sajak tersebut saya menambahkan melodi sehingga memori saya dapat dengan mudah mengingat kata per kata yang tertulis.

Ketika sedang berbaring tadi, saat pikiran acak berseliweran, sajak yang saya tulis semasa SMA ini–sajak selain “Ode Untuk Bumi” yang juga saya berikan melodi–jadi teringat begitu saja. Kalau dilihat sekarang, saya rasa sajak tersebut kini menjadi semacam potret kenang-kenangan dari masa lalu yang menangkap kelam jiwa saya.

Semenjak saya tidak bisa tidur dan sajak itu terlintas di kepala saya, saya pikir boleh juga saya tuliskan kembali dia disini.

Jadi ini dia, “Katasthrope.”

***

Tubuh tanpa roh...
melangkah dalam heningnya keramaian
Hadirnya sang putih di ambang belalak mata
Katasthrope yang tersenyum
Mencabut nafas, tercekat!
Melesak ke dalam kepala, meledak!
Menusuk jantung, mencabik!
Jatuh terhempas!
ke tanah berdebu
Seakan telah lama berlalu,
kembalikan sadar
ke dalam kelabu
tik... tok...
tik... tok...
tik... tok...
tik... tok...
suara...
detakan...
menggema...
melagu...

terhenti.