.catatan mimpi.

chaos, order, mimpi, dan impian

Month: September, 2011

#4.5. Figur dan Massa

“Of course the Baptist himself never had any idea of rebelling with force of arms. But whatever the leader’s thought might be, situations do occur where the common people, having once established their leader, are then swept away in some other direction with the force of an avalanche.”

Kutipan di atas saya ambil dari buku “A Life of Jesus” karangan Shusaku Endo, seorang novelis Katholik-Jepang. Di dalam buku ini, Endo membahas perjalanan hidup Yesus orang Nazareth lengkap dengan konteks sosio-politik masyarakat Yahudi pada masa itu.

Paragraf yang saya kutip di atas bicara tentang peristiwa pemenjaraan Yohanes Pembaptis oleh Raja Herodes Antipas. Bagi saya, yang menarik di sini adalah pengaruh “common people” yang menjadi pemicu terjadinya peristiwa penangkapan tersebut–dimana, seperti kita ketahui bersama, berakhir pada kematian Yohanes Pembaptis di bawah pisau pancung. Cukup tragis, mengingat Yohanes Pembaptis sendiri tidak sekalipun berencana untuk melakukan pemberontakan bersenjata.

Dari kasus ini dapat dilihat bahwa, daripada seorang figur cerdas dan kuat, ternyata orang-orang biasa, orang-orang yang tidak signifikan dan anonymous, yang kemudian berkumpul dan menjadi satu entitas kolektif lah yang sebenarnya memiliki kendali dan patut diantisipasi.

Fiksi Fragmen #4

Sejauh yang pernah kudengar, ada banyak cara untuk menggantungkan harapan. Beberapa meletakkannya di bintang jatuh, beberapa menuliskannya di balon gas yang dilepas ke udara, beberapa dalam lilin-lilin yang ditiup setahun sekali, dan beberapa dalam dialognya kepada Tuhan. Masing-masing orang memiliki caranya masing-masing. Begitu juga aku.

Aku tidak begitu ingat bagaimana mulanya. Rasanya sudah sedari kecil aku melakukan ini. Yang kuingat, hanya, aku sewaktu masih kecil sekali… menangis. Gara-garanya, karena dibuat takut oleh ondel-ondel. Entah siapa, waktu itu, ada yang datang dan menggendongku. Orang itu berusaha menenangkan diriku. Samar-samar aku ingat nada suaranya yang empuk seperti bantal, bukan, maksudku, aku tidak benar-benar bisa mengingat seperti apa suara orang itu. Hanya saja, kesan dari waktu itu masih tertinggal kuat di benakku. Suaranya empuk seperti bantal kapas.

“Gadis manis, jangan menangis.”

Lalu orang itu membawa setumpuk kertas warna-warni, kemudian ia mulai melipat-lipat kertas itu. Aku memperhatikan gerakan tangannya yang terampil. Lipat sana, lipat sini, buka, lipat lagi. Lalu, jadilah pesawat terbang. Orang itu membuatkanku pesawat terbang.

“Kalau kamu merasa takut, jangan takut. Ambil pesawat terbang ini, tiup rasa takutmu kesini. PUH! Seperti itu, lalu terbangkan.”

Aku tidak ingat siapa orang yang mengajariku membuat pesawat terbang itu. Namun, sejak saat itu kadang-kadang aku membuat pesawat terbang dari kertas. Pada awalnya hanya untuk membuang ketakutan, tapi lama kelamaan, pesawat-pesawat kertas itu menjadi simbol untuk sesuatu yang lebih dari sekedar itu.

Saat ini aku berada di atas gedung kuliahku. Gedung kuliah ini hampir kosong, aku hanya bertemu dengan Pak Tarno yang tiap pagi membukakan kunci pintu ruang studio dan kelas-kelas. Belum ada mahasiswa–dan mungkin juga dosen–yang datang karena ini memang masih pagi sekali. Sengaja aku datang awal hari ini.

Setelah meletakkan ransel dan tabung kertas di studio, aku langsung bergegas menuju tangga darurat. Dari situ aku menaiki tangga-tangga, terus hingga aku mencapai pintu yang menuju atap gedung. Pintunya tidak dikunci. Aku membukanya dan udara pagi Bandung langsung membungkusku. Aku memeluk tubuhku yang–walaupun sudah mengenakan jaket yang satu ukuran lebih besar dari badanku–tetap merasa kedinginan.

Aku berjalan menuju tepian, kemudian bersandar pada railing besi yang dicat hijau. Matahari bersinar lembut dari horizon. Aku selalu penasaran: mengapa sinar matahari, saat berada di horizon dan saat berada di atas kepala, punya kualitas yang berbeda? Yang pertama terasa hangat dan lembut, sementara yang kedua terasa galak dan menyengat. Padahal keduanya berasal dari matahari yang sama, kan? Aku melamunkan hal-hal semacam itu beberapa menit sambil mengamati aktivitas yang mulai bergerak di bawah gedung ini.

Di bawah sana ada seorang bapak yang sedang sibuk menyapu rontokan-rontokan daun dari pohon besar yang hanya Tuhan yang tahu umurnya, agak jauh dari sini terdengar suara mesin pemotong rumput yang hidup dan mati dalam sela waktu tertentu, lalu ada bapak lain yang mengenakan jaket kulit hitam dan mengendarai sepeda motor, bapak sepeda motor itu melewati bapak yang sedang menyapu rontokan daun, mereka saling menyapa, kemudian dari arah parkiran sepeda motor aku melihat ibu penjaga perpustakaan berjalan santai, ia melewati bapak yang menyapu rontokan daun, dan mereka saling menganggukkan kepala.

Aku rasa hari ini berjalan seperti biasanya, seperti hari-hari lainnya di muka bumi.

………….

………….

………….

Hari yang baru. Terus berjalan. Seperti biasanya.

Aku menghela napas. Tanpa sadar bibirku tersenyum ringan. Aku mengeluarkan pesawat kertas dari kantong jaketku. Mataku menerawang ke horizon. Sinar matahari berwarna keemasan.

Ah, cantiknya.

Aku menghela napas lagi, lalu tersenyum puas.

“Untuk hari yang baru. Untuk hari yang terus berjalan. PUH!” Aku melayangkan tanganku. Pesawat kertas terbang mengendarai angin.

“Untuk dua puluh.”

(Selesai –mungkin)
Jakarta, 6 September 2011
Andreas Cornelius Marbun