.catatan mimpi.

chaos, order, mimpi, dan impian

Month: Juli, 2011

Kosong Ep.7

NYERI

“Di antara sesuatu yang semu, kau dan aku berdiri.


“Dewa-dewa telah meninggalkanmu. Lalu apa yang akan kau lakukan?”

Lelaki itu mendongakkan kepalanya, ia meludahkan darah kental yang berwarna kehitaman. Ia tersungkur di antara puing-puing yang berusia ratusan tahun. Puing-puing yang telah menjadi saksi mati kematian.

Dengan tenaga yang masih tersisa, laki-laki itu berusaha keras untuk bangkit. Terdengar suara retakan tulang dari balik kulit dan dagingnya yang usang dan penuh kotoran. Sambil terbatuk-batuk ia memejamkan matanya. Memberikan waktu kepada rasa sakit untuk menggerogoti organ-organnya. Laki-laki itu mengujarkan nama dewa-dewa di dalam hatinya, setengah berharap salah satu dari mereka mendengarkan dan memutuskan untuk kembali. Tubuhnya yang berdiri kaku nampak seperti resonansi reruntuhan di sekitarnya yang diam membatu.

Sinar matahari jatuh di atas kelopak mata lelaki itu, retinanya menangkap cahaya-cahaya yang mengayun pelan. Ah… sungguh, ini lah cahaya yang sesungguhnya, sesuatu yang murni, yang esensinya baru dapat terjamah ketika mata memejam.

Angin lembut membelai rambutnya, lelaki itu telah menemukan kedamaiannya. Ia kembali mengujarkan nama dewa-dewa, namun kali ini penuh penyerahan. Saat mengucapkan nama dewa ketujuh air mata jatuh di pipinya.

Lelaki itu membuka mata. Matanya terlihat jernih dan bersih. Seolah air mata telah membasuh dosa dan penyesalan-penyesalannya. Lalu, dengan penuh kepayahan ia mulai mengambil langkahnya. Ia melangkah maju sedikit demi sedikit, menuju tempatku berdiri mengamat-amati dirinya. Tulang-tulangnya yang rapuh bergemeretak pada tiap langkah yang ia ambil, tapi air mukanya tidak berubah sedikit pun, matanya lurus menatapku.

“Dewa-dewa telah meninggalkanmu. Lalu apa yang akan kau lakukan?” Aku mengulang pertanyaanku. Lelaki itu berhenti. Sesaat ia diam.

Lalu di luar dugaanku, ia tersenyum dan berkata lirih.

“Pada satu titik atau yang lain, aku adalah dirimu. Dan pada satu titik atau yang lain, aku akan menjadi dirimu.”

Begitu kata-kata terakhir itu keluar dari mulutnya, sebuah getaran hebat berlangsung. Kakiku goyah dan kehilangan keseimbangannya, tapi lelaki itu tetap berdiri tegak seperti ada paku yang menancap di kedua kakinya. Tanah di sekitar kami mulai retak. Aku merangkak semampuku untuk menghindari retakan-retakan itu, mendaki ke bukit batu terdekat. Aku melihat sebuah retakan menjalar dengan cepat menuju ke bawah kaki lelaki itu. Retakan itu membuka lebar dan menelan dirinya.

Setelah itu sedikit demi sedikit getaran mereda. Retakan-retakan menutup dirinya masing-masing. Semendadak mulainya, bumi pun berhenti bergetar begitu saja.

(Bersambung –mungkin)
Bandung, 25 Juli 2011
Andreas Cornelius Marbun

#4.3. Bicara

Aku ingin bicara denganmu dinding-dinding putih
Aku ingin bicara denganmu lantai keramik dingin
Aku ingin bicara denganmu tirai-tirai yang tak pernah disingkap
Aku ingin bicara denganmu amplop-amplop menganggur
Aku ingin bicara denganmu gelas-gelas kotor
Aku ingin bicara denganmu helai-helai roti berjamur
Aku ingin bicara denganmu debu-debu di udara

Aku ingin bicara dengan semua kalian
Membagi sedikit jiwa yang gusar dan bahagia
Karena aku sangat ingin bicara
tentang dirinya

Mari kita bicara semalaman suntuk!

#4.2. Raja

Kemarin di sebuah kafe di Kota Tua, kami berempat mengobrol-ngobrol ringan. Di tengah-tengah obrolan, kami bercanda tentang ADD/ADHD dan tentang menjadi orang normal. Candaan tentang menjadi normal membuat salah seorang dari kami mengingat sebuah potongan cerita dari buku karangan Kahlil Gibran.

Cerita itu tentang seorang raja dan rakyatnya. Alkisah pada suatu masa, ada sebuah kerajaan. Kerajaan itu dipimpin oleh seorang raja yang adil dan dicintai rakyatnya. Segala sesuatu di kerajaan itu berjalan dengan baik. Pemerintah mengutamakan kepentingan rakyatnya dan rakyat mendukung penuh pemerintahnya. Namun, suatu hari keteraturan yang sudah bertahun-tahun melingkupi kerajaan itu terusik. Sebabnya karena sebuah mata air. Seluruh rakyat yang meminum air dari mata air ini berubah jadi gila. Awalnya hanya satu-dua orang yang terjangkit fenomena aneh ini, tapi lama kelamaan jumlahnya berlipat menjadi puluhan orang, terus dan terus berlipat hingga akhirnya seluruh penduduk kerajaan menjadi gila. Seluruh kerajaan menjadi gila, kecuali sang raja.

Menjadi satu-satunya orang yang waras, sang raja menjadi tersisihkan dari rakyatnya. Segala kebijakan-kebijakannya yang lurus menjadi bertentangan dengan kehendak umum. Rakyat menjadi jauh dari sang raja, dan raja pun menjadi sangat frustasi dengan keadaan ini. Hingga akhirnya dengan segala kewarasan yang Ia miliki, sang raja memutuskan bahwa tindakan yang paling bijaksana yang dapat Ia lakukan adalah meminum air dari mata air yang diminum oleh rakyatnya.

Sang raja pun menjadi gila dan mendapatkan rakyatnya kembali.

“Kalau kamu yang jadi rajanya, apa yang akan kamu lakukan?”

Belakangan saya ingat pernah membaca cerita ini sebelumnya, entah di blog Paulo Coelho atau di salah satu bukunya. Dihadapkan dengan pertanyaan di atas, seorang teman saya yang lain menjawab, kalau dia yang menjadi sang raja, dia tidak akan meminum mata air itu dan ikut-ikutan menjadi gila. Teman saya ini bilang, daripada menjadi gila, dia memilih untuk pergi dan mencari obat penawar penyakit gila tersebut—walaupun konsekuensinya dia harus menghabiskan seluruh sisa umurnya untuk mencari.

Tapi saya pikir, keputusan sang raja untuk meminum air dari mata air itu adalah keputusan yang sangat-sangat masuk akal. Rakyat memerlukan raja untuk menunjukkan kepada mereka jalan. Dan apalah artinya raja tanpa rakyatnya? Bukankah seorang raja tanpa rakyat adalah manusia biasa yang tidak punya apa-apa? Jadi, saya rasa, keputusan raja itu untuk mengorbankan kewarasannya supaya dapat bersama-sama lagi dengan rakyatnya merupakan sebuah tindakan yang patut dihargai.

***

Cerita ini kembali mengusik saya sore ini. Apalah artinya raja tanpa rakyat? Kalimat itu berbunyi berulang-ulang di kepala saya. Begitu mengganggu karena ketidaksesuaiannya dengan kondisi yang bisa saya lihat di negara yang saya tinggali ini. Di negara ini, banyak rakyat sudah hilang kepercayaan kepada rajanya—atau bahkan yang lebih parah lagi, yang indifferent terhadap rajanya. Pondasi utama berdirinya suatu kerajaan disini, yaitu kepercayaan rakyat terhadap rajanya, sudah keropos. Falsafah, atau etos bersama, yang dipegang bersama-sama sudah mulai dilupakan dan dibiarkan menjadi fosil. Apalah artinya raja tanpa rakyat? Kalau mengikuti pola berpikir logis, suatu kerajaan baru bisa berdiri jika Ia memiliki seorang raja, dan seorang raja baru bisa berdiri jika Ia ditopang oleh rakyatnya. Tanpa rakyat tidak akan ada raja, dan tanpa raja tidak akan ada kerajaan. Tapi, ajaibnya, negara ini masih ada dan berdiri. Sungguh mengherankan, sungguh mengherankan. Rupanya raja, dalam hal ini pihak-pihak yang memegang otoritas di negara ini, tidak membutuhkan rakyat untuk bisa tetap berdiri.

Saya tidak tahu, dengan begitu banyak berita buruk dan antipati di media massa, faktor apa yang bisa membuat negara ini masih bertahan sampai saat ini. Dari sini ada beberapa kemungkinan yang bisa terjadi, dua di antaranya adalah: runtuhnya negara karena antipati yang terus menumpuk, atau tetap berdirinya negara karena apati yang terus menumpuk. Tentunya masih ada beberapa kemungkinan lain yang lebih terang yang mungkin terjadi. Harap saja bukan dua kemungkinan pertama yang saya sebutkan di atas yang menjadi nyata. Ya, mudah-mudahan.

***

Saya bukan tipikal orang yang mungkin terjun ke dunia politik karena saya terlalu angin-anginan dan self-centered untuk itu. Tapi, andaikata seseorang yang datang kesini suatu saat akan menjadi politikus atau semacamnya, tolong ingat ini: politik seharusnya adalah seni untuk memperbaiki hidup orang banyak.