#4.0. Benteng

“Dia MATI!
Dendam terbalaskan!
Keadilan sudah ditegakkan!
Kita menang!”

Ribuan orang turun ke jalan
Berpesta dan merayakan
Senyum merekah meruah
Sorak-sorai penuh kemenangan

“Kita MENANG!”

Mereka menang,
Mereka pikir

Tapi sebenarnya tidak
Sama sekali tidak
Mereka kalah

Oleh kebencian

***

Osama bin Laden dikabarkan tewas tertembak. Peluru menembus mata kirinya. Saya dapat dengan mudah membayangkannya, hanya dalam sekedipan mata sejarah pribadi Osama bin Laden terhenti. Tidak ada masa lalu, masa kini, dan masa depan yang tersisa untuknya. Satu eksistensi dihapus dari muka bumi. Tidak-Ada-Lagi.

Siapapun subjeknya, berapa pun jumlahnya, kematian manusia itu tragedi. Semua manusia yang punya akal dan punya nyawa harusnya tau itu. Tapi yang terjadi malah: ribuan orang merayakan lenyapnya eksistensi sebuah nyawa. Absurd.

Baik, dia memang bertanggungjawab atas lenyapnya eksistensi manusia-manusia lain. Lantas? Apakah itu menjadi alasan yang pantas untuk berbahagia di atas kematian? Satu-satunya yang dipuaskan disini adalah rasa dendam.

Oh, manusia-manusia modern,
kemana perginya nalar dan rasa kemanusiaan?