.catatan mimpi.

chaos, order, mimpi, dan impian

Month: Februari, 2011

#3.8. Titik Temu

.

Kau perlu terhubung dengan dunia yang baru,

aku perlu terhubung dengan diriku yang dulu

.

Kabut tak dikenal yang kau tuju,
debu masa lalu yang ku sapu

.

Pada titik antara kita bertemu
saling memandang dan meragu

.

#3.7. The Things That Keep You Lie Awake

Oranges,
sweet and sour,
and some fine books,
some strange music,
images of, and the way she talks,
and the lingering feeling,
and the uncertainty of
the days ahead,

in the stillness
of the night.

Fiksi Fragmen #3

“Gimana hubungan lo dengan… siapa namanya, cewek itu?” Sesha menghisap rokoknya.

“Hmm? Oh… Ya, begitulah.”

Aku sedang duduk di bordes tangga darurat sambil meminum kopi kaleng. Aku suka tangga darurat di gedung kuliah ini, letaknya ada di ujung dan jarang dipakai. Kalau aku sedang merasa gusar atau penat atau perasaan lain yang membuatku tidak ingin berada di dekat orang lain—yang mana cukup sering—aku akan membeli kopi kaleng di kantin bawah dan meminumnya di bordes tangga darurat ini. Sendiri, jauh dari orang lain. Bisa dibilang, selama tiga tahun, tangga darurat ini sudah menjadi tempat pelarianku, semacam markas rahasia bagiku, tidak ada satu orang pun yang tahu aku berada disini. Ya, kecuali Sesha.

Kadang Sesha datang ke tangga darurat untuk merokok. Dia juga berpikir tangga darurat ini jarang dilewati orang-orang, karena itu tempat ini menjadi tempat yang ideal baginya untuk merokok dan melepas kepenatan. Sesekali kami bertemu disini, dan kami akan mengobrol tentang hal-hal remeh. Aku dan Sesha sama-sama belajar arsitektur, di studio perancangan yang sama pula, tapi di luar tangga darurat ini kami tidak terlalu akrab. Di luar, kami bahkan hampir tidak pernah bercakap-cakap dan terlibat satu sama lain. Tidak ada alasan khusus, cuma ada perasaan enggan atau segan untuk melakukannya saja. Dia dengan dunianya dan aku dengan duniaku, sudah begitu adanya.

Sesha gemar memakai pakaian warna hitam, seperti hari ini. Hanya pada hari-hari tertentu dia memakai warna lain–seperti abu-abu, coklat, dan biru gelap. Namun, satu hal yang pasti, pakaiannya selalu polos. Sejauh pengamatanku, tidak ada pakaiannya yang bergambar atau memakai ornamen-ornamen. Semuanya polos, monokromatik. Sederhana tapi terlihat bagus. Rambutnya juga berwarna hitam; lurus seleher, biasanya diikat. Sesha dan teman-temannya punya kelompok musik folk-pop. Pernah sekali aku melihatnya bernyanyi di acara kampus. Secara teknik memang tidak sehebat penyanyi profesional, tapi dia punya–meminjam istilah yang dipakai para juri kontes menyanyi di TV–karakter vokal. Orang yang tidak mengenalnya pasti tidak akan pernah menduga kalau Sesha suka merokok. Memang tidak disangka-sangka, waktu pertama kali mengetahuinya pun aku melongo. Kupikir, kalau dia tidak merokok mungkin badannya bisa lebih tinggi. Tapi aku tidak berani mengatakannya.

“Eh, kok bengong? ‘Ya, begitulah,’ terus gimana?”

“Hmm, ya… tahu sendirilah, gua orangnya kan agak lambat,” kalau bicara dengan Sesha aku selalu menggunakan ‘gua-elu’. Aku orang Bandung, Sesha dari Jakarta. Dia langsung memrotesku waktu pertama kali kami mengobrol, karena aku menggunakan ‘aku-kamu.’ Dia merasa aneh kalau teman laki-laki bicara memakai ‘aku-kamu’ kepadanya. Sampai sekarang aku tidak mengerti dimana anehnya.

“Agak lambat? BANGET tau!” dia tertawa, “kalau lo emang suka, ya, langsung aja tunjukin terang-terangan, biar sekalian dia sadar. Kalau samar-samar begitu, apa nggak takut diduluin orang?”

“Ah, gua nggak bisa kayak gitu. Terlalu vulgar, nggak elegan, Sha.”

“Haissh, gaya lo. Deketin cewek aja sampai dipikirin begitu,” dia beranjak dari anak tangga yang didudukinya lalu duduk di bordes, di sebelahku, “Eh, kita tuh beruntung hidup di jaman ini. Komunikasi tuh gampang banget, semuanya terhubung. Ya, lo manfaatin dong. SMS kek, Facebook kek, Twitter kek, MSN kek, BBM kek, apalah terserah.”

“Nah, itu, gua paling malas sama yang instan-instan begitu,” aku memberikan pandanganku, “semakin gampang sesuatu, semakin kecil maknanya, Sha. Jaman sekarang, kalau lu pengen ngobrol sama orang tinggal MSN aja–atau Skype malah. Udah nggak ada bedanya itu orang tinggal di kamar sebelah apa di ujung dunia. Terus, di samping itu, karena saking mudahnya komunikasi, apa yang lu omongin makin lama makin dangkal karena semuanya berjalan terlalu cepat, terlalu instan.”

“Terus, menurut lo, harusnya komunikasi yang ideal itu gimana, dong? Pakai surat?” Sesha tertawa mendengar idenya sendiri.

“Iya, Sha, bener! Surat! Coba bayangin aja, kalau pakai surat setidaknya lu harus menyediakan waktu khusus untuk menulis, mikirin kata-katanya dulu, terus menulis kata-katanya di kertas, mengulang lagi kalau ada yang salah, naik kendaraan ke kantor pos, kirim suratnya, nunggu beberapa hari sampai suratnya sampai, terus nunggu beberapa hari lagi sampai datang balasan.

“Begitu ada surat yang datang ke alamat lu, coba deh lu bayangin segala macam usaha yang dilalui penulis surat itu, coba lu bayangin apa yang udah surat itu lewati sampai akhirnya sampai di tangan lu. Surat itu bukan cuma sekedar membawa kabar ke lu, Sha, tapi juga niat. Kesungguhan! Sangat jauh lebih bermakna daripada sekedar sebaris kalimat yang disingkat-singkat di MSN.”

Sesha tidak mengatakan apa-apa.

“Terus selain itu juga, surat yang lu tulis itu secara nggak sadar akan mendidik lu. Di saat lu menyediakan waktu untuk menulis, lu menyediakan waktu untuk menelusuri apa yang ada di dalam kepala lu—atau hati lu, mungkin. Lihat aja, banyak kan kumpulan surat yang akhirnya dijadiin buku? Kayak kumpulan surat R.A. Kartini misalnya. Kenapa? Karena surat-surat itu bukan sekedar sarana bertukar kabar. Lebih dari itu, surat juga jadi kristalisasi pemikiran lu dan potret jaman dimana lu hidup. Coba aja lihat, mana ada saved log MSN yang dibukukan? Terlalu instan. Jadinya, ya, dangkal.”

Sesha mengangguk-angguk kecil sambil memonyongkan bibirnya, berarti dia sedang berpikir. Tidak ada yang bicara selama beberapa saat. Sesha meluruskan kakinya. Dia menghirup rokoknya, lalu menghembuskannya. Aku meneguk kopiku. Dia menghirupnya rokoknya lagi, lalu menghembuskannya. Aku meneguk kopiku lagi. Sinar matahari masuk dari jendela kecil pada tembok yang kami sandari. Ah, di luar pasti sedang panas-panasnya. Kulihat jam di ponsel, pukul satu lewat tigabelas menit.

“Tau nggak apa yang gue pikirin?” Sesha bicara.

“Apa?”

“Kayaknya lo harus dimuseumkan. Nanti gue yang rancang museumnya, deh.”

“Ah, sialan lu,” kami berdua pun tertawa di antara kepulan asap.

Aku meneguk kopiku lagi, tapi ternyata sudah habis. Aku mengguncang-guncang kaleng kopiku untuk meyakinkan diri. Benar-benar sudah habis ternyata. Aku jadi teringat dengan kritik Pak Amir, dosen pembimbingku, barusan mengenai desain fasilitas penelitian yang kukerjakan. Kritiknya keras sekali. Aku jadi ragu dengan kemampuan mendesain dan masa depanku sebagai arsitek. Ah, sialan. Mengingat itu rasanya aku jadi penat. Mungkin habis ini aku akan pergi ke kantin bawah untuk membeli sekaleng kopi lagi.

“Tapi apa lo beneran nggak takut diduluin orang?”

“Hmm? Apa? Oh,” Sesha masih melanjutkan pembicaraan tadi, “gimana bilangnya, ya? Entah kenapa, gua yakin semuanya bakal berjalan baik-baik aja. Gua merasa, gimana ya, ada kesamaan antara gua dan dia. Gua rasa gua bisa paham apa yang dia pikirkan. Kenapa dia melakukan hal ini, atau tidak melakukan hal itu. Jadi gua nggak terlalu khawatir soal itu.”

“Biarpun lo jarang ketemu dia dan jarang ngobrol?”

“Ya, begitulah.”

You’re such an intuitive guy. Kinda naïve, I say.

“Hah? Ngomong apa lu?”

Alih-alih menjawab, Sesha melambai-lambaikan tangannya. Kadang Sesha bicara tidak hanya lewat kata-kata tapi juga gestur tubuh. Gerakan melambai-lambaikan tangan ini adalah salah satu gestur khas Sesha.

“Eh, Sha,” aku teringat tentang sesuatu yang sudah agak lama kupikirkan, “menurut lu, lebih baik punya pasangan yang mirip–dalam artian mirip sifatnya, seleranya, cara pandang, dan sebagainya–atau yang beda dari lu?”

“Hmm,” Sesha berpikir sejenak, “Kalau yang mirip, berarti lo bisa mengerti dia karena lo bisa menempatkan diri lo sebagai dia. Kalau yang beda, mungkin bakal ada friksi-friksi yang terjadi, tapi di sisi lain kalian bisa jadi malah saling melengkapi. Begitu maksud lo?”

“Iya.”

“Jadi alasan lo tertarik sama cewek itu karena alasan itu?”

“Ya, nggak juga. Kata orang, ketertarikan itu terjadi karena reaksi kimia, jadi nggak ada hubungannya sama pertimbangan-pertimbangan intelektual.”

“Oh, oke,” dia mengambil waktunya dan melanjukan dengan nada bicara santai, “Jadi begini, kalau menurut gue, dua pilihan yang lo sebut tadi itu–antara yang mirip atau dengan yang beda–nggak benar-benar ada. Karena sebenarnya di dunia ini nggak ada orang-orang yang dilahirkan sehati dan sepikir. Soulmates dan belahan jiwa, itu semua omong kosong! Semua orang dilahirkan berbeda, nggak ada satu orang pun yang sama. Masalahnya nih ya, ada semacam ilusi yang nempel di otak orang-orang, yang bikin orang-orang nggak bisa melihat fakta yang sudah jelas begitu.”

Dia membuang abu yang menggantung di ujung rokoknya, lalu melanjutkan, “Orang-orang hidup dengan membawa delusinya masing-masing. Contohnya lo, tadi lo bilang lo bisa merasakan kemiripan antara diri lo dengan dia. Lo bisa paham alasan-alasan dia tanpa perlu diomongin. Mungkin sebagian memang benar seperti itu, tapi sebagiannya lagi adalah skenario yang dirancang pikiran lo sendiri sebagai pembenaran. Lo tau sendiri, kalau seseorang sedang menginginkan sesuatu, atau meyakini sesuatu, tanpa sadar pikirannya membuat pembenaran-pembenaran yang mendukung apa yang orang itu yakini.

“Menurut gue nih ya, lo harus hati-hati, kalau nggak lo bakal terjebak dalam skenario-skenario yang pikiran lo rancang sendiri. Makanya, semakin dekat seseorang dengan orang lain, semakin besar juga kemungkinan mereka saling menyakiti. Karena kenyataan yang terjadi tidak seperti ilusi di pikiran mereka. Sikap, perasaan, dan reaksi pasangan mereka tidak seperti apa yang mereka bayangkan. Perbedaan itu nyata, just deal with it.

“Oscar Wilde pernah bilang begini,” Sesha menghisap rokoknya dalam-dalam sambil memejamkan mata, “The things one feels absolutely certain about are never true. That is the fatality of Faith, and the lesson of Romance.”

Selesai mengucapkan kalimat itu, Sesha melihat ke arahku. Aku langsung mengalihkan pandanganku ke arah lain. Asap rokok yang Sesha hembuskan bertabrakan dengan cahaya matahari yang masuk dari jendela kecil. Aku memperhatikan bayangan asap rokok yang jatuh ke lantai dan anak tangga. Bayangan asap tipis itu bergerak-gerak dan berubah bentuk sesuka hatinya. Aku tidak mengatakan apa-apa.

Samar-samar dari luar pintu darurat terdengar suara tawa, yang disusul bunyi gaduh. Ah, pasti itu anak-anak tingkat pertama bau kencur yang sedang bangga-bangganya jadi mahasiswa arsitektur. Hah, belum tahu mereka.

Aku dan Sesha hanya duduk diam bersebelahan selama beberapa saat.

“Sha, tau nggak apa yang gua pikirin?”

“Apa?”

“Kayaknya lu harus dimuseumkan juga, deh. Terus siapa dong yang rancang museum kita?”

“Heh, sialan lo!” dia meninju lenganku, kami berdua pun tertawa.

Sesha menghembuskan asap rokoknya sekali lagi dan kemudian bangkit berdiri. Dia mematikan rokoknya dengan cara menyundut ujungnya di tembok, meninggalkan bekas kehitaman disana. Puntung rokok itu nanti akan dia bawa dan buang di tempat sampah, makanya dia tidak pernah mematikan rokoknya dengan menginjaknya—jijik, katanya.

“Eh, duluan, ya, udah kelamaan nih istirahatnya.”

“Oke, oke, kayaknya habis ini gua mau ke kantin dulu nih, beli kopi lagi.”

“Haissh, kamu kebanyakan ngopi, kayak kakek-kakek.”

Sesha melambai-lambaikan tangannya lalu bergegas beranjak menaiki tangga ke arah studio perancangan kami. Aku mengamati ekor rambutnya yang terayun ke kanan dan ke kiri. Sambil menaiki anak tangga satu-satu, dengan cueknya Sesha menyanyikan lagu yang pernah kudengar di acara kampus tempo hari. Warna suara yang seperti ini memang cuma dia yang punya, pikirku dalam hati. Sesha meraih gagang pintu dan membukanya. Dia keluar dari tangga darurat. Kini tinggal aku sendiri yang ada di tangga darurat ini, duduk di bordes sambil setengah melamun.

Lalu tiba-tiba sesuatu terlintas di kepalaku, aku baru menyadari sesuatu.

“Eh? Tunggu–‘Kamu’?”

(Selesai –mungkin)
Jakarta, 19 Februari 2011
Andreas Cornelius Marbun

Realita Fragmen

What is your life dream?” juru kamera menyorot seorang ibu yang memangku bayi kecilnya di sebuah terminal bus.

Mendengar pertanyaan itu, si ibu hanya tersenyum. Empat hari menjelang Tahun Baru Cina, terminal bus Shanghai menjadi sangat padat dan sibuk. Para perantau yang setahun penuh bekerja keras di Shanghai berbondong-bondong pulang ke kampung halaman masing-masing.

We are poor so we don’t have much hope,” ujar ibu itu sambil tetap tersenyum, “My husband didn’t go to school. Even how hard we try, we can never fulfill our dreams.

Our baby is our hope.

Kamera ganti menyorot si ayah yang berdiri karena tidak kebagian tempat duduk, “I hope she will contribute to the society.

If only I could provide her with education,” si ayah memandang bayinya, suaranya sedikit bergetar, “I want her to go to university, and get a job.

Bertanya Tidak Membuatmu Mati, Hanya Terlihat Sedikit Bodoh #4

Tanpa penderitaan dan penindasan, akan adakah orang-orang yang berdiri dan mencari kebenaran? Akan adakah orang-orang yang tercerahkan? Penderitaan dan penindasan lah yang melahirkan orang-orang ini, orang-orang yang mendahului zamannya untuk membawa perubahan.

Namun, sungguh adakah perubahan yang terjadi? Tidak peduli seberapa kerasnya pergolakan orang-orang yang membawa perubahan, penderitaan dan penindasan masih tetap ada, dari dahulu hingga saat ini. Orang-orang miskin, peperangan, penyelewengan, semua itu masih tetap ada dari awal peradaban hingga detik ini.

“Tak satupun ‘revolusi’ yang masuk ke jantung sumber kesengsaraan masyarakat yang sesungguhnya.”

Lalu sebenarnya untuk apakah segala pergulatan ini?

Kenapa sejarah penindasan terus berulang?

Kenapa orang-orang yang menderita tidak ada habisnya?

Bisakah satu orang mengakhiri penderitaan seluruh dunia?

Apakah memang jalan menuju pembebasan adalah perjalanan pribadi yang masing-masing lalui sendiri?

Apa sebenarnya jantung sumber kesengsaraan masyarakat yang sesungguhnya?

s e l a