.catatan mimpi.

chaos, order, mimpi, dan impian

Month: Januari, 2011

Ceracau #3

Optimistik. Rasanya seperti menemukan belahan jiwa yang selama ini dicari-cari. Arsitek itu memang harusnya punya gaya, bukan cuma manggut-manggut mau klien. Biar juga jadinya kontroversial, terserah, yang penting punya gaya. Elegan apa eksentrik, terserah, pokoknya punya pendirian dan terlihat memilikinya. Riset dan studi, saya mau belajar pola pikir beliau (mereka). Enam bulan katanya, moga-moga saya tahan dan benaran cocok. Ah, apalah, kirim lamaran saja belum, apalagi diterima? Terlalu jauh mengkhayal. Tapi kan suka-suka, lagi semangat-semangatnya. Kenapa semangat benar? Ya, itu tadi, karena rasanya menemukan belahan jiwa yang selama ini dicari-cari, menemukan tempat yang rasa-rasanya sesuai dengan preferensi diri. Optimistik! Tapi bisa saja cuma gara-gara habis minum kopi terus mabuk kafein berdebar-debar, deg-deg-deg-deg begitu (tertawa). Besok saya kesana. Dunia maya dan ke-instan-annya memberi kemudahan, tapi cara-cara lama yang merepotkan menunjukkan kesungguhan dan ketetapan hati. Tuhan tahu siapa yang sungguh-sungguh. Semoga saya.

Iklan

Bertanya Tidak Membuatmu Mati, Hanya Terlihat Sedikit Bodoh #3

Ananda       : Lata! Buddha mau percaya orang seperti aku tanpa ragu! (Ananda                               adalah mantan kriminal, pencuri, dan sudah membunuh banyak                                     orang di masa lalu) Aku akan melayaninya, apapun yang terjadi!

Lata            : Aku juga, berkat dirinya… sejak hari itu… aku bisa berbicara. (Lata                             adalah mantan budak perempuan yang diselamatkan oleh Ananda,                                 dulu dia bisu) Aku takkan pernah melupakan hari itu.                                                   Aku melayaninya dengan senang hati.

Ananda       : Nasib kita benar-benar aneh…

Lata            : Ya…

Ananda       : Jika kita tidak mengenakan jubah ini, kita pasti sudah menjadi                                      suami-istri.

Lata            : Ya…

Ananda       : Kita ini biksu dan biksuni, jadi tak ada gunanya membicarakan                                    pernikahan… Namun hati kita menyatu untuk selamanya.

Lata            : Kau benar.

(telapak tangan Ananda dan Lata bersentuhan)

Buddha – Osamu Tezuka

***

“Namun hati kita menyatu untuk selamanya.”

Cinta platonik seperti ini terlihat begitu murni dan indah. Di masa kini, dimana cinta harus ditunjukkan dengan kedekatan fisik, masih bisa kah sesuatu yang murni–seperti yang dialami Ananda dan Lata–tetap hidup?

s e l a

Fiksi Fragmen #2

“Beethoven’s Piano Sonata no.8 in C Minor, Op. 13, Adagio Cantabile – Pathetique” terdengar mengalun dari pengeras suara mobil yang sedang melaju di jalanan lengang kota Jakarta. Malam sudah cukup larut, tapi kota Jakarta seakan masih menolak untuk tidur. Lampu-lampu yang bewarna merah, putih, dan kuning terlihat berkelebatan dari mobil yang sedang melaju ini. Sekilas lelampu itu nampak seperti kunang-kunang, hanya saja lebih dingin.

Di dalam mobil ada dua orang yang duduk bersebelahan. Seorang pria dan seorang wanita. Si pria berada di balik kemudi, dan si wanita di sebelahnya. Si pria menatap lurus ke depan, dan si wanita menatap bayangan si pria dari jendela di sampingnya. Piano sonata mengalun, dan mereka berdiam.

“Hhhh… musiknya aku matiin aja, ya?” si wanita memecah diam, “Kadang aku suka merasa musik itu menghalangi orang untuk bercakap-cakap dalam perjalanan deh.”

“Eh? Kenapa begitu?”

“Coba aja, seandainya nggak ada CD player ini, nggak ada musik sama sekali, pasti sepi, kan? Jadinya kita terdorong untuk memulai pembicaraan supaya sepinya hilang. Nggak kayak sekarang ini—ruang-ruang kosong yang ada malah diisi sama musik. Akhirnya kita malah nggak bicara sama sekali.”

“Lho, tapi daritadi aku memang bicara denganmu,” sesaat si pria memalingkan pandangannya dari jalan, menatap si wanita yang kelihatan sedikit bingung, ”lewat sesuatu yang lebih daripada kata-kata. Ya, lewat musik yang aku putar ini.”

Si pria tersenyum sekilas, lalu kembali memusatkan perhatiaannya ke jalan. Si wanita menatap wajah si pria dan terdiam sesaat. Lalu ia kembali menyenderkan tubuhnya dan menatap jendela di sampingnya.

Hening….

Dari jendela, dia bisa melihat pantulan wajah pria yang ada di sebelahnya. Pria yang sekarang mulai bersenandung mengikuti melodi yang diputar oleh CD player.

Pria yang bersenandung untuknya.

(Selesai –mungkin)
Jakarta, 19 Januari 2011
Andreas Cornelius Marbun

Fiksi Fragmen #1

“Kau tahu,” tiba-tiba dia bicara dari balik buku yang sedang dibacanya, ”saya rasa ini bukan kebetulan.”

“Eh? Apanya yang bukan kebetulan?”

Dia meletakkan bukunya, mengambilnya lagi untuk memeriksa halaman, meletakkannya lagi, lalu menatapku, “Semuanya.”

Aku balas menatapnya bingung. Dari sinar matanya kelihatan dia senang melihatku kebingungan.

“Semuanya. Ya, semuanya. Misalnya, kenapa saya baru mengenalmu sekarang bukan dari setahun atau dua tahun lalu, kenapa kita dibesarkan di kota yang berbeda, kenapa tahun ini saya mulai tertarik membaca karya-karya sastra, kenapa kamu baru mulai belajar fotografi di awal tahun ini, dan sebagainya, dan sebagainya, dan sebagainya.”

“Hmm? Lalu kenapa?”

“Yaa, saya cuma tidak bisa membayangkan saja. Seandainya kita bertemu setahun atau dua tahun lebih cepat, mungkin kita tidak akan pernah duduk berdua di tempat ini sambil minum kopi,” dia mengangguk halus ke arah cangkir kopi di ujung jemariku.

”Seakan-akan ada yang berkata, ‘Hei, belum waktunya kamu bertemu dia, karena kamu yang sekarang masih belum siap untuk itu,’” katanya sambil memberat-beratkan suara seperti raksasa, “Wah, kalau saja kamu tahu bagaimana diri saya yang dulu… jangankan kamu, saya sendiri mungkin tidak mau dekat-dekat dengan saya.”

“Apa-apaan itu?” aku tertawa kecil, “Hmm, iya juga ya. Kalau saja aku tidak mulai belajar fotografi di awal tahun ini, mungkin hari itu aku tidak akan terjebak hujan saat sedang berburu foto, dan aku tidak akan berteduh di kafe ini juga.”

“Dan seandainya sejak awal tahun ini saya tidak membiasakan diri membaca buku baru setiap bulan, saya tidak akan mengenali buku yang waktu itu kamu baca waktu menunggu pesananmu datang, yang akibatnya saya tidak akan ambil peduli dengan kamu yang ada di depan saya waktu itu.”

“Hah, apa-apaan itu? Jahat sekali kamu!” kami berdua tertawa. Dia mengambil cangkirnya lalu menyeruput kopi, tapi dia tidak sengaja tertawa lagi, lalu tersedak sampai-sampai kopinya keluar dari hidung.

“Huh, kamu tuh habis bicara kata-kata sok keren, malah tersedak begini,” aku tidak bisa menahan tawaku, “Ini, pakai tissue ini.”

“Hrrahh, maaf, maaf!” terbatuk-batuk sedikit, dia melanjutkan, “Lihat, benar kan? Sepertinya ada alasan kenapa kita baru dipertemukan saat ini. Saya berani bertaruh, pasti ini bukan kebetulan!”

“Jadi kalau bukan kebetulan apa? Kesengajaan?”

Dia berpikir sejenak. Bola matanya melirik sesuatu yang tidak kelihatan di ujung langit-langit, kebiasaan yang selalu muncul ketika dia berpikir.

“Hmm, mungkin ini,” bola matanya ganti menatapku, ada binaran disana, dia tersenyum, “setengah kebetulan, setengah kesengajaan.”

(Selesai –mungkin)
Jakarta, 11 Januari 2011
Andreas Cornelius Marbun

#3.4. Puisi Jatuh Cinta (Itu Biasa Saja)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

ruang ini untukmu