.catatan mimpi.

chaos, order, mimpi, dan impian

Month: November, 2010

Quote

“Charles melawan kecemasan dengan selalu berusaha mengagumi sesuatu. Bila dia mengagumi diriku sebagai buah unggul sang bumi, itu hanyalah untuk meyakinkan diri bahwa semua pada umumnya baik, termasuk kematian kita yang memilukan. Alam yang siap merenggutnya itu, dicarinya pada puncak-puncak gunung, alunan gelombang, di antara bintang-bintang, sumber kehidupan baru padaku, agar dia mampu merengkuh alam dengan lebih bermakna, dan menerima segalanya dari semesta, seraya menantikan lahat yang sedang digalinya. Aku ini sesungguhnya bukan penyambung lidah Kebenaran, melainkan penyambung lidah maut kakekku.”

-Jean Paul Sartre

Mungkin dengan mencoba mengerti kematian kita baru bisa lebih mengenal kehidupan, pun begitu sebaliknya. Kehidupan dan kematian, dua sisi pada koin yang sama.

Quote

“If we take eternity to mean not infinite temporal duration, but timelessness, the eternal life belongs to those who live in the present.”

-Ludwig Josef Johann Wittgenstein

Cara yang menarik untuk memandang keabadian. Bisa saja orang-orang ini.

Ceracau #2

Ceracau, mari kita bicara tentang ceracau lagi malam ini. Pertama-tama saya harus mengecilkan volume musik yang sedang berputar sedikit. Sedikit saja, agar suara-suara yang berbisik-bisik di kepala bisa terdengar lebih jelas. Jadi, apa yang sedang kalian bicarakan malam ini kawan-kawan? Penghuni sela-sela sel kelabu? Tidak perlu malu-malu, ini aku.

Aku rasa kamu mulai kehilangan spontanitasmu, hei aku. Kenapa bisa begitu? Nampaknya ada yang berubah dengan dirimu. Apa itu? Ada sesuatu yang kau sembunyikan, bukan? Lihat saja, setiap malam, yang menghampirimu hanya malam-malam tanpa mimpi. Kata orang sih itu pertanda baik. Artinya tidurmu dalam. Tidur yang berkualitas, tanpa mimpi itu. Hidup berjalan baik kah, kawan?

Entah lah, jujurnya saya juga kurang mengerti apa yang terjadi. Mungkin saja pikiran ini sedang mempermainkan saya. Tidak tau ini nyata atau ilusi semata. Tapi kau benar aku, kawanku, ada yang berbeda. Kamu tentu setuju kalau satu-satunya yang tidak berubah adalah perubahan. Begitulah adanya, sudah waktunya mungkin. Berubah, ya. Beberapa hal datang, beberapa hal pergi. Berganti, bergeser, berlalu.

Betul itu, mungkin kalau aku tidak selalu bersama-sama denganmu, aku tidak langsung mengenalimu lagi ketika kita berpapasan.

……………….

……………….

Ahh, aku kawanku. Lihat begitu berbedanya sekarang kita. Lihat betapa sekarang jeda menghampiri selalu celah-celah percakapan kita. Dulu kita selalu bebas bicara, bersahut-sahutan, berbantah-bantahan, dan tumpang tindih. Kemana pula perginya kawan-kawan kita yang lain itu? Dulu rasanya ramai sekali. Sekarang hanya ada kita berdua. Sedikit sepi tidak kah kau rasa?

Ya, semuanya punya harga yang harus dibayar. Apa boleh buat. Setidaknya sekarang kau lebih kokoh.

Benar begitu? Kamu pikir begitu? Ah, benar-benar, rupanya sekarang bukan hanya ada jeda, tapi juga jarak. Mungkin kamu harus melihat lebih dekat lagi aku, kawanku. Kalau kamu mengambil jarak juga, siapa lagi yang mengenaliku?

Hei, tapi jarak itu esensial. Aku yakin kamu tau itu. Kata-kata tanpa jarak hanya akan menjadi deretan huruf tak bermakna. Tanpa jarak aku hanya akan jadi pembenaranmu, begitu juga sebaliknya, lalu kita buta bersama-sama. Kau mau begitu? Lagi?

……………….

……………….

……………….

Apa kamu ada topik lain yang menarik untuk dibicarakan? Ah, tidak menarik juga tidak apa-apa. Apa saja lah.

Hmm… tidak ada.

Baiklah.

Baiklah.

Kalau begitu sampai lain waktu, kawan.

#3.0. Ode Untuk Bumi

Hei, manusia lihat sekitarmu
Apa yang telah kalian perbuat kepada Ibu Bumi?
Ibu Bumi menangis,
Ibu Bumi meratap

Menatap sendu kepada sela-sela kehancuran

Lubang hitam semakin membesar, melebar
Karena kalian terus menggali, menggali, dan menggali
sampai inti Bumi

Aaaaaahhhhhhh…

Ibu Bumi menangis
Dengarkan suaranya meratap tangis

Masa depan terenggut,
musnah sebelum terjadi
Karena keserakahan kalian

Saatnya… saatnya…
Saatnya telah tiba

Lihat!

Cahaya…
Aku melihat cahaya
Sebuah cercah benih cahaya
Ohh… benih yang tak boleh padam

Tak boleh padam

Cercah cahaya yang tak akan bisa dipadamkan
Dari kapanpun
Hingga kapanpun

***

(Musikalisasi puisi ini akan ikut serta dalam pameran karya IMA-G tanggal 15-19 November 2010)

#2.9. Mungkin Akhir Masih Menyeruput Kopi di Teras Rumahnya

Pemuda 1 : Gua makin merasa kiamat makin dekat nih.

Pemuda 2 : Loh, kenapa?

Pemuda 1 : Habis di Mentawai ada tsunami, di Wasior banjir, terus Merapi juga meletus. Bencana alam kayak nggak berhenti-berhenti.

Pemuda 2 : (seketika itu sesuatu terlintas di kepalanya) Tapi bisa jadi justru kebalikannya loh. Bencana-bencana itu bisa jadi bukan pertanda kiamat. Mungkin itu cara alam buat menjaga keseimbangannya.

Pemuda 1 : (berpikir) Hmm, bisa juga sih. Gua pernah ngobrol sama bapak gua, manusia di Bumi ini makin bertambah banyak, terus-terus bertambah banyak, bisa-bisa dunia ini sebentar lagi jadi penuh sesak. Terus bapak gua bilang, “Kan, itu belum termasuk orang-orang yang meninggal karena bencana alam.”

Pemuda 2 : Iya, kayak begitu. Mungkin, bencana-bencana itu reaksi Bumi yang mulai kewalahan menampung kita semua. Jadi bencana-bencana ini justru usaha Bumi supaya semuanya tetap seimbang. Bukan tanda-tanda kiamat tapi justru tanda-tanda Bumi akan bertahan lebih lama lagi.

Pemuda 1 : (sambil tertawa) Berarti Bumi itu kayak makhluk hidup dong ya?

Pemuda 2 : Iya, mungkin semacam itu.

Pemuda 1 : Terus nanti lu bikin sekte penyembah alam gitu.

Pemuda 1 + 2 : (tertawa berbarengan)

———————————————————————————————————————————————————–

Ini adalah ringkasan percakapan acak sehari-hari. Mohon maaf bila tulisan ini terkesan kurang simpatik, sama sekali tidak ada maksud seperti itu. Hanya ingin berbagi sudut pandang.

Tidak akan ada yang tahu kapan dunia akan berakhir. Tidak perlu khawatir.