.catatan mimpi.

chaos, order, mimpi, dan impian

Month: Oktober, 2010

#9. Tentang Mimpi dan Catatan Mimpi

Wah, kapan ya saya terakhir menulis mimpi saya disini? Tahu-tahu tempat ini sudah membentuk dirinya sendiri menjadi agak sedikit berbeda dari konsep awalnya. Akhir-akhir ini saya jarang bermimpi. Kalau pun bermimpi, saya tidak sempat mencatatnya atau bahkan tidak bisa mengingatnya. Jadi saya rasa sekarang disini saya mau menulis mimpi yang sudah agak lama saja.

Mimpi ini diambil dari buku jurnal hitam Andreas C. Marbun dengan penyesuaian seperlunya:

—————————————————————————————————————————–

Minggu, 16 Mei 2010
Bandung

 

Kemarin malam saya bermimpi. Saya berada di pulau Bali. Bukan Bali yang itu, yang penuh dengan turis dari mancanegara, tapi Bali yang lain. Bali yang lebih magis.

Saya melihat sebuah pegunungan di kejauhan. Gunung itu sangat tinggi hingga awan menutupinya. Di salah satu puncaknya, gunung itu membentuk profil wajah seorang lelaki yang memakai topi ksatria dalam cerita pewayangan. Saya rasa itu profil wajah dewa Wisnu.

Saat itu saya sedang berada dalam antrian di depan sebuah gedung. Antrian entah apa. Lalu saya melihat ke atas, menengadah melihat tampak gedung itu. Kemudian saya menyadari bayangan pada gedung itu bergerak cepat sekali. Seorang ibu yang berbaris di depan saya berkata kepada anaknya sambil menunjuk horizon, “Lihat, mataharinya sedang terbenam.

Benar saja, saya melihat matahari di langit Barat bergerak dengan kecepatan yang tidak biasa. Turun, seakan ingin cepat-cepat tenggelam dalam lautan. Matahari hilang, tapi masih tersisa cahaya. Cahaya yang agak redup, mungkin cahaya bulan.

***

Saya juga bertemu orang ini di mimpi. Kulitnya putih, tinggi, berambut ikal hitam panjang, wajahnya sedikit tirus, dan matanya kecil seperti orang Jepang. Dia mengenakan jas hitam panjang yang tidak dikancing, di dalamnya kemeja putih, bercelana bahan, dan bersepatu pantofel.

Awalnya dia terlihat seperti orang biasa. Tapi ternyata dia bisa membelah setengah batok kepalanya. Batok kepala yang terbelah itu juga memiliki wajah.

Setelah saya pikir-pikir lagi, penampakannya yang seperti itu harusnya terlihat menyeramkan (ditambah giginya yang tajam-tajam), tapi saya yang di mimpi tidak merasa takut.

Di mimpi itu, saya sedang melakukan suatu hal yang harus saya lakukan. Begitu lelaki yang terlihat seperti orang Jepang itu muncul dan menunjukkan batok kepalanya yang terbelah, saya sedang bersiap-siap menghadapi sesuatu.

Tapi tiba-tiba saya dibangunkan oleh Christin–adik perempuan saya. Dan pada akhirnya saya tidak dapat mengingat dengan jelas apa yang sedang saya lakukan di mimpi itu.

—————————————————————————————————————————–

Iklan

#2.8. Wajah-Wajah Dalam Barisan

You came to take us
all things go, all things go
To recreate us
all things grow, all things grow

Prosesi pelepasan malam ini terasa berbeda dengan prosesi-prosesi yang pernah saya ikuti sebelumnya. Kali ini mata saya melihat segala detail peristiwa dengan pandangan yang baru.

Wajah-wajah dalam barisan itu bukan wajah-wajah yang asing. Mereka adalah orang-orang yang berpapasan dengan saya di lift, yang bertukar sapa atau sekedar tatapan, yang duduk bersama-sama untuk bertukar kata-kata, juga yang mengalami apa yang saya alami di sekolah ini. Mereka dan kami–kita–adalah orang-orang dari segala penjuru Indonesia yang entah bagaimana dipertemukan di sekolah ini, memijak tanah yang serupa, dan ditempa tangan yang serupa.

Ketika berjalan melintasi barisan wajah-wajah itu, sesuatu terlintas di kepala saya. Setelah ini apa? Kemana mereka akan pergi? Kemana KAMI nanti akan pergi?

Sekolah ini ibarat sebuah stasiun, tempat orang-orang dari segala penjuru singgah dan bertemu untuk sesaat, hanya untuk melanjutkan perjalanannya ke tempat lain. Beberapa wajah dalam barisan ini mungkin akan kembali ke tempat mereka berasal, ke tempat yang bisa jadi cuma pernah saya dengar namanya saja. Mungkin juga ada beberapa dari mereka yang akan pergi ke negara yang asing selama beberapa tahun. Suatu saat di masa depan kami akan bertemu lagi, tapi mungkin juga tidak. Barangkali, malam ini adalah malam terakhir saya melihat beberapa wajah yang ada di dalam barisan ini.

Mulai dari titik ini, mereka memiliki kebebasan untuk memilih rute selanjutnya yang akan dituju masing-masing. Rute yang bisa jadi sama sekali berbeda dengan rute orang yang berdiri di sampingnya dalam barisan itu.

Setelah melewati wajah-wajah dalam barisan, saya duduk bersama teman-teman satu studio. Saya melihat wajah-wajah mereka. Wajah termenung si sentimental, wajah sedih si pemimpin, wajah tertawa si pelawak. Dari berbagai wajah mereka, saya melihat sesuatu yang sama, dan dari mata mereka saya bisa membacanya dengan jelas. Walaupun selubung yang mereka tampilkan kepada dunia luar berbeda-beda, ketika mereka melihat satu sama lain, sesuatu di dalam diri mereka meneriakkan hal yang sama dalam diam:

“Kawan, semua inipun juga akan berakhir.”

—————————————————————————————————————————————-

Tanpa terasa sebentar lagi kita akan sampai.

Dua putaran lagi, dan tiba waktu kita.

#2.7. Retrospect

Dua hari menjelang pasar seni. Ternyata sudah empat tahun berlalu sejak masa-masa saya gemar mencorat-coret wajah dan gestur di buku sketsa. Empat tahun sejak saya mendengar kata pasar seni untuk pertama kalinya dan langsung bercita-cita untuk menjadi bagian di dalamnya suatu saat nanti.

Tapi ternyata, perjalanan ini membawa saya melewati persimpangan-persimpangan tidak dikenal dan membenturkan saya kepada gesekan-gesekan yang tidak terpahami. Hingga pada akhirnya saya berada disini, berdiri di tempat yang sama sekali tidak pernah saya imajinasikan sebelumnya.

Cita-cita saya empat tahun yang lalu itu kini sudah menguap entah kemana. Rasanya seperti mimpi samar-samar dari dunia yang jauh.

Wangi rumput terinjak yang bercampur dengan serpihan bilah-bilah bambu di lapangan besar yang saya lewati tadi membuat saya menyadari satu hal. Perjalanan ini adalah serentetan perubahan yang tidak akan pernah bisa kita mengerti dan sadari, kecuali kita mengambil waktu sejenak dari segala hiruk pikuk di sekitar kita untuk menengok ke belakang.

Dan karenanya saya bersyukur.

10 10 10

Hari Minggu ini akan menjadi sebuah peringatan, juga perayaan, bagi mimpi-mimpi yang tercecer dan jiwa-jiwa yang berevolusi.

Quote

“Joker adalah jenis langka. Ia bisa larut masuk ke kelompok manapun, tapi tidak termasuk ke kelompok manapun. Ini unik. Joker adalah sosok yang selalu bertanya ini dan itu, curiga dan selalu ingin tahu, terutama mengenai siapakah dirinya. Joker sering dianggap aneh, dan memang aneh, dengan topi dan sepatu badutnya, tangan memegang lonceng, akan selalu membuat gaduh dimana-mana. Tingkahnya tampak bodoh. Tapi ia pintar dan tahu segalanya.”

(Himawijaya pada Kata Pengantar “Misteri Soliter”)

Sepertinya menarik kalau bisa bertemu seorang Joker.