.catatan mimpi.

chaos, order, mimpi, dan impian

Month: September, 2010

#2.6.

Akar-akar rumput,
aroma tanah,
pecahan bebatuan,
celoteh anak-anak kecil,
air hujan yang turun,
tawa-tawa kosong,
dan seseorang.

“Apa yang kau cari, anak manusia?”

#2.5. Elegi

Butiran-butiran pasir jatuh satu-satu
Disini aku menghitung waktuku
Yang ditiup angin tersapu
Lenyap, ditelan lamunan semu

Ah, ingin rasanya kuberseru,
“Hei, ayo kita buat sebuah tragedi!
Sebab kita adalah inkarnasi manusia-manusia Yunani!”

Lalu kan kutulis sebuah elegi
Tentang tawa-tawa yang tak penah terjadi
Dan angan-angan setengah hati
Juga ingatan yang tak akan mati

Hingga akhirnya adalah elegi
Sedu sedan yang membuat nama kita abadi

———————————————————————–

Dari abu, segala sesuatu
Hanya untuk kembali menjadi abu

———————————————————————–

Tapi, akankah masaku berlalu
Sebelum sempat mengenalmu?


					

Kosong Ep.5

BUMI DAN LANGIT
“Minor Earth, Major Sky


Bumi tunduk di hadapan langit. Sebuah upacara penyucian tengah berlangsung. Bumi berlutut dan merendahkan dirinya, matanya terpejam penuh penyerahan. Terdengar samar-samar suara rintik yang berbisik gelisah. Dari sudut matamu, kau menangkap gerakan halus tarian pepohonan. Kalau kau cukup awas, mungkin kau bisa mendengar senandung angin yang membuat pepohonan itu menari. Tarian itu bukan tarian biasa, sudah ada jauh sebelum kau dilahirkan. Angin adalah guru yang setia, dia selalu hadir ketika tunas-tunas baru mulai tumbuh, menyanyikan senandungnya dan mengajari tunas-tunas itu menari, menunjukkan kepada mereka keindahan dalam gerakan samar-samar.

“I can’t see me in this empty place
Just another lonely face”

Melangkah perlahan, dalam prosesi khidmat tarian dan senandung, langit yang berbalutkan jubah hitam mendekati bumi. Rambutnya yang gelap bergelombang terjulur halus. Lebih halus dari aliran sungai.

Selangkah demi selangkah Ia mendekat, tatapannya lurus ke bumi namun penuh pengertian.

Bumi, sosok ringkih penuh derita. Di wajahnya guratan-guratan sayu dan lelah terukir dalam, membentuk pola-pola tak beraturan yang tidak bisa dibilang indah. Bumi, di usia mudanya ini… tidak ada yang tahu apa saja yang telah dilaluinya. Dosa apakah yang telah diperbuat bumi di kehidupan sebelumnya hingga dia pantas menanggung penderitaan semacam ini?

Selangkah demi selangkah Ia mendekat, tatapannya lurus ke bumi namun penuh pengertian.

Bumi bergetar, langit ada di hadapannya. Matanya terpejam, tapi seluruh tubuhnya mengejang. Tubuhnya kaku dan lidahnya kelu. Tapi keberadaan dirinya disini, yang berlutut di hadapan langit, telah mengumandangkan teriakan yang menggema hingga ke pelosok semesta.

“Can you hear me when I speak out loud
Hear my voice above the crowd”

Langit berdiri diam, punggungnya tegap membusur anggun. Bumi membuka segaris matanya, hanya berani menatap ujung kaki langit. Tidak ada yang terjadi selama beberapa saat, segala entitas menahan nafas tidak berani menganggu kejadian ini. Semua terdiam beberapa saat. Berapa lama beberapa saat itu kita tidak bisa menerka-nerka, bisa saja hanya sedetik atau dua, atau mungkin beberapa jam, atau mungkin berabad-abad. Tidak ada yang tahu, karena disana waktu tertidur.

“Minor earth, major sky…”

Bumi berbisik dalam hatinya. Berulang kali dia mengulang kata-kata yang sama, seperti mantra. Hingga akhirnya langit menyebut namanya. Rintik-rintik menjadi semakin gelisah. Bumi memberanikan diri menengadahkan wajahnya. Pandangan bumi dan langit bertemu, mereka bersitatap. Bumi bisa melihat kabut di mata langit. Rintik-rintik menjadi gusar, dalam sekejap kegelisahan mereka berubah menjadi amarah. Langit menatap lurus ke bumi, namun penuh pengertian. Ia mengucapkan sesuatu, tapi kita tidak bisa mendengar apapun lagi. Rintik-rintik telah berubah menjadi badai, amarah telah menguasai mereka, meredam segalanya, menampar-nampar membabi buta. Walau begitu, sekeras apapun badai menampar bumi, pandangan bumi tetap terpancang lurus ke arah langit  seakan terpesona oleh kabut di matanya.

Lalu seketika, langit terbelah. Dari kejauhan terdengar deru keras seperti deru berpuluh-puluh pasukan tentara berkuda. Dalam sekejap deru itu mendekat. Makin keras, makin keras, dan makin keras. Seluruh bebunyian terhisap dan tersapu oleh deru ini. Suara genderang perang yang memekakkan telinga terdengar.

Lalu langit pun pecah memuntahkan cahaya.

CTTAAARRRRR!

…………………………………………………………………………………………….

………………………………………………………………………………..

…………………………………………………………………

………………………………………………………..

………………………………………..

……………………………….

……………………

………….

……..

… Lelaki gemuruh membuka matanya. Sesaat dia kehilangan orientasi. Apa yang terjadi? Dimana aku? Siapa aku? Kemudian dia melihat sekelilingnya. Sebuah pintu kaca, kursi kayu di teras yang basah oleh hujan, aroma kopi, tumpukan kaset berwarna-warni di rak, dan sebuah walkman cassette player. Semua ingatannya kembali tersusun sesuai tempatnya.

Dia mendapati dirinya terbaring kedinginan. Hujan telah berhenti. Di cakrawala masih tersisa sedikit pendaran senja. Lelaki gemuruh bangkit menuju jendela. Walkman cassette player di tangan kanannya. Dia menerawang jauh ke langit sejenak. Suara desis halus kaset yang sedang berputar adalah satu-satunya hal yang menunda lamunannya. Sepintas dia memperhatikan gerakan gerigi kaset yang berputar di dalam walkman cassette playernya, lalu kemudian menekan tombol berhenti.

Lelaki gemuruh menghela napas, kembali menerawang ke langit dan larut ke dalam lamunan.

Matanya diselimuti kabut.

(Bersambung –mungkin)
Jakarta, 9 September 2010
Andreas Cornelius Marbun
*(“Minor Earth, Major Sky” adalah salah satu judul lagu A-HA)