.catatan mimpi.

chaos, order, mimpi, dan impian

Month: Juni, 2010

Bertanya Tidak Membuatmu Mati, Hanya Terlihat Sedikit Bodoh #2

Kopulasi itu hal paling alami yang dilakukan oleh makhluk hidup. Lalu, mengapa kita–manusia–punya obsesi yang begitu besar terhadap hal itu? Mengapa, dalam tingkat tertentu, manusia begitu senang melihat kejadian yang sebenarnya sangat alami seperti itu?

Kucing melakukannya, anjing melakukannya, bahkan kecoa yang tadi saya lihat di kamar mandi pun melakukannya. Saat mereka berkopulasi, tidak ada sesamanya yang berkerumun kegirangan di sekitar mereka. Kenapa? Karena itu hal yang alami, hal biasa-biasa saja yang memang sudah seharusnya terjadi.

Tapi–berbeda dengan kucing, anjing, dan kecoa–kita begitu membesar-besarkan aktivitas kopulasi tersebut. Kita begitu antusias! Mengapa kita, manusia, memiliki minat yang begitu besar terhadap seks? Bahkan saking besarnya, Freud mengklaim bahwa dorongan hidup manusia yang paling mendasar–yang mendorong kita untuk terus mempertahankan diri–adalah libido.

Saya bukan mau menghakimi atau sok-sokan tidak punya ketertarikan terhadap kabar sensual yang sedang ramai dibicarakan itu. Saya juga manusia yang terlahir dari darah yang sama, serta mewarisi tanda tanya besar yang juga dibawa oleh semua orang. Semua orang, baik terang-terangan maupun tersembunyi, sadar maupun tidak sadar, menyimpan imaji-imaji seksual di kepalanya. Tapi di sela-sela ketertarikan saya terhadap hal ini, juga muncul rasa penasaran yang membuat saya bertanya-tanya. Mengapa kita, yang katanya, makhluk paling beradab dan sempurna di alam ini, justru makhluk yang paling “udik” dan “norak” dalam hal aktivitas berkembangbiak? Seks membuat kita jadi seperti Tarzan yang over-excited begitu pertama kali melihat televisi.

Hmm, entah kenapa saya kok merasa ini lucu juga, ya?

Ya, kan?

Iklan

Kosong Ep.3

SAHABAT LAMA
“. . . .

 

Perasaan kosong itu datang lagi menemaninya. Tapi kali ini dia tidak tau harus berbuat apa. Tidak tau bagaimana cara untuk menyapa si perasaan kosong. Dia tidak punya persiapan apapun untuk menyambut sahabat lama yang datang tiba-tiba ini.

Dia hanya duduk diam di situ. Menatap layar datar yang meradiasikan cahaya lampu, sambil menopang pipinya dengan kedua tangan. Diam dan hanya menatap, sementara di dadanya sesuatu bergolak tidak karuan. Di dini hari ini, hanya dirinya yang masih terjaga. Tidak ada suara apapun–atau siapapun–kecuali alunan dari radio yang dipasang pada volume minimum dan detakan ritmik dari jarum jam.

Dia duduk dalam malam yang sepi dan hening. Biasanya dia sangat menikmati saat-saat seperti ini, karena dalam sepi dan hening, malam hanya menjadi miliknya seorang. Pun begitu sebaliknya. Tapi kali ini kesempurnaan sepi dan hening miliknya terusik oleh kedatangan si sahabat lama. Jauh di dalam sana, di dalam dadanya, dia yakin dapat mendengar suara gemuruh yang bergejolak tidak karuan itu.

BERISIK. BERISIK. BERISIK!

Dia ingin gemuruh itu diam. Dia ingin gejolak itu mati dan meninggalkannya dalam kesempurnaan malam seperti hari-hari sebelumnya. Tapi apa yang dapat dia lakukan? Dia tidak punya persiapan apapun untuk menyambut sahabat lama yang datang tiba-tiba ini.

Mungkin, cuma satu hal yang bisa dia lakukan untuk meredakan gejolak dalam dadanya, demi kembali mencapai titik ekuilibrium dirinya. Yaitu diam. Tanpa ucap, tanpa perlawanan, menunggu sahabat lamanya beranjak dari sisinya dan pergi menyusup ke dalam mimpi-mimpi orang lain.

Dan itulah yang dia lakukan.

Dia duduk disana tanpa sedikit pun gerakan yang kasat mata. Menatap layar datar yang meradiasikan cahaya lampu, sambil menopang pipinya dengan kedua tangan, menanti kosong beranjak.

Pelan-pelan, menanti malam berlalu.

(Bersambung –mungkin)
Jakarta, 4 Juni 2010
Andreas Cornelius Marbun