Kosong Ep.2

KALA
“Pada irisan dunia paralel, ujung mata pena kita bersentuhan.

 

Sebuah benang merah tipis terjulur, terkulai panjang dari dadaku. Begitu panjangnya hingga ujungnya tidak terlihat, mungkin hingga tepian dunia. Benang merah itu meliuk-liuk dari sini, dari ruang putih, steril, minimalis, dan membosankan tempat aku duduk sendiri di atas sebuah kursi kayu dengan kaki timpang sehingga berbunyi “tok tok tok” ketika aku bergerak satu centimeter saja ini.

Di sana, di ujung lain benang merah yang terjulur dari dadaku, ada seseorang terhubung. Seseorang yang membawa setengah keping diriku. Lewat ujung pena ini kami bersentuhan. Goresan-goresan yang mengirimkan sajak-sajak kerinduan dan raut-raut kehilangan. Setengah diri yang terpisah saling memanggil. Seperti di dalam hutan yang lebat—tempat pepohonan berlomba-lomba menjulang untuk memperoleh rampasan mentari yang paling banyak—kadang sayup-sayup suaranya yang memanggil namaku terdengar.

Kerap aku berharap Tuhan mempertemukan separuh bagianku lewat mimpi.

Di sebuah stasiun di malam hari, menunggu kereta terakhir, di dalam lindungan pijaran lelampu putih. Duduk berselang satu bangku atau mungkin berdiri bersisihan saja. Tanpa kata, tanpa kecanggungan, berbagi kesendirian, berbagi keheningan. Bersama. Itu saja.

Tuhan telah mempertemukan ayahku dengan separuhnya lewat mimpi. Dan aku harap Tuhan pun mempertemukan langkah kami dalam mimpi. Tidak perlu bertukar kata-kata manis, karena cukup hanya dengan “ada” sudah memberi ribuan makna dan berlaksa pengertian.

Benang merah tipis ini, terhubung dengan seseorang di ujung sana. Seseorang yang mampu menafikan kata, kala memberi makna.

(Bersambung –mungkin)
Bandung, 7 April 2010
Andreas Cornelius Marbun
Kosong EP.1: LELAKI GEMURUH
Iklan