#1.6. Radio Is Not Enough 11/11

Hari ini 11 November.

11/11

 

Ini tanggal yang penting buat saya. Bukan, bukan karena fenomena 11:11 yang sedang ramai dialami hampir seluruh penduduk dunia belakangan ini. Tanggal ini penting sebab, 11 November, satu tahun lalu, saya memulai tahap jelajah diri ke ranah yang baru, area buta yang belum saya kenal sama sekali, yaitu musik dan bebunyian.

Pada 11 November 2008, Project Radio Is Not Enough dimulai.

 

Project Radio Is Not Enough menjadi media baru saya untuk mengaktualisasikan diri. Sebuah catatan emosi, dan mungkin bahkan pemikiran, yang mengendap di dalam kepala saya secara tidak sadar. Radio Is Not Enough telah resmi menjadi perekam perkembangan emosi bawah sadar saya selama 325 hari ke belakang.

Jika saya tengok kembali langkah-langkah saya, ternyata banyak hal yang telah terjadi sejauh ini.

Pengakuan, penolakan, pencapaian, perspektif baru, pengalaman, kekecewaan, sakit hati, insight, musik-musik baru, teman-teman baru, kesombongan, kebodohan, keruntuhan, juga kebangkitan.

Musik adalah cerminan sekaligus pembentuk kepribadian. You are what you listen. Apa yang kita pilih untuk dengarkan merepresentasikan “wujud” diri kita yang sebenarnya, juga sekaligus membentuk respon dan pandangan diri terhadap dunia. Ini saya sadari ketika mendengarkan karya-karya saya, tidak ada yang lebih baik menceritakan seperti apa diri saya selain karya-karya saya.

 

Satu tahun, ratusan proses bolak-balik, dan delapan karya. Dan inilah mereka, buah-buah emosi terpendam yang sempat saya petik, dimulai dari yang paling awal:

1. Radio Is Not Enough [1:51]

Saat-saat pertama saya berkenalan dengan media baru ini. Di dalamnya terekam chaos dan ketidakteraturan singkat.

2. Catatan Mimpi [2:48]

Saya memulainya dengan mencari bebunyian yang menarik perhatian saya, kemudian memberikan pola-pola dan mengkomposisikannya sedemikian rupa. Ketika itu saya cukup sering mengalami mimpi-mimpi absurd (yang menarik), mungkin ingatan samar-samar tentang mimpi-mimpi itu yang menjadi dasar terbentuknya “Catatan Mimpi”. (Referensi yang didengar saat itu: Tinkerwish oleh Santamonica.)

3. A Poetic Solitary [2:25]

Kesendirian. Tapi bukan kesendirian yang menyedihkan, bukan kesendirian yang melemahkan. Kesendirian disini adalah kesendirian yang perlu dinikmati, karena saat itulah muncul kesempatan yang sangat sering kita lewatkan, yaitu berdialog dengan diri sendiri.

4. Off We Go To Nightmareland [6:07]

Penjelajahan saya ke dunia mimpi buruk dan sudut-sudut ketakutan. Bisikan-bisikan, teriakan-terikan, suara-suara menggigil, statik radio, dan tekanan dari entah apa. Salah satu favorit saya, tapi juga yang paling memusingkan saat pembuatannya (sampai pengen muntah <—ini literal, lho).

5. Hujan, Mimpi, dan Ruang Angkasa [3:18]

Saya ingin kekacauan! Sesuatu yang kasar. Dengan rumusan [gebrak-break down-naik-cooling down], tingkat kekasaran moderat, dan beat cukup cepat, terciptalah “Hujan, Mimpi, dan Ruang Angkasa”.

6. A Talk With A Girl From Another Time [3:43]

Dalam pembuatan lagu-lagu sebelumnya, saya membuat pattern-pattern yang kemudian dikomposisikan, tapi di lagu ini saya mencoba cara yang berbeda. Yaitu dengan merekamnya langsung. Lagu ini 100% dibuat hanya dengan menekan-nekan keyboard komputer.

7. Why Did You Come To My Dream Last Night? [4:05]

Benang merah paruh pertama Radio Is Not Enough adalah mimpi. Dan karya ini adalah penutup dari paruh pertama itu. Terus-menerus bicara tentang mimpi tentu akan membosankan, bukan? (Referensi yang didengar saat itu: kelompok-kelompok musik postrock/soundscape seperti Sigur Ros, Olafur Arnalds dan L’Alphalpha, dan mungkin Efek Rumah Kaca juga).

8. On The Edge Of Thursday [3:05]

Lagi-lagi saya ingin kekacauan! Dan terjadilah chaos yang terkendali disini. Saya memadukan dua metode yang ada di FL dalam pembuatan lagu ini, pattern dan recording. Hal yang menjadi ide dari “On The Edge Of Thursday” adalah kekalutan yang sering terjadi saat pengumpulan tugas studio perancangan tiap hari Kamis. (Referensi yang didengar saat itu: kelompok-kelompok musik shoegaze seperti Asobi Seksu dan Paraparanoid, dan juga Mew).

 

Sejauh ini Radio Is Not Enough sudah cukup berhasil menjalankan fungsinya sebagai media jelajah diri. Sekarang, untuk tahun kedua, muncul pertanyaan, apakah menjadikan Radio Is Not Enough sebagai media ekspresi pribadi saja sudah cukup?

Seharusnya tidak.

Radio Is Not Enough seharusnya tidak berhenti dan stagnan di titik ini. Radio Is Not Enough harus berubah dan berevolusi ke tahap selanjutnya. Sejauh apa perubahan yang harus terjadi? Saya tidak tau, saat ini tidak ada yang bisa menjawab.

Tapi yang jelas, perubahan itu pasti.

Sekecil apapun itu.

 RINE

Rabu, 11 November 2009 Andreas Cornelius Marbun

http://www.myspace.com/radioisnotenough

 

Iklan