.catatan mimpi.

chaos, order, mimpi, dan impian

Month: Oktober, 2009

Efek Rumah Kaca

Coup de Nouf #4. Efek Rumah Kaca.

15149_1271127335418_1146920186_30834351_3496870_n

Aula itu begitu ramai. Penuh sesak, puluhan orang berebut oksigen di hadapan panggung. Saya memisahkan diri dari teman-teman saya. Memberi jeda sejenak bagi paru-paru untuk bernapas. Sela beberapa menit kemudian saya kembali ke aula itu, dan tak lama kemudian Efek Rumah Kaca naik dan membawa dunianya ke atas panggung.

Tiga manusia.

Tiga instrumen.

Satu suara.

Satu semesta bebunyian!

Ini pengalaman pertama saya tersedot ke dalam trance ketika menyaksikan live performance. Tubuh saya bergetar, kepala saya bergoyang, dan kesadaran saya berada di ambangnya.

Persetan dengan keramaian.

Persetan dengan orang-orang yang membatu di kiri dan kanan.

Persetan dengan dunia nyata.

Saya berteriak.

Sekencang-kencangnya.

Tidak ada yang peduli.

Saya berteriak.

Sekuat-kuatnya.

Dan saya tidak sendiri.

Saat itu semua tersisihkan. Semua yang real terasa surreal. Semua yang real terasa tidak pernah terjadi. Semua menghilang dan menguap. Tak ada identitas, tak ada ego, yang tersisa hanya intisari. Percikan yang selama ini terpendam, memancar membebaskan diri. Tidak ada identitas dan ego. Yang ada hanyalah ada.

Saya berteriak!

Saya bergerak!

Saya lepas!

Saya bebas!

Saya hidup!

Dan saya pun terlarut dalam keberadaan saya.

Keberadaan yang meneriakkan kebebasannya!

Bandung, 31 Oktober 2009
Iklan

Kosong Ep.1

LELAKI GEMURUH
“Akankah ada seseorang yang menemaniku menikmati keheningan?

 

Dia seorang lelaki muda. Matanya seolah diselimuti kabut. Dia gemar duduk di teras rumahnya kala langit mendung, ketika gemuruh berputar selayaknya genderang pawai dewa-dewi.

Dia mencintai gemuruh. Tiap gemuruh terdengar dari kejauhan, dia duduk di sudut yang sama di balik pintu kaca. Lalu akan dia buka sedikit pintu kaca itu agar gemuruh menyelusup melingkupi penuh gendang telinganya.

Dia sendiri, menikmati ramai keheningan. Sebuah walkman cassette player, benda yang cukup antik pada masa ini, dengan sebuah kaset kosong yang berputar di dalamnya, terduduk rapi di sisinya. Merekam tiap nada geram gemuruh yang selalu menggetarkan benang-benang jiwanya.

Dari sudut tempatnya duduk, kita bisa melihat sebuah rak kecil yang dipenuhi tumpukan kaset. Kaset-kaset dengan berbagai label yang berbeda warna. Kaset-kaset yang menyimpan geram-geram gemuruh yang pernah berkunjung sebelumnya, sebelum sore ini.

Si lelaki muda itu sungguh mencintai gemuruh, hingga ia selalu mengabadikan tiap momen perjumpaan mereka.

Saat kubah langit menghitam, dan ketika udara dingin mulai menyelimutinya, maka dia menutup matanya. Menikmati getaran elektris yang mengalir dari tengkuknya menuju setiap jengkal tubuhnya. Dan saat itu, tepat ketika langit bergetar, aliran elektris itu menjalari pita suaranya. Dan ia pun mulai bersenandung, bersama rintik hujan, bersama derau angin, dan tentu bersama geram gemuruh. Bersinkronisasi dengan orkestra alam yang megah.

Dan sesaat itu, ia pun menyatu, melebur, bersama ketiadaan.

. . .ada . . . . . . . . . . . . .

. . . . . . . . . . . . .dan . . . . . . . . . .

. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .juga . . . . . . . . .

. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .tiada . . . . . . .

(Bersambung –mungkin)
Bandung, 2 Oktober 2009
Andreas Cornelius Marbun