.catatan mimpi.

chaos, order, mimpi, dan impian

Month: Juli, 2009

Bertanya Tidak Membuatmu Mati, Hanya Terlihat Sedikit Bodoh

Apa poinnya memiliki jika akan melepas?

Apa poinnya menjalin hubungan jika tau

jalinan itu tidak bisa tetap?

“Awet-awet ya…”

kata-kata yang sering saya dengar diucapkan kepada sebuah pasangan.

Awet… tahan lama… bukan berarti tidak kadarluarsa. Sebuah kata yang mengandung harapan—atau doa—atau keyakinan—bahwa sesuatu itu akan habis masa berlakunya.

Saya heran. Alih-alih mengatakan “rukun-rukun ya kalian” atau “baik-baik ya kalian”, kenapa malah frase “awet-awet” yang digunakan sebagai kata-kata manis untuk mendoakan pasangan? Padahal dari maknanya saja frase tersebut seakan sudah meramalkan suatu masa dimana cinta itu usang dan menguap di tempat sampah.

Tidak masuk akal.

Ya, sama tidak masuk akalnya dengan pertanyaan, “Apa poinnya menjalin hubungan jika tau jalinan itu tidak bisa tetap?”

Sebab kalau begitu,

“Apa poinnya hidup jika akan mati?”

Pertanyaan bodoh.

(Sedang mendengarkan “Olsen Olsen” oleh Sigur Ros)

#1.2. Damai Untuk Jiwa Yang Telah Kembali

Iblis terbahak

melihat perut terburai

terhampar merah di lantai

[]

Teruskan. Teruskan. Teruskan.

Tumpahkan. Tumpahkan. Tumpahkan.

Indah merah butiran

menghambur dalam hujan

korban sembelihan

[]

Iblis terbahak

Hak hak hak

(Tribut untuk pelaku pemboman Ritz Carlton-J.W. Marriot Hotel)

#1.1. Mata Orang-Orang Ini Mati, Pun Saya Malam Ini

.
Lelaki kecil dengan
Binaran bintang di matanya
Menatap langit malam
Satu keasingan
Penuh ledakan
Dan gelegar warna
Supernova
Menelan mereka, para cahaya
Satu persatu
Segala penjuru semesta, rayakan
Semarak sebuah ketakterdugaan
Dan semuanya
Kembali kepada nihil
Yang ada hanya
Lelaki kecil yang
Menatap kosong
Ke dalam kelam
Ke dalam kelam
.