#0.5. Biji Bunga Matahari

Dua butir biji bunga matahari tertiup angin.

Dua butir biji bunga matahari ini hanya bisa mengikuti kemana angin membawa mereka. Terbang berdekatan, takut akan dunia, takut kehilangan satu sama lain.

Namun satu kala, hujan turun. Butir air menghempas salah satu biji bunga matahari. Dia terjatuh ke tanah hijau, sementara yang satu pergi dibawa angin, terbang hingga ke suatu pulau yang jauh. Kini mereka menghadapi dunia sendirian. Tapi mereka percaya dan sadar, biarpun mereka terpisah tapi mereka tetap biji bunga matahari yang sama, tak akan berubah.

Hari demi hari, musim demi musim, lewat sudah.

Biji bunga matahari yang terhempas butir hujan tumbuh di sebuah puncak bukit. Berdiri sendiri menghadap matahari. Menyerap sel-sel matahari, dengan harapan dia bisa tumbuh besar dan tinggi sehingga bisa melihat biji bunga matahari yang jatuh di pulau.

Sementara itu, biji bunga matahari yang jatuh di pulau tumbuh di tengah-tengah ladang bunga mawar. Diantara warna dan harum-haruman wangi bunga yang menyenangkan. Dia mendapat sinar matahari dari celah ranting pohon yang menaunginya, menyerap sel-sel matahari dengan harapan mahkota bunganya menjadi berwarna indah seperti sekitarnya dan mewangi harum hingga wanginya sampai ke biji yang jatuh di bukit.

Tapi apa yang terjadi?

Biji bunga matahari yang di bukit tumbuh besar serupa pohon karena hanya berteman dengan matahari, dan biji bunga yang di pulau tumbuh dengan warna-warni seperti bunga mawar dan memperindah ladang bunga.

Lalu pada akhirnya dua biji bunga matahari itu pun tidak saling mengenali lagi…

.fin.

Iklan