#1. Cesarina

The rain is gonna fall on…

The rain is gonna fall on us…

The rain is gonna fall on…

The rain is gonna fall on us…

Into the fine hall,

desperately trying to run

On my second thought,

Cesarina

Inhalling your hair scent

And it almost the time it comes…

The rain is gonna fall on…

The rain is gonna fall on us…

The rain is gonna fall on…

The rain is gonna fall on us…

The rain is gonna fall on…

The rain is gonna fall on us…

The rain is gonna fall on…

The rain is gonna fall on…

Us… Us… Us…

The overwhelming scent reach me,

Oh… Ohh…

And I just couldn’t resist to…

Kill… Kill… Kill… Kill… Kill… Kill…

Hari itu hujan turun rintik-rintik. Udara dingin datang menyeruak bersama hujan. Membawa suasana ringan yang nyaman ke dalam studio gambar. Nyaman, juga mengantukkan. Saya mengambil jaket yang saya gantungkan disebelah saya. Jaket berwarna hijau, yang saya tidak tau pasti hijau apa namanya, hijau gelap yang kebiru-biruan, hadiah ulang tahun dari dia. Saya mengenakan jaket itu untuk melapisi badan saya yang kurus. Bahannya cukup efektif untuk melawan udara dingin yang tiba-tiba datang ini, hangat, yah, walaupun ukurannya sedikit kebesaran sih.

Saya sedang mengerjakan tugas desain di studio gambar lantai 4 gedung arsitektur. Memeras otak dan wawasan untuk menemukan beberapa alternatif sketsa desain yang akan diajukan saat asistensi dengan dosen pembimbing saya, yang suka datang seenaknya saat saya sedang serius-seriusnya bekerja dan justru tidak kelihatan ujung kacamatanya sama sekali saat dibutuhkan sarannya. Sudah tiga setengah jam saya duduk di depan meja gambar, namun sedari pagi sampai saat ini belum ada satu pun ide saya yang menarik. Semuanya monoton, biasa, dan membosankan. Kadang saya jadi ragu, apa saya benar-benar punya bakat mendesain itu di darah saya?

“I-ini t’rlalu berlebihan,” kata dosen berkacamata itu kali waktu, barangkali getaran-getaran elektrik di otaknya bergerak begitu cepatnya sehingga lidahnya sulit menangkap kata-kata yang dirangkai di dalamnya, membuat gaya bicaranya kadang-kadang sedikit tergagap seperti itu, ”Kalau hujan d-dari sebelah sini, ini bagaimana?”

Saya hanya mengangguk dan menerima desain saya dikritik, atau dibantai? Padahal sudah seharian saya membuat desain itu dalam bentuk maket.

“Kalau mau kreatif nanti, sekarang yang penting benar dulu. Ta-tapi kamu nggak terlalu parah, ma-masih ada yang lebih berlebihan daripada kamu,” ujarnya seraya berjalan pergi, ”K-kamu boleh terus berusaha, tapi ingat waktunya sempit”.

Saya melengos waktu itu. Saya tidak berusaha untuk kreatif, dan jelas-jelas desain tadi bukanlah sebuah desain yang kreatif. Saya hanya tidak ingin membuat desain yang membosankan. Tapi itu pun masih ada yang lebih daripada saya. Simple dan kreatif bukan, tapi eksploratif juga tidak terlalu. Mengecewakan bukan?

Hujan yang rintik-rintik tiba-tiba menderas. Angin dari luar bertiup kencang melalui jendela besar yang letaknya tiga meter di samping kiri saya. Kebetulan tidak ada yang duduk di samping saya untuk mengurangi laju angin yang menghampiri saya itu. Tapi saya menikmatinya, tiupan angin yang dingin itu. Mereka masuk dengan senang ke dalam studio, menghembus-hembus dan berputar di dalamnya, mengajak kertas-kertas di atas meja menari. Beberapa teman berteriak-teriak saat kertas-kertasnya berterbangan. Tapi angin-angin malah makin keasyikan bersenang-senang. Saya tersenyum sendiri.

Saya bangun dari tempat duduk saya. Kombinasi angin dingin dan kondisi lack of idea ini membuat mata saya berat. Saya menguap lebar sambil melenturkan badan yang kaku karena berjam-jam duduk mencorat-coret kertas dalam posisi yang sama.

Ahh, rasanya saya butuh kopi.

Saya mengambil payung biru saya dari tas dan berjalan keluar dari studio menuju lift. Tapi karena dalam rangka penghematan energi, hanya satu dari dua lift yang difungsikan, yang kelihatannya bakal membuat saya menunggu cukup lama. Jadi saya memutuskan untuk turun lewat tangga, lagipula lebih banyak pemandangan yang bisa dilihat kalau turun lewat tangga. Air hujan yang jatuh ke atap sirap mencipta irama yang menyenangkan, yang tak lama kemudian, seolah ada dirigen yang memberi aba-aba descresendo, hujan pun mereda sedikit demi sedikit menjadi rintik-rintik lagi. Menjadi irama yang lebih santai. Saya sampai di lantai satu. Biasanya untuk ke kantin Bang Ed saya bisa langsung memotong dari galeri arsitektur, jadi saya tidak perlu memutar dari luar gedung, tapi hari ini sedang ada pameran di situ sehingga jalur ke kantin Bang Ed ditutup. Di luar dinginnya angin lebih menusuk. Saya menaikkan ritsleting jaket sampai dada. Saya buka payung saya dan berjalan menyusuri sisi gedung arsitektur, lewat di depan gedung seni rupa.

Saya selalu suka mencuri-curi pandang ketika lewat di depan gedung seni rupa. Ada sesuatu yang menarik di situ, entah hasil karya-karya anak seni rupa yang suka digeletakkan begitu saja di lorong-lorongnya, entah lapangan merah di tengahnya yang beberapa kali saya lihat digunakan untuk panggung, atau hanya sekedar mahasiswa-mahasiswanya dengan dandanannya yang kadang bikin geleng-geleng kepala sampai tersenyum. Namun, yang saya lihat kali ini disitu, adalah dia. Dia yang memberikan saya jaket ini. Dia yang bernama Cesarina. Saya berhenti sejenak. Saya melihat rambut lurusnya yang hitam legam tergerai sampai punggung, menutupi jaket hitam yang dia pakai dengan rok bermotif batik. Di depannya ada seseorang, laki-laki, mungkin seniornya di seni rupa. Sementara itu di tangannya ada semacam kostum. Kelihatannya Cesarina sedang membicarakan masalah kostum untuk acara wisuda bulan depan. Beberapa lama saya berdiri disana hanya untuk mengapresiasi gestur tubuh Cesarina dari belakang, gerakan-gerakan kecil yang anggun, pikir saya. Tetesan dari payung mengenai wajah saya, memecah lamunan saya. Lalu saya berjalan lagi ke kantin Bang Ed, kemudian membeli kopi kaleng yang berwarna biru. Disana sebentar, minum kopi sambil melihat kertas-kertas yang ditempel di pintu kantin. Ada satu poster festival musik, satu poster bertuliskan “Dijual meja gambar Mutoh”, dan beberapa poster kehilangan barang.

Setelah itu saya keluar, melewati gedung seni rupa lagi. Mencuri pandang lagi. Dan saya terkejut dengan apa yang saya lihat. Di tengah-tengah lapangan merah, di depan barisan batu pahatan yang tigaperempat bagian atasnya dipahat hingga runcing, berdiri Cesarina. Sendiri, di tengah hujan. Saya langsung berlari masuk ke gedung seni rupa, menghampiri dia yang ada di tengah lapangan merah.

“Cesarina!” panggil saya, ”Kamu ngapain disini hujan-hujanan begini?”

Saya payungi dia. Saya tatap dia, yang hanya diam memaku matanya ke barisan batu-batu runcing di depannya.

“Hei, Cesarina?”

“Bagaimana menurut kamu,” dia bicara, tanpa mengalihkan pandangannya, ”batu-batu pahatan ini?”

“Ehh?”

“Bagaimana ya rasanya waktu mereka… dipukul-pukul, dihancurkan, dan diretakkan… hingga menjadi seperti ini?”

Saya diam, tidak tahu mau merespon bagaimana.

“Manusia memang suka seenaknya,” dia melanjutkan, ”seandainya batu-batu ini bisa bicara dan berontak, apa mereka mau diperlakukan seperti ini?”

“Emm…,” saya mencoba menjawab, ”tapi coba kamu lihat, dengan dipahat seperti ini, batu-batu ini bukan hanya jadi batu biasa yang teronggok begitu saja di pinggir jalan, kan? Lihat bentuknya sekarang, justru dengan pahatan-pahatan yang berkesan kasar dan berujung runcing begini, jadi ada sebuah nilai estetis yang membuatnya jadi lebih indah….”

“Dan mematikan,” tiba-tiba dia memotong, memandang saya dan menancapkan tatapannya di mata saya, ”Siapapun yang terjatuh ke atasnya akan tertusuk… dan mati.”

Saya terdiam. Beberapa detik wajahnya menghadap saya. Kemudian dia menunduk, menatap ujung sepatunya.

“Seperti halnya hidup kita.”

“….”

Kami berdiri diam berdua disana. Otak saya seperti terhambat. Lidah saya seolah beku oleh udara yang terasa jadi semakin dingin. Tidak ada kata-kata yang bisa memecah batu yang sekarang ada ditengah-tengah saya dan dia. Cuma air hujan yang tetap bernyanyi di sekeliling keheningan ini. Hidup mempertemukan kami berdua, memahatnya sedemikian rupa, hanya untuk menyadarkan kami bahwa kami tidak akan bisa bersama. Detik demi detik, semuanya makin terasa dingin. Bukan karena angin yang berlari-lari, tapi karena hidup sedang memahat kami saat ini juga. Hujan… telah turun diantara kami.

“Kak,” dia memegang tangan saya, ”ikut saya.”

Dia menarik tangan saya. Saya menjatuhkan payung biru yang dari tadi memayungi kami, meninggalkannya di depan batu-batu pahatan yang cuma bisa diam.

Cesarina membawa saya menaiki tangga gedung seni rupa. Satu kali, dua kali, tiga kali. Melewati lorong sepi yang dipadati kanvas-kanvas besar berserakan yang berlukiskan potret-potret wajah. Wajah-wajah mati yang menatap kosong kepada kami yang melewatinya. Lorong demi lorong. Hingga akhirnya kami sampai di depan sebuah pintu kayu yang kelihatan cukup tua. Cesarina meraih gagangnya, memutarnya. Kami masuk ke sebuah ruang kecil dengan lampu-lampu kuning temaram. Banyak dus bertumpuk-tumpuk tidak teratur. Wangi cat minyak melayang-layang tipis di udara. Beberapa kanvas tergeletak di lantai dan beberapa patung tanah liat menempel di dinding, empat-lima buah boneka kayu menggantung di langit-langit, bergoyang-goyang seakan gusar karena kedatangan kami. Saya terkesima dengan ruangan temaram ini.

Lalu tiba-tiba Cesarina memeluk saya dari belakang. Gerakannya yang tiba-tiba mendorong saya hingga terpepet ke dinding.

“Kakak,” saya membalikan badan, balik merangkulnya dan mengusap-usap kepalanya yang sedikit basah, “ada yang mau saya tunjukkan.”

“Apa itu?”

Dia mengendurkan pelukannya dan merogoh kantongnya. Lalu dia mengeluarkan sebuah peniti. Sebuah peniti kecil dengan bercak kuning di jarumnya.

“Cesarina, ini….”

“Kakak tau kan peniti ini?” dia merangkul saya erat, ”Peniti ini… banyak yang sudah saya lalui dengan peniti ini. Peniti ini adalah emosi saya. Kesedihan saya… kemurungan saya… kebahagiaan saya…. Dia selalu ada di situ bersama saya saat saya melalui segala macam emosi itu.

“Peniti ini yang menjadi pintu saya untuk membebaskan saya dari segala macam emosi yang memenuhi saya, yang membebaskan saya ketika saya ingin pecah saat tubuh ini tidak sanggup lagi memendam semua perasaan dan emosi itu.”

Tidak mungkin saya melupakan peniti itu. Peniti itu, bagi saya justru merupakan pintu menuju kenangan-kenangan buruk yang saya lalui bersama Cesarina. Tidak, tidak mungkin. Saya kira Cesarina sudah membuang peniti itu jauh-jauh.

“Tapi, Cesa….”

“Ssshh…,” Cesarina menahan saya bicara, ”Peniti ini… juga sudah saya anggap bagian dari diri saya. Peniti ini adalah saya… dan saya adalah peniti ini…”

Saya mulai merasa ada yang tidak beres. Ada sesuatu dengan Cesarina, ini tidak seperti Cesarina yang biasanya. Namun, dia mempererat pelukannya. Saya bisa merasakan hangat tubuhnya yang basah kuyup. Saya juga bisa mencium wangi lembut rambutnya dengan jelas. Membuat saya menjadi terbius dan hanya bisa mendengarnya berkata-kata.

“Sekarang,” dia melepas pelukannya lalu membuka ujung peniti itu, membiarkan jarumnya bebas, ”saya ingin… Kakak menjadi bagian dari diri saya juga.”

“Kakak lihat bercak kuning di ujung jarum peniti ini?” Cesarina melanjutkan, “pertama-tama, kakak sentuh bercak kuning itu….”

Saya tidak mengerti, saya tidak mengerti apa yang sedang terjadi. Tapi yang saya tahu ada sesuatu yang membuat Cesarina terlihat begitu sedih dan tertekan. Saya tidak tahu apa itu. Tapi jika dengan menyentuh bercak kuning itu dapat mengangkat sedikit beban yang memenuhi dirinya, saya akan melakukannya. Lalu saya menyentuh bercak kuning itu….

………………..

…………….

…………

……..

…..

Tidak terjadi apa-apa.

“Lalu setelah itu apa, Cesarina?”

“Setelah itu…,” Cesarina membenamkan wajahnya di dada saya.

“Setelah itu…,” ujarnya lirih. Dia mulai terisak. Menangis.

“Cesarina?” saya langsung merangkul dia, membelai-belai kepalanya, “Setelah itu apa, Cesarina? Ada apa?”

Tiba-tiba dari pintu terdengar suara ketukan.

Tok Tok Tok Tok Tok

Namun Cesarina tetap berdiri diam dengan tubuhnya yang gemetar karena tangis.

“Setelah itu…,” katanya lagi, dengan suara yang parau.

Tok Tok Tok Tok Tok

“Setelah itu……..,” suara pintu terus diketuk.

“Ayo kita mati sama-sama.”

……………………

……………………

……………………

Entah bagaimana. Tiba-tiba muncul sensasi hangat dari perut saya yang disertai dengan rasa nyeri yang pedih. Sensasi hangat itu pelan-pelan merayap menjalari seluruh tubuh saya. Melumpuhkan. Kemudian, tubuh saya seolah dijalari listrik yang memancar-mancar.

Suara ketukan pintu perlahan-lahan memudar….

Menjauh…. jauh……… jauhh………….

Suara isakan tangis Cesarina membanjiri kepala saya…..

Lambat laun….. Terdengar……

Seperti nyanyian hujan…….. Hujan yang jatuh ke bumi………

Lalu…….. Makin deras…………

Dan wangi lembut rambutnya…..

Menemani saya……

Pergi………………….

Jauh……………………

…………………………..

…………………………….

………………………….

……………………….

…………………….

Menghilang.

Jiwa ini tak ingin melihat dirimu menangis

Jiwa ini tak ingin melihat dirimu meratap

Tapi diriku…

tak bisa mendekat

Temani sepimu…

selamanya

Hanya menanti…

Dirimu…

tuk satu dalam abadi

Syu syu syu syu du du du du du du du du du

Syu syu syu syu du du du du du du du du du

Hanya menanti…

Dirimu…

tuk satu…

Hanya menanti…

Dirimu…

tuk satu…

dalam keabadian.

(Jakarta, 4 Oktober 2008. 22.13)