.catatan mimpi.

chaos, order, mimpi, dan impian

#6. 8. Buah Pikir Malam Ini No.4

Dirgahayu RI ke 70. Untuk memperingati hari kemerdekaan, saya mau membagikan catatan pendek yang saya tulis dua tahun lalu sehabis membaca sebuah buku, catatan ini ditambahi sedikit opini tentang harapan untuk Indonesia. Sekali lagi, selamat 17 Agustus!

***

Bandung. 21:12.

Dalam bukunya yang berjudul “The Clash of Civilizations,” Samuel Huntington menjabarkan bahwa pasca runtuhnya komunisme Soviet dan berakhirnya perang dingin, bangsa-bangsa dunia akan kembali kepada nilai-nilai dan peradaban lokal sebagai bentuk pendefinisian identitas. Menurut Huntington, fenomena ini berpotensi besar akan menyebabkan benturan peradaban.

Ada tiga peradaban besar yang ia soroti, antara lain: peradaban Barat, peradaban Sinic (China), dan peradaban Islam. Sejalan dengan modernisasi global, pelan-pelan hegemoni peradaban Barat akan menyurut dan dominasinya akan diimbangi oleh peradaban-peradaban lain.

Salah satu konsep menarik yang Huntington cetuskan adalah konsep “Core State.” Core state adalah negara yang berperan sebagai acuan bagi negara-negara lain yang berada dalam satu kelompok peradaban dengannya. Contohnya: Amerika Serikat di Amerika Utara dan Jerman-Perancis di Eropa merupakan core state bagi peradaban Barat, dan Republik Rakyat China merupakan core state bagi negara-negara dalam kelompok peradaban Sinic (seperti Singapura dan Taiwan). Keberadaan core state sangatlah penting karena pengaruhnya diharapkan dapat memoderatori kepentingan negara-negara yang berada dalam kelompok peradabannya.

Huntington menyoroti bahwa, dalam kasus Islam, walaupun jumlah populasinya semakin meningkat namun sejauh ini belum muncul negara yang mampu menjadi core state. Absennya core state menyebabkan konflik internal dalam kelompok peradaban Islam sulit diselesaikan. Dari waktu ke waktu ada enam negara yang memiliki potensi untuk menjadi core state bagi peradaban Islam; Mesir, Arab Saudi, Iran, Turki, Pakistan, dan Indonesia. Namun, dari keenam negara tersebut tidak ada yang benar-benar tepat.

Suatu negara dianggap sesuai untuk menjadi core state apabila ia memiliki jumlah populasi yang besar, perekonomian yang kuat, serta kemampuan militer. Mesir dan Pakistan tidak memiliki kekuatan ekonomi yang stabil, Arab Saudi tidak memenuhi prasyarat jumlah populasi (di samping kebergantungannya pada dunia Barat atas alasan keamanan), Turki memiliki sumberdaya dan kekuatan ekonomi namun secara sadar tidak memprioritaskan identitas keislaman, Iran adalah kandidat yang paling sesuai tetapi aliran Syiah yang dianutnya menyebabkannya sulit mengambil peranan sebagai core state, sedangkan Indonesia—walaupun negara dengan penduduk Muslim terbanyak di dunia dan relatif stabil—berada jauh dari pusat Islam dan dibangun di atas pengaruh peradaban lain (Hindu, Sinic, Kristen, dan peradaban lokal).

Membaca pemaparan Huntington membuat saya berpikir, peran macam apa yang bisa diambil Indonesia dalam percaturan dunia? Indonesia terbentuk oleh lapisan-lapisan peradaban yang berbeda yang membuatnya unik. Dari tiga peradaban besar yang telah disebut—Barat, Sinic, dan Islam—Indonesia tak dapat dikategorikan ke dalam ketiganya karena justru dibentuk oleh ketiganya. Oleh karena itu, di tengah-tengah benturan peradaban yang mungkin akan terjadi, dapatkah Indonesia berperan sebagai jembatan? Dapatkah Indonesia melebarkan pengaruhnya di Asia Tenggara, sehingga memperkukuh posisi strategisnya dan lalu mengambil peranan sebagai moderator yang memastikan perdamaian dunia—seperti cita-cita yang termaktub di pembukaan Undang-Undang Dasar?

Presiden Soekarno dahulu punya keinginan agar Indonesia menjadi pemain aktif di kancah internasional. Namun situasi ketika itu, umur bangsa yang terlalu muda, perekonomian yang karut-marut, situasi politik tidak stabil, dan alasan-alasan lain menyebabkan cita-cita tersebut tidak bisa tercapai.

Kini, 70 tahun kemudian, Indonesia sudah tumbuh besar dengan kelas menengah terdidik serta situasi politik dan perekonomian yang stabil. Namun demikian, masih banyak individu Indonesia yang seringkali masih takut-takut menghadapi dunia luar, penuh kecurigaan pada yang asing, dan tidak percaya diri bisa bersaing dan berdiri sejajar dengan bangsa lain (barangkali masih dihantui paranoia kolonialisme?).

Tidak ada hegemoni yang akan bertahan selama-lamanya, dan saat ini kita hidup pada era transisi penting. Yaitu beralihnya hegemoni Barat ke hegemoni yang bersifat multipolar. Seringkali orang Indonesia sendiri masih tidak menyadari bahwa bangsanya punya peluang yang besar. Padahal di waktu-waktu seperti inilah orang Indonesia justru harus mengangkat kepalanya dan berhenti bersikap inferior. Karena kita mesti sadar, ini adalah jaman yang tepat untuk orang-orang Indonesia keluar dari persemediannya di ujung dunia.

Iklan

#6.7. Buah Pikir Malam Ini No.3

Jumat, 4 April 2014
Bandung. 20:35.

Indonesia Raya tidak akan dapat diraih melalui bangunan kebangsaan yang berlandas pada semangat keagamaan yang sempit. Semangat keagamaan yang sempit hanya akan membuahkan irasionalitas yang menghambat kemajuan yang diharapkan. Semangat keagamaan diperlukan untuk membentuk etos serta mendorong ikhtiar-ikhtiar pribadi demi mewujudkan keadilan bagi setiap orang. Tapi, tetap, di luar itu, watak pembangunan haruslah bersifat rasional, empirik, dan tepat guna. Inilah kesadaran publik yang terdewasakan, ialah motor penggerak yang niscaya bisa membawa bangsa Indonesia menjadi apapun yang ia kehendaki.

Indonesia dilahirkan sejarah sebagai suatu entitas besar dengan corak yang beragam. Oleh karena itu, ia harus merengkuh takdirnya dan melampaui segala kecenderungan sektarian.

#6.6. Buah Pikir Malam Ini No.2

Senin, 6 Januari 2014
Bandung. 23:50.

Perihal berbangsa adalah perihal kesepakatan: kesepakatan atas sekumpulan nilai yang dijunjung bersama. Nilai-nilai demokrasi dan kebebasan individu, serta kapitalisme sebagai turunannya, adalah nilai-nilai yang membentuk masyarakat Amerika Serikat. Oleh karena itu apabila nilai-nilai tersebut terkikis—termasuk sistem kapitalisme—maka Amerika Serikat bukanlah Amerika Serikat lagi. Walaupun kini ada geliat-geliat penyeimbangan haluan yang terjadi di dalam, saya rasa kita bisa meragukan runtuhnya demokrasi dan kapitalisme di negara itu.

Tentunya nilai-nilai yang disepakati untuk membangun suatu bangsa berakar dari kondisi dan kesadaran masyarakat yang terlibat, sebab itu ia mewariskan semacam karakter yang unik dan berbeda dari masyarakat lainnya. Begitu pula halnya dengan Indonesia, dengan situasi dan komposisi masyarakatnya yang khas, para pendiri bersepakat membangun suatu imagined society yang berlandaskan pada kearifan lokal yang disarikan dalam Pancasila.

Namun masalahnya, setelah berdekade-dekade hanyut dalam politik imperialisme global yang dengan efektif mempromosikan nilai-nilai yang berakar dari kondisi kesadaran masyarakat lain dari benua di seberang samudera, masyarakat Indonesia menjadi terasing dari nilai-nilai bangsanya sendiri. Pancasila yang merupakan saripati kehidupan bermasyarakat direduksi menjadi slogan-slogan belaka, tanpa adanya usaha-usaha kritis untuk memahami, mengintepretasi ulang, serta menerapkannya secara sadar dalam bidang-bidang kehidupan. Singkatnya nilai-nilai dasar tersebut tidak benar-benar mengalir dalam nafas masyarakat yang dibentuknya. Suatu imagined society yang belum sejalan dengan cita-cita yang diimajinasikan.

Usaha-usaha penyeragaman nilai di seluruh dunia sesungguhnya adalah usaha yang mengingkari hakikat masyarakat global yang beranekaragam. Resistensi pasti akan terjadi, baik melalui pena maupun senapan. Masyarakat Indonesia pun, agar dapat mencapai puncak-puncaknya, sepatutnya tidak tunduk kepada imperium global. Ada cara-cara bermasyarakat yang lebih baik dan lebih sesuai. Cara-cara yang hanya dapat ditemukan apabila kita sedikit lebih tekun menggali, merenungkan, dan mengkomunikasikan nilai-nilai dasar Indonesia itu kepada satu sama lain.

Saya kira, sama seperti manusia, suatu bangsa tidak akan bisa membuka seluruh potensinya apabila ia mengingkari jati dirinya.

#6.5. Belantara

Di bawah naungan gemintang
dan cemas satu masa
tunas bertumbuh, derap berlalu
Segala yang melintas, namun tak menyintas
kerap hilang di belantara

Pun dalam rengkuhan
tanya akan arti
bergumul lekat mencari abadi
terhilang dalam, ke rahim misteri
kadang arah,
tenggelam di belantara

Maka ketika gemintang mulai bersaksi
Maka sesekali, dengarkanlah kesenyapan,
ungkapkanlah kebisuan,
Maka sesekali… nikmatilah lara
Karena ketika itu
‘ku dapat lihat wajahmu
terbias cahaya
pada tujuh warna pelangi

(Bandung, 6 Desember 2013)

#6.4. Orang Ribut

Orang ribut rebut harta
Orang ribut sikut agama
Orang ribut karena fitna
Orang ribut selamatkan muka

Orang ribut tolak gusur
Orang ribut tolak usul
Orang ribut di usang mimbar
Orang ribut di lampu merah

Orang ribut demi takhta
Orang ribut minta sorot
Orang ribut lagak berida
Orang ribut bersengkarut

Orang ribut, orang ribut
Angin ribut… tumpas yang fana

Surivor in Tacloban walks among the debris after Typhoon Haiyan

(Sumber foto: http://www.theguardian.com/world/2013/nov/11/typhoon-haiyan-city-tacloban1?CMP=twt_gu)

#6.3. Membaca Untuk Membangun

IMG_0723-2

 

Sewaktu masih SMA saya punya satu kebiasaan. Saya bukanlah tipe anak laki-laki aktif yang senang menghabiskan waktu istirahatnya dengan bermain sepak bola atau bola basket atau aktivitas fisik semacamnya. Saya tidak menyukai hal-hal semacam itu karena tidak melihat poin tambah yang membuatnya menarik. Yang saya lihat dari hal-hal semacam itu hanyalah pertempuran ego yang ingin membuktikan dirinya lebih hebat daripada orang lain lewat kemenangan dan kekalahan. Maka dari itu, untuk mengisi waktu istirahat lima belas menit yang ada, saya melakukan hal lain—yang belakangan menjadi kebiasaan hingga lulus sekolah: saya pergi ke perpustakaan, membaca.

Ketika itu perkembangan dunia tulis-menulis Indonesia belum sepesat sekarang. Penulis-penulis muda Indonesia belum mendominasi toko-toko buku. Lini teenlit yang saat ini begitu menjamur pun masih seumur jagung. Karenanya—bisa ditebak—kebanyakan buku yang ditemukan di perpustakaan sekolah adalah buku-buku lama terbitan tahun ‘50 hingga ‘90an. Saya ingat ada salah satu buku yang sampulnya bergambarkan Presiden Soeharto, judulnya “Surat Untuk Pak Harto” (atau semacamnya), padahal ketika itu pemerintahan Indonesia sedang dipegang oleh Ibu Megawati. Ya, isi perpustakaan itu seperti tidak tersentuh zaman. Antik. Berada di dalamnya dan membaca buku-bukunya seperti sedang mengalami pergeseran waktu.

Selain majalah-majalah yang ada di perpustakaan; saya juga membaca bundel “Mahabarata” karya R. A. Kosasih dan novel-novel karya penulis seperti: N. H. Dini, Putu Wijaya, dan Mochtar Lubis.

Bicara tentang Mochtar Lubis, dari semua buku yang saya baca di perpustakaan sekolah, yang paling berkesan adalah karya-karya beliau. Ada daya pikat yang kuat dalam tulisan-tulisannya. Membaca karya-karya beliau seperti sedang melihat album foto yang memotret Indonesia pada tahun ‘50an. Begitu jelas, begitu menarik. Saya merasa seperti seorang cucu yang sedang duduk mendengarkan kakeknya bercerita tentang masa mudanya yang penuh dengan perjuangan. “Harimau! Harimau!”, “Bromocorah”, “Jalan Tak Ada Ujung”, “Maut dan Cinta”, dan “Senja di Jakarta”. Buku-buku inilah yang mungkin pertama kali menanamkan rasa nasionalisme di diri saya, bukan upacara bendera yang dilakukan rutin tiap minggu yang ujung-ujungnya cuma menjadi ritual tanpa makna.

Setiap hari saya berkunjung ke perpustakaan untuk melahap buku-buku tersebut (kebetulan kelas saya terletak di lantai yang sama dengan perpustakaan). Saya selalu menyusuri rak-rak tinggi dan duduk pada tempat yang sama di sudut yang tersembunyi dari pandangan orang lain. Mencicil paragraf demi paragraf selama lima belas menit tiap harinya. Mungkin bagi beberapa orang kenangan semacam ini sangat tidak signifikan dan membosankan, tapi bagi saya kenangan ini adalah salah satu kenangan paling penting selama masa SMA. Bahkan seringkali saya merindukan kesempatan-kesempatan seperti itu lagi. Duduk di lantai perpustakaan yang dingin, bersender di belakang rak besar yang menghalangi terik matahari, dan membaca di antara suara bising murid lain yang menjadi suara latar.

Kebiasaan membaca rutin saya otomatis terputus begitu saya lulus dari sekolah menengah atas. Pada tahun-tahun pertama perkuliahan, saya sempat berpikiran untuk terus memelihara kebiasaan itu dengan berusaha mengunjungi perpustakaan pusat di kampus sesering mungkin. Namun, karena letaknya yang jauh dari gedung Arsitektur tempat saya belajar dan tugas-tugas yang menuntut untuk diselesaikan, perlahan-lahan niat itu pun mulai terlupa.

Gedung tempat saya belajar bukannya tidak memiliki perpustakaan. Perpustakaan di gedung saya sangat bagus walaupun jauh lebih kecil bila dibandingkan dengan perpustakaan di sekolah saya dulu. Penataan buku di perpustakaan jurusan sangat teratur dan petugas perpustakaannya pun bisa diandalkan. Namun, buku-buku yang ada semata-mata untuk menunjang proses perancangan arsitektur. Tidak ada satu pun novel atau karya-karya sastra.

Kadang, ketika liburan semester tiba, kerap timbul keinginan untuk berkunjung kembali ke SMA hanya demi membaca “Senja di Jakarta.” Tapi karena satu dan lain hal, kesempatan itu selalu saja terlewat. Dan begitulah bagaimana saya sempat lupa bagaimana rasanya kesenangan membaca buku secara rutin.

Sejak awal tahun 2010, saya mulai membiasakan diri lagi untuk membaca buku. Saya mulai mengurangi pengeluaran pada keperluan-keperluan yang kurang terlalu penting. Saya mengurangi pembelian CD dan berhenti membeli komik dan majalah, serta menunda sarapan hingga mendekati jam makan siang. Lalu uang yang tersisih akan saya gunakan untuk membeli buku (yang saat itu kebanyakan masih sebatas karya-karya fiksi).

Pada pertengahan tahun 2010, saya telah selesai membaca sebelas buku, sedang membaca dua buku (secara bersamaan), dan menyiapkan dua buku lain dalam antrian. Total limabelas buku sejak bulan Januari, waktu itu jumlah buku paling banyak yang pernah saya baca dalam rentang waktu lima bulan.

Pada tahun 2011 saya membaca 33 buku. Lima belas novel, lima kumpulan cerita pendek, dan tiga belas buku non-fiksi. Tidak semua buku tersebut selesai saya baca. Dari 33 buku yang tercatat, tujuh di antaranya belum, tidak, atau hampir selesai dibaca.

Buku bacaan favorit saya pada tahun 2011 adalah buku kumpulan cerita Kazuo Ishiguro yang berjudul Nocturnes: Five Stories of Music and Nightfall. Buku ini ringan, tapi juga mengandung makna-makna yang subtil. Gaya penulisannya santai dengan ritme yang teratur dan gemulai. Nuansa yang saya rasakan ketika membaca buku ini mirip seperti ketika menjadi satu-satunya orang yang terjaga di dini hari.

Sampai saat ini saya terus berusaha memelihara kebiasaan membaca serta membuat daftar buku-buku yang saya baca (walaupun akhir-akhir ini saya mulai abai membuat daftar karena seringkali membaca buku secara serabutan).

Pada awalnya saya membaca buku hanya demi memperoleh kepuasan estetika semata. Saya menggemari buku-buku yang mengandung kisah, plot, gaya bahasa, kepenulisan, serta imajinasi yang apik. Buku menjadi sayap yang membawa pikiran saya melayang, melepaskan diri sejenak dari keseharian manusia biasa yang hambar.

Waktu itu saya meyakini ada dua macam orientasi hidup manusia dalam caranya untuk menemukan kebahagiaan. Yang pertama, orang-orang yang berorientasi ke luar. Kebahagiaan mereka adalah ketika apa yang mereka perbuat dapat menolong orang lain. Kebanggaan mereka seperti kebanggaan seorang guru terhadap muridnya yang berhasil. Mereka bangga ketika perbuatan mereka dapat membuat orang lain menjadi besar dan kuat.

Sementara yang satu lagi adalah orang-orang yang berorientasi ke dalam. Orang macam ini menganggap dirinya adalah sebuah pulau, sebuah pulau untuk dieksplorasi, untuk dijelajahi hingga sela-selanya yang paling tersembunyi. Orang-orang ini mengembangkan diri mereka sendiri. Kebahagiaan mereka seperti kebahagiaan seorang penjelajah yang berlayar ke benua antah berantah dan menemukan harta karun. Mereka bangga ketika berhasil melampaui batas-batas dalam dirinya.

Bagi saya ketika itu, orang-orang yang bergulat di bidang estetika, termasuk para penulis kisah-kisah, adalah orang-orang yang berada pada kelompok kedua. Saya pun cenderung lebih suka mengidentifikasikan diri ke dalam kelompok ini, yang berpusat pada diri sendiri demi menemukan potensi diri yang sempurna. Namun, setelah memperluas bacaan dan perenungan lebih lanjut, saya menyadari ada kekeliruan besar atas pemahaman saya mengenai orientasi hidup dan kebahagiaan ini.

Salah satu buku penting yang membukakan mata saya atas kekeliruan tersebut adalah Musashi karya Eiji Yoshikawa. Di buku ini Eiji Yoshikawa menggambarkan perkembangan pribadi seorang Miyamoto Musashi dari seorang pemuda beringas yang diliputi kebodohan, menjadi sadar akan kekurangan dirinya, yang lalu berkelana demi mengasah diri dan mengejar kesempurnaan diri, hingga akhirnya menemukan hakikat sejati seorang manusia.

Motivasi pengelanaan Musashi, bila dikaitkan dengan dua macam orientasi hidup yang saya singgung di atas, jatuh pada kelompok yang kedua. Pada masa mudanya ia menyadari kebodohannya dan akhirnya memutuskan untuk berkelana mengelilingi negeri untuk mengasah keterampilannya. Ia bertekad untuk menjadi ahli pedang terbaik di Jepang karena ia percaya dengan cara itu ia akan memperoleh kemuliaan dan kebahagiaan batin. Pandangannya mulai berubah ketika ia bertemu dengan seorang anak laki-laki sebatang kara. Ayah anak ini baru saja meninggal dunia, Musashi membantunya menguburkan jenazah sang ayah, dan menghabiskan malam di gubuk reyot tempat tinggal si anak. Merasa iba, keesokan harinya Musashi berseru kepada si anak laki-laki, “Kalau mau hidup, bertanilah!” Musashi menyingsingkan bajunya dan mulai mengolah tanah di sekitar gubuk. Selama bekerja penduduk sekitar mengolok-oloknya, sia-sia saja mengolah tanah itu, kata mereka. Keesokan harinya, benar saja, tanah yang telah diusahakan Musashi rusak disapu hujan badai. Musashi tidak menyerah, berbulan-bulan ia mengerjakan tanah dan berpikir, tak menghiraukan olok-olok serta keraguan penduduk desa sekitar.

Sejak saat itu ia mulai memperluas sudut pandangnya. Ia melihat kondisi hidup para penduduk sekitar yang miskin, ia melihat potensi tanah yang dipijaknya, ia memikirkan rintangan-rintangan yang menghalanginya, ia mencari penyebab-penyebab kesulitan yang dihadapinya, dan ia memikirkan bagaimana langkah pemecahan masalah yang tepat. Musashi mulai menyadari kesempurnaan diri yang selama ini ia kejar adalah sia-sia belaka apabila keberadaannya tidak bisa menjadi pemecah bagi permasalahan di sekitarnya. Ia melihat jaring-jaring yang menghubungkan setiap orang dan mempelajari bagaimana itu menimbulkan kemalangan. Kemudian singkat cerita, Musashi berhasil menggerakkan para penduduk desa dan meyakinkan mereka bahwa nasib dapat diubah. Lewat pengamatannya terhadap lingkungan, ia pun memobilisasi para penduduk untuk membuat sistem irigasi yang sesuai. Air yang tadinya menjadi musuh, kini menjadi kawan yang membuat tanah menjadi subur dan menghasilkan.

Kisah yang saya baca itu tersimpan dalam kepala saya, saya renungkan sambil menjalankan hari-hari. Hingga suatu saat saya sampai pada kesimpulan bahwa pandangan saya terhadap kebahagiaan dan cara mencapainya ternyata tidak tepat. Orang yang memilih jalan pencarian ke dalam, dan hanya semata-mata untuk, diri sendiri tidak akan pernah mencapai kepenuhan. Ia akan terus-menerus lapar, tak akan pernah terpuaskan, dan akan selalu merasa ada yang hilang. Makna yang ia cari tidak akan sepenuhnya ia genggam, dan kebahagiaan yang ia pegang semu semata. Ini yang kerap terjadi pada peradaban modern kontemporer kita. Kebanyakan orang dibuat percaya bahwa kebahagiaan dapat ditemukan melalui pemuasan keinginan dan aspirasi pribadi. Kita dibuat menghabiskan hari-hari kita mengejar bayangan sendiri. Kita berlelah-lelah menyempurnakan kondisi pribadi, dibuat terus dan terus menggali ke dalam diri,  yang tanpa disadari malah menyebabkan makin membesarnya rongga yang menganga di dalam. Kenyataannya, ini justru berlawanan dengan hakikat manusia yang sesungguhnya.

Melalui Musashi saya belajar, memiliki—setidaknya—satu orang untuk diperjuangkan, untuk dikasihi, yang kepadanya hidup dicurahkan sepenuhnya, itulah kebahagiaan. Pemahaman ini menjadi pemantik yang menyadarkan saya, “Kalau mau bahagia, belajarlah!”

Demi dapat memperjuangkan–setidaknya–satu orang, pertama-tama saya harus memperlengkapi dan meningkatkan kapasitas diri terlebih dahulu. Sejak saat itu saya pun memperluas persentuhan saya kepada buku dengan mulai membaca karya-karya non-fiksi di luar sastra. Saya membaca kumpulan esai dan pemikiran Goenawan Mohamad, Mohamad Sobary, Bre Redana, Dr. Ir. Bianpoen, Tjuk Kuswartojo, Marco Kusumawijaya dan dr. Ario Djatmiko; “Panggilan Keberpihakan” Kemal Aziz Stamboel; “Pemikiran Karl Marx” Franz Magnis-Suseno; “Negara Paripurna” Yudi Latif; “Merebut Ruang Kota” Purnawan Basundoro; “The Origins of Political Order” Francis Fukuyama; “The Republic” dan “Symposium” Plato; dan, yang saat ini masih sedang saya baca, “The Future” Al Gore.

Membaca karya-karya non-fiksi merupakan pengalaman yang menarik. Tak jarang saya kesulitan memahami apa yang saya baca, tapi saya memaksakan diri untuk terus membaca karena saya meyakini apa yang saya baca—walaupun sulit dicerna dan dimengerti—diam-diam tersimpan di belakang kepala, yang sewaktu-waktu setelah mengalami pengendapan dapat dipanggil kembali secara spontan saat kita berkomunikasi.

Secara garis besar, demikianlah secuplik pengalaman membaca saya. Secara pribadi saya memandang kegiatan membaca sebagai salah satu cara terbaik untuk membangun diri—di dalamnya membangun pengetahuan, membangun sikap, dan juga membangun pendirian. Dan dari semua itu, saya ingin percaya, akumulasi segala wawasan dan kebijaksanaan yang dapat ditemukan dalam buku-buku yang kita baca, pada waktunya nanti dapat digunakan sebaik-baiknya untuk membangun sekitar.

 

(Tulisan ini dibuat untuk merespon pembahasan kumpulan tulisan sejumlah tokoh dalam “Bukuku, Kakiku” pada minggu sebelumnya di Lentera Pranahara)

#6.2. Red Beard

otoyochobo

“Berapa usiamu?”

Siang itu, di antara kain-kain jemuran yang menggantung, bocah pencuri yang ditolongnya tempo hari mendatangi Otoyo.

“Tujuh tahun. Namaku Chobo.”

“Chobo, kamu punya keluarga?”

“Aku punya seorang bapak dan seorang ibu, dua abang juga.”

“Apa mereka tahu kalau kamu mencuri?”

“Mereka pura-pura tidak tahu.”

“Jahatnya mereka.”

“Jangan bilang begitu. Habis mau bagaimana lagi,” dengan polosnya Chobo berkata, “Bapak dan ibu sangat miskin sampai-sampai mereka jadi bodoh… dan abang-abang, mereka cuma anak-anak.”

“Tapi mereka lebih tua darimu ‘kan?”

“Sembilan dan sepuluh tahun, dan sangat kelaparan dan selalu menghisap jempolnya.”

Chobo berjalan beberapa langkah, meraih batang penyangga jemuran kemudian menerawang ke langit.

“Seandainya aku jadi kuda.”

“Kuda? Kenapa begitu?”

“Kuda ‘kan makan rumput. Kami punya banyak rumput.”

***

Ini adalah salah satu adegan yang paling berkesan bagi saya dalam film “Red Beard” (1965) karya Akira Kurosawa. Lucu sekaligus miris.
http://en.wikipedia.org/wiki/Red_Beard

#6.1. Cuplikan

Kamis, 29 Desember 2011
Bandung. 18:33.

Pada akhirnya tujuan hidup setiap manusia adalah untuk menemukan kedamaian. Berdamai dengan kehendak. Berdamai dengan nafsu. Berdamai dengan penderitaan. Berdamai dengan keserakahan. Berdamai dengan kesendirian. Berdamai dengan kekhawatiran. Berdamai dengan kecemburuan. Berdamai dengan kebencian. Berdamai dengan amarah. Berdamai dengan kesedihan. Berdamai dengan sakit. Berdamai dengan harapan. Berdamai dengan ketaksempurnaan. Berdamai dengan ego. Berdamai dengan nasib. Berdamai dengan segala sesuatu.

***

(Dikutip dari jurnal marun Andreas C. Marbun)

Quote

“Maka aku pun sampai pada kesadaran bahwa perluasan cakrawala tidaklah selalu sejalan dengan perluasan pengetahuan. Perluasan Cakrawala juga bisa berarti kearifan untuk melihat bahwa di sela-sela atau di ujung-ujung kehidupan akan selalu ada misteri, sesuatu yang akan tetap tak tersingkap oleh nalar manusia.”

-Mochtar Pabottingi

#6.0. Refleksi “Jagal”

Jagal

Selama berpuluh-puluh tahun masyarakat Indonesia telah dibuat berjarak dari sejarah. Faktualitas sejarah dibuat bias dan kabur. Walaupun kini telah banyak beredar berbagai macam literatur yang mencoba melengkapi pemahaman atas gejolak yang terjadi pada tahun 1965/1966 namun bukan tak mungkin jika masih ada sejumlah besar masyarakat yang awam mengenai peristiwa tersebut.

Sepotong fragmen sejarah penting bagi bangsa Indonesia kini berusaha digali dan dipaparkan dengan gamblang ke hadapan publik melalui film “Jagal”. Lewat rekaman film ini kita diajak berkenalan dekat dengan sosok-sosok yang hadir dan mengambil peranan dalam peristiwa pembantaian 1965/1966. Film “Jagal” berupaya menghapus layar kelabu yang selama ini dianggap tabu dengan menghadapkan langsung secuplik wajah sang sejarah itu sendiri.

Anwar Congo dan Adi Zulkadry, dua orang yang disorot untuk mewakili para penjagal. Kedua orang ini merupakan representasi pemuda kala itu yang turut terjebak dalam pusaran gejolak Perang Dingin. Melalui beberapa segmen dalam film ini kita dapat menangkap sesuatu yang menarik, bahwa para penjagal tersebut melakukan pembantaian bukan untuk membela suatu ide. Perbuatan orang-orang ini tidak dilandaskan oleh suatu gagasan yang mereka bela dan pegang teguh, tetapi oleh satu alasan yang jauh lebih mendasar. Keterangan yang diutarakan oleh Anwar Congo ketika ia bercerita pada malam hari di depan bioskop tempatnya dulu pernah bekerja menunjukkan terang-terangan kepada kita alasan tersebut: bila komunis melarang pemutaran film-film Amerika, akibatnya bioskop akan menjadi sepi pengunjung, lalu darimana nanti kami mencari makan? Digerakkan oleh alasan semacam itu ditambah justifikasi serta pembenaran-pembenaran yang dicekoki oleh pemerintah, membuat para pemuda ini menjadi percaya bahwa kekejian yang mereka perbuat adalah demi kebajikan yang lebih utama. Ketika kegelisahan-kegelisahan massa tersebut dikelola dan dimanipulasi demi kepentingan sekelompok kecil orang yang punya kuasa, maka bencana kemanusiaan pun tak terhindarkan.

Pada beberapa adegan lain kita dapat menyimak, rupanya peristiwa yang terjadi hampir 50 tahun yang lalu itu meninggalkan bekas yang cukup dalam bagi para penjagal. Walaupun di paruh awal film mereka menunjukkan kejumawaan dan kebanggaan atas apa yang telah mereka perbuat, paruh akhir menunjukkan seberapa terganggunya kehidupan batin mereka. Anwar Congo sering dihantui oleh mimpi buruk, kesehatan fisiknya terganggu, serta akhirnya dirundung rasa bersalah yang selama ini terpendam. Begitu juga dengan Adi Zulkadry, di tengah-tengah keluarganya yang sedang berjalan-jalan di pusat perbelanjaan kota sambil menikmati kenyamanan hidup, tergambar di raut wajahnya suatu kehampaan sekalipun bibirnya berujar bahwa ia tidak menyesali perbuatannya.

Film “Jagal” diputar di Galeri Labtek IX-B ITB pada tanggal 10 Juni 2013. Dalam sesi diskusi ringan yang dibuka setelah pemutaran film, seluruh hadirin mencapai pemahaman bahwa para penjagal yang turut ambil bagian dalam tragedi pada tahun 1965/1966 ini sesungguhnya bukanlah para pemenang. Sekalipun mereka hidup dalam delusi yang menempatkan mereka sebagai pahlawan, sesungguhnya orang-orang ini juga berdiri pada barisan yang kalah bersama seluruh korban yang mati di tangan mereka. Oleh karena itu, pelanggaran kemanusiaan serupa, di masa kini dan di masa yang akan datang, tidak dapat dibenarkan dan dibiarkan terjadi lagi atas alasan apapun.