#5.1. Sajak
Sudah pukul setengah dua lewat, sudah seharusnya saya tidur tapi tidak bisa. Selama berbaring, berbagai macam pikiran berseliweran dengan acak di kepala saya. Tentang ini dan tentang itu, tentang orang ini dan orang itu, dan lalu, dan lalu, dan lalu.
Kadang-kadang ketika sedang gusar atau tidak ada kerjaan, saya menulis sajak. Hasilnya bukan sesuatu yang luar biasa, cenderung rata-rata saja malah, tapi bagi saya sajak-sajak tersebut tetap ampuh untuk menyalurkan kegelisahan yang ada di benak saya.
Namun begitu, dari beberapa sajak yang pernah saya tulis hanya dua buah sajak yang dapat saya ingat di luar kepala–salah satunya adalah “Ode Untuk Bumi” yang pernah saya terbitkan disini. Sebabnya mungkin karena pada kedua sajak tersebut saya menambahkan melodi sehingga memori saya dapat dengan mudah mengingat kata per kata yang tertulis.
Ketika sedang berbaring tadi, saat pikiran acak berseliweran, sajak yang saya tulis semasa SMA ini–sajak selain “Ode Untuk Bumi” yang juga saya berikan melodi–jadi teringat begitu saja. Kalau dilihat sekarang, saya rasa sajak tersebut kini menjadi semacam potret kenang-kenangan dari masa lalu yang menangkap kelam jiwa saya.
Semenjak saya tidak bisa tidur dan sajak itu terlintas di kepala saya, saya pikir boleh juga saya tuliskan kembali dia disini.
Jadi ini dia, “Katasthrope.”
***
Tubuh tanpa roh... melangkah dalam heningnya keramaian
Hadirnya sang putih di ambang belalak mata Katasthrope yang tersenyum
Mencabut nafas, tercekat! Melesak ke dalam kepala, meledak! Menusuk jantung, mencabik! Jatuh terhempas! ke tanah berdebu
Seakan telah lama berlalu, kembalikan sadar ke dalam kelabu
tik... tok...
tik... tok...
tik... tok...
tik... tok...
suara...
detakan...
menggema...
melagu...
terhenti.