#4.5. Figur dan Massa
“Of course the Baptist himself never had any idea of rebelling with force of arms. But whatever the leader’s thought might be, situations do occur where the common people, having once established their leader, are then swept away in some other direction with the force of an avalanche.”
Kutipan di atas saya ambil dari buku “A Life of Jesus” karangan Shusaku Endo, seorang novelis Katholik-Jepang. Di dalam buku ini, Endo membahas perjalanan hidup Yesus orang Nazareth lengkap dengan konteks sosio-politik masyarakat Yahudi pada masa itu.
Paragraf yang saya kutip di atas bicara tentang peristiwa pemenjaraan Yohanes Pembaptis oleh Raja Herodes Antipas. Bagi saya, yang menarik di siniĀ adalah pengaruh “common people” yang menjadi pemicu terjadinya peristiwa penangkapan tersebut–dimana, seperti kita ketahui bersama, berakhir pada kematian Yohanes Pembaptis di bawah pisau pancung. Cukup tragis, mengingat Yohanes Pembaptis sendiri tidak sekalipun berencana untuk melakukan pemberontakan bersenjata.
Dari kasus ini dapat dilihat bahwa, daripada seorang figur cerdas dan kuat, ternyata orang-orang biasa, orang-orang yang tidak signifikan dan anonymous, yang kemudian berkumpul dan menjadi satu entitas kolektif lah yang sebenarnya memiliki kendali dan patut diantisipasi.