Kosong Ep.6
by catatanmimpisaya
Aku mendengar suara samar-samar. Menyerupai gemerisik dedaunan dan dahan pepohonan. Aku menyukai suara pepohonan, sungguh. Berbisik-bisik tetapi begitu jelas intonasinya. Kadang kedengaran seperti tetangga yang terkikik terkekeh, kadang kedengaran seperti kumpulan prajurit yang bersorak riuh, halus teredam seolah beratus-ratus kilometer jauhnya. Hei, dengar, dengar! Mereka sedang bersorak sekarang!
Sorakan halus itu terdengar seperti dari kejauhan. Gemerisik dedaunan dan ranting pepohonan…. Perlahan… makin… meriuh… menjadi… debur ombak. Ombak berlari-larian. Mendaki, kemudian tenggelam. Bergulat lalu bergumul satu sama lain, seperti kawan lama yang sudah lama tak berjumpa. Ombak-ombak berlarian, saling kejar, melompat, menerkam, lalu pecah di udara. Suara deburan ombak menyelimutiku. Menderu, lalu menyurut, menderu lagi, lalu menyurut lagi dalam sebuah tarikan halus yang mengingatkanku pada gesekan dawai.
Seseorang sedang memainkan melodi. Sebuah bunyi dawai yang panjang terdengar. Rendah dan dalam. Tanpa awal dan seperti tanpa akhir. Terdengar seperti lafal yang para petapa yakini adalah perwujudan bebunyian pertama di semesta. Melodi itu panjang dan tak terputus, dalam satu tarikan nafas yang tak terhingga. Di tengah-tengah kegelapan ini, sebuah semburat warna melambai dan bergerak mengikutinya. Dari sudut lain sekilas nampak sebuah percikan warna, kemudian disusul percikan warna lain dari sudut yang berbeda. Warna-warna berusaha untuk bangun. Melodi dawai terdengar makin dalam, seolah ingin menggali ingatan yang diselebungi oleh debu-debu di dasar pikiran. Melodi dawai yang makin dalam membuat warna-warna menjadi hidup. Pertama hanya ada satu, lalu ada dua, kemudian mereka bertambah-tambah banyak. Tiba-tiba kegelapan sudah pergi bersembunyi digantikan oleh semburat-semburat yang melambai dan bersinkronisasi. Berpilin, berputar, menyatu, menghasilkan semburat-semburat baru yang makin berpijar.
Lalu sesuatu membuatku tersentak. Kukira mataku sedang memainkan tipuan, tapi ternyata tidak. Aku melihat sebentuk wajah pada lapisan cahaya-cahaya itu. Wajah itu muncul sekejap lalu menghilang seperti asap. Dari perpaduan warna-warna lain juga terbentuk raut lain–yang juga segera menghilang seperti asap. Terus begitu, berulang-ulang. Muncul, kemudian lenyap. Muncul, kemudian menghilang. Namun, semakin lama wajah-wajah itu terlihat semakin jelas. Mereka menatapku dan tersenyum singkat, untuk langsung lenyap ke dalam kabut. Sekelilingku dipenuhi oleh wajah-wajah yang dibentuk oleh persekongkolan cahaya dan kabut.
Beberapa saat kemudian, ketika raut-raut yang muncul terlihat semakin jelas, terjadi perubahan pada melodi dawai–aku dapat merasakannya. Siapapun itu yang memainkannya, memutuskan untuk menutup permainan ini. Bunyi dawai secara simultan terdengar makin dalam dan keras. Nafasku tercekat. Udara yang mengisi paru-paruku ikut bergetar oleh tarikan dawai kali ini. Seluruh udara di tempat ini bergetar, tidak menyisakan sedikitpun ruang. Melodi terdengar makin dalam. Menyelimuti gendang telingaku, menyelimuti pikiranku, menyelimuti jantungku, menyelimuti seluruh diriku, menyelimuti seluruh keberadaan, tanpa terkecuali.
Lalu bunyi berhenti.
………………………………….
………………………………….
………………………………….
………………………………….
Tok tok tok tok tok
Aku membuka mataku. Tok tok tok tok tok. Sedikit tergelincir, aku segera menjaga keseimbangan. Aku sedang duduk di sebuah kursi kayu berkaki timpang. Pandanganku bias. Aku mengusap mataku. Lalu mataku berusaha memfokuskan penglihatan ke objek-objek yang ada di sekitarku.
Tapi tidak ada apa-apa.
Seluruhnya putih.