.catatan mimpi.

chaos, order, mimpi, dan impian

Month: Desember, 2010

#3.3. Kotak Buta

kita kita kita kita kita kita kita kita kita mereka kita mereka kita kita kita kita mereka mereka kita kita kita kita kita mereka kita mereka kita kita mereka kita mereka mereka kita kita kita mereka mereka mereka mereka mereka mereka kita kita mereka kita mereka kita kita kita kita kita kita kita kita kita kita mereka kita mereka kita kita kita kita mereka mereka kita kita kita kita kita mereka kita mereka kita kita mereka kita mereka mereka kita kita kita mereka mereka mereka mereka mereka mereka kita kita mereka kita mereka kita kita kita kita kita kita kita kita kita kita mereka kita mereka kita kita kita kita mereka mereka kita kita kita kita kita mereka kita mereka kita kita mereka kita mereka mereka kita kita kita mereka mereka mereka mereka mereka mereka kita kita mereka kita mereka kita kita kita kita kita kita kita kita kita kita mereka kita mereka kita kita kita kita mereka mereka kita kita kita kita kita mereka kita mereka kita kita mereka kita mereka mereka kita kita kita mereka mereka mereka mereka mereka mereka kita kita mereka kita mereka kita kita kita kita kita kita kita kita kita kita mereka kita mereka kita kita kita kita mereka mereka kita kita kita kita kita mereka kita mereka kita kita mereka kita mereka mereka kita kita kita mereka mereka mereka mereka mereka mereka kita kita mereka kita mereka kita kita kita kita kita kita kita kita kita kita mereka kita mereka kita kita kita kita mereka mereka kita kita kita kita kita mereka kita mereka kita kita mereka kita mereka mereka kita kita kita mereka mereka mereka mereka mereka mereka kita kita mereka kita mereka kita kita kita kita kita kita kita kita kita kita mereka kita mereka kita kita kita kita

Ah, persetan!

#3.2. Asumsi

Saya suka mengumpulkan informasi. Di masa kini, informasi berserakan begitu saja, sepotong demi sepotong. Saya gemar mengumpulkan potongan-potongan yang berceceran itu. Mungkin kesenangannya seperti kesenangan Hansel dan Gretel yang memungut potongan-potongan kue di hutan. Bukan, tapi bukan untuk dimakan. Kepala saya ini, dengan potongan-potongan informasi yang bisa saya kumpulkan, lalu akan melakukan sintesis. Seperti menggabung-gabungkan potongan sebuah jigsaw puzzle. Kemudian dari situ saya akan menemukan sebuah hipotesa, atau ke-sok-tahu-an, atau asumsi, atau apa lah namanya. Atau sebut saja asumsi, deh.

Asumsi ini adalah keuntungan sekaligus kerugian.

Kadang, saya berbangga, karena asumsi yang saya kembangkan ini sesuai dengan kenyataan. Pernah membaca cerita detektif? Kalau pernah, selagi membaca apa pernah mereka-reka siapa pelaku kriminal yang sebenarnya? Kalau pernah, bayangkan rasanya ketika apa yang kamu reka ternyata benar. Ya, semacam itu rasa bangganya.

Namun, tidak jarang juga asumsi-asumsi itu berkhianat kepada saya. Mereka berbalik dan menipu saya. Kadang kenyataan yang terjadi tidak seburuk asumsi saya. Ada kalanya khianat para asumsi ini menguntungkan, saat kesalahannya justru membawa kelegaan. Tapi ada kalanya juga para asumsi itu menggerogoti ketenangan saya hingga akhirnya saya melakukan tindakan-tindakan yang tidak seharusnya saya ambil.

Selama satu setengah tahun ini, tanpa ikatan dengan siapapun, saya jadi dapat lebih bisa mengamati diri saya sendiri. Mengamati kesalahan-kesalahan di masa lalu, dan keegoisan, dan tindakan-tindakan berlebihan yang merugikan. Semuanya itu, sederhananya, bisa dibilang karena asumsi-asumsi di kepala saya itu.

Saat ini saya masih suka mengumpulkan informasi dan merangkainya menjadi sebuah skenario yang masuk akal. Meraba-raba dalam gelap sambil menerka-nerka bentuk. Tapi sekarang saya mulai mengembangkan sikap skeptis kepada asumsi-asumsi saya sendiri, khusus untuk asumsi-asumsi negatif yang kemungkinan akan merugikan diri sendiri. Sebab seringkali asumsi-asumsi negatif itu tidak benar-benar nyata, cuma bermain-main di kepala saya. Saya mencoba untuk meyakinkan diri bahwa ada skenario lain yang terjadi, skenario “angsa hitam” yang berada di luar dugaan.

Saya mencoba, dan mencoba. Sampai tadi, ketika sedang dalam perjalanan, saya berpikir. Dengan mengembangkan sikap skeptis terhadap asumsi sendiri, bukankah artinya saat itu saya sedang berasumsi bahwa asumsi saya tidak nyata? Bukankah artinya saat itu saya sedang mengembangkan sebuah asumsi yang berdiri atas dasar asumsi bahwa ada skenario lain yang bertolak belakang dengan asumsi pertama saya?

Nah loh! Mau apa kalau begitu?

Satu-satunya cara yang paling memungkinkan, ya, dengan melakukan konfirmasi langsung kepada si seseorang yang membuat saya jadi mengembangkan asumsi-asumsi tentangnya.

Tapi diri saya berkata kepada diri saya: tidak semudah itu, kawan, tidak sesederhana itu.

Jadi kalau begitu harus apa?

 

s e l a

 

Kosong Ep.6

RAUT
“Bicaralah dan pecahkan dinding kaca.


Aku mendengar suara samar-samar. Menyerupai gemerisik dedaunan dan dahan pepohonan. Aku menyukai suara pepohonan, sungguh. Berbisik-bisik tetapi begitu jelas intonasinya. Kadang kedengaran seperti tetangga yang terkikik terkekeh, kadang kedengaran seperti kumpulan prajurit yang bersorak riuh, halus teredam seolah beratus-ratus kilometer jauhnya. Hei, dengar, dengar! Mereka sedang bersorak sekarang!

Sorakan halus itu terdengar seperti dari kejauhan. Gemerisik dedaunan dan ranting pepohonan…. Perlahan… makin… meriuh… menjadi… debur ombak. Ombak berlari-larian. Mendaki, kemudian tenggelam. Bergulat lalu bergumul satu sama lain, seperti kawan lama yang sudah lama tak berjumpa. Ombak-ombak berlarian, saling kejar, melompat, menerkam, lalu pecah di udara. Suara deburan ombak menyelimutiku. Menderu, lalu menyurut, menderu lagi, lalu menyurut lagi dalam sebuah tarikan halus yang mengingatkanku pada gesekan dawai.

Seseorang sedang memainkan melodi. Sebuah bunyi dawai yang panjang terdengar. Rendah dan dalam. Tanpa awal dan seperti tanpa akhir. Terdengar seperti lafal yang para petapa yakini adalah perwujudan bebunyian pertama di semesta. Melodi itu panjang dan tak terputus, dalam satu tarikan nafas yang tak terhingga. Di tengah-tengah kegelapan ini, sebuah semburat warna melambai dan bergerak mengikutinya. Dari sudut lain sekilas nampak sebuah percikan warna, kemudian disusul percikan warna lain dari sudut yang berbeda. Warna-warna berusaha untuk bangun. Melodi dawai terdengar makin dalam, seolah ingin menggali ingatan yang diselebungi oleh debu-debu di dasar pikiran. Melodi dawai yang makin dalam membuat warna-warna menjadi hidup. Pertama hanya ada satu, lalu ada dua, kemudian mereka bertambah-tambah banyak. Tiba-tiba kegelapan sudah pergi bersembunyi digantikan oleh semburat-semburat yang melambai dan bersinkronisasi. Berpilin, berputar, menyatu, menghasilkan semburat-semburat baru yang makin berpijar.

Lalu sesuatu membuatku tersentak. Kukira mataku sedang memainkan tipuan, tapi ternyata tidak. Aku melihat sebentuk wajah pada lapisan cahaya-cahaya itu. Wajah itu muncul sekejap lalu menghilang seperti asap. Dari perpaduan warna-warna lain juga terbentuk raut lain–yang juga segera menghilang seperti asap. Terus begitu, berulang-ulang. Muncul, kemudian lenyap. Muncul, kemudian menghilang. Namun, semakin lama wajah-wajah itu terlihat semakin jelas. Mereka menatapku dan tersenyum singkat, untuk langsung lenyap ke dalam kabut. Sekelilingku dipenuhi oleh wajah-wajah yang dibentuk oleh persekongkolan cahaya dan kabut.

Beberapa saat kemudian, ketika raut-raut yang muncul terlihat semakin jelas, terjadi perubahan pada melodi dawai–aku dapat merasakannya. Siapapun itu yang memainkannya, memutuskan untuk menutup permainan ini. Bunyi dawai secara simultan terdengar makin dalam dan keras. Nafasku tercekat. Udara yang mengisi paru-paruku ikut bergetar oleh tarikan dawai kali ini. Seluruh udara di tempat ini bergetar, tidak menyisakan sedikitpun ruang. Melodi terdengar makin dalam. Menyelimuti gendang telingaku, menyelimuti pikiranku, menyelimuti jantungku, menyelimuti seluruh diriku, menyelimuti seluruh keberadaan, tanpa terkecuali.

Lalu bunyi berhenti.

………………………………….

………………………………….

………………………………….

………………………………….

Tok tok tok tok tok

Aku membuka mataku. Tok tok tok tok tok. Sedikit tergelincir, aku segera menjaga keseimbangan. Aku sedang duduk di sebuah kursi kayu berkaki timpang. Pandanganku bias. Aku mengusap mataku. Lalu mataku berusaha memfokuskan penglihatan ke objek-objek yang ada di sekitarku.

Tapi tidak ada apa-apa.

Seluruhnya putih.

(Bersambung –mungkin)
Bandung, 8 Desember 2010
Andreas Cornelius Marbun

The Love of Beauty

(…)

“What then is Love?” I asked, “Is he mortal?”

“No.”

“What then?”

“As in the former instance, he is neither mortal nor immortal, but in a mean between the two.”

“What is he, Diotima?”

“He is a great spirit, and like all spirits he is intermediate between the divine and the mortal.”

“And what,” I said, “is his power?”

“He interprets,” she replied, “between gods and men, conveying and taking across to the gods the prayers and sacrifices of men, and to men the commands and replies of the gods; he is the mediator who spans the chasms which divides them, and therefore in him all is bound together, and through him the arts of the prophets and the priests, their sacrifices and mysteries and charms, and all prophecy and incantation, find their way. For God mingles not with man; but through Love all the intercourse and converse of god with man, whether awake or asleep, is carried on.”

(…)

The Symposium – Plato

Setelah membaca ulang bagian ini, rasa-rasanya konsepsi macam ini familiar.

#3.1. Kata-Atak-Katak

Kata-Atak-Katak

 

payung ringsek ransel sobek

wajah tirus kurus terurus

sol-sol tipis

 

gelombang hitam

liar tak bersisir

mata dihalang

 

pikiran-pikiran hebat

delusional

kuat bergagas-gagasan

lemah bersoal hubungan nyata

 

kamar, buku, internet

di malam-malam minggu

 

petapa era digital

nyaris

 

kata-atak-katak

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.