Kosong Ep.3
by catatanmimpisaya
Perasaan kosong itu datang lagi menemaninya. Tapi kali ini dia tidak tau harus berbuat apa. Tidak tau bagaimana cara untuk menyapa si perasaan kosong. Dia tidak punya persiapan apapun untuk menyambut sahabat lama yang datang tiba-tiba ini.
Dia hanya duduk diam di situ. Menatap layar datar yang meradiasikan cahaya lampu, sambil menopang pipinya dengan kedua tangan. Diam dan hanya menatap, sementara di dadanya sesuatu bergolak tidak karuan. Di dini hari ini, hanya dirinya yang masih terjaga. Tidak ada suara apapun–atau siapapun–kecuali alunan dari radio yang dipasang pada volume minimum dan detakan ritmik dari jarum jam.
Dia duduk dalam malam yang sepi dan hening. Biasanya dia sangat menikmati saat-saat seperti ini, karena dalam sepi dan hening, malam hanya menjadi miliknya seorang. Pun begitu sebaliknya. Tapi kali ini kesempurnaan sepi dan hening miliknya terusik oleh kedatangan si sahabat lama. Jauh di dalam sana, di dalam dadanya, dia yakin dapat mendengar suara gemuruh yang bergejolak tidak karuan itu.
BERISIK. BERISIK. BERISIK!
Dia ingin gemuruh itu diam. Dia ingin gejolak itu mati dan meninggalkannya dalam kesempurnaan malam seperti hari-hari sebelumnya. Tapi apa yang dapat dia lakukan? Dia tidak punya persiapan apapun untuk menyambut sahabat lama yang datang tiba-tiba ini.
Mungkin, cuma satu hal yang bisa dia lakukan untuk meredakan gejolak dalam dadanya, demi kembali mencapai titik ekuilibrium dirinya. Yaitu diam. Tanpa ucap, tanpa perlawanan, menunggu sahabat lamanya beranjak dari sisinya dan pergi menyusup ke dalam mimpi-mimpi orang lain.
Dan itulah yang dia lakukan.
Dia duduk disana tanpa sedikit pun gerakan yang kasat mata. Menatap layar datar yang meradiasikan cahaya lampu, sambil menopang pipinya dengan kedua tangan, menanti kosong beranjak.
Pelan-pelan, menanti malam berlalu.