Bertanya Tidak Membuatmu Mati, Hanya Terlihat Sedikit Bodoh #2
Kopulasi itu hal paling alami yang dilakukan oleh makhluk hidup. Lalu, mengapa kita–manusia–punya obsesi yang begitu besar terhadap hal itu? Mengapa, dalam tingkat tertentu, manusia begitu senang melihat kejadian yang sebenarnya sangat alami seperti itu?
Kucing melakukannya, anjing melakukannya, bahkan kecoa yang tadi saya lihat di kamar mandi pun melakukannya. Saat mereka berkopulasi, tidak ada sesamanya yang berkerumun kegirangan di sekitar mereka. Kenapa? Karena itu hal yang alami, hal biasa-biasa saja yang memang sudah seharusnya terjadi.
Tapi–berbeda dengan kucing, anjing, dan kecoa–kita begitu membesar-besarkan aktivitas kopulasi tersebut. Kita begitu antusias! Mengapa kita, manusia, memiliki minat yang begitu besar terhadap seks? Bahkan saking besarnya, Freud mengklaim bahwa dorongan hidup manusia yang paling mendasar–yang mendorong kita untuk terus mempertahankan diri–adalah libido.
Saya bukan mau menghakimi atau sok-sokan tidak punya ketertarikan terhadap kabar sensual yang sedang ramai dibicarakan itu. Saya juga manusia yang terlahir dari darah yang sama, serta mewarisi tanda tanya besar yang juga dibawa oleh semua orang. Semua orang, baik terang-terangan maupun tersembunyi, sadar maupun tidak sadar, menyimpan imaji-imaji seksual di kepalanya. Tapi di sela-sela ketertarikan saya terhadap hal ini, juga muncul rasa penasaran yang membuat saya bertanya-tanya. Mengapa kita, yang katanya, makhluk paling beradab dan sempurna di alam ini, justru makhluk yang paling “udik” dan “norak” dalam hal aktivitas berkembangbiak? Seks membuat kita jadi seperti Tarzan yang over-excited begitu pertama kali melihat televisi.
Hmm, entah kenapa saya kok merasa ini lucu juga, ya?
Ya, kan?