Apa poinnya memiliki jika akan melepas?
Apa poinnya menjalin hubungan jika tau
jalinan itu tidak bisa tetap?
“Awet-awet ya…”
kata-kata yang sering saya dengar diucapkan kepada sebuah pasangan.
Awet… tahan lama… bukan berarti tidak kadarluarsa. Sebuah kata yang mengandung harapan—atau doa—atau keyakinan—bahwa sesuatu itu akan habis masa berlakunya.
Saya heran. Alih-alih mengatakan “rukun-rukun ya kalian” atau “baik-baik ya kalian”, kenapa malah frase “awet-awet” yang digunakan sebagai kata-kata manis untuk mendoakan pasangan? Padahal dari maknanya saja frase tersebut seakan sudah meramalkan suatu masa dimana cinta itu usang dan menguap di tempat sampah.
Tidak masuk akal.
Ya, sama tidak masuk akalnya dengan pertanyaan, “Apa poinnya menjalin hubungan jika tau jalinan itu tidak bisa tetap?”
Sebab kalau begitu,
“Apa poinnya hidup jika akan mati?”
Pertanyaan bodoh.
(Sedang mendengarkan “Olsen Olsen” oleh Sigur Ros)
