.catatan mimpi.

chaos, order, mimpi, dan impian

#5.2. Aksi Bakar Diri dan Keteraturan yang Diidam-idamkan

Beberapa hari yang lalu, kalau tidak salah tanggal 10, ramai diberitakan di media massa bahwa Sondang Hutagalung akhirnya meninggal dunia. Sondang Hutagalung adalah mahasiswa Fakultas Hukum di Universitas Bung Karno–seangkatan dengan saya–dan penggiat Hammurabi yang melakukan aksi bakar diri di depan Istana Merdeka. Perbuatannya memicu beragam reaksi dari banyak orang. Terkejut, heran, marah. Sebagian besar kalangan bertanya-tanya apa motifnya melakukan aksi tersebut, para ahli terheran-heran karena tindakan semacam itu tidak memiliki akar sosial dalam sejarah perjuangan di Indonesia, dan banyak kalangan mengolok-olok tindakannya sebagai aksi sok pahlawan yang mengikut-ikut peristiwa yang terjadi di Tunisia.

Saya sendiri tidak bisa memahami alam pikiran Sondang Hutagalung. Logika berpikir macam apa yang ada di kepalanya? Apakah ia berharap aksi nekatnya akan memicu terjadinya revolusi yang menggulingkan pemerintahan, seperti di negara-negara Arab? Jika memang itu yang ia harapkan, sehingga akhirnya memilih membakar diri sebagai cara berjuangnya, maka menurut saya kematiannya adalah sia-sia.

Pergolakan dan chaos tidak pernah menjadi solusi yang tepat dalam perjuangan melawan korupsi di Indonesia. Pergolakan hanya akan menciptakan kekacauan yang membuat bangsa rentan terhadap pihak-pihak asing yang menyusup dengan membawa kepentingannya masing-masing.

Sejak masa Orde Lama hingga era Reformasi, revolusi/pergolakan terbukti tidak mampu menciptakan rezim yang bersih. Yang terjadi hanyalah perpindahan kekuasaan dari sekelompok korup yang satu ke sekelompok korup yang lain. Revolusi semacam itu “tidak benar-benar menyentuh akar kesengsaraan masyarakat yang sesungguhnya.” Dalam hal ini saya pikir Sondang Hutagalung luput pemikirannya.

Tindakan bakar diri adalah tindakan putus asa, sebuah tindakan untuk mencapai hasil instan, jalan pintas melalui kekacauan. Mengharapkan terciptanya order melalui chaos. Tapi, menurut saya pribadi, tidak ada jalan pintas untuk menuju keteraturan. Lebih jauh lagi, tidak ada jalan pintas menuju apapun.

Revolusi yang perlu bangsa ini tempuh untuk mencapai perbaikan bukanlah revolusi fisik, melainkan revolusi mental. Pada salah satu kelas Etika Profesi yang saya hadiri tahun lalu, Pak Nawir Pedju–seorang praktisi senior–mengutarakan tiga kunci utama untuk mencapai perbaikan bangsa, yang disebut lebih dahulu mesti dipenuhi terlebih dahulu, antara lain: pertama, penegakan hukum; kedua, pendidikan yang berkualitas; dan ketiga, ekonomi.

Dari ketiga kunci tersebut penegakan hukum adalah yang terutama. Saya teringat dengan obrolan ringan antar kawan yang terjadi di studio minggu lalu. Kedua kawan ini adalah penduduk Jakarta, dan seperti yang diketahui belakangan, pemprov DKI Jakarta sedang gencar melakukan pendataan ulang penduduk lewat sistem e-KTP. Penduduk Jakarta dihimbau untuk mengurus e-KTP di kelurahan setempat pada tanggal-tanggal yang telah ditetapkan. Kebijakan ini dicetuskan karena banyaknya warga komuter yang memiliki kependudukan ganda. Kedua kawan ini mengeluhkan keengganannya untuk menjalani prosedur yang telah ditetapkan. Malahan salah satu kawan ini dengan setengah bercanda mengatakan, “mereka yang butuh, kok, kenapa harus gue yang repot pulang-pergi?”

Ini adalah salah satu contoh kecil dari mentalitas warga negara yang perlu direvolusi. Alih-alih mengejar perbaikan bangsa melalui jalan kekacauan dan tindakan onar, saya lebih memilih jalan keteraturan untuk mencapai keteraturan. Penegakan hukum harus dimulai dari hal-hal kecil. Setiap warga negara harus memiliki kesadaran untuk menaati hukum dan peraturan dari yang sekecil-kecilnya dan bersama-sama menciptakan suasana yang kondusif untuk mendukung kemajuan.

Seperti apa yang ditulis pada sebuah artikel yang pernah saya baca di koran KOMPAS ini: “Orang-orang yang ingin mengatur negara pertama-tama harus mengatur keluarga mereka. Dan, barangsiapa ingin mengatur keluarga pertama-tama harus menjaga kehidupan pribadi mereka. Kemudian, mereka yang ingin menjaga kehidupan pribadi tersebut pertama-tama harus menjadikan hati mereka bersih. Adapun mereka yang menghendaki hati mereka bersih pertama-tama harus menjadikan niat mereka ikhlas. Mereka yang ingin hidup ikhlas pertama-tama harus menambah pengetahuan. Merawat kehidupan pribadi dianggap sebagai landasan penting sebab, menurut filsafat Konfusian, tak pernah tumbuh cabang pohon yang teratur jika akarnya saja sudah mulai kacau.” *)

Mengenai aksi yang dilakukan Sondang Hutagalung dan sekelompok mahasiswa yang berunjuk rasa di depan ITB beberapa hari lalu, sudah jelas saya bersisian. Saya pikir, usaha yang paling efektif yang dapat generasi muda lakukan adalah belajar dan bekerja sebaik-baiknya agar dapat mengubah keadaan dengan tangan sendiri.

Sebab bukankah orang mati tidak bisa melakukan apa-apa sedangkan orang hidup punya kesempatan untuk melakukan sesuatu?

***

*) Artikel berjudul “Kemanusiaan yang Sia-Sia” oleh Mohamad Sobary, KOMPAS 14 Mei 2011

Quote

“Terang yang sesungguhnya, yang menerangi setiap orang, sedang datang ke dalam dunia.”

-Rasul Yohanes

#5.1. Sajak

Sudah pukul setengah dua lewat, sudah seharusnya saya tidur tapi tidak bisa. Selama berbaring, berbagai macam pikiran berseliweran dengan acak di kepala saya. Tentang ini dan tentang itu, tentang orang ini dan orang itu, dan lalu, dan lalu, dan lalu.

Kadang-kadang ketika sedang gusar atau tidak ada kerjaan, saya menulis sajak. Hasilnya bukan sesuatu yang luar biasa, cenderung rata-rata saja malah, tapi bagi saya sajak-sajak tersebut tetap ampuh untuk menyalurkan kegelisahan yang ada di benak saya.

Namun begitu, dari beberapa sajak yang pernah saya tulis hanya dua buah sajak yang dapat saya ingat di luar kepala–salah satunya adalah “Ode Untuk Bumi” yang pernah saya terbitkan disini. Sebabnya mungkin karena pada kedua sajak tersebut saya menambahkan melodi sehingga memori saya dapat dengan mudah mengingat kata per kata yang tertulis.

Ketika sedang berbaring tadi, saat pikiran acak berseliweran, sajak yang saya tulis semasa SMA ini–sajak selain “Ode Untuk Bumi” yang juga saya berikan melodi–jadi teringat begitu saja. Kalau dilihat sekarang, saya rasa sajak tersebut kini menjadi semacam potret kenang-kenangan dari masa lalu yang menangkap kelam jiwa saya.

Semenjak saya tidak bisa tidur dan sajak itu terlintas di kepala saya, saya pikir boleh juga saya tuliskan kembali dia disini.

Jadi ini dia, “Katasthrope.”

***

Tubuh tanpa roh...
melangkah dalam heningnya keramaian
Hadirnya sang putih di ambang belalak mata
Katasthrope yang tersenyum
Mencabut nafas, tercekat!
Melesak ke dalam kepala, meledak!
Menusuk jantung, mencabik!
Jatuh terhempas!
ke tanah berdebu
Seakan telah lama berlalu,
kembalikan sadar
ke dalam kelabu
tik... tok...
tik... tok...
tik... tok...
tik... tok...
suara...
detakan...
menggema...
melagu...

terhenti.

#5.0. Yang Digariskan

Bangkitlah, Anakku
Bukalah matamu
Kuberikan kepadamu
Hati yang lembut,
Pikiran yang bebas,
Jiwa yang haus,
juga paras yang elok

Segala yang kau butuhkan
Aku sertakan
Segala jalan yang kau lalui
Aku sertai

Aku, sang Maha, sendiri
yang akan mengajarimu
Kematian akan menggusarkanmu
Jiwa gundahmu akan membawamu berkelana
Tapi tidak sekali-kali akan ku biarkan
Maut mendekatimu

Namun, dengar, Anakku
Musuhmu, musuh yang kau hadapi sendiri
Cobaanmu, cobaan yang kau tempuh sendiri
Peperanganmu, peperangan yang kau menangkan sendiri

Lalu kau akan bertanya
dan mencari makna bahagia
Mencari dan terus mencari
akan kau lakukan
Tapi seperti Musa
yang memandang Tanah Perjanjian
dari atas Gunung Nebo
Seperti itulah engkau

Anakku, Anakku,
berdirilah tegak
dan lihatlah

#4.9. Apa Yang Berharga

“Kalian cantik sekali, tetapi kalian hampa. Tak ada orang yang bersedia mati untuk kalian. Tentu saja, orang yang sekadar lewat akan mengira mawarku sama persis seperti kalian. Tetapi mawarku, walaupun cuma setangkai, jauh lebih berarti daripada kalian semua, karena dialah yang kusirami. Karena dialah yang kututup dengan kubah kaca. Karena dialah yang kulindungi dengan tabir. Karena dialah yang ulat-ulatnya kubunuh (kecuali dua atau tiga yang kami biarkan hidup agar menjadi kupu-kupu). Karena dialah yang kudengarkan, waktu dia mengeluh, atau menyombongkan diri, atau ketika dia cuma membisu. Karena dia mawarku.”

-Little Prince, karangan Antoine de Saint-Exupéry

#4.8. Dreamer

Now,the sound of the
Sunday morning coffee
spilling softly, softly

The early calling voice says
The sky is cloudy, cloudy

Barely inside a dream
Close the eyes 
and wait a little for the wind

Dreamer, dreamer
please get going quitely
You can see the sea
Passing the city to the hills 

Dreamer, dreamer
Always gathered memories
Sparking sparkling

The Sunday morning sunlight 
shining through at the distance
swaying, swaying

I thought I just heard 
the early calling
you love me, you love me

Upside down inside my chest
After counting memories,
there still remain

Dreamer, dreamer
Please get going quitely
The passing days will fade into memories

Dreamer, dreamer
Always gathered light
Sparking sparkling

(Spangle Call Lilli Line – Dreamer)

***

Bandung, 29 Oktober 2011, sebagian dari Arsitektur ITB 2007 telah menyelesaikan masa perkuliahannya. Saya percaya orang-orang ini adalah orang-orang yang memiliki kemampuan dan bisa pergi kemana pun mereka mau.

Sampai jumpa di hari-hari depan.

#4.7. Pagi

Delapan

Ada nyanyi burung pipit,
gemerisik pohon,
deru redam kendaraan mesin,
gonggong anjing-anjing,
hangat mentari,
sepoi angin,
lalu hening,
lalu hening,
lalu hening,
lalu hening,
lalu hening,

Lalu, hening

Lalu ada datang
beri selamat pagi
kata kata kata kata
kata kata kata kata
kata kata kata kata
kata kata kata kata
kata kata kata kata
Seseorang menyalakan musik.

Sampai besok, pagi hening!

#4.6. Amir Hamzah

Hancur badanku, lahir badanku, dari gelombang dua berimbang, akulah buih dicampakkan tepuk, akulah titik rampatan mega, suara sunyi di rimba raya – Akulah gema tiada berupa.

Quote

“Indah itu berangkat dari kebenaran. Apa adanya itu adalah kecantikan yang paling hakiki.”

-Basauli Umar Lubis, di kuliah Pengantar Studio

#4.5. Figur dan Massa

“Of course the Baptist himself never had any idea of rebelling with force of arms. But whatever the leader’s thought might be, situations do occur where the common people, having once established their leader, are then swept away in some other direction with the force of an avalanche.”

Kutipan di atas saya ambil dari buku “A Life of Jesus” karangan Shusaku Endo, seorang novelis Katholik-Jepang. Di dalam buku ini, Endo membahas perjalanan hidup Yesus orang Nazareth lengkap dengan konteks sosio-politik masyarakat Yahudi pada masa itu.

Paragraf yang saya kutip di atas bicara tentang peristiwa pemenjaraan Yohanes Pembaptis oleh Raja Herodes Antipas. Bagi saya, yang menarik di sini adalah pengaruh “common people” yang menjadi pemicu terjadinya peristiwa penangkapan tersebut–dimana, seperti kita ketahui bersama, berakhir pada kematian Yohanes Pembaptis di bawah pisau pancung. Cukup tragis, mengingat Yohanes Pembaptis sendiri tidak sekalipun berencana untuk melakukan pemberontakan bersenjata.

Dari kasus ini dapat dilihat bahwa, daripada seorang figur cerdas dan kuat, ternyata orang-orang biasa, orang-orang yang tidak signifikan dan anonymous, yang kemudian berkumpul dan menjadi satu entitas kolektif lah yang sebenarnya memiliki kendali dan patut diantisipasi.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.