“Bagiku melukis adalah syair, dan musik adalah ekspresi bebas,”

ujar gadis di mimpi saya sambil tersenyum, baru saja.

Oh, betapa saya harap percakapan tadi bukan mimpi :(

http://taykut.deviantart.com/art/The-girl-of-my-dream-93014537

The Girl of My Dream by taykut

Malam ini hujan deras. Dari kamar sebelah sayup-sayup terdengar suara penyanyi wanita Jepang.
Dingin sekali malam ini.

Hari ini 11 November.

11/11

 

Ini tanggal yang penting buat saya. Bukan, bukan karena fenomena 11:11 yang sedang ramai dialami hampir seluruh penduduk dunia belakangan ini. Tanggal ini penting sebab, 11 November, satu tahun lalu, saya memulai tahap jelajah diri ke ranah yang baru, area buta yang belum saya kenal sama sekali, yaitu musik dan bebunyian.

Pada 11 November 2008, Project Radio Is Not Enough dimulai.

 

Project Radio Is Not Enough menjadi media baru saya untuk mengaktualisasikan diri. Sebuah catatan emosi, dan mungkin bahkan pemikiran, yang mengendap di dalam kepala saya secara tidak sadar. Radio Is Not Enough telah resmi menjadi perekam perkembangan emosi bawah sadar saya selama 325 hari ke belakang.

Jika saya tengok kembali langkah-langkah saya, ternyata banyak hal yang telah terjadi sejauh ini.

Pengakuan, penolakan, pencapaian, perspektif baru, pengalaman, kekecewaan, sakit hati, insight, musik-musik baru, teman-teman baru, kesombongan, kebodohan, keruntuhan, juga kebangkitan.

Musik adalah cerminan sekaligus pembentuk kepribadian. You are what you listen. Apa yang kita pilih untuk dengarkan merepresentasikan “wujud” diri kita yang sebenarnya, juga sekaligus membentuk respon dan pandangan diri terhadap dunia. Ini saya sadari ketika mendengarkan karya-karya saya, tidak ada yang lebih baik menceritakan seperti apa diri saya selain karya-karya saya.

 

Satu tahun, ratusan proses bolak-balik, dan delapan karya. Dan inilah mereka, buah-buah emosi terpendam yang sempat saya petik, dimulai dari yang paling awal:

1. Radio Is Not Enough [1:51]

Saat-saat pertama saya berkenalan dengan media baru ini. Di dalamnya terekam chaos dan ketidakteraturan singkat.

2. Catatan Mimpi [2:48]

Saya memulainya dengan mencari bebunyian yang menarik perhatian saya, kemudian memberikan pola-pola dan mengkomposisikannya sedemikian rupa. Ketika itu saya cukup sering mengalami mimpi-mimpi absurd (yang menarik), mungkin ingatan samar-samar tentang mimpi-mimpi itu yang menjadi dasar terbentuknya “Catatan Mimpi”. (Referensi yang didengar saat itu: Tinkerwish oleh Santamonica.)

3. A Poetic Solitary [2:25]

Kesendirian. Tapi bukan kesendirian yang menyedihkan, bukan kesendirian yang melemahkan. Kesendirian disini adalah kesendirian yang perlu dinikmati, karena saat itulah muncul kesempatan yang sangat sering kita lewatkan, yaitu berdialog dengan diri sendiri.

4. Off We Go To Nightmareland [6:07]

Penjelajahan saya ke dunia mimpi buruk dan sudut-sudut ketakutan. Bisikan-bisikan, teriakan-terikan, suara-suara menggigil, statik radio, dan tekanan dari entah apa. Salah satu favorit saya, tapi juga yang paling memusingkan saat pembuatannya (sampai pengen muntah <—ini literal, lho).

5. Hujan, Mimpi, dan Ruang Angkasa [3:18]

Saya ingin kekacauan! Sesuatu yang kasar. Dengan rumusan [gebrak-break down-naik-cooling down], tingkat kekasaran moderat, dan beat cukup cepat, terciptalah “Hujan, Mimpi, dan Ruang Angkasa”.

6. A Talk With A Girl From Another Time [3:43]

Dalam pembuatan lagu-lagu sebelumnya, saya membuat pattern-pattern yang kemudian dikomposisikan, tapi di lagu ini saya mencoba cara yang berbeda. Yaitu dengan merekamnya langsung. Lagu ini 100% dibuat hanya dengan menekan-nekan keyboard komputer.

7. Why Did You Come To My Dream Last Night? [4:05]

Benang merah paruh pertama Radio Is Not Enough adalah mimpi. Dan karya ini adalah penutup dari paruh pertama itu. Terus-menerus bicara tentang mimpi tentu akan membosankan, bukan? (Referensi yang didengar saat itu: kelompok-kelompok musik postrock/soundscape seperti Sigur Ros, Olafur Arnalds dan L’Alphalpha, dan mungkin Efek Rumah Kaca juga).

8. On The Edge Of Thursday [3:05]

Lagi-lagi saya ingin kekacauan! Dan terjadilah chaos yang terkendali disini. Saya memadukan dua metode yang ada di FL dalam pembuatan lagu ini, pattern dan recording. Hal yang menjadi ide dari “On The Edge Of Thursday” adalah kekalutan yang sering terjadi saat pengumpulan tugas studio perancangan tiap hari Kamis. (Referensi yang didengar saat itu: kelompok-kelompok musik shoegaze seperti Asobi Seksu dan Paraparanoid, dan juga Mew).

 

Sejauh ini Radio Is Not Enough sudah cukup berhasil menjalankan fungsinya sebagai media jelajah diri. Sekarang, untuk tahun kedua, muncul pertanyaan, apakah menjadikan Radio Is Not Enough sebagai media ekspresi pribadi saja sudah cukup?

Seharusnya tidak.

Radio Is Not Enough seharusnya tidak berhenti dan stagnan di titik ini. Radio Is Not Enough harus berubah dan berevolusi ke tahap selanjutnya. Sejauh apa perubahan yang harus terjadi? Saya tidak tau, saat ini tidak ada yang bisa menjawab.

Tapi yang jelas, perubahan itu pasti.

Sekecil apapun itu.

 RINE

Rabu, 11 November 2009 Andreas Cornelius Marbun

http://www.myspace.com/radioisnotenough

 

Coup de Nouf #4. Efek Rumah Kaca.

15149_1271127335418_1146920186_30834351_3496870_n

Aula itu begitu ramai. Penuh sesak, puluhan orang berebut oksigen di hadapan panggung. Saya memisahkan diri dari teman-teman saya. Memberi jeda sejenak bagi paru-paru untuk bernapas. Sela beberapa menit kemudian saya kembali ke aula itu, dan tak lama kemudian Efek Rumah Kaca naik dan membawa dunianya ke atas panggung.

Tiga manusia.

Tiga instrumen.

Satu suara.

Satu semesta bebunyian!

Ini pengalaman pertama saya tersedot ke dalam trance ketika menyaksikan live performance. Tubuh saya bergetar, kepala saya bergoyang, dan kesadaran saya berada di ambangnya.

Persetan dengan keramaian.

Persetan dengan orang-orang yang membatu di kiri dan kanan.

Persetan dengan dunia nyata.

Saya berteriak.

Sekencang-kencangnya.

Tidak ada yang peduli.

Saya berteriak.

Sekuat-kuatnya.

Dan saya tidak sendiri.

Saat itu semua tersisihkan. Semua yang real terasa surreal. Semua yang real terasa tidak pernah terjadi. Semua menghilang dan menguap. Tak ada identitas, tak ada ego, yang tersisa hanya intisari. Percikan yang selama ini terpendam, memancar membebaskan diri. Tidak ada identitas dan ego. Yang ada hanyalah ada.

Saya berteriak!

Saya bergerak!

Saya lepas!

Saya bebas!

Saya hidup!

Dan saya pun terlarut dalam keberadaan saya.

Keberadaan yang meneriakkan kebebasannya!

 

Bandung, 31 Oktober 2009

Tugas manusia dalam kehidupan adalah melahirkan diri sendiri

-Erich Fromm

 

  LELAKI GEMURUH
  
 “Akankah ada seseorang yang menemaniku menikmati keheningan?
    
 

          Dia seorang lelaki muda. Matanya seolah diselimuti kabut. Dia gemar duduk di teras rumahnya kala langit mendung, ketika gemuruh berputar selayaknya genderang pawai dewa-dewi.

         Dia mencintai gemuruh. Tiap gemuruh terdengar dari kejauhan, dia duduk di sudut yang sama di balik pintu kaca. Lalu akan dia buka sedikit pintu kaca itu agar gemuruh menyelusup melingkupi penuh gendang telinganya.

         Dia sendiri, menikmati ramai keheningan. Sebuah walkman cassette player, benda yang cukup antik pada masa ini, dengan sebuah kaset kosong yang berputar di dalamnya, terduduk rapi di sisinya. Merekam tiap nada geram gemuruh yang selalu menggetarkan benang-benang jiwanya.

         Dari sudut tempatnya duduk, kita bisa melihat sebuah rak kecil yang dipenuhi tumpukan kaset. Kaset-kaset dengan berbagai label yang berbeda warna. Kaset-kaset yang menyimpan geram-geram gemuruh yang pernah berkunjung sebelumnya, sebelum sore ini.

         Si lelaki muda itu sungguh mencintai gemuruh, hingga ia selalu mengabadikan tiap momen perjumpaan mereka.

         Saat kubah langit menghitam, dan ketika udara dingin mulai menyelimutinya, maka dia menutup matanya. Menikmati getaran elektris yang mengalir dari tengkuknya menuju setiap jengkal tubuhnya. Dan saat itu, tepat ketika langit bergetar, aliran elektris itu menjalari pita suaranya. Dan ia pun mulai bersenandung, bersama rintik hujan, bersama derau angin, dan tentu bersama geram gemuruh. Bersinkronisasi dengan orkestra alam yang megah.

         Dan sesaat itu, ia pun menyatu, melebur, bersama ketiadaan.

 

         . . .ada . . . . . . . . . . . . .

         . . . . . . . . . . . . .dan . . . . . . . . . .

         . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .juga . . . . . . . . .

         . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .tiada . . . . . . .

 

 

(Bersambung –mungkin)
Bandung, 2 Oktober 2009
Andreas Cornelius Marbun

Desain Factory Outlet saya terpilih untuk dipresentasikan pada preview AR 3100 tadi! Senang! :D

Preview (semacam presentasi desain) kelompok saya (bimbingan Pak Arif Sarwo Wibowo) dilakukan bersama kelompok Ibu Dhian, Koordinator studio AR3100. Dari masing-masing kelompok dipilih dua orang untuk mempresentasikan rancangannya. Tiap orangnya diberi kesempatan bicara selama 5 menit. Selain saya, ada Lanang dan Jessika dengan rancangan Pusdiklat TELKOMnya dan Gusti dengan rancangan Factory Outletnya, yang juga dipilih untuk presentasi. Yang menarik, di preview ini kami diarahkan untuk mempresentasikan karya kami dengan bahasa yang baku. Ibu Dhian dan Pak Arif bilang, anggap saja kita sedang presentasi di hadapan klien sungguhan. Untuk itu kami diharuskan untuk berpenampilan rapi di preview selanjutnya. Efektivitas waktu, tata bahasa yang baku, dan penampilan yang baik. Hei, kami sedang dipersiapkan untuk menjadi profesional! :D

Kembali ke desain Factory Outlet saya. Rancangan saya mengambil analogi bentuk piano yang berlekuk-lekuk. Lekukan-lekukan tersebut merepresentasikan gaya hidup masyarakat perkotaan (Factory Outlet erat kaitannya dengan gaya hidup) yang dinamis dan tidak pernah tetap. Prinsip ini yang saya terapkan dalam gubahan massa dan ruang luar Factory Outlet saya. Saya memiringkan salah satu massa bangunan saya sebagai respon terhadap bentuk lahan dan jalan raya yang tidak tegak lurus. Untuk ruang luarnya, saya memberi beberapa area hijau di beberapa titik, ditambah juga dengan penggunaan kolam dan pilotis, sehingga diharapkan rancangan saya dapat menyikapi kondisi iklim tropis kota Bandung dengan baik.

Saya senang berada di bawah bimbing Pak Arif. Tidak seperti dosen-dosen pembimbing saya di tingkat dua, Pak Arif sangat terbuka dengan usulan-usulan desain yang agak-agak “ngaco”, misalnya desain saya kali ini yang cenderung amorf. Beliau tidak langsung menjudge atau mematikan kreasi saya. Waktu dia pertama melihat coretan-coretan awal Factory Outlet saya, dia cuma berkomentar, “Wah, amorf! Boleh juga, kamu coba aja dulu pake ini sampai dimana mentoknya.” Beliau membebaskan saya untuk mengawang-awang, tapi juga menarik saya kembali memijak tanah saat saya mulai berlebihan. Saya berimajinasi, dia merasionalkan imajinasi saya. Masukan-masukannya kadang terasa sepele, tapi hal-hal sepele itu akhirnya malah memberi arahan yang jelas. Mungkin kalau orang lain yang menjadi pembimbing saya, desain ini tidak akan terwujud. Dan sejauh ini, rancangan Factory Outlet ini adalah rancangan saya yang paling saya sukai :)

Anyway,

studio AR 3100 sejauh ini menyenangkan. Semoga saya bisa terus berkembang!

Amen.

Betapa mudahnya mengalterasi masa depan.
Jalan saya, jalan orang itu, yang terpisah dan paralel, bersinggungan di suatu persimpangan.
 
 

Jalan hidup bisa dibilang suatu kumpulan benang kusut. Jalinan-jalinan yang rumit dan kompleks bisa terjadi kapan saja. Tidak terduga.

Tapi saya dan keangkuhan, saya dan penghindaran, saya dan ketidakberanian untuk menghadapi ketidakterdugaan, memotong jalinan acak yang terjadi.

Satu probabilitas masa depan terhapus. Tamat, sebelum terjadi.

Bukankah itu brilian?

Beri applause atas ketergesaan dan ketakutan.

 

 

Eleanor, Eleanor,

di persimpangan manakah kita dapat bertemu?

 

 

s e l a

 

 

 

 

Radio is not Enough FREE DOWNLOAD!


Album ini terdiri dari lima buah track elektronik-eksperimental. Bercerita tentang perjalanan seorang penyair dalam pencariannya mencari seorang gadis yang muncul terus-menerus dalam mimpinya. Silakan didownload. Selamat menikmati, dan semoga suka :)

Link untuk download: http://www.4shared.com/file/124959991/4e07b65f/radio_is_not_enough_-_–_EP.html

Myspace URL: www.myspace.com/radioisnotenough

Jiwa saya seperti air

dan tingkah lakumu

adalah kerikil yang membuatnya beriak.

Apa poinnya memiliki jika akan melepas?

Apa poinnya menjalin hubungan jika tau

jalinan itu tidak bisa tetap?

“Awet-awet ya…”

kata-kata yang sering saya dengar diucapkan kepada sebuah pasangan.

Awet… tahan lama… bukan berarti tidak kadarluarsa. Sebuah kata yang mengandung harapan—atau doa—atau keyakinan—bahwa sesuatu itu akan habis masa berlakunya.

Saya heran. Alih-alih mengatakan “rukun-rukun ya kalian” atau “baik-baik ya kalian”, kenapa malah frase “awet-awet” yang digunakan sebagai kata-kata manis untuk mendoakan pasangan? Padahal dari maknanya saja frase tersebut seakan sudah meramalkan suatu masa dimana cinta itu usang dan menguap di tempat sampah.

Tidak masuk akal.

Ya, sama tidak masuk akalnya dengan pertanyaan, “Apa poinnya menjalin hubungan jika tau jalinan itu tidak bisa tetap?”

Sebab kalau begitu,

“Apa poinnya hidup jika akan mati?”

Pertanyaan bodoh.

(Sedang mendengarkan “Olsen Olsen” oleh Sigur Ros)